Berita KAIndonesiaKereta ApiMRT JakartaRED Citizen Journalism

[RED Citizen] Mengintip Progres MRT Jakarta Sampai Desember 2017

Suasana Forum diskusi Jurnalis dan Blogger MRTJ

Setelah mulai mengadakan Forum Jurnalis dan Blogger sejak tanggal 3 April 2017 lalu, PT MRT Jakarta (MRTJ) kembali mengadakan acara serupa yang bertempat di Metro Coffee Bar pada tanggal 20 Desember 2017. Dalam acara ini dijabarkan secara mendetail tentang kemajuan yang dicapai oleh MRTJ sejauh ini, baik konstruksi, pengadaan armada, dan juga pemilihan mitra. Tidak ketinggalan, dalam acara ini juga dibahas mengenai pembangunan TOD (Transit Oriented Development) yang akan terintegrasi dengan MRTJ. Penasaran bagaimana isi dari forum ini? Simaklah terus liputan ini!


Konstruksi dan Persiapan Operasi

Segmen awal dari forum diskusi ini diawali dengan penjabaran progres konstruksi dan persiapan operasi yang sampai saat ini telah ditempuh oleh MRTJ, dan juga proyeksi progres masa depan di akhir tahun, dan rencana di tahun 2018. Berdasarkan keterangan William Sabandar selaku Direktur Utama PT. MRT Jakarta, per 15 Desember progres konstruksi mencapai 82,59% untuk seksi elevated (jalur layang), 94,59% untuk seksi underground (jalur bawah tanah), dengan progres keseluruhan mencapai 88,56%.
Selain itu William menambahkan proyeksi progres untuk 31 Desember sebesar 85,20% untuk seksi elevated dan 95,13% untuk seksi underground, dengan 90,14% progres keseluruhan. Untuk tahun 2018, fokus pengerjaan ada pada kereta dan sistem. Sementara keseluruhan progres kesiapan OM yaitu Operational & Maintenance Per 15 Desember mencapai 41,37%
Untuk kunjungan ke lokasi MRTJ mulai Januari 2018 sudah tidak lagi diizinkan dikarenakan telah dipasangnya sistem elektrikal, sehingga terlalu berisiko untuk pengunjung. Sementara itu, untuk armada KRL MRTJ, rangkaian pertama direncanakan akan datang pada bulan Maret 2018 mendatang.

Pelatihan kru MRTJ bersama PT KCI di Dipo Depok | Foto: MRT Jakarta

Untuk pelatihan kru, telah dilakukan persiapan kerjasama dengan PT KCI yang meliputi pengetahuan dan pelayanan KRL, sistem pengereman dan pengkondisian udara, pengetahuan sinyal elektrik, pengenalan instrument kabin masinis, pengenalan alur operasi di dipo KRL, serta pengetahuan alur dinas masinis. Rencana kebutuhan personel untuk Maret 2018 sendiri sejumlah 400 orang. Sebenarnya, kerjasama direncanakan akan dilakukan dengan PT KAI, akan tetap dikerarenakan adanya perbedaan sistem, maka kerjasama dengan PT KAI tidak jadi dilakukan.

Dilakukan juga kerjasama dengan API untuk diklat kompetensi, lulusan dites lagi dan kemudian diseleksi sebanyak 80 dari 120 peserta. Peserta yang lolos seleksi ini kemudian akan dikirim untuk pelatihan di Malaysia. Selain bekerjasama dengan PT KCI dan API, MRTJ juga bekerjasama dengan MRT di luar negeri.
Di Malaysia, pelatihan dilakukan dengan praktik pelatihan kerja berbasis computer (CBT – Computer Based Training). Di sana sudah dikirim 2 batch (18 orang per batch) untuk instruktur terlebih dahulu. Sementara untuk masinis, dikirim 10 terbaik untuk mengikuti pelatihan.Sampai saat ini sudah ada 3 batch tenaga teknis dengan total yang telah direkrut sebanyak 158 dari 400 orang. Diperkirakan proses rekrutmen pada kuartal 1 pada 2018 sudah rampung.

Penandatanganan kerjasama Qlue dengan MRT Jakarta | Foto: MRT Jakarta

Tidak ketinggalan, MRTJ juga menandatangani MoU dengan Qlue pada 6 September 2017. Aplikasi ini berfungsi untuk pengaduan dan laporan kepada MRTJ via teks, foto, dan geotagging (pencantuman lokasi dari aplikasi) mengenai pengerjaan proyek. Aplikasi ini sudah bisa didownload di ponsel pintar Android, sedang untuk versi iOS masih dikembangkan, dengan akun resmi MRTJ di aplikasi ini adalah MRT_Jakarta.


Milestons MRT Jakarta 2017: Sebuah Perjalanan

Kaleidoskop progres konstruksi MRT Jakarta | Foto: MRT Jakarta

Tidak ketinggalan juga ditampilkan kaleidoskop progres konstruksi dan persiapan operasi yang dicapai oleh MRTJ, di mana setiap momen-momen penting atau milestones MRTJ selama tahun 2017 ini ditampilkan. Dalam kaleidoskop ini, terlihat sangat jelas bahwa progres persiapan MRTJ sedang dikebut habis-habisan. 


Sebut saja pada Januari 2017 dilakukan percepatan pada pekerjaan lintas layang/elevated, sedang pada Februari 2017 pekerjaan jalur bawah tanah/underground sudah selesai. Pada Maret 2017, dilakukan pembangunan pintu masuk 1 Stasiun Dukuh Atas, dan pada bulan April pintu masuk Stasiun Setiabudi. Pada bulan Mei, dilakukan pekerjaan pemasang gardu LAA di Lebak Bulus. Pada bulan Juni, dilakukan pengiriman material rel, serta pengiriman material gantry LAA pada bulan Juli, serta jembatan gauge pada bulan Agustus.
Pada akhirnya, tanggal 31 Oktober 2017, jalur bawah tanah dan jalur layang berhasil disambung, dan terakhir pada tanggal 18 Desember terjadi momen bersejarah di mana dilakukan uji dinamis armada KRL MRTJ di Nippon Sharyo Rolling Stock Center, Toyokawa, Jepang.

Rolling Stock Test di Nippon Sharyo, Toyokawa – Jepang | Foto: MRT Jakarta


Seleksi Mitra Telekomunikasi dan Tenant

Tower Bersama memenangkan seleksi mitra konektivitas seluler dan wi-fi | Foto: MRT Jakarta

Selain progres konstruksi, tidak ketinggalan juga mulai dilakukan seleksi terhadap mitra-mitra potensial MRTJ. Sebut saja mitra layanan telekomunikasi yaitu konektivitas seluler dan wi-fi. Proses seleksi untuk mitra layanan telekomunikasi dimulai dari April 2017, dengan mitra yang terpilih adalah Tower Bersama yang memenangkan proses seleksi pada 10 Oktober 2017. Sementara untuk mitra periklanan, proses seleksi juga dimulai pada April 2017, dengan penentuan pemenang dilakukan pada tanggal 11 Oktober dengan pemenang adalah Mahaka Advertising. Masing-masing mitra memiliki kontrak dengan MRTJ dengan durasi 10 tahun.

Untuk seleksi calon tenant retail di stasiun-stasiun MRTJ akan menganut konsep “Lifestyle station” yang didukung dengan tenant retail dari conveincence store (minimarket), fashion (dan aksesoris), makanan dan minuman (dengan produk yang dijajakan harus berupa RTE), ATM, dan lain-lain, dengan sifat kesemuanya haruslah “grab & go”.
Proses pemilihan mitra tenant retail ini dimulai dengan potential tenant gathering yang akan dilakukan pada Januari 2018 mendatang, yang pesertanya dari badan usaha dan perorangan. Pada gathering ini akan dibahas kriteria teknis grab&go, RTE, logistic loading and unload, pengalaman, dan pengkhususan untuk produk dengan brand lokal. Selanjutnya juga akan ada tahap beauty contest (evaluasi awal dengan melihat dari pengalaman serta latar belakang calon mitra retail), pemasukan proposal, dan evaluasi sebelum kemudian dilakukan pemilihan mitra pemilih. Teaser iklan pemilihan calon mitra retail MRTJ fase I telah dimuat di media sosial MRT Jakarta dan akan ditayangkan hanya sampai pada tanggal 13 November 2017 sebagai tahap awal proses pemilihan mitra retail.


Groundbreaking TOD (Transit Oriented Development): Aspek yang Tak Dapat Dipisahkan

Master plan Transit Oriented Development Dukuh Atas | Foto: MRT Jakarta

Selain membahas MRTJ, William Sabandar juga menjelaskan mengenai groundbreaking TOD (Transit Oriented Development) Dukuh Atas dengan slogan Gateway of Jakarta dan berkonsep mengutamakan pejalan kaki, pesepeda, dan penyandang disabilitas. Pengembangan TOD menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari MRTJ dikarenakan di masa depan kelak wilayah Dukuh Atas diproyeksikan menjadi simpul moda transportasi baik KRL KCI, MRTJ, ARS, dan LRT.

Development character pada TOD Dukuh Atas | Foto: MRT Jakarta

TOD ini dibangun berdasarkan konsep building massing dengan beberapa development character yaitu Landmark Architecture, Mixed Use Development di mana pengembangan TOD dilakukan dengan bekerja sama melibatkan pengembang, Great Streets yaitu jalan yang ramah untuk pejalan kaki, pesepeda, dan penyandang disabilitas, Civic Plaza berupa ruang terbuka, pedestrian bridge jembatan untuk pejalan kaki atau yang bisa disebut dengan skywalk, dan revitalisasi koridor sungai.

Selain master plan keseluruhan, juga dijabarkan master plan mengenai konektivitas pejalan kaki di sekitar TOD yang tidak terlepas dari konsep TOD yang sudah disebutkan di atas yaitu mengutamakan pejalan kaki, pesepeda, dan penyandang disabilitas.

Master plan konektivitas pejalan kaki di wilayah TOD Dukuh Atas | Foto: MRT Jakarta

Pembangunan TOD ini juga akan dilakukan pengembangan lahan eks Pasar Blora, dengan meminta panduan rancang kota pada Gubernur dan Wakil Gubernur serta Menteri Perhubungan.

Sesi Tanya-Jawab dengan MRT Jakarta

Selain penjabaran oleh pihak MRTJ, juga dibuka sesi tanya jawab. Berikut beberapa pertanyaan dan jawaban yang berhasil Penulis dirangkum. 
Berdasarkan keterangan Agung Wicaksono selaku Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT. MRT Jakarta, untuk rak bagasi telah diatur dalam PM 48/2015 Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api dan tetap ada di ujung di atas kursi prioritas meskipun tidak ada pada barisan kursi lain, dengan asumsi penumpang yang prioritas untuk meletakkan barang di atas. Alasan utama rak bagasi dianggap tidak penting adalah karena lama perjalanannya direncakan hanya sekitar 30 menit untuk Lebak Bulus – HI.
Untuk kursi, pada awalnya akan menggunakan bahan beludru, tetapi kemudian dirasa lebih menyulitkan dikarenakan lebih cepat kotor dan mudah apek jika terkena air. Selain itu kursi plastik yang digunakan diklaim mempunyai kualitas yang lebih baik dan tidak diatur di PM 48/2015 Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, dan berkaca pada MRT Singapura yang bangkunya plastik.

Interior KRL MRTJ yang sempat menuai kontroversi di kalangan railfans dikarenakan tidak ada rak bagasi kecuali di atas barisan kursi prioritas dan penggunaan kursi plastik| Foto: MRT Jakarta

Sementara untuk TOD rencananya akan mulai dibangun pada bulan Januari sebelum Asian Games. Rencananya Pasar Blora dibuat pedestrian, sedang kawasan di bawah fly over dari Stasiun Sudirman hingga Stasiun BNI City juga seluruhnya dibuat pedestrian, sehingga tidak ada kendaraan yang masuk demi mengakomodasi pejalan kaki yang transit dari satu moda ke moda lainnya (Baik dari KCI, ARS, MRT, dan LRT). Untuk kendaraan dari Jalan Tanjung Karang akan dialihkan ke arah Stasiun Railink, sedangkan yang dari arah tosari akan dialihkan ke Blora. Selain itu, kawasan di samping stasiun termasuk taman dukuh atas rencananya akan dikelola oleh MRT Jakarta.

Akan tetapi, KCI belum setuju dengan rencana kawasan di bawah fly over untuk tidak ada kendaraan karena menunggu operasional ARS, jadi baru setengah jalan yang akan ditutup, sehingga arus kendaraan menjadi hanya satu arah yaitu dari Tosari untuk berputar ke arah HI.
Untuk rencana mendatang yaitu Fase 2 MRT Jakarta, tahun depan akan dimulai pembebasan lahan, dengan groundbreaking fase 2 pada Desember 2018, dengan fase ini rampung pada 1 Februari 2019. Untuk saat ini, 10% dari fase 2 ini difokuskan ke persiapan operasional. 

Wawancara langsung dengan Direktur Utama MRTJ

Wawancara langsung dengan William Sabandar selaku Direktur Utama MRTJ

Setelah selesai acara, para jurnalis langsung ramai-ramai mendatangi William Sabandar selaku Direktur Utama MRT Jakarta untuk melayangkan beberapa pertanyaan. Berikut rangkuman dari sesi wawancara yang berhasil Penulis peroleh. 

Menurut William, banjir yang terjadi beberapa waktu lalu di Dukuh Atas dikarenakan sistem drainase di sekitar stasiun yang tidak dibenahi dan bukan karena proyek pembangunan MRT. Lalu mengingat Stasiun Senayan yang pernah kemasukan air, jika air masuk ke dalam galian, ia memerintahkan untuk menutup galian dengan penutup dan menyiapkan pompa jika air sudah masuk ke dalam galian.

Nantinya, di bawah terowongan akan dibuatkan sump pit, yakni lubang yang berfungsi untuk menampung air jika air masuk ke terowongan. Setelah air berada di dalam sump pit, air tersebut bisa dipompa ke luar. Ia menambahkan terowongan bawah tanah tidak boleh terkena air dikarenakan seluruh sistem MRT sudah terelektrifikasi. 

Proyek tahun depan akan difokuskan ke sistem pengoperasian sarana dan prasarana MRTJ. Rencananya, pengerjaan rel akan dipercepat dengan menambah 500 tenaga kerja dan ditargetkan akan selesai pada bulan Maret 2018. Sementara untuk armada akan ditargetkan datang pada bulan Maret – Juli 2018, dan ujicoba akan berlangsung dari Juli – Agustus sekaligus pelatihan awak kru on board dan stasiun. Rencananya semua rampung pada Desember 2018, tetapi belum bisa melayani penumpang dikarenakan masih melakukan simulasi dinas dan uji kelayakan.
Sementara untuk perpanjangan rangkaian kereta bisa ditambah dengan 2 kereta dari stamformasi awal 6 kereta, yang berarti satu rangkaian/set bisa beroperasi dengan jumlah 8 kereta jika penumpang sudah mulai ramai. Sampai saat ini belum ada penambahan rangkaian dari jumlah awal, yaitu 16 rangkaian/set. Rangkaian akan bertambah jika penumpang mulai bertambah banyak dan kapasitas armada tidak mencukupi lagi, sesuai dengan ekspektasi yang tercantum pada master plan.
Selain itu, survei konsultan mengatakan 60% dari 10.000 total sampel warga mengatakan bahwa warga siap pindah ke transportasi publik jikalau sudah tersedianya feeder system, parkir yang dimahalkan, serta transportasi publik yang berkembang dan terintegrasi. 
Demikianlah isi liputan ini, semoga pembangunan proyek dan pengoperasian MRTJ nanti harapannya akan berjalan dengan lancar dan baik, sehingga masyarakat pun bisa ikut berpartisipasi untuk mengurangi kemacetan di ibukota dengan menggunakan transportasi publik, sehingga Jakarta akan makin melesat menuju masa depan.

RED Citizen Journalism | Martinus Erico

Ingin artikelmu tampil di RED Citizen Journalism? Baca ketentuannya di sini

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×