Fakta KAKAI CommuterKereta ApiTeknis

Kereta, Kita, dan Jakarta: Bedah KRL Seri CLI-225 Langsung Bersama INKA!

Presentasi Kereta, Kita, dan Jakarta oleh INKA | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

REDigest.web.id – Tanpa terasa sudah sekitar sebulan KRL INKA telah berdinas di antara kita. Dengan sejumlah teething problem yang sempat menimpa KRL jenis ini, sudah tentu masyarakat penasaran mengapa masalah-masalah ini hadir dan apakah INKA punya rencana perbaikannya. INKA pun menjawab dengan mengadakan acara diskusi santai bertajuk Kereta, Kita, dan Jakarta yang berlangsung di Bakoel Koffie Cikini pada Sabtu (24/1) kemarin.

Dalam acara ini Fahri dari INKA membuka dengan mengatakan saat ini KRL INKA jadi idol di media sosial, di mana masyarakat sangat antusias menyambut KRL jenis ini. Hanya saja, antusiasme ini memang kemudian terkendala oleh permasalahan KRL INKA. Pihak INKA pun mengakui kalau INKA mendengarkan semua keluhan di sosial di mana perjalanan KRL memang tidak semulus seperti yang diharapkan.

Impresi dan Review Peserta terhadap KRL CLI-225 Buatan INKA

Presentasi oleh pihak INKA | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Dalam acara ini peserta yang hadir diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai KRL CLI-225. MC berkeliling menanyakan impression para pengunjung terhadap produk INKA. Peserta pertama yang memberi komentar menyebut bahwa INKA ini “Underrated” di mana setiap ada jargon anak bangsa justru ada sentimen negatif. Ia berpendapat PT INKA sudah mempromosikan diri dengan baik di media sosial. Hanya saja ia beranggapan INKA dapat membuat konten yang lebih dekat dengan penumpang. Ia membandingkan hype saat KRL jenis ini debut yang tidak sebesar hype dari KRL CRRC. Peserta selanjutnya berkata INKA sudah bersifat master di kereta yang ditarik lokomotif. Ia merasa INKA perlu dukungan pengembangan untuk KRL, terlebih melihat permasalahan yang menimpa KRL baru.

Sementara untuk review, peserta pertama yang memberi review memberikan sebuah masukan bahwa bagian tengah kereta terasa gerah. Menurutnya hal ini karena blower AC yang berada hanya di sekitar pintu seperti halnya pada KRL seri 205. Ia berharap agar bagian ini dapat dibuat memanjang agar dapat mencakup seluruh kereta. Selain itu, ia memberi saran di mana agar jendela juga memiliki coakan untuk menurunkan jendela dari luar, agar  dapat dibuka dari luar saat keadaan darurat.

Untuk review selanjutnya, ada masalah berupa sisi samping yang sempat terlihat tidak rapi, akan tetapi sudah diperbaiki. Ia menilai juga kalau KRL ini sangat mirip feel-nya dengan KRL JR East seri 209. Ia pun menilai ACnya cukup adem, tapi terasa terlalu kencang hingga bisa membuat masuk angin. Ia pun mengkritik kursi KRL ini yang agak keras,

Pada review ketiga, ia membandingkan KRL ini dengan KRL seperti KRLI sampai Holec yang pintunya terkenal selalu bermasalah. Ia meminta agar masalah ini agar dapat diselesaikan. Dan akhirnya pada review keempat, sang peserta mengatakan meskipun KRL ini dingin, ada sejumlah masalah yaitu dimensi rak bagasi yang kecil, waktu operasi pintu yang lama, pintu yang sempat bermasalah, dan akselerasi KRL yang terasa lambat.

Pemaparan oleh INKA: Pintu – Sistem Pendeteksi Halangan/Obstacle Detection dan Reliabilitas

Pintu KRL INKA yang sering menjadi titik keluhan pengguna karena acapkali mengalami gangguan | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Diva Yulian Trisna, seorang insinyur bagian Electrical Engineering PT INKA memulai dengan menyampaikan harapannya agar produk INKA dapat menjadi kebanggaan masyarakat. Insinyur desain elektrik tersebut mengatakan bahwa ia akan merespons setiap keluhan satu-persatu dengan detail.

Terkait pintu yang sering muncul dalam pertanyaan dan keluhan, ia menjelaskan bahwa proses desain pintu di INKA adalah salah satu sistem yang harus dianalisa dari sudut pandang engineering. Menurut Diva, pintu adalah sistem yang krusial dari sisi desainer dan engineering karena terdapat proses integrasi harus dilakukan pada sistem elektrikal dan mekanik. Ia mengakui proses integrasi pintu tidak lebih mudah dari propulsi.

Diva memberi gambaran bahwa baik pada sistem propulsi ataupun sistem pintu terdapat proses integrasi yang harus memerhatikan berbagai faktor dan variabel. Contohnya pada sistem propulsi harus dilakukan perhitungan daya traksi ketika mencapai load puncak (AW4) yaitu beban penuh dengan penumpang berdiri sampai 8 orang per meter persegi. Sedangkan integrasi pada pintu mencakup pengukuran berat pintu, kekuatan motor pintu, serta sistem keselamatan anti terjepit berupa obstacle detection/antitrap yang sifatnya bervariasi. Pihak INKA saat ini sedang melakukan balancing (penyeimbangan) antara keandalan sistem pintu dan juga sistem keselamatan pintu. Proses ini dilakukan sebagai langkah untuk menyikapi gangguan-gangguan pintu yang terjadi karena banyaknya kondisi yang memicu sistem proteksi.

Parameter-parameter yang belum seimbang akhirnya menyebabkan reliabilitas kereta terdampak. Sehingga proses balancing dilakukan agar pintu bisa tetap beroperasi secara aman dan handal. Balancing antara keselamatan dan reliabilitas ini juga memerhatikan pola operasi Jakarta Kota-Bogor yang sangat padat. Oleh karenanya INKA mengakui pihaknya masih harus banyak belajar dan beradaptasi dengan kondisi setempat, meskipun mereka sudah mengantisipasi ketika sebuah masalah terjadi. Diva mewakili segenap PT INKA menyampaikan permintaan maaf jika dalam operasional KRL seri CLI-225 ini justru membawa kerugian bagi pengguna.

Cara Kerja Obstacle Detection INKA:

Diva kemudian melanjutkan penjelasan tentang sistem obstacle detection (pendeteksi halangan) pada pintu KRL IE-305. Misalkan kereta nomor 4 pada pintu 3 sudah mendeteksi aman tapi pintu 4 mendeteksi halangan atau obstacle, maka pintu tersebut akan terbuka kembali. INKA mendesain agar sistem ini hanya membuka pintu yang terhalang saja. Lebih dari itu, fitur obstacle detection ini bekerja dengan memantau seberapa besar tekanan gaya yang mengenai pintu agar dapat mendeteksi adanya penghalang secara akurat. Parameter ini diatur untuk dua nilai yaitu nilai up set pintu dan nilai aktual saat pintu bergerak.

Tekanan pada pintu ini sendiri tidak boleh terlalu keras sampai mencederai. Titik acuan bobot deteksi obstacle detection yang dipakai menggunakan asumsi bahwa halangan tersebut adalah seorang penumpang. Diva menjelaskan bahwa proses balancing dilakukan untuk mengakomodasi kondisi di stasiun yang jalurnya melengkung, karena adanya gaya tambahan yang bekerja pada pintu. Namun, pengaturan yang terlalu ketat justru sering memicu obstacle detection secara keliru, sehingga sistem membaca adanya halangan padahal tidak tedapat benda atau hal yang menghalangi pintu.

Rumitnya pengembangan sistem pintu ini terletak pada perlunya kesesuaian dengan bodi, motor, dan interior kereta. Walaupun sudah diuji dalam kondisi ekstrem, kendala tak terduga tetap muncul saat kereta mulai beroperasi. Oleh sebab itu, penyesuaian kembali pada tenaga motor dan fitur keselamatan pintu dilakukan agar sistem dapat beradaptasi dengan kondisi nyata di lintasan.

Performansi Pintu:

Diva pun kemudian menjawab terkait performansi pintu yang dinilai terlalu lambat. Ia mengatakan operasi sistem sudah diatur oleh INKA ketika saat pintu ditekan, sistem merespons dengan timing tertentu, disertai dengan pertimbangan dwell time (lama waktu berhenti). Untuk waktu respons antara saklar pintu ditekan oleh PPK (petugas pelayan KRL) dengan respons pintu seharusnya adalah 5 detik.

Namun, sering terjadi perbedaan performansi pintu terutama ketika berhenti di stasiun-stasiun yang padat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, para teknisi INKA terjun langsung ke lapangan dengan ikut naik KRL untuk mempelajari karakteristik unik di setiap stasiun. Data mengenai kondisi lapangan ini sedang dikumpulkan sebagai dasar untuk menyusun langkah penanganan atau mitigasi yang tepat.

Rekomendasi strategis untuk PT INKA dari Anker Twitter | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Komunitas Pengguna Anker Twitter turut menyampaikan analisa strategis untuk operasi KRL baru. Mereka menyampaikan rekomendasi strategis berasarkan polling dari para pengguna terkait gangguan kereta. Mereka mendapatkan kesimpulan bahwa gangguan yang paling sering adalah gangguan pintu. Mereka menyampaikan agar pengujian benar-benar menggambarkan jam sibuk dan bukan semata kondisi ekstrem.

Anker Twitter menyampaikan kalau penumpang sendiri sebenarnya tidak ambil pusing mengenai dari mana KRL yang beroperasi berasal, entah itu bekas Jepang, baru dari INKA, ataupun Tiongkok. Yang menjadi prioritas pengguna adalah keandalan dan keamanan kereta selama beroperasi.

Keluhan-Keluhan Interior

PIDS pada KRL CLI-225 | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Selain itu, INKA juga mencoba membahas keluhan-keluhan terkait interior yang sering disampaikan oleh para pengguna. Sebut saja finishing, gap jendela darurat, penempatan P3K dan APAR, rak bagasi, dan juga tirai. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mengirimkan foto-foto terkait masalah interior kepada INKA untuk kemudian dibahas. Di antaranya adalah:

Celah Jendela Darurat yang Kemasukan HP:

HP yang terselip ke celah jendela | Foto: Hammam Al May

Tampak jelas pada foto di atas terdapat sebuah HP yang terselip ke dalam celah jendela darurat. INKA mengakui pihaknya tidak mendapatkan insight kalau tepi jendela sering menjadi tempat orang meletakkan HP untuk merekam. Oleh karenanya, gap ini sedang ditutup agar lebih aman dari HP dan juga tangan anak kecil. Meski demikian, celah ini memang harus ada untuk mengakomodir gerakan naik-turun jendela darurat.

Penempatan P3K dan APAR:

Tampak juga penempatan APAR di dekat pintu yang menjadi keluhan karena ruang tersebut bisa untuk satu orang berdiri. Oky Murdianto dari INKA menjelaskan bahwa APAR harus aksesibel atau mudah diakses oleh siapapun yang berada di dalam kereta. APAR terpaksa ditempatkan di dekat pintu karena sisi dinding pada ujung kereta sudah penuh dengan panel elektrikal. Pihak INKA mengakui secara behavior juga ingin meletakkan APAR di ujung, rata dengan dinding seperti pada KRL eks Jepang dan KRL CRRC. Tapi karena keterbatasan space dalam interior, akhirnya dikompromikan dengan menempatkannya dekat pintu.

Rak bagasi:

Raindes Ikag Mahendra, desainer interior dan eksterior PT INKA menerangkan mereka ingin membawa desain interior yang clean dan memberi kesan luas dan nyaman. INKA awalnya memiliki persepsi KRL hanya digunakan sebagai mobilitas jarak pendek sehingga beranggapan rak bagasi bisa dikorbankan. Hanya saja, pada desain awal KRL ini pihak INKA sudah memaparkan desain asli di mana rak bagasi benar-benar sampai ujung. Dalam penyampaian ini juga disampaikan rekayasa struktural akan dibutuhkan apabila rak bagasi ingin dipanjangkan. Namun, pada pelaksanaannya, desain akhir rak bagasi ini diputuskan untuk diperpendek dari ukuran semula. Perubahan panjang tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai alasan teknis yang telah dipaparkan sebelumnya.

Tirai:

INKA mengatakan desain tirai yang dipilih yang notabenenya mirip dengan kereta jarak jauh buatan INKA sejak 2018 yang dinilai sebagai desain yang up to date dengan durability terbaik, akan tetapi fungsionalitas desainnya memang perlu ditingkatkan. INKA juga sudah memberikan video edukasi kepada pengguna untuk tirai KRL baru ini.

Para pembaca yang mungkin menyadari juga bertanya-tanya mengapa INKA tidak menggunakan tirai seperti LRT Jabodebek yang modelnya cukup digeser tanpa harus ditarik terlebih dahulu untuk menggeser atau menghentikan. Hanya saja, dalam sesi ini Tim REDaksi belum berkesempatan menanyakan mengapa INKA tidak meniru tirai yang digunakan oleh LRT Jabodebek.

Viral PIDS longgar:

Pihak INKA pertama menjelaskan pengelompokan masalah pada KRL dengan menetapkan apakah masalah tersebut merupakan hasil dari proses desain atau merupakan sebuah kasus unik (case) yang terjadi akibat faktor eksternal. Kejadian PIDS longgar ini adalah case yang terjadi secara teknis diakibatkan oleh komponen pengait yang kemungkinan longgar saat proses perawatan malam. Untuk kasus PIDS longgar  telah menjadi evaluasi INKA untuk menjaga agar kasus ini tidak terjadi lagi.

Klakson:

KRL CLI-225 TS 3 yang memiliki klakson berbeda | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Pihak INKA menjelaskan adanya perbedaan klakson antara TS1-2 dan TS3-4. Oky memaparkan bahwa terdapat regulasi yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) selaku pihak regulator dibawah Kementerian Perhubungan yang mengatur tingkat kebisingan pada klakson kereta. Dan setelah pengujian dengan regulator, bunyi klakson dinilai kurang keras, sehingga diganti.

Berdasarkan pencarian Tim REDaksi, peraturan klakson untuk KRL berada dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 175 Tahun 2015 tentang Standar Spesifikasi Teknis Kereta Kecepatan Normal dengan Penggerak Sendiri Pasal 45, suara klakson mengikuti standar kendaraan bermotor. Peraturan standar klakson kendaraan bermotor ada pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan pada pasal 69 di mana standar bunyi klakson adalah 83-118 desibel (dB).

Jawaban atas Keluhan Finishing Tidak Rapi:

Tampak interior KRL CLI-225 | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Terdapat juga aspirasi mengenai finishing kereta yang dirasa kurang rapi. Pihak INKA mengakui masalah tersebut dan sejumlah masalah lain di luar hal teknis. Pihaknya akan melakukan perbaikan pada sarana KRL yang masih dalam tahap produksi.

Saat Tim REDaksi menanyakan perbandingan terhadap LRT Jabodebek, pihak INKA mengakui adanya perbedaan finishing akibat perbedaan proses. Pertama, ada perbedaan mendasar antara panel interior di LRT Jabodebek dengan CLI-225, yakni LRT Jabodebek menggunakan fiber glass sementara CLI-225 menggunakan aluminium, sehingga hasil finishing LRT Jabodebek bisa terlihat lebih rapi.

Kedua, eksterior LRT Jabodebek menggunakan aluminium extrusion. Sementara CLI-225 menggunakan panel-panel stainless steel yang harus dirakit satu per satu. Namun kembali lagi, mengenai spesifikasi ataupun konstruksi kereta, INKA hanya mengikuti permintaan pemesan.

Di lini produksi sendiri, INKA mengakui masih melakukan sejumlah penyesuaian agar sepenuhnya menggunakan machine cutting. Hanya saja, ada beberapa revisi di lapangan yang harus dilakukan dengan pekerjaan tangan. Sedangkan mengenai finishing cat ada kemungkinan terkena alat atau tangan sehingga dilakukan perbaikan di tempat. Untuk penempatan komponen dan layout sudah menyesuaikan kebutuhan termasuk advertising oleh KCI.

Kesimpulan:

Pihak INKA dalam acara ini mengakui adanya banyak permasalahan dalam KRL seri CLI-225 dan masih harus banyak belajar, terutama di reliabilitas pintu, kenyamanan, dan finishing. Meski INKA menegaskan memang ada beberapa faktor desain yang merupakan hasil diskusi dengan pemesan, tetapi INKA tetap mengukuhkan komitmennya dalam perbaikan. Terutama dalam reliabilitas pintu agar berimbang antara keselamatan dan keandalan, serta finishing agar bisa lebih rapi dan presisi. (RED/IHF/BTS)

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses