Inggris akan Akhiri Sistem Franchising Kereta Api

Armada Class 43 dan Class 802 milik Great Western Railway, salah satu franchisee kereta api di Inggris | Foto: Savage Kieran, CC-BY-SA

[2/10] Setelah lama berkutat dengan sistem franchising jalur kereta api ke operator selama 24 tahun, pemerintah Inggris pada 21 September lalu mengumumkan akan mengakhiri sistem ini. Keputusan ini disebut oleh pejabat pemerintah sebagai perubahan terbesar perkeretaapian Inggris dalam 25 tahun terakhir.

Dilansir dari Railway Technology, sistem franchising adalah sistem kontrak jangka panjang bagi operator KA untuk beroperasi di sejumlah rute tertentu. Operator mengajukan penawaran atas tender pengoperasian jalur dari pemerintah, di mana pemerintah memilih operator pemenang dari segi biaya dan kualitas layanan. Sistem yang menggantikan perusahaan KA British Rail ini disahkan melalui Railway Act tahun 1993 dan mulai berlaku pada tahun 1996.

Akan tetapi sistem franchising ini telah babak belur terdampak pandemi COVID-19. Dari data Departemen Transportasi Inggris, penggunaan KA di Inggris jatuh dari 100% menjadi 4 hingga 6% saja antara April hingga Mei. Akibat dari sistem pembayaran franchising dari operator ke pemerintah yang berdasarkan penjualan tiket, sistem ini tidak dapat bertahan akibat anjloknya jumlah penumpang. Bahkan pemerintah Inggris pada Maret lalu telah menggelontorkan dana 3,5 miliar Poundsterling untuk menalangi kerugian yang dialami operator, secara efektif kembali menasionalisasi sistem ini.

Sebagai gantinya, pemerintah pun meluncurkan rencana sistem penggantinya. Operator franchise akan ditempatkan dalam kontrak transisi. Selanjutnya diluncurkan sistem perjanjian baru berupa Emergency Recovery Management Agreement (ERMA) yang akan menjaga sektor perkeretaapian beroperasi selama pandemi. ERMA ini diberi target performa yang lebih ketat dan 1,5% biaya operasionalnya akan dibayarkan pemerintah.

Perjanjian baru ini akan berlangsung sekitar 6 hingga 18 bulan untuk memungkinkan pemerintah dan sektor perkeretaapian berfouks terhadap reformasi penting. Di antaranya kerjasama antaroperator, menekan harga, dan melakukan penghematan jangka panjang. Respon dari sektor perkeretaapian atas perjanjian ini beragam, ada yang mendukung dan ada yang menolak.

Operator seperti Rail Delivery Group mendukung keputusan ini. Pihaknya menganggap keputusan pemerintah ini menjadi batu loncatan untuk kereta api yang lebih baik, dan mengapresiasi dukungan agar kereta api tetap dapat melayani penumpang. Sementara salah satu yang menolak adalah serikat National Union of Rail, Maritime and Transport Workers (RMT). Mereka beranggapan langkah ini tetap akan lebih menguntungkan operator swasta, dan menyebutkan pemerintah sebaiknya secara permanen menasionalisasi kembali sistem kereta api di Inggris. (RED/IHF)

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: