KAI CommuterOpini

[OPINI] GAPEKA 2019 KRL Jabodetabek, Ternyata Kacau Seperti Biasa!

Stamformasi KRL: #KamiSayangSF8 masih berlaku dan bahkan #SemakinSayangSF8

Aslinya SF10, eh dipotong jadi SF8

Masalah stamformasi KRL memang selalu menjadi masalah klasik sejak diperkenalkannya KRL SF10 dan KRL SF12 kepada penumpang. Penumpang yang tadinya bisa menerima KRL SF8 sebelum tahun 2014 karena adanya memang hanya itu, menjadi lebih penuntut dengan meminta lebih banyak KRL SF10 dan KRL SF12 dan cenderung membenci keberadaan KRL SF8. Meski demikian, penumpang tidak bisa apa-apa karena pada kenyataannya KRL SF8 masih juga merajalela akibat KRL SF8 masih disayang oleh KCI.

Namun kami sangat setuju dengan ide perkenalan KRL SF10 dan KRL SF12 yang memang harus dilakukan untuk menjawab perubahan zaman. Jabodetabek semakin padat karena arus urbanisasi, manusia berduyun-duyun karena semua Indonesian Dream ada di Jabodetabek. KRL SF8 sudah tidak dapat lagi menampung pertumbuhan penduduk yang menggila dan menggurita di Jabodetabek.

Dalam berbagai kesempatan, KCI memang selalu mengutarakan bahwa “Kami akan mengurangi KRL SF8 secara bertahap dan menggantinya dengan KRL SF10 atau SF12”. Namun kenyataannya, KCI seolah masih memberlakukan #KamiSayangSF8, dan bahkan #SemakinSayangSF8 karena jumlah KRL SF8 bukannya berkurang malah bertambah.

Di jalur Bogor, KRL SF8 memang berkurang dari 21 rangkaian di GAPEKA 2017 menjadi 17 rangkaian di GAPEKA 2019. Tapi di jalur Cikarang, KRL SF8 justru bertambah dari 2 jadi 5, sedangkan KRL SF12 berkurang dari 9 jadi 6. Ini semua gara-gara lebih banyak loop yang melayani perjalanan via Pasar Senen pada GAPEKA 2019 dibandingkan pada GAPEKA 2017.

Ternyata, masalah klasik soal formasi ini sebab utamanya merupakan masalah teknis. Masalah teknis berarti berkaitan dengan komponen-komponen yang digunakan KRL. Masalah teknis juga merupakan masalah klasik, sebab beberapa KRL milik KCI juga sudah tua dan komponennya tidak pernah diremajakan di Jepang.

Jadi, bagaimana KCI menambah jumlah SF8? Pertama, dengan menunda perubahan formasi rangkaian-rangkaian baru mereka. Kedua, memotong formasi rangkaian SF10 dan SF12 menjadi SF8 dan membiarkannya berjalan sebagai rangkaian SF8. Hal tersebut dilakukan tanpa memprioritaskan rangkaian yang dipotong tersebut untuk dilakukan normalisasi formasi. Sehingga potongan rangkaiannya hanya terdiam membisu di dipo. Seolah menunggu ketidak pastian kapan potongan tersebut akan dipasang kembali ke rangkaian utamanya setelah melakukan perbaikan atau penggantian roda. Seperti contoh pada KRL seri 203 SF12 rangkaian BUD2, KRL seri 203 SF10 rangkaian BOO106, dan KRL seri 205 SF10 rangkaian BOO99 yang sudah berbulan-bulan masih dipotong menjadi SF8.

Asli, kami sudah sering sekali menulis soal formasi rangkaian KRL. Namun masalah ini terus berlanjut. Memang dalam berbagai kesempatan, KCI seolah menjawab tulisan kami dengan cara melakukan normalisasi rangkaian dalam jumlah banyak. Namun setelah normalisasi dilakukan, pasti akan selalu ada lagi rangkaian yang dipotong. Penasaran kenapa terus berulang, kami akhirnya mencoba mencari sendiri penyebabnya.

Usut punya usut, rupanya sumber masalah pemotongan formasi KRL menjadi SF8 ini ternyata karena rangkaian-rangkaian KRL dengan formasi baku SF8 sendiri. Terdapat setidaknya 6 rangkaian SF8 yang tidak dapat dioperasikan karena, menurut informasi yang kami dapat, mengalami kerusakan komponen utama. Ke-6 rangkaian ini terdiri dari 3 rangkaian KRL seri 6000 (6111F, 6123F, 6125F), 1 rangkaian KRL seri 7000 (7117F), dan 2 rangkaian KRL seri 05 (05-104F, 05-109F).

Semua rangkaian ini menggunakan propulsi chopper, di mana komponen chopper untuk KRL-KRL ini sudah tidak lagi tersedia di Jepang. Sehingga KCI harus mencari komponen tersebut ke tempat lain, dan membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan komponen penggantinya. Sebenarnya kami ingin bilang supaya KRL-KRL yang sudah rusak ini dipensiunkan saja. Tapi melihat kondisi yang ada, kayaknya salah juga. Tapi ya pengadaan KRL dari Jepang masih akan berlanjut terus dan akan ada satu waktu di mana KRL-KRL ini bisa dipensiunkan.

Rangkaian-rangkaian yang formasinya dipotong per hari ini. Terdapat dua rangkaian yang telah dipotong formasinya sejak 2018 dan masih belum kembali menjadi SF10. Mau sampai kapan?

Kembali lagi ke penyebab pemotongan formasi. Akibat dari rusaknya rangkaian KRL tersebut, KCI terpaksa harus memotong formasi rangkaian KRL panjang jika hal-hal seperti penggantian roda harus dilakukan. Hal itu dilakukan untuk mengamankan jumlah rangkaian yang bisa beroperasi. Sialnya, prioritas yang digunakan dalam normalisasi formasi tidak jelas. Dua rangkaian KRL, yaitu KRL seri 6000 SF10 rangkaian 6117F dan KRL seri 203 SF10 rangkaian BOO106 bahkan sudah dipotong masing-masing sejak Maret 2018 dan Desember 2018. Sekarang Desember 2019, berarti setahun sudah berlalu.

Memang BOO106 sempat kembali menjadi SF10 dengan meminjam kereta dari saudaranya, BOO108. Namun BOO106 kembali diperpendek lagi menjadi SF8 tanpa kejelasan kapan akan kembali menjadi SF10. Sedangkan 6117F yang diprogramkan menjalani perawatan akhir (PA) pada bulan ini akan kembali menjadi SF10 awal Januari 2020 mendatang. Begitu pula KRL seri 205 SF10 rangkaian BOO72 yang akan kembali menjadi SF10 di bulan ini.

Tren normalisasi formasi rangkaian memang sudah jauh lebih baik sejak opini kami sebelumnya yang kemudian berlanjut dengan kedatangan roda-roda KRL dari Jepang. Di halaman kami, jumlah dari rangkaian yang tadinya dipotong formasinya sudah berkurang karena berganti dengan rangkaian-rangkaian yang baru dipotong lainnya. Sayangnya, hanya KRL seri 205 dan 6000 baik SF10 maupun SF12 saja yang rodanya sudah diganti. KRL-KRL seperti seri 203 SF10 maupun SF12 dan KRL seri 8500 seolah terpinggirkan dengan kedua jenis armada mayoritas tersebut, di mana KRL seri 203 dan 8500 tidak mendapatkan prioritas normalisasi formasi. Apakah KCI tidak mengenal sistem first in first out, atau memang pemesanan roda untuk kedua seri ini juga tidak diprioritaskan?

Selain itu, meski penyusunan ulang rangkaian KRL menjadi SF12 juga terus dilakukan pada KRL seri 205 dari jalur Musashino, penyusunan ulang rangkaian sayangnya hanya dilakukan pada rangkaian VVVF. Rangkaian rheostatik dari jalur Musashino masih berjalan dengan formasi aslinya, yaitu SF8. Memang rangkaian-rangkaian rheostatik ini, menurut informasi yang kami dapat, akan digandeng juga menjadi SF12. Namun realisasinya masih belum jelas. Selain itu, masih terdapat pula rangkaian VVVF yang formasinya masih SF8. Hal ini jelas malah menambah jumlah SF8, alih-alih mengurangi.

Kesimpulan

Masih banyak hal yang harus diperbaiki dari GAPEKA 2019 untuk KRL. Penjadwalan yang lebih baik, kereta terakhir yang lebih malam terutama untuk Maja dan Cikarang, persebaran formasi KRL yang lebih baik, percepatan normalisasi formasi KRL, dan percepatan pengubahan formasi KRL seri 205 jalur Musashino.

Kami juga terpikirkan sebuah saran. Sebaiknya KAI Group tidak lagi menggunakan istilah GAPEKA dalam penyebutan jadwal kereta. Ganti saja istilah itu menjadi istilah lain, atau tidak usah menggunakan istilah sama sekali seperti halnya MRT Jakarta dan LRT Jakarta. Karena penggunaan istilah GAPEKA ini, setiap ada perubahan jadwal kereta selalu ga peka sama pengguna jasa transportasi kereta api. (RED)

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Pages ( 2 of 2 ): « Previous1 2

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

3 komentar pada “[OPINI] GAPEKA 2019 KRL Jabodetabek, Ternyata Kacau Seperti Biasa!

  • Chandra Dwi Pranata Koesuma

    Satu lgi menurut saya sumber masalah GAPEKA 2019 terkesan ancur di awal2 penerapannya, sekaligus mau nanya juga, apa alasan KAJJ Bandungan (Argo Wilis, Turangga, Malabar, Mutsel) diperpanjang terminusnya ampe gambir/senen, faktor permintaan pnp kah? Yakin?

    Balas
  • Bayu

    Moga-moga krl SF 10 dan SF 12 dioperasikan di seluruh jalur di Jabodetabek, Lebak, Serang, Cilegon, dan Karawang dan SF 8 dialihkan di jalur pengumpan dari jalur cabang reguler tersebut seperti jalur Saikyo, jalur Yokohama, jalur Musashino, jalur Nambu dan jalur Yamanote di Jepang dan moga-moga juga di GAPEKA 2021 diterapkan seperti GAPEKA 2014 dan GAPEKA 2015 dan selain KAI sudah ganti logo, KAI bisa melayani penumpangnya dengan baik dan harus benar-benar dilaksanakan untuk melayani penumpangnya dengan baik agar tidak seperti ketika ada krl ekonomi non AC, min

    Balas
  • Bayu

    Dan juga krl Commuterline ramah disabilitas dan merawat armadanya seperti di Tokyo Metro

    Balas

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses