Fakta KAIndonesiaKereta Api

Membedakan KRL Seri 205 dari Jalur Saikyo, Jalur Yokohama, dan Jalur Nambu Pasca Perubahan Susunan Rangkaian

2 KRL seri 205 berpapasan di Stasiun Manggarai
KRL seri 205 saat ini merupakan KRL dengan jumlah terbanyak yang beroperasi di Jabodetabek. Didatangkan mulai akhir 2013, kini jumlah keseluruhannya mencapai 476 unit yang terbagi menjadi 60 rangkaian dengan formasi setiap rangkaian terdiri dari 10 atau 12 kereta. Dan di antara 476 unit itu, terdapat 14 unit yang tidak dapat dioperasikan akibat kerusakan karena kecelakaan atau karena menjadi donor untuk rangkaian lain.
Dengan jumlah sebanyak itu, mungkin anda bosan karena sekarang hampir di setiap jalur di Jabodetabek pasti ada lebih dari 1 rangkaian KRL seri 205 yang beroperasi. Namun tentunya banyak dari anda yang belum terlalu bisa membedakan antara masing-masing rangkaian seri 205 yang didatangkan dari 3 jalur berbeda di Jepang. Perbedaan bisa dilihat dari eksterior kereta maupun interiornya. Mau tau apa yang membuat mereka berbeda padahal terlihat sama?

KRL Seri 205 Jalur Saikyo

KRL seri 205 dari jalur Saikyo, rangkaian 205-142F (K1 1 14 121 TS)
KRL seri 205 dari jalur Saikyo merupakan KRL seri 205 jenis pertama yang didatangkan ke Indonesia pada akhir tahun 2013. Didatangkan sebanyak 180 unit yang terbagi dalam 18 rangkaian, 2 rangkaian yang diturunkan pertama kali adalah 205-99F (eks Kawagoe set 11, nomor lambung Kemenhub K1 1 13 71-80) dan 205-123F (eks Kawagoe set 15, nomor lambung Kemenhub K1 1 13 61-70). Rangkaian-rangkaian dari jalur Saikyo ini memiliki jenjang waktu yang cukup lama dari sejak pertama diturunkan dari kapal sampai benar-benar berdinas. Ujicoba angkut penumpang saat itu dilakukan pada tanggal 6 Februari 2014 dengan nomor perjalanan AL/25 dan baru berdinas reguler sebulan kemudian, sekitar 5 bulan sejak penurunan.
Rangkaian ini memiliki formasi baku 10 kereta, dan umumnya terdiri dari 2 kereta pengikut berkabin, 3 kereta motor berpantograf belah ketupat, 3 kereta motor tanpa pantograf, dan 2 kereta pengikut dengan jumlah pintu 6 buah per sisinya. Formasi 10 kereta dengan kereta-kereta 6 pintu inilah yang membedakan KRL seri 205 Saikyo dengan KRL seri 205 dari jalur lainnya. Menurut klasifikasi Jepang, kereta 6 pintu ini dinomori サハ (SaHa) 204-0. Khusus 205-123F, kereta trailer 6 pintu menggunakan SaHa 205 dan SaHa 204-100. Ada beberapa rangkaian yang tidak memiliki SaHa 204-0, sebagai gantinya adalah SaHa 205 dengan 4 pintu per sisinya. Ada pula 1 rangkaian yang berubah menjadi 12 kereta dengan menambah 2 kereta motor dari rangkaian lain.
SaHa 204-12 (K1 1 14 128)

Pada interior kereta 4 pintu, KRL seri 205 Saikyo tidak memiliki “tempat bersandar” di setiap ujung-ujung jok, berbeda dengan KRL seri 205 dari jalur lainnya. Sedangkan pada kereta 6 pintu, jok yang digunakan menggunakan sarung hijau.

Interior kereta 4 pintu, MoHa 205-247 (K1 1 14 44)

Pada eksterior, rangkaian ini dapat dengan mudah dibedakan dari keberadaan stiker “Kereta Khusus Wanita” pada setiap ujung-ujung kereta selain papan penanda yang dipasang di samping pintu penumpang, di mana rangkaian-rangkaian dari jalur Yokohama dan Nambu tidak memiliki stiker ini, hanya papan penanda saja.

Setiap rangkaian dari jalur Saikyo memiliki stiker kereta khusus wanita pada setiap-kereta-kereta ujung

Kini terdapat 17 rangkaian eks jalur Saikyo yang terdiri dari 2 panjang formasi yang berbeda, yaitu 10 dan 12 kereta, dengan 4 variasi formasi berbeda. Ada 1 rangkaian (12 unit) yang tidak dapat dioperasikan lagi, yaitu 12 kereta gabungan dari 205-123F dan 205-54F yang terlibat dalam kecelakaan Juanda.

Susunan rangkaian 205 Saikyo

KRL Seri 205 Jalur Yokohama

KRL seri 205 dari jalur Yokohama
KRL seri 205 dari jalur Yokohama adalah KRL seri 205 jenis kedua yang didatangkan ke Indonesia mulai pertengahan 2014, segera setelah rampungnya pengiriman KRL seri 205 dari jalur Saikyo. KRL ini didatangkan sebanyak 176 unit yang terbagi dalam 22 rangkaian dengan formasi 8 baku kereta per rangkaian.
1 rangkaian KRL seri 205 dari jalur Yokohama umumnya terdiri dari 2 kereta pengikut berkabin, 2 kereta motor berpantograf satu lengan, 2 kereta motor tanpa pantograf, 1 kereta pengikut dengan 4 pintu per sisi, dan 1 kereta pengikut dengan 6 pintu per sisi. Namun, kereta 6 pintu ini berbeda dengan yang dimiliki oleh KRL seri 205 dari jalur Saikyo.
Dalam klasifikasi Jepang, kereta 6 pintu ini dinomori サハ (SaHa) 204-100. SaHa 204-100 ini memiliki konstruksi badan, bentuk pintu, dan bogi yang mirip dengan KRL seri 209-0.

SaHa 204-125 (K1 1 14 239)
Dari 22 rangkaian itu, terdapat 2 rangkaian yang sedikit berbeda. 1 rangkaian menggunakan SaHa 204-0, dan 1 rangkaian lainnya tidak memiliki Saha 204-0 ataupun SaHa 204-100.
Pada interior kereta 4 pintu, KRL seri 205 dari jalur Yokohama ini tidak memiliki perbedaan besar dengan KRL seri 205 dari jalur lain, namun terdapat “tempat bersandar” di setiap pojokan kursi. Sedangkan untuk kereta 6 pintu, jok yang digunakan memiliki sarung berwarna merah muda keunguan.

Interior MoHa 205-221 (K1 1 14 176)
Pada eksterior, rangkaian eks Yokohama dapat dibedakan dari ketiadaan stiker kereta khusus wanita pada setiap kereta-kereta ujung, hanya terdapat papan penanda kereta khusus wanita saja. Selain juga keberadaan SaHa 204-100, rangkaian-rangkaian Yokohama pada umumnya dapat dibedakan dari bentuk pantografnya yaitu single arm.
Kini, rangkaian Yokohama beroperasi dengan formasi 10 dan 12 kereta dengan 5 variasi formasi setelah dilakukan pengaturan ulang formasi rangkaian sepanjang tahun 2016 ini, sehingga tidak ada lagi yang memiliki formasi asli 8 kereta. Namun, membedakan rangkaian Yokohama dengan Saikyo dan Nambu masih cukup mudah. Membedakan rangkaian Yokohama dan Saikyo yang sama-sama memiliki formasi 10 kereta cukup melihat dari bentuk pantograf dan keberadaan stiker kereta khusus wanita. Di lain pihak, membedakan rangkaian Yokohama dan nambu yang sama-sama memiliki formasi 12 kereta hanya melihat dari susunannya, di mana susunan rangkaian Yokohama 12 kereta selalu 4+8 dan rangkaian Nambu selalu 6+6. Selain itu, cowcatcher rangkaian Yokohama juga keseluruhannya berwarna merah terang, berbeda dengan rangkaian Saikyo yang berwarna merah terang dengan tiang berwarna hitam atau Nambu yang berwarna merah gelap dengan tiang berwarna hitam.
Susunan rangkaian 205 Yokohama

KRL Seri 205 Jalur Nambu

KRL seri 205 dari jalur Nambu, rangkaian 205-86F (K1 1 15 19 TS) + 205-88F (K1 1 15 07 TS) formasi 12 kereta
KRL seri 205 dari jalur Nambu adalah KRL seri 205 jenis ketiga yang didatangkan ke Indonesia mulai pertengahan 2015. KRL ini didatangkan sebanyak 120 unit yang terbagi dalam 20 set dengan formasi baku 6 kereta. Namun, di Indonesia KRL ini akan dioperasikan dengan formasi 6+6 sehingga menjadi 10 rangkaian dengan formasi 6+6 atau 12 kereta. Meskipun begitu, baru 2 rangkaian yang beroperasi dengan formasi 6+6, sisanya beroperasi dengan formasi 4+6 atau 8 kereta sambil menunggu kesiapan prasarana.
Rangkaian dengan ciri khas kelir kuning-jingga-hitam khas jalur Nambu yang dipertahankan dengan tambahan topeng merah sebagai ciri khas PT. KCJ ini tentunya menjadi KRL seri 205 yang paling mudah dikenali di antara KRL seri 205 dari jalur lain. 1 rangkaian seri 205 Nambu formasi baku memiliki 2 kereta pengikut berkabin, 2 kereta motor berpantograf satu lengan, dan 2 kereta motor tanpa pantograf. Tidak ada yang spesial dari formasi baku tersebut, kecuali ketika digandengkan menjadi 6+6, dan melihat formasi yang membuat adanya kabin di tengah rangkaian itu membawa memori kembali ke zaman Divisi Jabotabek di mana KRL-KRL Ekonomi juga digandengkan dengan formasi 4+4. KRL seri 103 pun pernah juga digandengkan dengan formasi 4+4.

Kabin-kabin tengah dari rangkaian 12 kereta

Interior KRL seri 205 dari jalur Nambu tidak jauh berbeda dengan KRL seri 205 dari jalur Yokohama, yaitu sama-sama memiliki “tempat bersandar” di setiap pojokan kursi. Namun pada beberapa kereta, di bagian pintu terdapat stiker berwarna kuning di lantai.

Interior Moha 205-13 (K1 1 15 20)

5 dari 10 rangkaian Nambu mengalami pergantian 2 kereta motor dengan 2 kereta trailer dari kereta-kereta jalur Yokohama, sehingga formasinya berubah menjadi 6 kereta motor dan 6 kereta trailer.

Susunan rangkaian 205 Nambu

Tidak terlalu sulit untuk membedakan rangkaian-rangkaian tersebut karena pada hakikatnya masing-masing kereta dari masing-masing jalur memiliki perbedaan yang cukup jelas semasa masih beroperasi di Jepang, dan setibanya di Indonesia pun terdapat sedikit perbedaan modifikasi pada saat adaptasi lingkungan dilakukan.

RE Digest | Diperbaharui dari artikel yang ada di laman berikut
Data diolah dari berbagai sumber

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×