India Akan Bangun Jalur Kereta Api Tertinggi di Dunia

Jalur KA Qinghai – Tibet, jalur KA tertinggi di dunia saat ini | CNN

[29/10]. Pembangunan infrastruktur perkeretaapian di India seolah tidak pernah berakhir. Setelah sebelumnya berencana membangun jalur kereta cepat bersama Jepang, India kini berencana untuk menaklukan Himalaya dengan membangun jalur kereta api tertinggi di dunia. Jalur kereta api ini nantinya akan menghubungkan ibukota India, New Delhi, dengan Ladakh, wilayah paling utara di India yang berada di Pegunungan Himalaya dengan panjang sekitar 465 kilometer.

Jalur ini digadang-gadang akan menjadi jalur kereta api tertinggi di dunia di mana titik tertingginya berada di ketinggian 5.360 meter di atas permukaan laut. Sebagai perbandingan, jalur kereta api tertinggi di dunia saat ini, Jalur Qinghai – Tibet, titik tertingginya hanya berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Jalur ini nantinya akan dibangun memanjang di sepanjang perbatasan India dan Tiongkok.

Jalur ini nantinya akan menghubungkan sejumlah wilayah penting di India seperti Sundernagar, Mandi, Manali, Keylong, Koksar, Darcha, Upshi, Karu, serta sejumlah kota besar di wilayah Himachal Pradesh, Jammu, dan Kashmir. Sebanyak 74 terowongan, 124 jembatan besar, 396 jembatan kecil, dan 30 stasiun akan dibangun di sepanjang jalur ini berdasarkan survei tahap pertama.

Ada yang unik di jalur ini. Stasiun Keylong yang berada di ketinggian 3000 meter di atas permukaan laut akan dibangun di dalam terowongan. Persis seperti Stasiun Doai yang berada di Jepang.

Terowongan terpanjang yang akan dibangun di jalur ini diperkirakan akan memiliki panjang 27 kilometer. Untuk armada keretanya sendiri, belum diketahui apakah akan dibuat oleh India sendiri atau diimpor dari luar negeri karena kereta yang digunakan didesain khusus untuk menjaga tekanan udara dalam kereta tetap stabil.

Diharapkan dengan hadirnya jalur ini dapat memangkas waktu tempuh dari New Delhi ke Ladakh dari yang sebelumnya 40 jam menjadi hanya 20 jam saja.

(RED/BTS)

Economic Times

 

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: