Studi Baru Temukan Tingkat Risiko Penularan COVID-19 di Kereta

Pembatasan penumpang pada perjalanan KLB COVID
Pembatasan penumpang pada perjalanan KLB COVID semasa masih beroperasi | Foto: Antara

[11/8] Sebuah studi oleh Universitas Southampton Inggris dan beberapa lembaga Tiongkok menemukan hasil risiko penularan COVID-19 di kereta. Berdasarkan studi tersebut, ditemukan orang yang berada tepat di samping orang yang terinfeksi “paling rentan untuk ikut tertular”.

Pada studi yang dirilis di jurnal daring Clinical Infectious Disease pada 26 Juli lalu, dilakukan penelitian secara kuantitatif terhadap risiko penyebaran COVID-19 di kereta. Menggunakan data dari 2.334 pasien indeks dan 72.093 orang yang kontak dekat dengan waktu perjalanan bersama 0-8 jam dari 19 Desember 2019 hingga 24 Februari 2020 di Tiongkok. Dari 72.093 orang ini, 234 di antaranya kemudian diketahui positif COVID-19.

Keseluruhan penumpang yang diteliti ini berasal dari kereta cepat (G Train) yang merupakan salah satu kereta tersibuk yang menyumbang 60% penumpang kereta di Tiongkok. Penelitian ini dilakukan dengan analisa ruang dan waktu untuk mengetahui hubungan jarak, waktu perjalanan bersama, dan infeksi.

Dari hasil penelitian diperoleh penumpang yang bepergian bersama dengan yang terinfeksi dengan jarak kursi 3 baris dan 5 kolom, memiliki rata-rata “attack rate” (sebutan untuk terjadinya infeksi) 0,32%. Sedang penumpang dengan baris yang sama memiliki rata-rata “attack rate” 1,5%. Dan penumpang yang duduk bersebelahan memiliki “attack rate” sampai setinggi 3,5%.

Dari segi waktu perjalanan, “attack rate” bertambah sebesar 0,15% untuk setiap jam bepergian bersama. Sedang bagi penumpang yang duduk bersebelahan, peningkatan ini bisa sampai 1,3%. Dari segi jarak kursi, untuk pertambahan setiap kolom, “attack rate” akan berkurang 0,045%. Disebutkan untuk satu jam bepergian bersama, menjaga jarak 1 meter masih memadai. Namun dalam dua jam, jarak 2,5 meter pun sudah tidak memadai.

Dalam studi ini juga dijelaskan keterbatasan metodologi dan data yang dimiliki. Di antaranya adalah keterbatasan data persebaran hanya hingga 7 baris, kemungkinan infeksi setelah melakukan perjalanan, kemungkinan penyebaran COVID-19 dari kru dan penumpang yang berpindah-pindah, serta kemungkinan penyebaran dari anggota keluarga dekat sebelum dan sesudah perjalanan. Sehingga risiko penyebaran COVID-19 dalam studi ini disebutkan oleh penelitinya sebagai prediksi tertinggi karena ada kemungkinan overestimasi.

Disimpulkan dari penelitian ini persebaran COVID-19 memiliki perbedaan signifikan tergantung lokasi kursi dan waktu bepergian. Dalam studi ini disebutkan langkah-langkah jaga jarak sosial pada transportasi umum harus terus dilakukan selama pandemi. Di antaranya adalah memberi jarak antarkursi, mengurangi kepadatan penumpang, dan menerapkan protokol kebersihan pribadi. (RED/IHF)

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: