Berita KAKereta Api

Pengamat Transportasi: Jalan Tol Sudah Cukup, Waktunya Genjot Kereta Api

KA Bangunkarta bersiap melewati percabangan Kertosono semasa proyek jalur ganda. Proyek pembangunan dan peningkatan jalur kereta api menjadi salah satu proyek yang dinilai strategis.

[25/12] – Selama empat tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau yang dikenal sebagai Jokowi, salah satu program yang menjadi fokus utama adalah pembangunan jalan tol. Melihat hal ini, salah satu Pengamat Transportasi yaitu Djoko Setijowarno mengingatkan bahwa pembangunan tol di Jawa sudah cukup.

Dilansir dari Detik Finance, Djoko mengingatkan untuk tidak usah membangun lagi jalan tol di Jawa. Ia mengatakan bahwa tol yang sekarang ada sudah cukup dan tidak perlu ditambah lagi. Ia menilai tol-tol yang akan ditambah seperti tol Jogja-Solo, Jogja-Semarang, dan Jogja-Cilacap akan mubazir.

Selain itu, proyek ini ia nilai akan menghabiskan lahan produktif dan menutup sumber mata air. Di kesempatan yang sama, ia juga berpendapat pemerintah seharusnya pemerintah mengaktifkan jaringan kereta api khususnya yang nonaktif ketimbang jalan tol karena mobilitas orang di Jawa yang banyak.

Hal ini juga senada dengan apa yang direncanakan di Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) 2030. Di dalam rencana ini, kebutuhan angkutan kereta api penumpang di Jawa-Bali diprediksi akan mencapai sekitar 858 juta orang. Untuk mendukung hal tersebut, kebutuhan panjang jalur kereta api adalah 6800 km, berbanding dengan panjang jalur kereta api di Jawa Oktober 2019 di mana panjang jalur kereta api aktif sepanjang 4131,7 km.

Pembangunan rel kereta api sesuai RIPNAS 2030 ini meliputi reaktivasi jalur mati, peningkatan kualitas jalur agar semuanya menggunakan rel R54 bantalan beton, dan pembangunan jalur baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Proyek pembangunan kereta api baru juga dapat memanfaatkan kerjasama pemerintah dengan swasta untuk mempercepat pembangunan. Hal ini sudah diterapkan di beberapa proyek seperti KA Kalimantan dan Sulawesi, serta KA Bandara Soetta.

Sementara itu, untuk memenuhi proyeksi kebutuhan penumpang tersebut, akan dibutuhkan 2585 lokomotif penumpang dan 25825 kereta penumpang pada tahun 2030. (RED/IHF)

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×