BP BUMN: INKA Tidak Baik-Baik Saja

REDigest.web.id, 15/9 – Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) menyoroti kondisi keuangan INKA yang dinilai dalam kondisi buruk. Dikutip dari rilis BP BUMN, hal tersebut disampaikan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Doni Oskaria dalam rapat bersama direksi INKA.
Doni mengatakan ada beberapa faktor yang membuat keuangan INKA disebut tidak sehat. Dalam laporan keuangan terakhir, disebut INKA mengalami kerugian sebesar Rp677 miliar dan memiliki unsustain loan atau hutang sebesar Rp4,7 triliun.
Bagi Doni ini merupakan hal yang aneh mengingat INKA adalah perusahaan manufaktur yang memiliki produk dan pelanggan yang jelas yakni kereta api.
Di sisi lain Doni mendorong adanya transformasi pada keuangan dan manajemen di INKA. Ia juga mendorong direksi agar berkomitmen untuk menciptakan INKA yang lebih baik.
Doni menambahkan Indonesia saat ini membutuhkan INKA untuk industrialisasi terutama di sektor perkeretaapian sesuai dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan kemajuan di kereta api Indonesia.
View this post on Instagram
Supply Chain, Modernisasi , dan Hambatan Produksi INKA

Dalam rilis INKA saat kunjungan Danantara pada 15 September lalu, Dirut INKA Bambang Jatmika menjelaskan masalah yang dihadapi INKA terutama dalam produksi sarana kereta api di pabrik Banyuwangi.
Bambang mengatakan masalah utamanya ada pada supply chain atau rantai pasokan yang terhambat infrastruktur pendukung seperti jalan dan rel kereta api mengingat kebanyakan material produksi didatangkan dari luar Banyuwangi.
Senior Director Transporation Sector Danantara Asset Management Wamildan Tsani mengatakan pihaknya tidak ingin memberikan teguran kepada INKA atas masalah yang dihadapi saat ini. Tsani mengatakan pihaknya akan membantu INKA mencari solusi agar masalah yang terjadi tidak berlarut-larut serta produksi sarana kereta api dapat berjalan dengan baik.
View this post on Instagram
Hingga berita ini ditulis, Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) sejauh 176,4 kilometer masih dalam tahap konstruksi yang ditargetkan rampung pada 2027.
Sementara di jalur rel, masalah utama ada di Terowongan Mrawan yang mana loading gauge pada terowongan ini terlalu kecil untuk sarana kereta yang diproduksi INKA saat ini. Akibatnya INKA terpaksa harus dua kali jalan saat mengirim sarana kereta yang diproduksi yakni menggunakan truk atau kapal dari Banyuwangi ke Surabaya lalu dilanjut lewat jalur rel.
Seperti yang terjadi dalam pengiriman sarana KRL CLI-225 trainset 9 yang dilakukan melalui jalur laut ke Surabaya dilanjut lewat jalur rel menuju Madiun.
Selain itu, pabrik Banyuwangi masih belum memiliki jalur uji yang terelektrifikasi baik LAA maupun LAB. Akibatnya sarana KRL yang akan diujicoba masih harus dikirim ke Madiun untuk uji coba. Peralatan yang usang serta kurangnya SDM terampil juga menjadi masalah dalam produksi sarana kereta api di INKA. (RED/BTS)
