Terus Di-SF12-kan, Begini Susunan Terbaru KRL Seri 205 Jalur Musashino

musashino
KRL seri 205 rangkaian DP50+57, salah satu produk pertama rekomposisi formasi KRL seri 205 jalur Musashino

(16/12) – Sejak didatangkan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mulai tahun 2018, KRL seri 205 jalur Musashino telah menambah warna dan jumlah armada KRL Jabodetabek. KRL dengan formasi asli 8 kereta per rangkaian (SF8) ini pada awalnya dioperasikan dengan formasi aslinya hingga setahun lamanya.

Mulai pengapalan keempat yang tiba pada pertengahan 2019 lalu, KRL ini dioperasikan dengan formasi 12 kereta (SF12). Formasi SF12 ini hasil penyusunan ulang atau rekomposisi dari tiga rangkaian SF8 menjadi dua rangkaian SF12. Pengoperasian dengan formasi SF12 ini sesuai dengan rencana awal KCI.

Meski rekomposisi sempat vakum beberapa bulan, mendekati akhir 2019 rekomposisi KRL seri 205 jalur Musashino semakin gencar dilakukan. Hingga hari ini, terdapat 14 rangkaian KRL seri 205 jalur Musashino yang beroperasi dengan formasi SF12. Ke-14 rangkaian SF12 ini dibentuk dari 21 rangkaian SF8, di mana beberapa rangkaian yang dijadikan donor dianggap “hilang” secara administratif sekaligus secara bentuk karena “diserap” oleh rangkaian penerima. Ini dikarenakan kereta berkabin milik rangkaian donor tersebut dijadikan sebagai kabin tengah di rangkaian penerima.

Rekomposisi KRL seri 205 jalur Musashino juga berbeda dari rekomposisi KRL seri 205 jalur Saikyo-Yokohama-Nambu yang tidak menggunakan kaidah tertentu alias seolah-olah asal tempel. Susunan rangkaian KRL seri 205 jalur Musashino ini seperti memiliki seni tersendiri dibandingkan saudara-saudaranya yang sudah terlebih dahulu tiba di Indonesia.

Bagaimana susunan ke-14 rangkaian tersebut?

“Musashino Panjang Indah” (Muspandah) jilid 1, BUD43 dan DP50+57

KRL seri 205 rangkaian BUD43

Rangkaian BUD43 dan DP50+57 (eks BUD50+57) dibentuk dari rangkaian eks KeYo M10, M12, dan M16. Ketiga rangkaian ini merupakan rangkaian dengan perangkat kelistrikan sekunder campuran main generator (MG) dan static inverter (SIV). Dalam rekomposisi ini, KCI menerapkan kaidah unifikasi MG dan SIV serta pengurutan nomor kereta motor dari terkecil ke terbesar.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid pertama. BUD43 yang sempat diperpendek menjadi 10 kereta berganti formasi setelah kembali 12 kereta.

Dua kereta motor bernomor ganjil dan dua kereta pengikut dari eks KeYo M12 ditukar dengan dua kereta motor bernomor genap dan dua kereta pengikut dari eks KeYo M10. Dalam pertukaran ini, posisi masing-masing kereta pengikut juga diubah kedudukannya terhadap kereta motor, untuk memenuhi kaidah pengurutan nomor kereta motor. Kemudian dua kereta motor bernomor genap dan dua kereta trailer diberikan oleh eks KeYo M16 kepada eks KeYo M12 untuk melengkapi pembentukan rangkaian BUD43.

Sedangkan dua kereta berkabin dan dua kereta motor eks KeYo M16 digandeng pada gabungan rangkaian eks KeYo M10 dengan kereta tengah eks KeYo M12 untuk melengkapi pembentukan rangkaian BUD50+57, yang di kemudian hari menjadi DP50+57.

Pada rangkaian BUD43, perangkat kelistrikan sekunder seluruhnya menjadi SIV. Sedangkan pada DP50+57 seluruhnya menjadi MG. Unifikasi dilakukan untuk memudahkan perawatan rangkaian.

Jilid 2, BUD33 dan BUD44+48

KRL seri 205 rangkaian BUD33

Rekomposisi ini melibatkan dua rangkaian pengiriman pertama yang tiba di Jakarta pada 2018. Pada saat rekomposisi dilakukan, kedua rangkaian ini masih berada di bawah asuhan Dipo KRL Bogor dengan kode BOO33 dan BOO44. Segera setelah rekomposisi, rangkaian dimutasi mengikuti kedudukan BUD48 yang sedari awal sudah berada di bawah asuhan Dipo KRL Bukit Duri.

Dalam rekomposisi ini, BOO44 dijadikan rangkaian pendonor utama. Kaidah rekomposisi yang digunakan masih sama seperti BUD43 dan DP50+57. Bedanya, nomor kereta pengikut juga diurutkan dari terkecil hingga terbesar. Sehingga susunan rangkaian BUD33 menjadi sedikit ajaib dengan kereta-kereta asli rangkaian tersebut berada pada posisi kereta nomor 1, 4, 5, 10, 11, dan 12.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid kedua

Seperti halnya BUD43, BUD33 menjadi rangkaian dengan perangkat kelistrikan sekunder SIV. Sedangkan BUD44+48 menjadi rangkaian MG.

Jilid 3, BUD51 dan DP145 “Marchen Panjang Indah” (Marpandah)

KRL seri 205 rangkaian DP145

Berbeda dengan rekomposisi sebelumnya, tidak ada kaidah khusus yang digunakan pada rekomposisi ketiga. Ini dikarenakan ketiga rangkaian yang digunakan adalah rangkaian yang seluruhnya menggunakan MG sebagai komponen kelistrikan sekunder.

Rangkaian eks KeYo M14 menjadi pendonor pada rekomposisi ini. Empat kereta tengah diberikan pada eks KeYo M27 untuk membentuk rangkaian BUD51. Sisanya diberikan pada eks KeYo M35 untuk membentuk rangkaian DP145, yang kemudian menjadi KRL seri 205 pertama milik Dipo KRL Depok setelah 3 tahun sejak 2016 di mana saat itu semua rangkaian KRL seri 205 SF12 milik Depok dimutasi ke Bukit Duri.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid ketiga

Menurut informasi dari sumber internal, awalnya empat kereta sisa dari eks KeYo M14 akan digandengkan begitu saja dengan eks KeYo M35. Ini akan menyebabkan kereta 1 dan 12 memiliki wajah berbeda. Sebab, eks KeYo M14 merupakan KRL seri 205 biasa, sedangkan eks KeYo M35 merupakan rangkaian wajah cerita peri (Marchen). Namun kemudian rencana tersebut direvisi sehingga rangkaian eks KeYo M14 menjadi kabin tengah dengan memindahkan posisi salah satu kabin sebelum digandengkan.

Eks KeYo M14 kemudian “hilang” karena “diserap” oleh M35 untuk menjadi DP145. “Penyerapan” ini sama halnya seperti pada KRL seri 8000 rangkaian 8007F yang “diserap” KRL seri 8500 rangkaian 8604F, dan KRL seri 203 rangkaian eks MaTo 51 yang “diserap” oleh eks MaTo 69 menjadi BOO109.

Jilid 4, BUD13+16 dan BUD103

KRL seri 205 rangkaian BUD13+16

Seperti halnya BUD51 dan DP145, rangkaian-rangkaian ini juga merupakan rangkaian MG. Dalam rekomposisi kali ini, kaidah terkecil-terbesar kembali digunakan. Selain itu, diperkenalkan pula kaidah penyusunan baru yaitu ganjil-genap-ganjil dan genap-ganjil-genap.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid keempat

Karena kaidah baru tersebut, kedudukan kereta pengikut terhadap kereta motor dari BUD16 sebagai pendonor yang kemudian akan digandengkan pada BUD103 diubah terlebih dahulu. Sayangnya, salah satu kabin BUD13 yang merupakan rangkaian Musashino pertama dengan penampil tujuan LED aktif justru menjadi kabin tengah dikarenakan rangkaian BUD16 tidak dijadikan “serapan” seperti M14. Sehingga sisi kereta 1 memiliki penampil tujuan aktif, sedangkan sisi kereta 12 memiliki penampil tujuan non aktif.

Jilid 5, DP52 dan DP58

KRL seri 205 rangkaian DP52 sewaktu diujicoba dengan formasi asli

Dua rangkaian ini dibentuk dari eks KeYo M28 dan M30 yang merupakan rangkaian MG-SIV, dan M18 yang merupakan rangkaian MG. M30 yang menjadi donor memberikan kereta motor dengan MG dan kereta pengikut pada M18, kemudian urutan kereta disortir dengan kaidah terkecil-terbesar untuk membentuk DP58. Sedangkan kereta motor dengan SIV dan kereta berkabin digandengkan pada M28 untuk membentuk DP52 dengan memisahkan sisi 4 kereta menggunakan MG, sementara sisi 8 kereta menggunakan SIV.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid kelima

Dengan rekomposisi ini, DP52 merupakan rangkaian KRL seri 205 jalur Musashino SF12 pertama dengan perangkat kelistrikan sekunder campuran. Sebenarnya, tiada masalah dengan campuran antara MG dan SIV dalam satu rangkaian.

Selain itu, M30 juga “hilang” karena “diserap” oleh M28 saat membentuk DP52.

Jilid 6, BUD146 dan BUD148

KRL seri 205 rangkaian BUD146 sewaktu beroperasi dengan formasi asli

Kedua rangkaian ini merupakan dua rangkaian kontrol resistor jalur Musashino pertama yang menjadi rangkaian SF12. Rangkaian eks KeYo M63 dijadikan donor dalam rekomposisi ini.

Eks KeYo M62 menjadi BUD146 dengan komposisi 10 motor dan 2 pengikut (10M2T) alami tanpa pemotongan traksi dengan empat kereta motor dari eks KeYo M63. Komposisi 10M2T sebelumnya sudah hadir lewat KRL seri 8000 rangkaian 8003F, meskipun akhirnya dua traksi dipotong menjadi 8M4T. Di lain pihak, BUD148 menjadi rangkaian 8+4 dengan kereta berkabin dari eks KeYo M63 menjadi kabin tengah. Ini tentu disayangkan karena KRL seri 205 wajah cerita peri selalu menjadi buruan pecinta kereta listrik sejak kedatangannya September 2019 lalu.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid keenam

Sebelumnya, rangkaian eks KeYo M62 dan M63 direncanakan menjadi rangkaian SF12 dengan BUD101 sebagai donor. Nantinya, BUD101 akan dijadikan kabin tengah pada salah satu rangkaian. Sementara itu, BUD148 yang sudah tiba terlebih dahulu akan menunggu eks KeYo M52 dan M65 yang sedang dalam perjalanan menuju Jakarta sebelum dijadikan SF12. Seperti halnya BUD101, M52 akan dijadikan kabin tengah pada salah satu dari BUD148 dan M65.

Rencana ini pernah diutarakan kepada RED oleh salah satu sumber internal. Namun karena alasan yang tidak kami ketahui, rencana tersebut berubah.

Jilid 7, BUD8 dan BUD12

KRL seri 205 rangkaian BUD29, sebelum “hilang” karena “diserap” oleh BUD12

Kedua rangkaian ini merupakan produk rekomposisi terbaru yang dibentuk pada Sabtu (14/12) lalu. Rangkaian BUD29 dijadikan donor dalam rekomposisi ini. Namun, hasil akhir dari rekomposisi ini cukup mengejutkan.

Untuk alasan yang tidak diketahui, BUD8 dan BUD12 bertukar seluruh kereta tengah, atau dalam kata lain bertukar “badan” sebelum digabungkan dengan BUD29. Kemudian, satu kereta pengikut dari BUD8 yang telah tergandengkan dengan BUD12 ditukar dengan satu kereta pengikut dari BUD29, lagi-lagi untuk alasan yang tidak diketahui.

Susunan rangkaian rekomposisi Musashino jilid ketujuh

Rangkaian BUD29 kemudian dipecah, di mana empat kereta tengah diberikan pada BUD8 sedangkan sisanya menjadi kabin tengah pada BUD12 sehingga BUD29 juga “hilang” seperti M14 dan M30. Tidak ada kaidah khusus pada rangkaian-rangkaian yang keseluruhannya menggunakan MG ini.

Jilid berikutnya?

Setelah tujuh kali rekomposisi, masih terdapat tiga rangkaian KRL seri 205 Musashino yang belum dapat direkomposisi. Ketiga rangkaian tersebut adalah dua rangkaian VVVF BUD14 dan BUD49 di mana keduanya menggunakan MG, serta satu rangkaian kontrol resistor BUD101. Ketiga rangkaian ini masih harus beroperasi dengan formasi aslinya sampai pengapalan berikutnya tiba di Jakarta.

Seolah sudah atur strategi sebelumnya, pengapalan berikutnya terdiri dari satu rangkaian VVVF eks KeYo M19 campuran MG-SIV, dan dua rangkaian kontrol resistor eks KeYo M52 dan M65. Kedatangan ketiga rangkaian ini dapat langsung memicu rekomposisi Musashino jilid kedelapan dan kesembilan.

Sementara itu, masih terdapat sisa 15 rangkaian lagi di Jepang. Tentunya rekomposisi menjadi SF12 akan terus dilakukan demi “membunuh” KRL SF8 dari jalur utama, di mana KRL SF8 dianggap sudah tidak layak dengan kondisi kepadatan penumpang seperti hari ini di jalur utama Jabodetabek.

Sisa rangkaian yang masih berada di Jepang ini nantinya akan membuat 10 rangkaian SF12 baru dalam lima kali rekomposisi. Sehingga nantinya akan ada 14 jilid rekomposisi KRL seri 205 jalur Musashino.

Kita masih akan melihat kedatangan dan rekomposisi KRL seri 205 jalur Musashino sampai pertengahan 2020. Setelah itu, selesai sudah tugas KCI untuk mengurangi KRL SF8, dan KRL SF8 akan berkurang bahkan mungkin menghilang dari jalur utama. (RED/SHF)

Saddam Hasan Fauzan

Just a person who love to take some photo of train & models also Cinematic Train content

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: