[OPINI] GAPEKA 2019 KRL Jabodetabek, Ternyata Kacau Seperti Biasa!

Padat, sesak, sumpek, SF8 pula…

Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2019 yang disusun oleh Kereta Api Indonesia (KAI) Group dan disahkan oleh Kementerian Perhubungan baru berjalan tiga hari sejak pemberlakuannya pada 1 Desember 2019 yang lalu. GAPEKA 2019 menggantikan GAPEKA 2017 yang telah digunakan sejak 1 April 2017 hingga 30 November 2019. Pemberlakuan GAPEKA 2019 secara praktis mengubahsuaikan seluruh jadwal kereta api yang dioperasikan oleh KAI Group (KAI, Kereta Commuter Indonesia (KCI), dan Railink).

Sebelum GAPEKA 2019 benar-benar diberlakukan, KCI telah mengumumkan tentang perubahan jadwal dan menyebarkan jadwal baru KRL Jabodetabek baik di stasiun-stasiun maupun di situs resminya. Tidak dapat dipungkiri, jadwal baru memang memiliki jumlah perjalanan yang lebih banyak, dengan didukung jumlah loop perjalanan yang juga lebih banyak. Namun seperti namanya, GAPEKA 2019 ini masih bener-bener GA PEKA sama kebutuhan penumpang. Ga cuma sama kebutuhan penumpang, sama kebutuhan sarana KRL punya sendiri aja yaitu perawatan rangkaian KRL juga ternyata masih ga peka.

Menurut pantauan RE Digest di media sosial baik Facebook maupun Twitter, ada dua keluhan utama dari penumpang. Kedua masalah tersebut adalah masalah jadwal dan masalah peredaran stamformasi rangkaian KRL. Dua masalah klasik memang, dan sudah sering juga kami bahas. Mari kita coba kupas tuntas bagaimana kedua hal ini bisa menjadi masalah alias saboteur di GAPEKA 2019 yang masih juga ga peka.

Jadwal KRL: Headway busuk, KRL masih telat, KRL terakhir kurang malam, terlalu banyak KRL bersiang di dipo dibanding sebelumnya

Berangkat kuliah atau kerja, tapi jedanya 23 menit, SF8 pula belakangnya

Pada artikel sebelumnya yang kami pos di rubrik Fakta KA pada 1 Desember lalu, memang terlihat bahwa pada seluruh jalur kecuali jalur Bogor terdapat penambahan jadwal yang cukup signifikan. Namun ternyata waktu tunggu KRL, istilah kerennya headway, ternyata masih juga busuk. Bahkan untuk beberapa jalur seperti Cikarang dan Bogor malah lebih busuk dari GAPEKA 2017.

Di kedua jalur tersebut, terdapat celah kosong yang sangat jauh pada jam sibuk. Bayangkan anda ketinggalan kereta pukul 8 pagi, dan kereta berikutnya baru tersedia 25 menit kemudian. Lalu kereta pukul 8 pagi itu menggunakan rangkaian SF12, sedangkan kereta berikutnya menggunakan SF8. Anda bahkan tidak bisa menaiki KRL berikutnya tersebut karena kepadatan KRL SF8 jelas luar biasa. Hal ini terjadi di jalur Bogor dan Cikarang yang padahal merupakan jalur tersibuk KCI yang selalu ramai sepanjang hari.

Dari pantauan kami di Twitter, beberapa penumpang mencuit memberikan kritik pedasnya sambil menyebut akun-akun komunitas penumpang seperti @krlmania, @ComlineJkt, bahkan akun resmi KCI @CommuterLine. Berbagai macam jenis dan bentuk sumpah serapah tak segan dikeluarkan. Bahkan ada juga penumpang yang tidak segan mencuit “Jadwal kayak gini mau bunuh orang apa gimana?”.

Keterlambatan kereta, sesungguhnya memang hal lumrah setiap pemberlakuan GAPEKA baru. Karena departemen operasional selalu kaget akan pemberlakuan GAPEKA baru yang padahal mereka sendiri yang menyusun. Akibatnya, jadwal akan selalu direvisi hingga dianggap sesuai. Lantas, kenapa ga disiapkan dari jauh hari biar ga kaget? Atau emang udah kebiasaan orang Indonesia dengan “the power of kepepet”-nya?

Penumpang KRL tujuan Maja dan Cikarang yang bekerja hingga larut malam juga bersuara karena jadwal KRL terakhir bergeser menjadi lebih awal. Hal ini menyebabkan mereka harus pulang lebih cepat atau menggunakan transportasi lain. Masalahnya adalah, apakah transportasi lain yang bisa menjangkau Maja dan Cikarang?

Kalau ke Cikarang, mungkin masih ada bus dari Jakarta yang beroperasi hingga larut malam. Tapi Maja yang jauh dari mana-mana dengan akses jalan raya yang busuk dan hanya akses via rel kereta yang paling mumpuni, masa mau naik ojek dari Parung Panjang? Mahal atuh, gempor di kantong.  Dari Parung Panjang ke Maja masih jauh lho. Katanya dalam pembuatan jadwal baru mendengarkan masukan dari penumpang. Kalau seperti ini, ini masukan penumpang mana yang didengar?

Masalah lainnya datang dari jalur Bogor. Pada GAPEKA 2017, terdapat 9 loop yang bersiang di dipo alias hanya melayani peak hour pagi dan sore, serta 4 loop yang tidak dijalankan pada hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional (S/M/L). Di GAPEKA 2019, terdapat 12 loop yang bersiang di dipo, dengan loop batal S/M/L masih sama jumlahnya dengan sebelumnya.

12 loop bersiang ini jelas membuat headway KRL di siang hari lebih busuk dari sebelumnya. 5 dari 12 loop tersebut secara program dilayani menggunakan KRL SF10. Sehingga pada siang hari, jumlah peredaran SF10 di Bogor hanya 6 rangkaian dibanding peak hour pagi yang juga “hanya” 11 rangkaian. Sementara itu terdapat juga 2 loop SF12 dan 5 loop SF8 yang bersiang di dipo. Meralat artikel kami sebelumnya, peredaran rangkaian di Bogor terdiri dari 17 rangkaian SF12, 11 rangkaian SF10, dan 17 rangkaian SF8 pada hari kerja.

Di weekend dan libur nasional, akibat dari pembatalan 4 loop tadi juga terjadi waktu tunggu yang luar biasa buat lintas lingkar. 2 dari 4 loop yang dibatalkan tersebut ternyata memiliki jadwal relasi Bogor-Jatinegara yang berturut-turut. Sehingga, waktu tunggu KRL berubah menjadi 2 jam.

Bayangkan anda menunggu KRL tujuan Jatinegara di Kemayoran di suatu weekend yang seharusnya indah. Kereta yang anda naiki berangkat pukul 13:44 dari Stasiun Kemayoran. Sedangkan KRL selanjutnya tujuan Jatinegara pemberangkatan Bogor baru akan tersedia pukul 15:32, dan tidak ada KRL tujuan Bekasi atau Cikarang lewat Pasar Senen selain pukul 13:52. Jadi dari pukul 13:52 hingga 15:32 tidak ada KRL tujuan Jatinegara sama sekali.

Pun begitu sebaliknya. Setelah KRL dari Jatinegara tujuan Bogor berangkat pukul 14:32 dari Kemayoran, baru ada lagi KRL pada pukul 16:11 dari Bekasi tujuan Jakarta Kota. Sedangkan tujuan Bogor berikutnya baru ada pukul 16:24. Hal ini nyata adanya, dan jam tersebut sesuai dari apa yang tertera pada jadwal KRL GAPEKA 2019. Anda merasa tersabotase? Tentu saja, karena anda memang tersabotase oleh penjadwalan KRL yang cukup komedi.

Ada satu hal lagi yang kami soroti, di mana KRL SF10 yang pulang ke Dipo Bukit Duri dari jalur Rangkas sebagai KA 1976 tidak bisa bertukar dengan KRL SF10 yang bersiang di Dipo Bukit Duri dari jalur Bogor. Semua KRL SF10 yang beroperasi di jalur Rangkas merupakan KRL kepemilikan Dipo Bogor dengan kode BOO dan menjalani perawatan bulanan di Dipo Bogor. Tapi, loop KRL Bogor yang bersiang di Bukit Duri malah loop KRL SF8 dengan pemberangkatan sore sebagai KA 1811 dan KRL SF12 dengan pemberangkatan sore sebagai KA 1203. Tentu saja, rangkaian yang pulang dari jalur Rangkas ini otomatis akan kembali ke jalur Rangkas dengan pemberangkatan sore sebagai KA 2043 karena tidak bisa pulang ke Bogor.

Oke, KCI mungkin memang benar-benar menyiapkan jalur Rangkas sebagai jalur yang akan 100% menggunakan KRL SF12 sebagai armadanya. Sehingga penjadwalan pun diatur untuk mengakomodir KRL SF12, seperti dengan mengurangi jadwal Serpong dan Maja sambil menambah jadwal Rangkas. Plus, KRL SF12 memang sebagian besar dimiliki Dipo Bukit Duri. Tapi KCI juga jangan sampai lupa kalau sampai detik ini KRL yang beroperasi masih KRL SF10, dan KRL SF10 yang dioperasikan di jalur Rangkas harus pulang ke Dipo Bogor untuk perawatan bulanan.

KCI harus merevisi salah satu loop SF10 Bogor untuk mengakomodir penukaran rangkaian dan perawatan rangkaian KRL SF10 di Dipo Bogor, bukan malah menjebak KRL SF10 milik Dipo Bogor dalam penjara bernama jalur Rangkas. Baru setelah KRL SF12 beroperasi di jalur Rangkas secara keseluruhan, loop untuk bertukar SF10 tersebut bisa diatur ulang menjadi pertukaran antara Bogor dan Cikarang untuk mengakomodir perawatan bulanan KRL SF10 di Dipo Bogor maupun Dipo Depok.

Bersambung ke halaman selanjutnya: Stamformasi KRL: #KamiSayangSF8 masih berlaku dan bahkan #SemakinSayangSF8

loading...
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Berikutnya »

Satu tanggapan untuk “[OPINI] GAPEKA 2019 KRL Jabodetabek, Ternyata Kacau Seperti Biasa!

  • Selasa, 3 Desember 2019 pada GMT+0700 20:12
    Permalink

    Satu lgi menurut saya sumber masalah GAPEKA 2019 terkesan ancur di awal2 penerapannya, sekaligus mau nanya juga, apa alasan KAJJ Bandungan (Argo Wilis, Turangga, Malabar, Mutsel) diperpanjang terminusnya ampe gambir/senen, faktor permintaan pnp kah? Yakin?

    Balas

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: