Mengapa Stasiun Bawah Tanah MRT Tidak Terendam Saat Banjir?

Stasiun Dukuh Atas BNI | Tribunnews

Di awal tahun 2020 ini linimasa pemberitaan dipenuhi dengan berita banjir yang menggenangi sejumlah kawasan di Jabodetabek. Jawa Barat, dan Banten. Bahkan hingga artikel ini dibuat, korban tewas akibat banjir sudah mencapai 60 orang.

Tak hanya merendam pemukiman, banjir juga melumpuhkan jaringan transportasi di ibukota. Sebut saja Commuter Line Lintas Tangerang, Commuter Line Lintas Kulon, KA Bandara Soekarno Hatta, TransJakarta, dan LRT Jakarta yang sempat dihentikan operasionalnya akibat banjir yang merendam.

Meski demikian, kita hampir tak mendengar berita penghentian operasional MRT Jakarta akibat banjir. Padahal seperti yang kita ketahui salah satu stasiun bawah tanah MRT yakni Dukuh Atas berdiri di kawasan yang bisa dibilang langganan banjir. Bahkan lokasi stasiunnya sendiri berada tak jauh dari Banjir Kanal Barat.

Bagaimana bisa Stasiun MRT Dukuh Atas BNI yang berada di bawah tanah bisa tidak terendam banjir?

Jauh sebelum Jalur MRT North-South fase 1 dibangun, MRT Jakarta dan JICA bersama Pemprov DKI Jakarta sudah memetakan kawasan mana saja yang rawan banjir di sepanjang jalur serta melihat laporan ketinggian banjir yang terjadi selama 2 abad terakhir.

Dari data tersebut, stasiun bawah tanah yang berada di daerah rawan banjir pintu masuknya dirancang berbeda dengan stasiun bawah tanah lainnya.

Pintu masuk stasiun dibuat lebih tinggi dari tanah. Sebagai contoh Stasiun Dukuh Atas BNI yang pintu masuknya dibangun lebih tinggi 3 meter dan Stasiun Bundaran HI yang pintu masuknya dibangun lebih tinggi 1,5 meter. Tujuannya agar jika terjadi banjir air tidak masuk ke stasiun karena pintu masuknya lebih tinggi dari tanah.

Pintu masuk Stasiun MRT Bundaran HI yang dirancang lebih tinggi dari tanah | Tribunnews

Lalu bagaimana jika banjir merendam dengan ketinggian yang merendam pintu masuk? Di Stasiun Dukuh Atas BNI dan Bundaran HI disiapkan flooding gate atau tanggul sementara yang dapat dibongkar-pasang. Ketika ketinggian air mendekati ketinggian pintu masuk, flooding gate dipasang supaya air tidak masuk ke dalam stasiun.

Tak hanya di Bundaran HI dan Dukuh Atas, flooding gate juga disediakan di stasiun bawah tanah lainnya seperti Setiabudi Astra, Istora Mandiri, Bendungan Hilir, dan Senayan sebagai antisipasi jika ada genangan air di kawasan tersebut. Meskipun stasiun-stasiun tersebut tidak berada di kawasan rawan banjir.

Flooding gate yang terpasang di Stasiun MRT Bundaran HI | MRT Jakarta

Selain itu, dipasang pula sensor pengukur ketinggian air di Banjir Kanal Barat dan Kali Krukut. Sensor ini terhubung dengan pusat kendali di Lebak Bulus sehingga ketika air mencapai ketinggian yang dianggap membahayakan, petugas di stasiun bawah tanah sudah bersiaga untuk mengantisipasi banjir yang akan datang.

Gardu listrik aliran atas untuk MRT juga dibangun di tempat yang lebih tinggi dan aman dari banjir seperti di Blok A, Lebak Bulus, dan Bundaran HI.

Di jalur bawah tanah sendiri terdapat drainase dengan ukuran 200×150 mm serta penampungan dengan ukuran 4x4x2 meter di tiap stasiun bawah tanah yang terhubung dengan pompa pembuangan yang memiliki kapasitas 25 liter per detik. Di jalur transisi layang-bawah tanah di petak antara ASEAN dan Senayan juga disediakan penampungan dan dua unit pompa.

(RED/BTS)

loading...

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: