Berita Lain-Lain

Mengenal MMT-M-270-BDE: Sang Penambang Emas Freeport

Lokomotif MMT-M-270-BDE saat masih berada di pabriknya di Jerman | Eickhoff Bochum

 

Bicara soal lokomotif listrik di Indonesia pastinya pikiran kita akan melayang ke lokomotif ESS 3200 alias Bonbon. Ya lokomotif listrik ini memang terkenal sebagai satu-satunya lokomotif listrik yang masih bisa beroperasi di Indonesia. Ketika era Hindia Belanda, lokomotif listrik merajai sejumlah lintas kereta listrik di Batavia.

 

Setelah Indonesia merdeka, keberadaan lokomotif listrik semakin sedikit karena rusak dan kurangnya suku cadang. Hal tersebut diperparah dengan diimpornya rangkaian KRL Rheostatik dari tahun 1976 hingga 1985 yang semakin menggusur keberadaan lokomotif listrik di Jabodetabek. Namun jika anda berfikir Bonbon sendirian anda salah.

 

Bonbon memiliki banyak cucu di Indonesia. Hanya saja cucunya tidak berada di Jakarta melainkan jauh di ujung timur Indonesia. Lebih tepatnya di Tembagapura, Papua. Inilah MMT-M-270-BDE, lokomotif listrik yang dimiliki oleh PT Freeport Indonesia.

 

 Tampak samping dari lokomotif MMT-M-270-BDE | Eickhoff Bochum

MMT-M-270-BDE dibuat oleh pabrikan lokomotif asal Jerman, Schalke. Jika merunut pada aturan penomoran lokomotif di Indonesia, lokomotif ini bisa dikategorikan sebagai lokomotif kelas B karena hanya memiliki 2 gandar saja. Ukuran lokomotif ini sangatlah kecil karena hanya memiliki panjang 8 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 3,65 meter serta memiliki berat hanya 40 ton.

 

Lebar sepur yang digunakan oleh lokomotif ini adalah 1435 mm. Lokomotif ini bisa dibilang merupakan lokomotif hybrid pertama yang beroperasi di Indonesia karena memiliki tiga sumber tenaga penggerak yakni listrik LAA, baterai, dan diesel-elektrik. Selain itu, lokomotif ini merupakan kereta listrik dengan sistem AC-DC pertama di Indonesia. Kecepatan maksimal lokomotif ini hanya 25 km/jam.

 

Meskipun ukurannya kecil, lambat, dan menggunakan tenaga listrik sebagai penggeraknya, jangan remehkan kekuatannya. Mesin lokomotif ini dapat menghasilkan tenaga sebesar 270 kilowatt dan dapat menarik beban hingga berat 708 ton dalam sekali angkut. Kabin lokomotif dirancang berada di tengah untuk mempermudah masinis melihat ke dua arah. Selain itu, lokomotif ini sepenuhnya terkomputerisasi sehingga dapat dioperasikan otomatis tanpa masinis.

 

Tampak bagian dalam lokomotif MMT-M-270-BDE | Eickhoff Bochum

 

Lokomotif ini pertama kali diproduksi pada 2008 dan beroperasi di Indonesia sekitar tahun 2008 – 2009. Saat ini lokomotif MMT-M-270-BDE beroperasi di tambang terbesar milik Freeport di Papua yakni Tambang Grasberg. Selain di Indonesia, lokomotif ini juga beroperasi di Chile. Lebih tepatnya di Tambang Esmeralda di Pegunungan Andes yang dioperasikan oleh perusahaan tambang Chile, Codelco.

Di kedua tambang tersebut lokomotif ini digunakan untuk mengangkut bebatuan dari dalam tambang ke luar yang nantinya bebatuan tersebut akan diolah dan diambil mineral berharganya seperti tembaga dan emas. Karena beroperasi di dalam area tambang mungkin akan sulit bagi kita untuk melihat lokomotif ini beraksi menarik lori berisi bebatuan tambang.

RE Digest | Bayu Tri Sulistyo

Eickhoff Bochum

Kaskus

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×