[OPINI] Menurunnya Kinerja KCI

KRL seri 6000 rangkaian 6117F, setahun memendek tanpa kejelasan kapan akan kembali panjang

Kereta Commuter Indonesia (KCI) sebenarnya memiliki program yang bagus dalam mengatasi masalah pelayanan kepada pengguna jasa KRL Commuter Line. Menambah vending machine, membangun underpass, merekayasa rangkaian formasi 8 kereta (SF8) menjadi 12 kereta (SF12), dan sebagainya. Program-program yang cukup membuai pengguna jasa akan kenyamanan berkomuter dengan KRL Commuter Line di masa depan.

Sayangnya, angan-angan yang indah tersebut “ditikung” oleh kinerja KCI yang menurun sejak awal 2019 lalu. Defisit rangkaian KRL yang terus terjadi, pemotongan formasi rangkaian KRL yang semakin menggila, penambahan vending machine yang terlupakan, ditambah lagi gangguan sarana dan prasarana yang semakin sering terjadi bila dibandingkan dengan era sebelumnya.Sekarang, mari kita bahas satu persatu mengenai penurunan kinerja KCI dan apa solusinya.

Problematika sarana KRL: Defisit rangkaian KRL, pemotongan formasi rangkaian KRL, gangguan sarana KRL

KRL seri 8500 rangkaian 8618F, berhasil dibuat SF12 di kala defisit rangkaian terjadi

Sebelumnya, penulis ingin berterima kasih kepada KCI khususnya departemen sarana. Dalam kondisi hectic di mana banyak rangkaian yang formasinya dipotong atau tidak beroperasi sama sekali, sarana KCI telah berhasil menambah jumlah rangkaian SF12 sebanyak dua rangkaian menjadi 22 rangkaian dari sebelumnya 20 rangkaian. Dua rangkaian tersebut adalah KRL seri 8500 rangkaian 8610F dan 8618F.

Sejak awal 2019, masalah sarana KRL semakin menjadi-jadi. Dari mulai gangguan teknis, masalah roda tipis yang berakibat kepada pemotongan formasi rangkaian KRL, dan sebagainya yang kemudian berakibat kepada terjadinya defisit rangkaian KRL.

Roda KRL: Flat, tipis, potong formasi

KRL seri 5000 rangkaian 5817F, kereta lepasannya sudah selesai ganti roda tapi formasinya tidak kunjung dinormalisasi

Penulis akan memulai dari masalah terklasik: roda KRL. Sejak pemberlakuan GAPEKA 2017 pada tanggal 1 April 2017 yang lalu, atau dua tahun lewat enam hari pada saat tulisan ini dibuat, masalah roda KRL semakin menggila. Roda flat atau tipis menjadi masalah utama. Penggunaan KRL yang excessive dengan waktu istirahat yang minim, menurut penulis merupakan sebab utama dari hal ini.

Sebagai contoh, penggunaan KRL seri 205 formasi 10 kereta (SF10) yang mayoritas berkode BOO (Bogor) secara excessive pada lintas Tanah Abang-Rangkas Bitung. KRL seri 205 SF10 terutama milik Dipo Bogor hampir tidak pernah mendapatkan giliran untuk berdinas di jalur-jalur lain selain jalur Rangkas. Pulang ke Bogor untuk perawatan, di hari setelah perawatan sudah kembali lagi dinas di jalur Rangkas.

Penggunaan semacam ini malah kemudian membuat kehandalan KRL seri 205 SF10 menurun: AC tak lagi dingin, tirai dan jendela banyak yang rusak, dan juga roda KRL menjadi cepat flat sehingga harus sering dibubut sehingga malah cepat tipis.

Belakangan, gangguan pada KRL seri 205 SF10 merambah pantograf KRL, di mana sebanyak tiga kali kejadian gangguan pantograf pada KRL seri 205 SF10 terjadi di jalur Rangkas hanya dalam seminggu. Keterbatasan waktu perawatan KRL tentu saja menjadi sebab dari kejadian-kejadian ini.

Masalah roda juga terjadi pada KRL seri 203, KRL seri 5000, dan KRL seri 6000. Dari pantauan penulis, KRL seri 203 rangkaian BOO106 dan KRL seri 5000 rangkaian 5817F sebelum menjalani perawatan akhir lengkap tahun 2018 yang lalu sebenarnya memiliki diameter roda yang cukup tebal. Namun menipis secara drastis setelah perawatan akhir lengkap dikarenakan pembubutan roda.

Daftar rangkaian KRL yang saat ini berjalan dengan formasi sementara. Banyak bukan?

BOO106 telah menjadi rangkaian SF8 sejak caturwulan akhir 2018 yang lalu, dan 5817F telah menjadi rangkaian SF8 sejak beberapa bulan lalu. Namun berbeda dengan BOO106, penggantian roda telah selesai dilakukan pada dua unit kereta yang dilepas dari 5817F meskipun termasuk rangkaian terakhir yang masuk, sedangkan kereta yang dilepas dari BOO106 seolah dibiarkan begitu saja di Dipo Depok. Meski demikian, formasi 5817F belum kunjung dinormalisasi oleh KCI.

KRL seri 6000 rangkaian 6117F juga telah setahun menjadi rangkaian SF8. Dua kereta yang dilepas dari 6117F telah sempat diganti rodanya namun formasi 6117F tidak kunjung dinormalisasi. Sampai-sampai, roda dari kereta milik 6117F tersebut kembali diganti dengan roda tipis dan tentu saja membuat penulis furious dengan kinerja tidak jelas dari departemen sarana KCI.

Terkadang penulis bertanya-tanya, sebenarnya apa sih skala prioritas yang digunakan? Kenapa rangkaian KRL yang lebih dahulu dipotong formasinya malah menjadi yang terakhir yang dinormalisasi? Dan kenapa yang sudah selesai ganti roda tidak kunjung dinormalisasi formasinya? Apakah KCI terlalu sayang dengan rangkaian SF8 (tagar #KamiSayangSF8) sehingga menginginkan semua rangkaian panjang diperpendek menjadi SF8?

Tentang skala prioritas, baru-baru ini terjadi kelucuan. KRL seri 205 rangkaian BUD88+86 dan KRL seri 6000 rangkaian 6131F merupakan dua rangkaian terakhir yang sempat dipotong formasinya untuk penggantian roda pada akhir Maret 2019 yang lalu, namun hanya dalam lima hari kedua rangkaian tersebut telah beroperasi dengan formasi normal dan telah menggunakan roda baru. Bandingkan dengan 6117F dan BOO106 yang sudah memendek sejak setahun lalu! Mana skala prioritasmu, departemen sarana KCI?

Padaha(RED/MPF/Tulisan ini tidak mewakili Railway Enthusiast Digest secara keseluruhan dan hanya merupakan pendapat pribadi penulis)l saat ini terdapat 10 rangkaian KRL yang beroperasi dengan formasi lebih pendek. Mayoritas adalah KRL seri 205 SF10 yang digunakan secara excessive alias berlebihan di jalur Rangkas. Dua pasang kereta tengah dari dua rangkaian KRL seri 205 ini juga masih berada di Dipo Bogor (tagar #KamiLambatGantiRoda), belum ditarik ke Dipo Depok untuk penggantian roda. Dan setidaknya, ada satu rangkaian KRL yang roda-rodanya kereta lepasannya sudah selesai diganti dengan yang baru, tapi formasinya belum kunjung dinormalisasi.

Karena banyaknya jumlah rangkaian dengan formasi yang dipotong ini juga, hanya terdapat sekitar 28-30 rangkaian SF10 yang bisa beroperasi normal, dari jumlah total 44 rangkaian. Jumlah yang cukup untuk menyiksa penumpang di jalur Bogor dan Bekasi karena realisasi dinasan yang tidak sesuai. Dan hal ini justru malah diakali dengan perubahan dukungan sarana secara resmi dari SF panjang menjadi SF pendek pada beberapa pemerjalanan di lintas Bogor.

Solusi

Onggokan kereta tengah lepasan dari rangkaian panjang yang hanya didiamkan di Dipo Depok tanpa dilakukan penggantian roda sama sekali

Semestinya, sarana KCI menerapkan prinsip first in first out (FIFO) dalam penggantian roda KRL sehingga bisa bekerja cepat dan tak perlu ada rangkaian KRL yang dipotong dalam waktu cukup lama (bahkan BOO106 nomor interiornya sampai diganti 1-8, bukan lagi 1-10 minus 5 dan 6). Bukan malah menggunakan skala prioritas yang tidak jelas, dengan prinsip cenderung ke arah last in first out (LIFO).Prinsip yang ada sekarang harus diubah, kembali seperti sebelum tahun 2017 lalu. Pada saat itu, penggantian roda bahkan tidak perlu sampai memotong formasi rangkaian KRL dan dilakukan dengan cepat.

Untuk penggunaan excessive, sebaiknya KCI menyegerakan pengoperasian rangkaian KRL SF12 di jalur Rangkas Bitung (tagar #2019RangkasSF12). Hal ini dapat menolong Dipo Bogor dalam merawat KRL seri 205 SF10 karena pengoperasian KRL seri 205 SF10 bisa dialihkan ke jalur lingkar Bogor (tagar #2019LoopLineSF10), sehingga kehandalan KRL seri 205 SF10 bisa kembali seperti semula. Terlebih dengan mayoritas rangkaian SF12 yang dialokasikan di Dipo Bukit Duri sehingga perawatan KRL bisa lebih dekat.

Untuk mendukung hal tersebut, tentunya KRL seri 205 jalur Musashino harus segera dijadikan rangkaian SF12. Untuk diketahui, sembilan rangkaian KRL seri 205 jalur Musashino malah dioperasikan oleh KCI dengan formasi aslinya dan bukan langsung dijadikan rangkaian SF12 (tagar #KamiLambatRangkaiMusas), sehingga memenuh-menuhi kapasitas dipo yang ada. Padahal, tahun lalu KCI telah mengumumkan bahwa KRL-KRL tersebut akan dijadikan rangkaian SF12 dan pengoperasian KRL SF12 akan dilakukan di awal 2019.

KCI juga harus selalu aware bila rangkaian yang dibutuhkan oleh penumpang di zaman sekarang bukan lagi rangkaian SF8, tapi rangkaian SF10 dan SF12 yang memiliki daya tampung lebih banyak. Sehingga alih-alih mengurangi jumlah rangkaian SF10, tapi justru mempercepat proses normalisasi formasi rangkaian.

Prasarana: Vending machine yang tak kunjung dipasang di beberapa stasiun, Passenger Information Display yang tidak maksimal

Antrean loket Stasiun Depok Baru, salah satu stasiun yang masih tidak memiliki vending machine

Keberadaan vending machine tiket KRL di stasiun terang saja membantu penumpang dan cukup memecah antrean pembelian tiket. Selain itu, vending machine juga memberikan privilege bagi pengguna kartu multi trip karena tidak harus mengantre di antrean yang sama dengan pengguna kartu harian.

Namun sayangnya, belum semua stasiun memiliki vending machine ini. Bahkan stasiun yang sehari-hari ramai oleh penumpang justru luput dari pemasangan vending machine oleh KCI.

Seperti halnya di Stasiun Depok Baru. Sudah 5 tahun penulis menyuarakan pemasangan vending machine di Stasiun Depok Baru karena antrean loketnya yang selalu panjang. Namun apa kenyataannya? Vending machine tidak kunjung dipasang sampai sekarang.

Tidakkah KCI sadar bahwa Stasiun Depok Baru adalah stasiun yang paling ramai di Kota Depok? Bahkan keramaiannya jelas melebihi Stasiun Depok. Tapi Stasiun Depok sudah menggunakan vending machine, sedangkan Stasiun Depok Baru masih saja primitif dengan masih menggunakan loket.

Antrean pengguna kartu multi trip pun harus bercampur dengan antrean kartu harian berjaminan, sehingga pengguna multi trip tidak memiliki privilege di Stasiun Depok Baru.

Passenger Information Display yang masih suka mabuk

Passenger information display Stasiun Rangkasbitung, untungnya waras karena bukan stasiun percabangan

Satu hal yang juga sering menjadi sorotan adalah passenger information display (PIDS). Biasanya di stasiun percabangan seperti Manggarai, PIDS akan sering sekali menampilkan error.

Entah itu kosong, salah tujuan, atau bahkan “Jalur 2 di Jalur 1”. PIDS seperti belum menjadi sesuatu yang ingin diseriuskan oleh KCI.

Tapi untungnya, belakangan PIDS sudah diubah dengan konten yang lebih baik. Meskipun baru di Stasiun Juanda, tapi setidaknya sudah ada arah untuk perbaikan.

Konklusi

KCI harus lebih serius dalam mengeksekusi program-programnya. Bukan malah seolah tidak peduli, seperti halnya dalam menormalisasi formasi rangkaian KRL yang panjang tapi diperpendek.

Penumpang sudah diberi janji, saatnya KCI untuk menepati. (RED/MPF/Tulisan ini tidak mewakili Railway Enthusiast Digest secara keseluruhan dan hanya merupakan pendapat pribadi penulis)

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

2 tanggapan untuk “[OPINI] Menurunnya Kinerja KCI

  • Minggu, 28 April 2019 pada GMT+0700 10:59
    Permalink

    Solusi Tambahannya, Harusnya Lintas Rangkas mempunyai Dipo (Bukan jalur simpan).
    Setiap Lintas seharusnya punya Dipo, terutama untuk lintas yang panjang seperti Jalur Cikarang dan Rangkasbitung.

    Balas
  • Minggu, 12 Mei 2019 pada GMT+0700 16:11
    Permalink

    Saya pun merasakan pas naik green line dan blue line sampe ke ujung dimana JR 205 dan TM 6000 (untuk blue line) rangkaian terlalu dipaksa buat punya jam terbang maksimal dengan jarak lebih dari 50 km PP tanpa perawatan yg rutin sangat terasa AC nya sudah kurang dingin dan ban sudah tipis apalagi track di kedua jalur itu terbilang lumayan menantang untuk KRL

    Balas

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: