[OPINI] #KamiSayangSF8, Kapankah Akan Berakhir?

#kamisayangsf8
#KamiSayangSF8: Tiga KRL SF8 berturut-turut tanpa ada SF10 maupun SF12 sama sekali yang menyelingi | foto: Nurachman Hafizh

Rangkaian KRL formasi 8 kereta (SF8) merupakan salah satu jenis formasi KRL tertua yang dioperasikan di Jabodetabek. Tidak diketahui secara pasti kapan KRL-KRL di Jabodetabek mulai dioperasikan dengan formasi ini. Namun sejak 1990-an, mayoritas KRL di jalur Bogor sudah beroperasi dengan formasi SF8. Pada saat itu, KRL-KRL yang rata-rata memiliki formasi 4 kereta (SF4) dirangkaikan secara 4+4 untuk membentuk satu rangkaian SF8, dengan rangkaian pasangan yang tidak tetap alias dapat berubah.

KRL Jabodetabek tidak memiliki jenis formasi lain selain SF4, SF6, dan SF8 sampai tahun 2014. Bahkan beberapa jenis KRL yang didatangkan dari Jepang sampai sebelum akhir 2013 yang memiliki formasi asli baik SF6 maupun SF10 pun diatur ulang menjadi SF8. Pengaturan ulang ini dilakukan baik di Jepang maupun di Indonesia.

Barulah mulai 2014 jenis formasi baru diperkenalkan kepada publik, yaitu SF10. KRL SF10 langsung menjadi primadona saat itu. Keberadaannya sangat diseriuskan dengan dasar semangat untuk melayani lebih baik. Itulah kali pertama sepanjang sejarah KRL dengan formasi asli SF10 dioperasikan dengan formasi aslinya, tidak dipotong menjadi SF8 seperti sebelumnya.

Setahun berikutnya, sebuah breakthrough pun terwujud lewat pengenalan KRL formasi SF12. Seperti halnya KRL SF10, keberadaan KRL SF12 juga sangat diseriuskan. Bahkan mulai akhir tahun 2015, inovasi dilakukan dengan menambah jumlah KRL SF10 dan SF12 dengan cara menyusun ulang formasi KRL-KRL SF8. Sehingga KRL SF8 berkurang secara drastis, sementara KRL SF10 dan SF12 semakin berjaya.

Demikian halnya di tahun 2016. Jumlah KRL SF10 kembali ditambah sehingga KRL SF8 semakin terhimpit dan terpojok. Sampai 31 Maret 2017, keadaan berkomuter di Jabodetabek sangatlah nyaman dengan banyaknya rangkaian panjang. Namun, semua itu berubah saat GAPEKA 2017 diberlakukan…

Pemberlakuan GAPEKA 2017 dan penurunan kualitas pelayanan dengan banyaknya KRL SF8

GAPEKA 2017 membawa hal-hal positif seperti halnya pengoperasian KRL tujuan Rangkasbitung dan penambahan jumlah perjalanan di seluruh lintas. Sayangnya hal ini tidak diiringi dengan kesiapan dari sang operator, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), yang di kemudian hari akan berubah menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Dengan jumlah rangkaian yang ternyata belum cukup, KCJ memaksa untuk menambah jumlah perjalanan ke arah Rangkasbitung dengan KRL SF10.

Hal tersebut dilakukan dengan mengorbankan jalur Bogor, jalur terpadat di Jabodetabek, yang sejak 2014 sudah dimanjakan dengan banyaknya KRL SF10 dan SF12. Sehingga mulai 1 April 2017, penumpang Bogor pun disiksa dengan banyaknya KRL SF8. Pada saat itu, jalur Bogor dilayani 13 KRL SF12, hanya 7 KRL SF10, dan 21 KRL SF8.

Gelombang protes penumpang pun sontak menyeruak. KCJ akhirnya memutar otak dan membuat empat rangkaian KRL SF10 serta dua rangkaian KRL SF12 baru pada tahun yang sama, sambil menunggu kedatangan enam rangkaian KRL SF10 dari Jepang. Sayangnya, meskipun total penambahan rangkaian KRL adalah 10 KRL SF10 dan 2 KRL SF12, namun pengurangan perjalanan KRL SF8 di jalur Bogor pada saat itu hanyalah sebanyak 6 loop yang diganti dengan KRL SF10. Sehingga susunan peredaran formasi KRL sempat menjadi 13 KRL SF12, 13 KRL SF10, dan 15 KRL SF8.

Pada masa pemberlakuan GAPEKA 2017 ini juga pemotongan formasi rangkaian SF10 dan SF12 menjadi SF8 semakin gencar. Pemotongan formasi sebenarnya sudah dilakukan sejak 2014, namun pada masa itu pemotongan formasi rangkaian tidak segencar mulai tahun 2017. Satu rangkaian KRL SF10 atau SF12 dapat berjalan selama 1-2 bulan dengan formasi SF8 sebelum kembali ke formasi aslinya.

Pemotongan formasi ini utamanya dilakukan karena roda KRL yang tipis sehingga harus diganti. Namun dengan jumlah rangkaian yang selalu kurang tanpa surplus, hal ini dilakukan. Sayangnya, pengusahaan untuk membuat jumlah rangkaian menjadi surplus terkesan tiada sama sekali.

2018-2019: #KamiSayangSF8 semakin terasa, seolah tidak dapat melepas bayang masa lalu

Di tahun 2018, jumlah KRL SF10 memang ditambah lagi sebanyak dua rangkaian KRL. Sayangnya, KCJ yang telah berganti nama menjadi KCI malah semakin sayang KRL SF8. Pemotongan formasi KRL kian gencar. Dan berbeda dengan tahun sebelumnya, di tahun 2018 bahkan satu rangkaian KRL SF10 atau SF12 yang dipotong menjadi SF8 bisa berjalan sampai 6 bulan bahkan setahun sebelum kembali ke formasi aslinya!

Bahkan kedatangan KRL SF8 di tahun 2018 yang digadang-gadang menjadi KRL SF12 pada saat itu justru malah dioperasikan dengan formasi aslinya. Sehingga semangat melayani lebih baik itu telah anjlok keluar dari jalurnya, dan tidak dievakuasi sama sekali.

Di tahun 2019, jumlah KRL SF12 sampai April 2019 memang ditambah lagi sebanyak dua rangkaian KRL. Namun lagi-lagi tidak ada perubahan berarti. Tidak ada pengurangan perjalanan KRL SF8 yang digantikan KRL SF10 maupun KRL SF12. KCI malah justru mengurangi peredaran beberapa rangkaian KRL SF10 dan KRL SF12, digantikan dengan KRL SF8.

Ini jelas satu hal yang tidak dapat dimengerti. Ke mana semangat melayani lebih baik yang ada pada tahun 2014-2017 tersebut? Kenapa kemudian semua jadi lebih buruk? Kenapa rangkaian KRL alih-alih makin panjang malah makin pendek? Kenapa pemotongan formasi rangkaian KRL tidak kunjung diselesaikan, potongan rangkaian KRL hanya diparkir di dipo atau balai yasa tanpa dilakukan penggantian roda sama sekali?

Memang pada akhirnya mulai pertengahan 2019 pembuatan KRL SF12 digencarkan. Pemotongan formasi rangkaian KRL pun satu persatu mulai diselesaikan. Namun, hal tersebut masih tidak diimbangi dengan pengurangan jumlah perjalanan KRL SF8. Rangkaian panjang memang bertambah, namun jumlah perjalanannya tidak bertambah.

Selain itu, prioritas dalam menyelesaikan pemotongan formasi juga tidak jelas. Rangkaian yang terakhir dipotong formasinya, justru yang paling pertama kembali normal. Yang dikerjakan pun hanya seri tertentu saja. Seri lainnya dibiarkan sampai tahunan berjalan dengan formasi potongan SF8.

Menjelang pemberlakuan GAPEKA 2019, peredaran KRL SF12 ditambah sedikit di semua lintas, yang berefek pada semakin berkurangnya peredaran KRL SF10. Sementara KRL SF8 tetap berjaya khususnya di lintas Bogor.

GAPEKA 2019: KRL SF8 malah kembali berjaya, #SemakinSayangSF8

Sejak pemberlakuan GAPEKA 2019, KRL SF8 justru malah kembali berjaya dan KRL SF10 yang justru terpinggirkan. Jumlahnya meskipun berkurang sedikit di jalur Bogor, tapi bertambah banyak di jalur Bekasi. Jumlah ini memang sudah direvisi sampai dengan hari ke-8 pemberlakuan GAPEKA 2019 hari ini. Sayangnya, revisi pada hari ke-8 GAPEKA 2019 malah membuat terdapat 21 KRL SF8 dari total 46 KRL lintas Bogor, dan 4 KRL SF8 dari total 15 KRL lintas Bekasi.

Di lintas Bekasi mungkin berkurang, tapi di lintas Bogor justru bertambah. Sebelumnya hanya diprogramkan ada 17 KRL SF8, kemudian ditambah jadi 19 KRL SF8, dan sekarang 21 KRL SF8. Sedangkan jumlah KRL SF10 dikurangi terus dari 11 KRL SF10 menjadi 8 KRL SF10. Yang benar saja yang mulia.

Sementara itu, usaha pengurangan jumlah KRL SF8 dengan menormalisasi rangkaian KRL SF10 atau SF12 yang dipotong menjadi SF8 juga seolah masih nihil. Potongan-potongan rangkaian yang dipotong tersebut masih saja teronggok di dipo maupun balai yasa tanpa kejelasan. Workshop di dipo maupun balai yasa hanya mengerjakan rangkaian KRL yang menjalani perawatan akhir, dan tidak mengerjakan penggantian roda KRL.

Padahal dengan waktu tunggu (headway) yang lebih busuk dari GAPEKA sebelumnya, KRL SF10 dan SF12 jelas lebih dibutuhkan. Terutama bagi jalur yang masih memiliki banyak KRL SF8, dan juga jalur yang sama sekali belum memiliki KRL SF12 (Halo, jalur Rangkas kapan punya SF12?).

Apakah generasi baby boomer di KCI masih terjebak nostalgia di mana hanya ada KRL SF8 sehingga alih-alih mengurangi malah justru melestarikan? Sampai kapan realisasi bertolak belakang dengan pernyataan di media di mana KCI ingin mengoperasikan lebih banyak KRL SF10 dan SF12 sambil mengurangi KRL SF8? Pengguna tidak memerlukan iming-iming buaian indah, pengguna hanya butuh aksi nyata. Aksi nyata mengurangi KRL SF8 dengan menambah jumlah perjalanan KRL SF10 dan KRL SF12. Seperti segera mengkonversi jalur Rangkas menjadi SF12 agar KRL SF10 dapat dialihkan ke jalur Bogor atau Bekasi, mempercepat normalisasi formasi, serta melakukan perubahan dukungan sarana pada loop yang masih menggunakan KRL SF8. (RED)

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: