Berita KABusDebutKereta Api

Menjajal Hari Pertama Operasional Bus Transcommuter

Sebuah bus Transcommuter berbelok menuju Stasiun Sudirman di bawah Underpass Tosari | Foto: Fotografi Bus Ibukota

[17/3] – Setelah sebelumnya telah lama ditandatangani pada Agustus 2017 lalu, akhirnya kerjasama Perum PPD dan PT KCI untuk angkutan bus yang menerima pembayaran dengan KMT (Kartu Multi Trip) sebagai wujud integrasi antara moda KRL Commuter Line dengan bus kota membuahkan hasil juga dengan diluncurkannya layanan  bus Transcommuter yang melayani rute Stasiun Sudirman – Terminal Blok M dan Stasiun Sudirman – Stasiun Gambir yang beroperasi mulai 16 Maret kemarin.

Sebuah kiriman dibagikan oleh PERUM PPD (@perumppd) pada 15 Mar 2018 jam 6:49 PDT

Selain meluncurkan layanan bus Transcommuter, Perum PPD bekerjasama dengan PT KCI juga meluncurkan KMT Tematik edisi spesial Transcommuter yang dapat dibeli dengan harga Rp 35.000 dengan saldo Rp 15.000. Layanan bus Transcommuter ini beroperasi dari jam 05.00 – 22.00 setiap hari, dengan frekuensi pemberangkatan 30 menit sekali dengan tarif Rp 5.000 sekali perjalanan.

Dengan dapat digunakannya KMT untuk membayar tarif bus Transcommuter ini, praktis menandakan KMT pertama kalinya dapat digunakan di luar lingkungan KCI sesuai keterangan Direktur Operasi dan Pemasaran PT KCI Subakir pada Kompas.

Tim REDaksi yang mendapat kabar akan layanan baru ini tentu saja tidak mau ketinggalan kesempatan begitu saja dan segera bergegas untuk menjajalnya. Makin penasaran bagaimana rasanya menggunakan layanan Transcommuter? Simak saja liputan oleh Tim REDaksi berikut!

Menjajal Transcommuter



Tim REDaksi yang bersemangat untuk mencoba layanan baru ini tiba di Stasiun Sudirman pada pukul 16.05 untuk menunggu bus Transcommuter yang berdasarkan informasi yang diperoleh dari Instagram resmi Perum PPD berada pada pintu keluar Stasiun Sudirman di pertigaan Jalan Kendal dan Jalan Blora. Sebelumnya, di dalam perjalanan menuju Stasiun Sudirman, Tim REDaksi menemukan banyak pengumuman diperdengarkan baik oleh announcer stasiun ataupun petugas PPK di dalam rangkaian KRL Commuter Line mengenai sosialisasi layanan baru ini.

Setelah sekitar 15 menit menunggu di pintu keluar Stasiun Sudirman, akhirnya tampak juga bus Transcommuter memasuki pertigaan dari arah Jalan Blora, akan tetapi ternyata bus Transcommuter ini tidak berhenti di underpass Jalan Kendal seperti halnya pada saat peresmian, tetapi justru bergerak masuk ke Stasiun BNI City. Tim REDaksi yang kaget pun tentu segera mengejar bus Transcommuter ini dengan berjalan kaki menuju Stasiun BNI City.

Benar saja, ketika Tim REDaksi bergerak maju ke parkiran bus di Stasiun BNI City terlihat tiga unit bus Transcommuter telah terparkir rapi selagi mengatur sela. Unit-unit bus ini merupakan bus Hino RK8 berbodi Tri Sakti Ultima dengan operator Perum PPD yang sebelumnya sempat dioperasikan di Transjabodetabek era 2016 dan juga Transjakarta. Interior pada bus ini telah diubah dari konfigurasi aslinya di mana kursi yang sebelumnya menghadap tengah menjadi menghadap depan dengan 4 kursi pada setiap baris kecuali pada bagian eks pintu tengah yang hanya ada 2 kursi di bagian sebelah kanan, di mana konfigurasi ini juga digunakan Transjabodetabek era 2018.

Interior pada bus Transcommuter | Foto: Fotografi Bus Ibukota

Tim REDaksi yang sedang meliput ini disambut baik oleh petugas Perum PPD dan PT KCI yang berada di lokasi yang dengan segera mengarahkan Tim REDaksi untuk menaiki bus paling depan yang telah siap untuk berangkat.

Tim REDaksi pun menaiki bus yang paling depan yaitu PPD-0062. Pembayaran menggunakan KMT dilakukan pada saat menaiki bus dengan melakukan tap in pada perlatan EDC yang tersedia tepat di dashboard bus di sebelah pintu depan. Setelah tap in, dari alat EDC ini akan keluar struk sebagai bukti pembayaran. Hal ini berbeda dengan Transjakarta rute non-BRT pada umumnya yang pembayaran ketika naik dari pinggir jalan dilakukan dengan alat EDC yang dibawa-bawa oleh petugasnya.

Tim REDaksi sedang tap in KMT di alat EDC bus Transcommuter
Sukses tap-in

Untuk bulan pertama operasional Transcommuter ini pembayaran masih bisa dilakukan baik menggunakan cash ataupun KMT. Namun setelah periode satu bulan percobaan, pembayaran nantinya hanya akan menerima KMT, tidak lagi menerima cash.

Bus yang Tim REDaksi naiki ini berangkat pada pukul 16.31 dari Stasiun BNI City menuju Terminal Blok M, dengan rute keluar menuju Jalan Jenderal Sudirman melalui Jalan Martapura dan Jalan Plaju untuk kemudian melewati Jalan Tanjung Karang dan memasuki Jalan Jenderal Sudirman hingga Tosari, lalu kemudian berputar balik di Bundaran HI untuk kemudian menyusuri Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Sisingamangaraja menuju Terminal Blok M. Dikarenakan bus ini bukan layanan Transjakarta, bus ini tidak memasuki jalur Transjakarta dan harus ikut bermacet-macet ria dengan kendaraan di arus lalu lintas sore hari yang padat.

Salah satu titik kemacetan yang utama adalah di bilangan “Goa” CSW yang berada di bawah proyek MRT Jakarta dikarenakan penyempitan jalan | Foto: Fotografi Bus Ibukota

Di dalam bus Transcommuter yang Tim REDaksi kali ini hanya terdapat dua orang penumpang yaitu Tim REDaksi, dan tiga orang petugas di mana dua orang dari Perum PPD dan satu orang dari PT KCI, yang di sepanjang perjalanan ini Tim REDaksi menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan mereka. Menurut informasi dari petugas PT KCI yang berada di dalam bus, layanan Transcommuter ini dibuat bersifat point to point, di mana bus hanya mengangkut penumpang dari titik pemberangkatan awal di Stasiun Sudirman ataupun Teriminal Blok M dan Stasiun Gambir, tidak mengangkut penumpang di pinggir jalan, dengan total armada yang beroperasi sebanyak 6 unit dengan tiga unit tujuan Stasiun Gambir dan tiga lainnya tujuan Terminal Blok M.

Selain itu, pengoperasian layanan ini diatur agar bus dari Stasiun Sudirman menuju Terminal Blok M dan Stasiun Gambir diberangkatkan secara selang-seling agar tidak ada dua bus yang berjejer menuju tujuan yang sama. Tidak hanya itu, berdasarkan informasi dari petugas KCI juga direncanakan kedepannya KMT juga dapat digunakan di sistem Transjakarta dan angkutan lain, yang disebutkan “sedang dalam progres”.

Pada pukul 17.13 atau setelah menempuh sekitar 42 menit perjalanan, di mana keterlambatan disebabkan utamanya oleh kemacetan parah di bilangan Karet, Bundaran Senayan, dan CSW, bus Transcommuter yang Tim REDaksi naiki ini tiba di tujuan akhir Terminal Blok M. Di Terminal Blok M, bus ini memasuki jalur 4 yang juga digunakan oleh bus Patas AC Mayasari Bakti, Royal Trans tujuan Bekasi, Kopaja, dan Metromini. Alhasil tidak sedikit calon penumpang yang langsung mengira bus Transcommuter yang masuk adalah tujuan Bekasi dan menanyakan pada petugas dari Perum PPD yang berada di dalam bus.

Sebagai penutup liputan, Tim REDaksi menyempatkan diri memotret bus yang baru saja mengantarkan Tim REDaksi dari Stasiun BNI City menuju Terminal Blok M. Tim REDaksi memantau hanya ada satu orang penumpang yang menaiki bus ini dari Terminal Blok M menuju Stasiun Sudirman ketika bus ini meninggalkan Terminal Blok M untuk kembali menuju Stasiun Sudirman.

Bus Transcommuter di Terminal Blok M bersiap berangkat kembali menuju Stasiun Sudirman | Foto: Fotografi Bus Ibukota

Evaluasi dan Kesimpulan

Tim REDaksi sangatlah mengapresiasi keberadaan Transcommuter ini dikarenakan dengan adanya layanan baru ini, pengguna KRL Commuter Line yang sedang ingin menuju Stasiun Gambir dan Blok M tetapi enggan untuk transit ke moda Transjakarta dan/atau tidak mempunyai kartu bank atau sedang tidak bisa mengisinya tapi mempunyai KMT dengan saldo yang cukup dapat lebih mudah untuk melanjutkan perjalanan ke tujuannya, apalagi bus ini tidak mengambil sewa di tengah jalan, melainkan point-to-point hanya dari pemberangkatan awal ke tujuan akhir. Akan tetapi, ada beberapa hal yang Tim REDaksi rasa bisa menjadi masukan agar layanan ini dapat menjadi lebih baik sehingga benar-benar terasa bermanfaat bagi pengguna jasa KRL Commuter Line.

Pertama, meskipun informasi awal disebutkan bahwa pengguna KRL Commuter Line dapat menaiki bus Transcommuter dari Stasiun Sudirman, pada kenyataannya bus Transcommuter ini justru menunggu penumpangnya tidak di underpass Jalan Kendal dekat Stasiun Sudirman selayaknya pada saat peresmian, tetapi jusru di Stasiun BNI City. Mungkin dapat dimengerti alasannya dikarenakan tidak mungkin untuk berhenti lama-lama di sana dikarenakan risiko kemacetan yang dapat timbul jika sampai ada tiga unit bus berjejer di situ, namun tidak adanya sosialisasi mengenai perpindahan titik penaikan ini membuat Tim REDaksi sempat kaget ketika melihat busnya berubah posisi parkirnya, apalagi sampai jauh-jauh ke ujung barat Stasiun BNI City sehingga jaraknya menjadi lebih jauh daripada jarak berjalan kaki dari Stasiun Sudirman menuju Stasiun Tosari (590 meter dibanding 490 meter) yang berpotensi membuat pengguna potensial yang sudah berniat menggunakan Transcommuter menjadi urung.

Tentu saja hal ini harus dicari solusinya terutama untuk rute Blok M yang tidak ada tempat sama sekali untuk parkir selagi mengatur sela, sedangkan untuk rute Stasiun Gambir, tempat mengatur sela masih dapat dipindah dari Stasiun BNI City menjadi parkiran Stasiun Gambir dikarenakan parkiran Stasiun Gambir masih terdapat lebih banyak ruang di dekat parkiran bus DAMRI menuju Lampung.

Kedua, masih tidak tampak sosialisasi untuk layanan Transcommuter di luar lingkungan KCI. Tim REDaksi melihat tidak ada sama sekali informasi mengenai layanan baru Transcommuter di Terminal Blok M sehingga banyak penumpang yang tidak mengetahui akan layanan ini dan justru salah mengira bus ini sebagai Patas AC biasa. Dengan peningkatan sosialisasi, tentu saja akan lebih banyak pengguna potensial yang mengetahui adanya layanan Transcommuter ini sehingga mereka dapat lebih mudah menuju Stasiun Sudirman dengan layanan baru tersebut.

Ketiga, metode pembayaran Transcommuter ini seyogyanya dibuat lebih fleksibel agar kedepannya tidak hanya menerima KMT juga tetapi juga kartu bank, dikarenakan tidak sedikit pengguna KRL Commuter Line yang menggunakannya, sehingga pengguna kartu bank pun mempunyai alternatif lain jika tidak menghendaki naik Transjakarta. Terlebih dengan rutenya terutama Stasiun Sudirman – Terminal Blok M yang bersinggungan dengan Koridor 1 Transjakarta tetapi lebih lambat karena melewati jalur biasa meskipun minim transit, Transcommuter tentu harus menawarkan lebih banyak kelebihan dibandingkan Transjakarta selain dapat menggunakan KMT.

Demikianlah liputan dan masukan terhadap Transcommuter oleh Tim REDaksi kali ini. Semoga saja kedepannya operasional Transcommuter akan meluas di stasiun-stasiun strategis lain sehingga nantinya benar-benar dapat menghubungkan daerah strategis yang jauh dengan Stasiun KCI, serta menjadi lebih baik dan lebih efektif di masa depannya.

Referensi Tambahan
Kompas

RED | Ikko Haidar Farozy | Bayu Tri Sulistyo

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses