Budayawan dan Pecinta Kereta Api Bersama Tolak Nama Argo Cheribon

argo jati
Ilustrasi: KA Argo Jati melintas langsung di Stasiun Kedunggedeh

[12/8]. Belum juga dimulai, peleburan KA Argo Jati, Cirebon Express, dan Tegal Bahari menjadi Argo Cheribon menuai kontroversi. Penamaan KA menjadi salah satu hal yang dipermasalahkan. Penolakan nama Argo Cheribon pun muncul dari budayawan Cirebon dan pecinta kereta api.

Dilansir dari Radar Cirebon, akademisi dari Universitas Swadaya Gunung Jati DR Junaedi Noer MM mempertanyakan maksud dari penamaan Argo Cheribon serta simbol buah ceri pada salah satu poster promosi KAI yang beredar di media sosial.

Junaedi berpendapat penempatan buah ceri pada poster promosi Argo Cheribon tidak memiliki korelasi sama sekali dengan budaya Cirebon. Selain itu, penulisan Cirebon dengan ejaan Belanda (Cheribon) menurutnya seperti mengembalikan penamaan di saat penjajahan.

Dirinya juga beranggapan KAI tidak berkonsultasi dengan Pemerintah Kota Cirebon, tokoh masyarakat, budayawan, maupun akademisi sebelum menamakan KA hasil peleburan ini.

Penolakan tak hanya muncul di kalangan budayawan dan akademisi. Pecinta kereta api pun menolak penamaan Argo Cheribon ini. Sebagian besar berpendapat nama Argo Cheribon itu aneh dan terkesan norak.

Selain itu, sejumlah pecinta kereta api beranggapan penyematan brand “argo” dianggap hanya strategi jual mahal yang dilakukan KAI. Bahkan salah satu pecinta kereta api dengan nama Febri menyuarakan gerakan memboikot nama Argo Cheribon di kalangam pecinta kereta api dengan tidak menggunakan nama tersebut ketika memotret KA tersebut dan menggantinya dengan Argo Jati.

Usulan sejumlah nama pengganti Argo Cheribon pun disampaikan pecinta kereta api. Beberapa nama yang “lebih Cirebon” pun disampaikan seperti KA Jati Bahari, Wisanggeni Express, Walansungsang Express, Syarif Hidayatullah, Citajaya, Singa Barong, hingga kembali ke nama asli Cirebon Express yakni Gunung Jati Express.

(RED/BTS)

loading...

3 tanggapan untuk “Budayawan dan Pecinta Kereta Api Bersama Tolak Nama Argo Cheribon

  • Selasa, 13 Agustus 2019 pada GMT+0700 09:09
    Permalink

    Saya mengetuk rasa nasionalisme dari management PT. KAI bahwa CHERIBON itu adalah buah dari kolonialisme Belanda di Bumi Nusantara. Bagaimana mungkin hal ini dilakukan oleh BUMN yang dibanggakan oleh masyarakat justru ketika masyarakat tengah menyambut Peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-74 dan Hari Jadi Kota Cirebon, ketika spirit kebangsaan masyarakat sedang tinggi-tingginya di bulan agustus ini, lantas malah kado pahit yang diberikan kepada masyarakat Cirebon melalui keputusan management PT. KAI yang mengubah nama secara gegabah dan naif serta mengabaikan aspek sosial dan budaya.

    Balas
  • Kamis, 15 Agustus 2019 pada GMT+0700 20:53
    Permalink

    TERUNTUK DIRUT KAI YG MENGUBAH NAMA JADI ARGO CHERIBON MENDING NAMA KA ARGO JATI TETAP DISAMAKAN SAJA JANGAN MENGHILANGKAN BRAND ARGO YG SUDAH MELEKAT DI MASYARAKAT

    Balas
  • Jumat, 16 Agustus 2019 pada GMT+0700 19:45
    Permalink

    KA Argo Jati, KA Tegal Bahari & KA Cirebon Exspres dilebur jadi KA Jati Bahari Exspres. Lebih baik dri pda Argo Cheribon.

    Balas

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: