Forum Jurnalis MRT Jakarta Maret 2021: dari Perkembangan Jaringan hingga Rencana Integrasi

[18/3] Setelah tidak melaksanakan forum jurnalis pada bulan Februari kemarin, pada bulan Maret MRT Jakarta kembali melaksanakan forum jurnalis. Ada sejumlah topik yang dibahas seperti di antaranya pencapaian operasional MRT Jakarta, perkembangan jaringan, dan rencana Integrasi Transportasi.
Pencapaian Operasional MRT Jakarta

Pada pertengahan Maret 2021, jumlah pengguna MRT Jakarta adalah 228.009 orang, atau dirata-rata 20.728 orang pengguna per hari. Jumlah ini menurut MRT Jakarta mengalami peningkatan sejak penerapan rem darurat pada September-Oktober 2020 di mana rata-rata pengguna harian sempat turun hingga 11.105 orang per hari.
Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar menilai keberhasilan PPKM dan meningkatnya vaksinasi membantu dalam pulihnya pengguna MRT Jakarta. Pihaknya pun menargetkan jumlah pengguna harian pada akhir 2021 akan mencapai target 65.000 orang jika kondisi terus membaik. Sebagai gambaran, pengguna dalam keadaan pra-pandemi bisa mencapai 88.444 orang yang tercapai pada Februari 2020 silam.
Sedangkan untuk performa selama 2 tahun ini, MRT Jakarta telah melayani 155.640 perjalanan tanpa pembatalan. Sedang untuk ketepatan waktu, ketepatan waktu tiba mencapai 99,93%, ketepatan waktu berhenti di stasiun 99,97%, dan waktu perjalanan 99,95%. Sedangkan indeks kepuasan pengguna juga meningkat dari 82,78 poin pada tahun 2019 menjadi 86,64 poin pada tahun 2020.
Selain itu, MRT Jakarta juga telah mempersiapkan overhaul pada armada MRT Jakarta. Langkah yang telah dilakukan saat ini meliputi uji coba overhaul yang meliputi pemeriksaan bogie, perawatan sistem elektrikal, dan pergantian pelumas.
William menerangkan meski KRL MRT Jakarta baru beroperasi 2 tahun, tetapi overhaul yang merupakan perawatan 4 tahunan dilakukan dengan menghitung dari tahun pembuatannya.
Perkembangan Jaringan MRT Jakarta Fase 2

Dalam Forum Jurnalis ini William juga menyampaikan perkembangan fase 2 mereka. Untuk tender CP201 pada fase 2A (Pembangunan Stasiun Sudirman-Thamrin) telah mencapai 27,31% dengan milestone pekerjaan relokasi utilitas, persiapan pembangunan stasiun, dan pengiriman mesin pengebor terowongan.
MRT Jakarta juga membangun pusat pengunjung di kawasan proyek Stasiun Monas. Pusat pengunjung ini memiliki temuan cagar budaya saat proyek, milestone MRT Jakarta, dan maket proyek fase 2.
Sedang untuk CP202 yaitu konstruksi Stasiun Harmoni-Mangga Besar dan CP205 yaitu pengadaan sistem perkeretaapian dan rel akan menggunakan skema direct contracting. Skema ini dilakukan setelah koordinasi antara MRT Jakarta dengan Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Pada 26 Januari 2021 MRT Jakarta telah mengirimkan request for proposal pada kontraktor potensial. Menurut William, skema ini dilakukan agar paket CP202 berjalan lancar sehingga pengerjaan MRT Jakarta fase 2A tidak makin terlambat dan meningkatkan biaya.
Untuk CP206 yaitu pengadaan sarana (rolling stock), saat ini pasar telah merespons secara positif rencana pengadaan 14 rangkaian oleh MRT Jakarta. Rencananya akan dilakukan call for tender pada April 2021 dengan target pelaksanaan mulai Juli 2022.
Partisipasi peserta lelang ini juga telah dikoordinasikan antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang. Sedangkan untuk spesifikasinya, telah diatur agar sesuai Peraturan Menteri no. 175 Tahun 2015 tentang Standar Spesifikasi Teknis Kereta Kecepatan Normal dengan Penggerak Sendiri. Untuk CP208 yaitu pengadaan sistem perkeretaapian dari Mangga Besar ke Kota juga telah dilakukan koordinasi antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Sedang untuk CP204 adalah paket pengerjaan jalur dari Kota ke Ancol Barat yang ditargetkan akan beroperasi 2030 mendatang. William menambahkan, depo MRT Jakarta di Ancol Barat dipersiapkan agar dapat menampung 31 rangkaian kereta.
Rencana Integrasi Transportasi

Selain itu, juga terdapat sejumlah rencana integrasi transportasi yang akan MRT Jakarta lakukan ke depannya. Untuk rencana akuisisi saham PT KCI (KAI Commuter) yang sempat menimbulkan reaksi dari SPKA dan pengamat pada Januari lalu, William tidak berkomentar mengenai isu akuisisi saham ataupun aksi korporasi saat ditanya media dalam sesi tanya-jawab. Ia hanya menyebutkan pihaknya saat ini sedang merencanakan sistem transportasi yang terintegrasi dalam konteks kolaborasi untuk melayani Jakarta lebih baik.
Integrasi ini dalam wujud integrasi fisik di stasiun yang menjadi simpul transit seperti Tanah Abang, Pasar Senen, Sudirman, Gondangdia, dan Palmerah, serta peningkatan integrasi sistem pertiketan dengan PT Jaklingko Indonesia. Nantinya tahun depan diharapkan sudah ada sistem account based ticketing. Sedangkan untuk tarif terintegrasi ini masih menunggu keputusan DKI Jakarta ke depannya.
William menilai integrasi ini hanya dapat tercapai jika semua pihak “melepas jaket” dan memandang kepentingan bersama demi kenyamanan, keamanan, dan efisiensi transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya. Ia memandang jika ini terjadi, jumlah pengguna transportasi umum akan meningkat dan menyelesaikan masalah kemacetan.
Terkait rencana MRT Jakarta, saat ditanya media terkait rencana pembangunan MRT di kota-kota lain yang dahulu diusulkan Menteri Perhubungan pada 2019, William mengatakan siap untuk membangun komunikasi dengan pemerintah daerah kapan saja. Komunikasi ini dalam bentuk pendampingan teknis berupa membagikan pengalaman konstruksi MRT Jakarta ke proyek MRT di kota lain jika memang dibutuhkan. (RED/IHF)