Bersama D’Tech Engineering dan INKA, Insan SMK Produksi Kursi Kereta Eksekutif

Sekumpulan siswa SMK sedang menyiapkan rangka kursi kereta K1
Ilustrasi: Beberapa Siswa SMK yang sedang menyiapkan rangka bawah kursi kereta eksekutif. | Foto: Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek

REDigest.web.id – Mungkin Anda sudah familier dengan beberapa perusahaan pembuat kursi seperti Alldila dan Rimba Kencana. Namun, apakah Anda tahu bahwa salah satu kursi kereta eksekutif Anda mungkin merupakan produksi anak SMK?

Latar Belakang: Project Based Learning dan Kontrak PT INKA

Kemdikbudristek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi mengadakan sebuah program pembelajaran berbasis proyek atau project based learning (PBL). Program ini merupakan salah satu dari sekian banyak program hasil Kurikulum Merdeka. melalui program PBL, para murid SMK akan mengasah kemampuan mereka serta mempersiapkan diri sebelum menyelam ke dalam dunia industri.

Salah satu proyek PBL ini ialah proyek pembuatan kursi kereta eksekutif (K1) KAI dari  PT D’Tech Engineering dengan kontrak PT INKA. KAI, selaku pihak pemesan memiliki rencana untuk memanfaatkan kursi eksekutif karya insan SMK ini untuk mengganti kursi kereta lama yang sudah rusak dan usang. Menurut informasi yang ada, siswa SMK telah memproduksi 230-260 unit dari 440 unit per kontrak dengan rencana bertambah hingga 1500 unit.

Produksi Libatkan Lebih dari Satu SMK

Dari 200 siswa yang mengikuti, terdapat 4-5 SMK yang terlibat dalam program pembelajaran ini. SMKN 2 Salatiga, SMK Muhammadiyah Salatiga, SMK Saraswati Salatiga, serta SMK Model PGRI 1 Mejayan turut menjadi peserta dalam program PBL. Setiap SMK yang mengikuti PBL ini memiliki peranan yang berbeda-beda. SMKN 2 Salatiga bertugas mengurusi komponen utama kursi. Sementara itu, SMK lain yang terlibat mengambil bagian perakitan onderdil dan komponen lainnya.

Mengutip dari Suhartono, selaku Kepala Program Studi Teknik Bodi Otomotif SMKN 2 Salatiga menyebutkan bahwa tidak hanya siswa-siswi kelas XII yang berpartisipasi dalam pembuatan kursi kereta. Dari kelas X sampai alumni sekolah pun turut membantu dan saling membimbing satu sama lain.

“Karena terkait Kurikulum Merdeka, siswa yang terlibat dari kelas X, meskipun yang banyak dari kelas XII. Jadi kelas XII jadi group leader-nya. Mereka membimbing kelas XI dan kelas XI membimbing kelas X. Kemudian, kelas XII dibimbing alumni yang kerja di D’Tech,”

– Suhartono, Kepala Program studi Teknik Bodi Otomotif SMKN 2 Salatiga

Siswa SMK dan pengenalan lingkup kerja dalam PBL

Para siswa SMK yang mengikuti program PBL ini dibuat terlibat penuh dalam manufaktur kursi. Mereka dikenalkan berbagai macam alat manufaktur yang akan mereka temui dalam dunia industri. Selain pengoperasian alat, mereka juga menempatkan diri dalam lingkungan kerja yang sensitif terhadap waktu dan standar kualitas tinggi.

Dalam proses manufaktur kursi ini, D’Tech Engineering menjadi pihak katalisator bagi pada siswa SMK. Mereka akan mendampingi para siswa dalam perancangan bagian kursi, perakitan produk, serta pengajaran operasi alat seperti mesin bending, laser cutting, welding, painting, dan powder coating. Selain itu, mereka juga menjadi pihak quality control (QC) produk akhir. Setelah produksi selesai, kursi-kursi kereta yang sudah jadi akan diperiksa kualitasnya oleh pegawai D’Tech Engineering.

Sebuah Proyek dengan Hasil Yang Memuaskan

Pegawai IMST sedang melakukan cek kualitas terhadap rangka kursi kereta eksekutif K1
Ilustrasi: Pegawai IMST sedang melakukan cek kualitas terhadap rangka kursi kereta eksekutif K1 | Foto: Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek

Setelah melewati prosedur quality check, pihak D’Tech Engineering menyatakan bahwa kursi-kursi kereta produksi siswa-siswi SMK ini sudah sesuai dengan standar industri.

“Kursi yang sudah dibuat oleh SMK ternyata sangat bagus dan kualitas sudah sesuai dengan standar dari PT INKA.”

–  Fajar Budi Laksoso, Direktur Operasional PT D’Tech Engineering

Selain itu, Fajar mengungkapkan bahwa para siswa SMK dapat mengerjakan pesanan kursi tersebut dengan jangka waktu yang relatif singkat. Dengan ini, para siswa SMK telah berhasil menerapkan budaya kerja industri yang bersifat time sensitive. Selain manfaat bagi para siswa-siswi SMK, program PBL ini juga dapat menekan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 100 persen.

Rencana ke Depannya

Kembali mengutip dari Fajar Budi Laksoso, selaku Direktur Operasional PT D’Tech Engineering menyebutkan bahwa mereka memiliki rencana untuk melanjutkan program PBL ini untuk ke depannya.  PT D’Tech Engineering berniat untuk menjadi lebih intensif dalam melibatkan siswa-siswi SMK dalam proyek-proyeknya. Rencana itu termasuk memberikan proyek-proyek baru kepada SMKN 2 Salatiga serta menyertakan SMK Perkapalan untuk bagian welding.

Pihak sekolah serta PT yang ikut andil dalam program ini mengharapkan seluruh siswa yang mengikuti program ini dapat menyelam langsung ke dunia manufaktur serta menjadi sumber daya manusia yang ahli, andal, berintegritas, dan berkompetensi tinggi.

“Industri membutuhkan kemampuan atau kompetensi teknis yang siap pakai sehingga dunia pendidikan harus bisa menyiapkan ke sana agar lulusannya bisa terserap di industri. Kalau dunia pendidikan tidak menyiapkan lulusan yang sesuai industri harus mengeluarkan banyak biaya besar untuk training.”

– Heru Sulistiyo, Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko PT IMS.

(RED/DS)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: