BusBus Antar Kota

Dua Sisi Klakson Telolet Bus: Antara Menyenangkan dan Meresahkan

Bus agramas
Ilustrasi: Anak-anak mengejar Bus malam Agramas SC-028 yang membunyikan klakson telolet pada saat itu. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra.

REDigest.web.id, 23/3 – Klakson corong dengan beberapa modul yang dikenal sebagai klakson telolet, adalah klakson yang dapat mengeluarkan nada dengan bunyi yang sesuai dengan namanya yaitu te-lo-let. Pelopor bus dengan klakson telolet pertama adalah perusahaan otobus (PO) Efisiensi asal Kebumen, di mana klakson tersebut disematkan pada armada busnya yang dibeli di Arab Saudi.

Pertama Kali Populer

Klakson telolet saat awal digunakan oleh bus Efisiensi medio 2010an ke bawah banyak yang tidak menyukai karena suaranya yang keras dan berisik, namun perlahan mulai banyak yang menyukai karena klakson tersebut memiliki suara yang dapat menghibur. Dari tahun ke tahun klakson telolet semakin variatif baik ditambah corongnya maupun modulnya. Bahkan di beberapa bus klakson teloletnya terkenal karena memiliki suara yang khas, salah satunya adalah Garuda Mas Mahessa atau beberapa bus Scorpion Holiday.

Karena semakin digandrungi, tahun 2016 telolet menjadi viral di mana-mana bahkan sampai ke luar negeri. Salah satu puncak dari ketenaran telolet adalah diadakan acara keselamatan jalan tahun 2017 oleh Menteri Perhubungan di terminal Pulogebang, di mana selain faktor kelengkapan surat-surat bus juga dibarengi dengan lomba kontes telolet di 22 bus.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rico Perdana Putra (@rico_s7535us)

Dan di 2021 telolet memasuki fase paling meriah karena menggunakan modul jenis basuri dengan nada yang lebih “berwarna”. Di tahun inilah tren telolet lebih dikenal dengan nama “basuri”, bahkan di tahun-tahun berikutnya terdapat beberapa seri dengan pengembangan varian seperti V1 hingga V3 dengan nada masing-masing yang khas.

Antusiasme Yang Massif

Sejak tren di tahun 2016an, masyarakat banyak yang menyukai telolet, bahkan artis luar negeri juga ikut-ikutan memeriahkan melalui beberapa sosial media. Dari berbagai elemen masyarakat, anak kecil paling mendominasi dengan berbagai ekspresi yang sumringah.

Bus DJ telolet
DJ Marshmello, salah satu pemusik dunia yang memeriahkan tren “Om Telolet Om” pada tahun 2016 lalu. | Foto: Berita Fimela

Pada tahun 2017 sendiri, anak-anak penyuka telolet banyak yang menunggu, merekam, bahkan mengejar klakson telolet di terminal Poris Plawad, Tangerang. Selain itu terkadang banyak yang berburu bus-bus bertelolet di sekitaran rest area km 19 Tol Jakarta-Cikampek daerah Bekasi atau di pinggir jalan daerah lain seperti Jepara.

Bus muji jaya
Sekumpulan anak-anak yang meminta telolet basuri ke bus malam Muji Jaya Putra Mandiri di Buaran Indah, Tangerang. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra.

Di 2023 dan 2024 sendiri anak-anak kecil penyuka telolet basuri sudah sangat banyak. Di beberapa tempat sendiri sempat ramai akan kehadiran anak-anak tersebut, salah satunya di aksss Buaran Indah, Tangerang. Tidak hanya telolet, anak-anak tersebut juga suka berburu atau meminta stiker untuk dikoleksi, baik dari kru bus atau dari orang lain.

Hiburan Abaikan Keselamatan

Meski banyak anak kecil yang menyukai, namun kesukaan terhadap fenomena telolet basuri dan berburu stiker membawa beberapa dampak yang negatif. Rasa suka yang berlebih sampai rela mengejar bus tersebut membahayakan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.

Salah satu kejadian yang terekam oleh video pada Januari 2023. Berlokasi di kawasan wisata Borobudur Magelang, bus pariwisata Satria Timur Trans keluar dari parkiran sembari membunyikan klakson telolet basuri. Anak-anak kecil pemburu telolet yang menunggu langsung berburu dan meminta stiker ke kru melalui jendela pintu bus.

Apesnya saat bus berbelok salah satu anak tersenggol, masuk ke kolong bus, dan nyaris terlindas. Bus berhenti pada saat itu juga dan anak kecil tersebut berhasil keluar dari sisi kanan tanpa cidera. Belum genap satu tahun, kejadian yang sama terjadi pada November 2023 seorang anak terlindas bus BEsT Premium saat mengejar untuk meminta telolet dan stiker bus. Berbeda dengan peristiwa sebelumnya, kali ini anak kecil tersebut mengalami luka yaitu patah tulang dan kaki robek.

Januari 2024 ada peristiwa lainnya, di mana di Cileungsi sebuah bus pariwisata warna ungu diikuti oleh beberapa orang yang membuat konten telolet basuri. Apesnya salah satu motor yang ditumpangi bersenggolan dengan pengguna jalan lainnya. Pengguna lain tersebut jatuh dan tidak sadarkan diri dan dibawa menuju rumah sakit terdekat.

Dan yang terbaru pada beberapa hari lalu sekaligus menjadi masalah serius, kali ini menimpa bus Sinar Dempo saat hendak memasuki pelabuhan Merak pada Minggu (17/3). Saat hendak berbelok, bus diikuti oleh salah satu anak kecil. Namun nahas anak tersebut terlindas oleh ban kiri belakang bus dan tewas seketika di lokasi kejadian dengan kondisi yang mengenaskan.

Dampak dari Fenomena Telolet Basuri

Tren anak kecil berburu stiker dan telolet bus banyak menimbulkan korban luka, namun peristiwa di Merak pada pekan lalu adalah kejadian pertama yang menimbulkan korban jiwa. Setelah kejadian tersebut membuat beberapa instansi melarang penggunaan telolet pada bus.

Menurut Medcom melalui tayangan Metro TV Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati akan memberikan sanksi kepada bus yang melanggar aturan mengenai larangan penggunaan klakson telolet. Sanksi tersebut berupa denda sebesar Rp500.000 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang pengaturan suara desibel antara 83-118 dB.

Selain faktor polusi suara dan memancing keadaan sekitar, karoseri Adiputro melalui akun Instagram resminya juga menyatakan untuk tidak memperbolehkan perusahaan otobus yang rilis dari karoseri Adiputro menggunakan klakson telolet lagi dan mengikuti arahan dari pemerintah.

Aturan pelarangan telolet juga menyebar ke beberapa tempat, termasuk spot kolong jembatan tol di Buaran Indah disterilisasi oleh pihak kepolisian, selain itu beberapa jembatan baik kendaraan atau penyeberangan orang di atas jalan tol mulai dipasangkan banner yang bertuliskan larangan penggunaan telolet di sepanjang tol.

Dengan kondisi yang diperketat seperti ini, diharapkan agar anak kecil utamanya yang dahulu pernah berburu telolet dan stiker dapat belajar mengenai keselamatan diri sendiri dan orang lain, mau mendengar arahan dan masukan yang baik dari orang dewasa, serta peduli dengan kondisi lingkungan sekitar, selain itu orang tua harus lebih perhatian terhadap pergerakan anaknya saat sedang di luar. (RED/EPP)


Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Donasi yang Anda berikan sangat membantu kami untuk terus beroperasi dan meningkatkan kualitas informasi yang kami sajikan. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer di bawah ini

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×