Berita KAIndonesiaKereta Api

BB 204 dan Kereta Penumpang Nippon Sharyo Mulai Ditanahkan

Kereta penumpang Nippon Sharyo dan lokomotif BB 204 yang ditanahkan di Balai Yasa Padang | picture by: Dodi Rangkoto via KPKD2SB

[16/5]. Kabar sedih datang dari perkeretaapian Ranah Minang. Dua legenda perkeretaapian Sumatera Barat yakni kereta penumpang Nippon Sharyo dan lokomotif BB 204 mulai ditanahkan di Balai Yasa Padang. Pentanahan ini mulai dilakukan sejak Rabu kemarin.

Satu per satu kereta penumpang Nippon Sharyo dan lokomotif BB 204 yang mangkrak dilangsir menggunakan lokomotif BB 303 84 12 menuju halaman Balai Yasa Padang. Semuanya kemudian ditanahkan dan ditumpuk menggunakan crane yang sudah siap mentanahkan para legenda Bumi Minang. Semua kereta penumpang Nippon Sharyo, baik K3 maupun K1, sebanyak 9 unit ditumpuk seperti di Purwakarta maupun Cikaum.

Rangkaian kereta penumpang Nippon Sharyo yang dilangsir menggunakan lokomotif BB 303 84 12 sebelum ditanahkan | picture by: Maulana Nur Achsani

Sedangkan sebanyak 15 unit lokomotif BB 204 dengan nomer seri BB 204 01 hingga BB 204 17 ditanahkan di samping kereta penumpang Nippon Sharyo. Kecuali BB 204 15 dan BB 204 16 yang masih berada di Dipo Lokomotif Solok. Ditanahkannya kedua sarana ini tentu menyayat hati para pecinta kereta api khususnya warga Sumatera Barat mengingat keduanya merupakan ikon perkeretaapian Sumatera Barat.

Kereta penumpang Nippon Sharyo pertama kali beroperasi sekitar tahun 1958. Kereta penumpang ini bisa dibilang cukup unik karena ukurannya yang dibuat lebih kecil ketimbang kereta penumpang pada umumnya.

Hal tersebut dilakukan agar kereta penumpang ini bisa masuk ke Terowongan Lembah Anai yang sempit dan kecil. Kereta penumpang ini terakhir kali beroperasi mengangkut penumpang pada 2014 saat Kereta Wisata Danau Singkarak masih beroperasi.

Sedangkan lokomotif BB 204 merupakan satu-satunya lokomotif diesel di Indonesia yang dapat beroperasi di jalur bergerigi. Lokomotif ini dibuat oleh pabrikan Swiss Locomotive and Machine Works pada tahun 1981 hingga 1984 untuk menunjang operasional angkutan batubara di Sawahlunto. Total sebanyak 17 unit lokomotif didatangkan ke Indonesia.

Saat stok batubara habis dan kereta angkutan batubara berhenti beroperasi, satu per satu lokomotif BB 204 mulai mati karena kesulitan suku cadang. Lokomotif yang masih hidup pun mengandalkan suku cadang dari lokomotif yang sudah mati terlebih dahulu.

Pentanahan kedua sarana ini dilakukan agar Balai Yasa Padang tidak disesaki oleh sarana yang tidak lagi beroperasi serta meningkatkan kapasitas perawatan di balai yasa.

(RED/BTS)

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×