KolomOpini

[OPINI PEMBACA] KAI Commuter Selayaknya Lebih Aktif Bersuara Tentang Impor KRL

Ilustrasi: Kepadatan pengguna KRL di Stasiun Manggarai | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Artikel di bawah ini adalah opini dari Pembaca sebagai tulisan REDCitizen. Penulisan opini ini tidak mewakilkan pandangan resmi dari Tim REDaksi

REDigest.web.id – Masyarakat sudah dibuat lelah menunggu oleh lambatnya keputusan akan impor KRL. Kementerian BUMN sudah melobi untuk impor bekas. Akan tetapi, Menteri Perindustrian tetap saja masih bersikukuh menolak impor KRL bekas. Baru sekarang-sekarang ini angin segar dari pemerintah muncul dengan kabar lampu hijau untuk impor dari KRL.

Pun saat ini situasinya masih sangat menggantung, dengan Menko Marves menjanjikan pengumuman nasib “minggu depan”.

Pada awal Mei lalu, keadaan KRL Commuter Line di Jabodetabek sempat membuat khawatir. Ada banyak rangkaian KRL yang mengalami pemotongan stamformasi sementara. Bahkan hingga kini, keadaan pemotongan stamformasi sementara pun masih terus berlanjut.

Penulis berpendapat sebenarnya operator dapat menggunakan momentum ini untuk berkomunikasi secara dapat transparan dengan penumpang berbayar KRL. KAI Commuter saat itu seharusnya dapat menjelaskan ke pelanggan selagi menekan pengambil keputusan yang masih belum memberi kabar yang jelas dan justru terkesan mbulet. Terlebih Penulis yakin para pengambil keputusan tidak pernah merasakan penuhnya naik KRL di jam sibuk.

Penulis berpendapat komunikasi transparan dari operator dapat berupa gambaran yang mudah publik dan media mengerti, risiko penumpukan konsumen dengan kondisi rangkaian yang sekarang. Risiko ini sendiri seharusnya dapat operator gambarkan dengan misalnya simulasi angka konsumen yang terangkut dan tidak terangkut pada jam sibuk, seperti misal antara pukul 3 sore hingga 10 malam. Tidak ketinggalan pula adanya rangkaian yang tidak bisa terpakai dan hanya nongkrong di depo. Hal ini memiliki tujuan agar penumpang berbayar dapat mengerti. Khususnya bagi mereka dari kalangan awam yang memang tidak mengerti teknis.

Jangan sampai operator justru mengharapkan penumpang berbayar yang “pasang badan” untuk membela kepentingan bisnisnya. Penulis merasa hal ini serupa dengan kasus rencana kenaikan tarif KRL di awal 2022 silam yang pada akhirnya batal. Menurut Penulis, KAI Commuter merasa terlalu nyaman di tengah polemik tanpa adanya upaya untuk komunikasi transparan. Kala itu, KAI Commuter hanya mengatakan rencana tarif KRL ada di tangan Kemenhub.

Selain itu, meskipun mendapat dukungan penuh, ternyata KAI Commuter pun masih mengeluarkan pernyataan kesanggupan dengan kondisi seperti ini. Pada akhir April lalu, KAI Commuter menyatakan pihaknya siap menampung 1,5 juta penumpang setelah mudik lebaran.

Belum lagi Penulis merasa operator tidak terlalu keras pressing karena adanya kesalahan prediksi pertumbuhan penumpang berbayar. Jika demikian, apakah KAI Commuter benar-benar memahami situasi yang sebenarnya sekarang dialami? (Ferry Octavian/REDCitizen)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: