Mengapa Lintas Yogyakarta-Solo Dielektrifikasi Lebih Dulu?

KRL KfW di Solo Balapan
Rangkaian KRL KfW saat memasuki Stasiun Solo Balapan | Foto: Angin Elandajagat

Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kota Klaten, Kota Solo, dan wilayah lain di antara lintas Yogyakarta-Solo tengah berbahagia menyambut hadirnya layanan Commuter Line yang menghubungkan dua wilayah tersebut. Pembangunan hingga uji coba dengan sarana sudah selesai dilakukan. Dua seri KRL, yakni KFW dan 205, disiapkan untuk melayani lintas ini.

Di tengah euforia ini, muncul sebuah pertanyaan. Dari semua lintas metropolitan di Pulau Jawa mengapa Lintas Solo-Yogyakarta yang dielektrifikasi lebih dulu? Mengapa bukan wilayah lain seperti Gerbangkertosusila atau Bandung Raya?

Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri menjelaskan hal tersebut dalam Webinar “Hadirnya KRL Solo-Jogja”. Ada beberapa hal yang mendasari Jalur Solo-Yogyakarta dielektrifikasi terlebih dahulu. Di antaranya adalah peningkatan jumlah warga yang ulang-alik di kedua wilayah tersebut serta infrastruktur yang dinilai lebih siap.

Dari segi jumlah penumpang, Zulfikri mengatakan dalam studi yang dilakukan terjadi peningkatan jumlah warga yang ulang-alik dari Yogyakarta ke Solo maupun sebaliknya.

“Hasil studi kelayakan pembangunan elektrifikasi yang didapati peningkatan potensi penumpang sangat signifikan. Diprediksi pada 2021 akan ada 6 juta penumpang dan pada tahun 2035 diprediksi ada 29 juta penumpang yang akan menggunakan koridor Jogja-Solo”, jelas Zulfikri.

Selain itu banyaknya objek wisata di sepanjang koridor Yogyakarta-Solo sehingga membutuhkan moda transportasi yang memadai.

“Pertimbangan lainnya di aglomerasi ini banyak objek wisata dan lebih mendukung adanya tempat wisata seperti Prambanan dan Borobudur”,  jelas Zulfikri.

progres elektrifikasi yogyakarta-solo
Lintas Yogyakarta-Solo yang sudah jalur ganda menjadi pertimbangan elektrifikasi | Foto: Arkan Andya

Dari segi infrastruktur sendiri, Jalur Solo-Yogyakarta dinilai lebih siap untuk dielektrifikasi karena sudah jalur ganda sehingga bisa menunjang operasional Commuter Line ke depannya. Selain itu Zulfikri mengatakan tidak menutup kemungkinan ke depannya akan dibangun jalur dwiganda seperti di Lintas Cikarang jika jumlah penumpang semakin banyak.

“Jogja-Solo secara teknis kita sudah punya jalur atau track yang ganda atau jalur ganda. Sehingga kapasitas kita sudah cukup banyak yang kita manfaatkan untuk komuter. Walaupun nantinya kita tetap perlu seperti di Jabodetabek mungkin double-double track tapi nanti saat permintaan semakin tinggi”, tambah Zulfikri.

Meski demikian, Zulfikri mengatakan untuk elektrifikasi di kota-kota lainnya akan dilakukan secara bertahap mengingat anggaran yang dimiliki terbatas.

“Kapasitas finansial pemerintah terbatas jadi baru kita tahap-bertahap kita kembangkan”, tutup Zulfikri.(RED/BTS)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: