Menjajal Ratangga, Masa Depan Perkeretaapian Urban di Indonesia

menjajal ratangga
KRL STRASYA MRT Jakarta rangkaian LBB10 di Dipo MRT Lebak Bulus, 27/12. KRL ini diberi nama “Ratangga” oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Kamis, 27 Desember 2018 merupakan hari yang spesial bagi para jurnalis dan blogger yang diundang ke acara forum bulanan MRT Jakarta. Pasalnya, tiada angin dan tiada hujan, jurnalis dan blogger akhirnya diajak untuk naik dan mencoba kereta bernama Ratangga itu. Ajakan oleh Direktur Utama MRT Jakarta, William Sabandar itu keluar tanpa terencana sebelumnya. Tidak ada satupun yang berekspektasi di hari itu akan menjajal Ratangga dari Bundaran Hotel Indonesia menuju Lebak Bulus.

Sontak, apa yang sudah direncanakan sebelumnya harus diubah. Tak terkecuali penulis sendiri. Kunjungan Menteri Pertanahan, Infrastruktur, dan Perhubungan Jepang di hari itu ternyata membawa berkah sendiri. Ini seperti kado natal dan akhir tahun dari MRT Jakarta untuk jurnalis dan blogger yang selalu setia memberitakan perkembangan MRT Jakarta dari waktu ke waktu.

Selesai mendengarkan paparan progres bulanan pada forum bulanan yang diadakan di salah satu kafe di wilayah Dukuh Atas, Jakarta Pusat, kami langsung dibawa ke Taman Dukuh Atas di mana Mini Information Center MRT Jakarta akan diresmikan. Setelah peresmian, kami langsung diajak menuju Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia (BHI) yang terletak persis di depan Kedutaan Besar Jepang. Karena pekerjaan konstruksi masih belum sepenuhnya selesai, maka kami masih diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum turun ke peron stasiun.

Stasiun Bundaran Hotel Indonesia

menjajal ratangga
Gerbang tiket elektronik dan koridor di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia

Di Stasiun BHI, tidak banyak pekerjaan yang tampak dikarenakan sudah memasuki tahap finishing. Gerbang tiket elektronik sudah terpasang pada tempatnya, dan lantai mulai dibersihkan. Maklum, MRT akan segera beroperasi dua bulan lagi. Tentu saja, kami tidak diperkenankan memijak lantai yang sudah dibersihkan. Namun gambaran akan seperti apa stasiun ketika MRT sudah beroperasi tergambar jelas dalam pandangan.

menjajal ratangga
Kereta K1 1 18 96 di balik pintu peron
menjajal ratangga
Setelah pintu dibuka

Setelah turun dua lantai, kami akhirnya tiba di peron stasiun untuk menjajal Ratangga. Saat kami tiba, satu Ratangga yang masih belum memiliki nomor seri operator ini baru saja berangkat menuju Lebak Bulus. Kami ternyata telah ditunggu oleh rangkaian Ratangga ke-16 (nomor Kemenhub K1 1 18 91~K1 1 18 96) di sebelah kanan kami. Sambil menunggu untuk diperbolehkan masuk ke dalam kereta, penulis juga sempat mengobrol dan diwawancara oleh salah satu jurnalis dari CNBC Indonesia dalam bentuk video.

Menjajal Ratangga

 

menjajal ratangga
Interior K1 1 18 95

Akhirnya, kami pun diizinkan masuk ke dalam kereta. Sebelum kami masuk kereta, kami diharuskan melepas alas kaki kami, karena kontraktor masih sangat menjaga kebersihan kereta selama uji coba. Penulis yang hari itu hanya menggunakan sandal menuju kafe pun langsung nyeker ketika melepas sepatu boot di dalam kereta. Kereta kelima dari enam kereta tersebut bernomor K1 1 18 95. Bagi anda yang biasa naik KRL Commuter Line milik KCI, tentu saja anda tidak akan asing ketika nanti anda menjajal Ratangga. Karena Ratangga juga merupakan kereta buatan Jepang seperti KRL milik KCI. Hanya saja, Ratangga merupakan versi lebih modern, namun tanpa rak bagasi pada kursi deret panjang dan menggunakan bahan CFRP sebagai bahan kursi.

Melihat jendela penumpang, anda akan langsung teringat pada KRL-KRL modern milik JR East. Seperti misalnya E231 dan E233. Pun begitu ketika anda mendengarkan suara klakson, suara bel pintu, dan suara traksi kereta. Lumrah, karena MRT Jakarta memang mengambil basis kereta-kereta modern JR East dalam mendesain keretanya. Sehingga bentuk kereta bahkan sampai komponen yang digunakan pun mirip sepeti yang digunakan KRL JR East. Menurut penulis, teknologi Ratangga setara dengan JR East seri E231 dan E233, namun masih di bawah E235.

Menduduki kursi CFRP ternyata masih terasa cukup nyaman seperti halnya jika duduk di bangku stasiun model terbaru yang dipasang oleh KCI di stasiun-stasiunnya. Sangat berbeda dengan cushion, di mana kenyamanan duduk anda tergantung jenis cushion dan pelapis yang digunakan. Meski demikian, kursi CFRP ini masih kalah dengan cushion model baru yang digunakan pada KRL KCI yang menjalani perawatan akhir lengkap di tahun 2017 dan 2018.

Menuju Lebak Bulus

menjajal ratangga
Plat nomor interior, keterangan dilarang merokok, keterangan nama pabrikan dan tahun pembuatan, serta keterangan kamera pengawas

Masinis akhirnya mengumumkan dalam bahasa Jepang bahwa pukul 15:30 kereta akan diberangkatkan menuju Lebak Bulus. Itu artinya, menjajal Ratangga akan segera dimulai. Ya benar, masinisnya merupakan warga negara Jepang. Masinis ini merupakan mantan masinis senior JR Freight yang kini bertugas sebagai masinis pengetesan di Nippon Sharyo.

Tepat pukul 15:30, kereta berangkat menuju Lebak Bulus. Masinis langsung menarik throttle notch secara penuh, dan Ratangga pun langsung berakselerasi maksimal dan dipacu dalam kecepatan tinggi. Di sini lah perbedaan dengan KRL Commuter Line langsung terasa, karena throttle notch KRL Commuter Line tidak pernah langsung ditarik penuh melainkan bertahap sehingga akselerasi terasa sangat lamban. Meskipun throttle notch langsung ditarik penuh, namun tidak terasa hentakan dalam menaiki Ratangga, mirip seperti menaiki KRL Bandara Soekarno-Hatta.

Kereta berhenti di setiap stasiun sepanjang perjalanan. Dan berhubung masinisnya adalah masinis Jepang, maka gayanya membawa kereta pun seperti masinis Jepang lainnya: full throttle dan full brake.

Di Bawah Tanah

Di jalur bawah tanah, sepertinya Ratangga dapat mencapai kecepatan yang mendekati kecepatan maksimum kereta yang diizinkan, yaitu 80 kph. Bunyi pantulan suara dari luar sangat terasa di dalam kereta. Suara traksi dari inverter Toyo Denki RG-6036-A-M pun terdengar lebih nyaring. Suara traksi ini mengingatkan kita pada suara traksi dari inverter Toyo Denki SC-71 yang digunakan pada KRL seri 205 subseri 5000 dari jalur Musashino, yang sedang dibedol desa bertahap oleh KCI sampai Juli 2020 mendatang.

Kecepatan yang selalu tinggi menandakan bahwa tidak terdapat banyak tikungan di bawah tanah. Memang, jalur bawah tanah dibuat mengikuti ruas Jalan Sudirman dan Thamrin yang lebih banyak lurus kecuali pada saat memasuki wilayah Senayan dari arah Setiabudi.

Sayangnya cukup sulit mengetahui stasiun apa yang sedang disinggahi karena masih belum adanya signage nama stasiun. Karena ini uji coba, masinis pun belum mengumumkan nama stasiun yang sedang disinggahi.

Naik ke Layang

menjajal ratangga
Rangkaian LBB16 berhenti di Stasiun MRT Sisingamangaraja. Bila anda familiar dengan kereta modern JR East, anda pasti tahu bentuk jendela ini.

Meninggalkan Stasiun MRT Senayan, kereta kemudian menanjak meninggalkan dunia bawah tanah menuju Stasiun MRT Sisingamangaraja yang berada di jalur layang. Bila gradien naik ke Stasiun Cikini dari Stasiun Manggarai atau Stasiun Jayakarta dari Stasiun Jakarta Kota tidak terasa, maka gradien naik ke Stasiun MRT Sisingamangaraja sangat terasa. Bahkan anda akan segera menyadari bila posisi duduk anda sedang miring karena gradien jalur.

Namun, kecepatan kereta di jalur layang terasa lebih rendah. Mungkin karena jalur layang memiliki lebih banyak tikungan karena menghindari bangunan di bawahnya jika dibandingkan dengan jalur bawah tanah yang cenderung lurus. Terutama saat akan memasuki Stasiun MRT Fatmawati, di mana tikungan cukup tajam sehingga jalur harus diberi gongsol dan kereta berjalan lebih pelan lagi dari sebelumnya.

menjajal ratangga
Pemandangan kota Jakarta dari jalur layang

Seperti halnya di stasiun bawah tanah, di stasiun layang pun masih sedikit stasiun yang sudah memiliki signage nama stasiun. Sehingga cukup sulit mengenali stasiun yang sedang disinggahi.

Setelah 30 menit, kereta akhirnya tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus. Namun menjajal Ratangga tidak berhenti sampai di sini saja. Karena kami tidak bisa turun di stasiun, maka kami ikut kereta masuk ke dipo Lebak Bulus di mana kemudian kami diturunkan di inspection shed. Selanjutnya kami mengikuti konferensi pers oleh Menteri Pertanahan, Infrastruktur, dan Perhubungan Jepang di dekat stabling track. Menurutnya, kereta MRT Jakarta ini sudah sama bahkan lebih dari kereta yang ada di Jepang. Setelah konferensi pers inilah kemudian menjajal Ratangga berakhir.

Kapan Bisa Menjajal Ratangga?

menjajal ratangga
Rangkaian LBB16 masuk ke inspection shed di Dipo Lebak Bulus

Bagi anda yang juga ingin menjajal Ratangga, harap bersabar. Karena belum ada kepastian apakah uji coba publik bisa dilaksanakan. Sebelumnya, MRT Jakarta telah mengumumkan bahwa undangan terbatas dapat menjajal Ratangga pada bulan Januari mendatang. Sebelumnya juga telah berhembus rumor bahwa uji coba publik bisa dilaksanakan Februari mendatang. Namun kepastian ini masih harus menunggu keputusan dari kontraktor apakah bisa dilakukan atau tidak. (RED/MPF)

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: