Mengenal Kereta Rel Listrik JR East Seri E217

e217
Pesona liukan KRL seri E217 rangkaian KuRa Y-36 | foto: 戸塚駅の人 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Jalur Yokosuka adalah salah satu jalur utama yang dimiliki dan dioperasikan oleh East Japan Railway Company (JR East). Jalur ini sebenarnya hanya memiliki panjang 23,9 kilometer dan menghubungkan Stasiun Ofuna di Kamakura dan Stasiun Kurihama di Yokosuka, keduanya di Prefektur Kanagawa. Namun, nama ini kemudian dipakai juga secara umum untuk layanan yang menghubungkan Stasiun Tokyo dengan Stasiun Kurihama lewat jalur utama Tokaido (Tokaido Main Line) dengan jarak tempuh layanan 73.3 kilometer. Jalur Yokosuka dibuka pada 16 Juni 1889 silam. Saat ini, layanan di jalur Yokosuka-Sobu Rapid menggunakan KRL komuter tipe suburban seri E217.

Jalur Yokosuka memiliki through service ke jalur Sobu Rapid. Layanan Yokosuka-Sobu Rapid dibuka mulai 15 Juli 1972, menghasilkan total panjang layanan sejauh 112,5 kilometer dari Kurihama hingga Chiba. Layanan ini sedari awal dioperasikan dengan menggunakan KRL berspesifikasi suburban yang berbeda dengan KRL perkotaan urban biasa.

Pada tahun 2016, JR East memperkenalkan sistem penomoran stasiun di lintas wilayah Tokyo. Jalur Yokosuka menjadi salah satu jalur yang mendapatkan sistem baru ini. Pada sistem penomoran ini, jalur ini diberi kode JO di aplikasi dan signage. Penomoran JO ini digunakan pada seluruh layanan Yokosuka-Sobu Rapid dari Kurihama hingga Chiba.

KRL seri E217 ini belakangan sangat ramai dibahas di lini masa pecinta kereta api di Jepang maupun Indonesia. Mari kita berkenalan dahulu dengan KRL yang satu ini.

Sejarah KRL seri E217

KRL seri E217 rangkaian KuRa Y-4 sebelum dilakukan peremajaan | foto: Niyute – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

KRL seri E217 termasuk ke dalam keluarga “New Series Train” yang diperkenalkan oleh JR East. Keluarga “New Series Train” ini memiliki filosofi “half the life, half the weight, half the cost” yang dimaksudkan untuk efisiensi biaya produksi. Dibanding dengan sarana produksi era Japan National Railways (JNR), keluarga “New Series Train” sejatinya memiliki bobot yang lebih ringan, biaya produksi yang lebih murah, namun juga tidak dapat dioperasikan lebih lama dibandingkan dengan sarana era JNR yang dapat beroperasi hingga 50 tahun.

KRL seri E217 diproduksi untuk menggantikan KRL seri 113 yang telah beroperasi sejak awal pembukaan layanan jalur Yokosuka-Sobu Rapid di era JNR. Pada Agustus 1994, dua rangkaian pertama KRL seri E217 yang terdiri dari satu rangkaian utama formasi 11 kereta dan satu rangkaian pengikut formasi 4 kereta selesai diproduksi. Kedua rangkaian ini kemudian mulai beroperasi pada 3 Desember 1994.

Produksi masal KRL seri E217 dimulai pada November 1995 dan berakhir pada November 1999. Sebanyak 745 unit kereta yang dibagi dalam 51 rangkaian utama formasi 11 kereta dan 46 rangkaian pengikut formasi 4 kereta berhasil diproduksi. KRL seri E217 kemudian menjadi pionir KRL suburban dengan jumlah 4 pasang pintu penumpang per sisi kereta sejak swastanisasi JNR menjadi JR. Hingga pada saat tersebut, KRL suburban masih memiliki spesifikasi jumlah 3 pasang pintu penumpang per sisi kereta. KRL suburban dengan jumlah 4 pasang pintu sebenarnya sudah dipertimbangkan untuk diperkenalkan pada era JNR. Namun hal tersebut tidak pernah terealisasi.

KRL ini memiliki susunan tempat duduk yang memberikan prioritas untuk memudahkan pergerakan penumpang di dalam kereta, namun tetap mempertimbangkan penumpang jarak jauh dan wisatawan. Sehingga kemudian dipilihlah susunan semi-cross seat di mana beberapa kereta memiliki beberapa kursi yang berhadap-hadapan.

Berbasis KRL seri 209

Bogi DT61B pada KRL seri E217, sama dengan bogi kereta motor KRL seri 209 | Foto: Tennen-Gas – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)
Bogi tipe TR246C pada KRL seri E217, juga sama dengan bogi kereta trailer KRL seri 209 | Foto: Tennen-Gas – WIkimedia Commons (CC-BY-SA)

KRL ini dikembangkan dari KRL seri 209 yang merupakan KRL komuter untuk wilayah perkotaan. KRL ini juga menjadi keluarga “New Series Train” pertama yang menggunakan lebar kereta 2950 milimeter, yang kemudian diaplikasikan pada KRL “New Series Train” produksi setelahnya. KRL seri E217 juga merupakan KRL “New Series Train” pertama yang memiliki kereta double-decker yang menjadi basis dari produksi kereta double-decker untuk seri-seri setelahnya.

KRL seri E217 diproduksi di beberapa pabrikan. Pabrikan tersebut yaitu Kawasaki Heavy Industries, Tokyu Car Corporation (kini J-TREC Yokohama). JR East Niitsu Vehicle Manufacturing (kini J-TREC Niitsu), dan JR East Ofuna Plant. Kereta double-decker hanya diproduksi oleh Kawasaki dan Tokyu. Sedangkan pabrik Ofuna sebenarnya hanya merakit struktur kereta produksi Tokyu dan melakukan finishing, atau dalam kata lain mengerjakan produksi knocked-down.

Spesifikasi KRL seri E217

KRL seri E217 dalam formasi 11+4 | Foto: 2427junction

KRL seri E217 menggunakan struktur baja tahan karat yang ringan untuk badan kereta. Struktur ini sama seperti KRL seri 209. Dengan lebar 2950 mm (KRL seri 209 memiliki lebar 2800 mm), KRL ini memiliki bentuk di mana lantai kereta lebih sempit namun kemudian dinding kereta melebar lalu tegak lurus hingga atap kereta. Karena memiliki badan kereta yang melebar, jarak antara kedua bogi diubah menjadi 13800 mm, lebih panjang 500 mm dari KRL seri 209. Hal ini untuk mencegah kereta melebihi ruang bebas pada saat berbelok.

KRL seri E217 memiliki panjang kereta 20000 mm yang dihitung dari pangkal alat perangkai. Namun untuk kereta double-decker memiliki panjang 20500 mm dengan jarak antar bogi 14150 mm untuk mengamankan kapasitas angkut.

Struktur badan kereta berbeda sedikit tergantung dari metode produksi yang dilakukan oleh pabrikan. Tokyu, Niitsu, dan Ofuna menggunakan rangka konvensional dan pelat luar. Sedangkan Kawasaki menggunakan metode “two seat” untuk mengamankan kekuatan struktur kereta.

Karena KRL ini beroperasi pada kecepatan yang cukup tinggi dan melewati banyak perlintasan sebidang, kabin masinis didesain memiliki crumple zone dengan posisi kursi masinis setinggi 500 mm dari lantai kereta. Kaca dan meja kabin pun diposisikan lebih tinggi untuk mengakomodasi posisi kursi kabin masinis. Seperti KRL seri 209, KRL seri E217 menggunakan single handle untuk kontrol akselerasi dan deselerasi kereta.

Bagian kabin masinis menggunakan bahan fiber-reinforced polymer (FRP) seperti halnya KRL seri 209, namun memiliki struktur penguat berbentuk sarang lebah berbahan alumunium di bawah kaca depan. Karena hal tersebut, ukuran kabin menjadi 2120 mm dibanding dengan kabin KRL seri 209 atau KRL-KRL sebelumnya yang hanya 1860 mm. Struktur kabin masinis seperti ini kemudian lagi-lagi menjadi basis dari produksi KRL seri-seri setelahnya.

KRL seri E217 juga memiliki pintu darurat di kabin masinis karena melewati jalur bawah tanah antara Shinagawa dan Kinsicho. Pintu darurat ini juga dapat digunakan untuk berpindah antar rangkaian KRL. Namun karena ada perubahan regulasi di mana pemasangan pintu darurat tidak lagi diperlukan, pintu darurat ini kemudian dihilangkan mulai batch produksi ketujuh tanpa mengubah desain maskara kereta.

Sementara itu indikator tujuan kereta pada awalnya menggunakan sistem roller blind, namun mulai batch produksi ketujuh indikator tujuan kereta diubah menggunakan LED. Setelahnya, seluruh rangkaian secara satu per satu diubah indikator tujuannya menjadi LED.

Komposisi rangkaian dan sistem penggerak

KRL seri E217 memiliki komposisi 4 kereta motor dan 7 kereta pengikut untuk rangkaian utama formasi 11 kereta. Sedangkan pada rangkaian pengikut formasi 4 kereta memiliki komposisi 2 kereta motor dan 2 kereta pengikut. Sistem traksi dan bogi pada dasarnya sama seperti KRL seri 209.

Sistem penomoran KRL seri E217 bisa dibilang tidak umum. Rangkaian utama memiliki nomor 1-11 di Yokosuka dan 1-10 di Tokaido. Sedang rangkaian pengikut memiliki nomor +1 hingga +4 (増1 hingga 増4) di Yokosuka, dan 11-15 di Tokaido.

Di Yokosuka, kereta nomor 1 pada rangkaian utama berada pada sisi Kurihama, sedang kereta 11 berada pada sisi Narita/Chiba. Begitu pula dengan rangkaian pengikut di mana kereta +1 berada pada sisi Kurihama dan kereta +4 berada pada sisi Narita/Chiba.

Penomoran kereta seperti ini dilakukan karena di Stasiun Zushi rangkaian dipisah menjadi dua bagian, dengan rangkaian utama berlanjut ke Kurihama. Hal ini disebabkan peron di stasiun antara Zushi hingga Kurihama hanya dapat menampung paling banyak 11 kereta.

Sementara di Tokaido, kereta nomor 1 berada pada sisi Atami. Sedang kereta 15 berada pada sisi Tokyo.Penomoran pada rangkaian formasi 15 kereta di dinasan ini tidak mengenal sistem + karena umumnya KRL seri ini berdinas dengan formasi utuh.

Komposisi rangkaian ini kemudian menjadi 4 kereta motor dan 6 kereta pengikut untuk rangkaian utama formasi 10 kereta. Sedang pada rangkaian pengikut formasi 5 kereta, komposisi rangkaian ini menjadi 2 kereta motor dan 3 kereta pengikut.

Unit penggerak dan motor utama pada awalnya merupakan VVVF-GTO tipe SC41B buatan Mitsubishi dengan sistem 1C4M2 dan motor induksi 3 fasa tipe MT68 dan MT73 dengan output 95 kilowatt dan rasio gir 97:16. KRL seri E217 memiliki akselerasi awal 2,0 km/jam/detik. Unit penyimpanan daya menggunakan inverter statis tipe SC37A yang memiliki kapasitas 210 kilovolt ampere.

Inverter statis tipe SC37A | Foto: 投稿者本人製作 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)
VVVF-GTO SC41B | Foto: 投稿者本人撮影 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

KRL seri E217 memiliki rasio beban motor yang berbeda antara rangkaian utama dan rangkaian pengikut, sehingga terdapat penyesuaian secara otomatis yang dikendalikan oleh komputer pada saat rangkaian digandengkan menjadi formasi 15 kereta (11+4 kereta). Sistem terkomputerisasi ini mengendalikan kereta lewat train control and management system (TCMS) dengan perangkat lunak yang diberi nama MON8.

KRL seri E217 menggunakan bogi DT61 untuk kereta motor dan TR246 untuk kereta pengikut. Sistem pengereman menggunakan rem udara tekan kendali elektrik dengan rem regeneratif dan rem salju. Kompresor yang mensuplai angin untuk KRL merupakan buatan Knorr-Bremse.

Pantograf yang digunakan adalah pantograf tipe diamond PS28A. Pantograf ini berada pada kereta nomor 3 dan 9 pada rangkaian utama dan nomor +3 pada rangkaian pengikut. Sedangkan sistem pengamanan kereta menggunakan ATS-P dan ATS-SN. Sistem ATC-5 juga sempat digunakan untuk bagian terowongan Tokyo. Namun pada 2004 segmen ini diubah ke ATS-P dan penggunaan ATC pada E217 dihentikan.

Pendingin udara

KRL seri E217 rangkaian KuRa Y-46 dari sudut tinggi. Tampak pendingin udara tipe AU720A. | Foto: えぬはち – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Pendingin udara KRL seri E217 terdiri dari dua tipe. Pada kereta biasa menggunakan pendingin udara tipe AU720A dengan kapasitas 42000 kilo kalori per jam. Sedangkan pada kereta double-decker menggunakan dua unit pendingin udara tipe AU721 dengan kapasitas 20000 kilo kalori per jam masing-masing unitnya. Sistem pendingin udara pada kereta double-decker didesain untuk dapat mengontrol ruangan lantai pertama, kedua, dan mezzanine secara masing-masing dalam kondisi pemakaian yang berbeda.

Toilet

Video toilet KRL seri E217

Layaknya KRL suburban pada umumnya, KRL seri E217 memiliki toilet. Pada rangkaian formasi 11 kereta, toilet berada di kereta 1, 5 (kelas hijau/green car/double-decker), dan 11. Sedangkan pada rangkaian formasi 4 kereta, toilet berada di kereta nomor +1.

Pada awalnya, toilet di KRL ini menggunakan kloset model Jepang. Namun kemudian kloset pada kereta 1 diganti menjadi kloset model barat untuk kemudahan serta memberikan aksesibilitas untuk pengguna kursi roda.

Alat perangkai

Rangkaian KuRa Y-15 berjalan sebagai formasi 11 kereta. Tampak tonjolan alat perangkai elektrik di bagian bawah alat perangkai | Foto: 2427junction

Setiap rangkaian KRL seri E217 umumnya dilengkapi dengan alat perangkai elektrik pada salah satu sisi kabinnya. Kabin KuHa E217-0 dan KuHa E216-1000 tidak dilengkapi alat perangkai elektrik.

Sedangkan kabin yang dilengkapi oleh perangkai elektrik adalah kabin KuHa E216-2000 di rangkaian utama dan KuHa E217-2000 di rangkaian pengikut. Keberadaan alat perangkai elektrik dapat dilihat dengan adanya tonjolan di bawah alat perangkai.

Akan tetapi, beberapa kereta KuHa E216 pada rangkaian pengikut juga dilengkapi alat perangkai elektrik. Kereta ini diberi penomoran KuHa E216-2000 juga. Rangkaian pengikut yang memiliki kereta KuHa E216-2000 adalah KuRa Y-122 hingga Y-142.

Sementara itu, pada rangkaian KRL seri E217 yang pernah berdinas di Tokaido semua kabinnya dilengkapi alat perangkai elektrik. Hal ini dilakukan karena rangkaian utama dan pengikut dirangkai pada posisi kereta 11 dan bukan kereta 1. Alat perangkat elektrik ini tidak dilepas ketika rangkaian ini kembali ke jalur Yokosuka.

Pada rangkaian KuRa Y-02, kereta KuHa E216-2002 dilengkapi alat perangkai yang bisa digunakan untuk dipasang dengan KRL seri 113. Alat perangkai ini dapat menjembatani kontrol VVVF dan resistor, kontrol pengereman, dan kontrol pelayanan seperti pintu, AC, dan lampu.

Performansi rangkaian seri E217 yang digabung seperti ini dapat diatur agar menyesuaikan dengan rangkaian seri 113. Meskipun sempat dilakukan ujicoba operasi seperti ini, namun tidak pernah dilakukan dinasan seperti ini secara reguler.

Jenis kereta

Kereta biasa

Kereta MoHa E216-2064 dalam kondisi “door cut” | Foto: E217 – Wikimedia Commons (CC-PD)

Kereta biasa pada E217 memiliki beberapa subseri dengan beberapa perbedaan. Kereta MoHa E217-0 memiliki konfigurasi kursi semi berhadapan dan berada pada kereta 9. Sedang kereta MoHa E217-2000 memiliki konfigurasi kursi memanjang dan berada pada kereta 3 dan +3 di Yokosuka. Sedang di Tokaido kereta ini berada di kereta 13. Semua kereta MoHa E217 memiliki pantograf dan komponen traksi VVVF.

Kereta MoHa E216 baik E216-1000 dan E216-2000 memiliki kursi memanjang. Kereta MoHa E216-1000 berada pada kereta 8, sedang kereta MoHa E216-2000 berada pada kereta 2 dan +2 di Yokosuka. Di Tokaido kereta ini berada di kereta 12. Kereta MoHa E216 mempunyai komponen kolong SIV dan kompresor.

Dalam pengoperasiannya, kereta MoHa E216-1000 berpasangan dengan kereta MoHa E217-0. Sedang kereta MoHa E216-2000 berpasangan dengan MoHa E217-2000.

Interior kereta biasa KRL seri E217 | Foto: Othree – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)
LED informasi di atas pintu KRL seri E217 | Foto: Othree – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Kereta KuHa E217-0 memiliki konfigurasi kursi semi berhadapan dan berada pada kereta 11 di Yokosuka dan kereta 10 di Tokaido. Kereta KuHa E217-0 memiliki toilet dengan model Jepang (washiki banjou). Kereta KuHa E217-2000 memiliki konfigurasi kursi memanjang dan alat perangkai elektrik, berada pada kereta +4 di Yokosuka dan 15 di Tokaido.

Kereta KuHa E216-1000 memiliki kursi memanjang dan berada di kereta 11 dan +1 di Yokosuka. Kereta ini memiliki toilet dengan model Jepang. Kereta KuHa E216-2000 juga memiliki kursi memanjang dan alat perangkai elektrik, berada di kereta 1 di seluruh rangkaian, dan +1 pada beberapa rangkaian di Yokosuka. Sedangkan kereta KuHa E216-2000 mempunyai toilet dengan model aksesibel.

Konfigurasi kursi semi berhadapan (gabungan antara kursi memanjang dan berhadapan) pada kereta biasa KRL seri E217 | Foto: Wikimizuki – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Kereta SaHa E217-0 memiliki konfigurasi kursi semi berhadapan, sedangkan kereta SaHa E217-1000 memiliki konfigurasi kursi memanjang. Kereta SaHa E217-0 berada di kereta 10 di Yokosuka dan kereta 14 di Tokaido. Sementara itu, kereta SaHa E217-1000 berada di kereta 6 dan 7.

Kereta SaRo E216-0 dan SaRo E217-0 adalah kereta double-decker yang akan dijelaskan lebih detail di bawah ini.

Kereta double-decker

Kereta SaRo E217-34 pada rangkaian KuRa Y-34 | foto: Toshinori Baba – Wikimedia Commons (CC-PD)
Kereta SaRo E216-34 pada rangkaian KuRa Y-34 | Foto: Toshinori Baba – Wikimedia Commons (CC-PD)

Kereta double-decker digandengkan pada rangkaian utama di posisi kereta 4-5 untuk mengantisipasi penambahan jumlah penumpang baik pada jalur Yokosuka-Sobu Rapid maupun pada akses menuju bandara Narita. Kereta double-decker ini berbasis pada kereta double-decker seri 211, namun boginya menggunakan bogi TR246 seperti pada kereta biasa KRL seri E217. Kereta double-decker ini kemudian menjadi basis dari kereta double-decker pada seri-seri setelahnya, yaitu E231, E233, dan E235.

Kursi pada kereta double-decker telah diganti menggunakan kursi yang sejenis dengan kursi pada KRL seri E231 untuk lebih mengedepankan kenyamanan pengguna. Toilet kereta tidak dapat dimasuki kursi roda seperti halnya pada kereta biasa, dengan pintu manual dan menggunakan sistem kipas ventilasi. Selain itu terdapat juga ruang kru dan ruang komersial. Di ruang komersial, terdapat kulkas di dalamnya untuk mengakomodasi penjualan makanan dan minuman di atas kereta. Selain itu terdapat juga kamera pengawas keamanan.

Interior lantai bawah kereta double-decker KRL seri E217 | Foto: Toshinori Baba – Wikimedia Commons (CC-PD)
Interior lantai atas kereta double-decker KRL seri E217 | Foto: JNR 201 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Terdapat pula alat pembaca untuk reservasi tempat duduk pada kereta double-decker. Ini dikarenakan sistem tiket yang digunakan pada kereta double-decker berbeda dengan kereta biasa. Di kereta double-decker, jumlah penumpang yang diizinkan hanya 100% sesuai jumlah kursi (90 penumpang) tanpa adanya penumpang berdiri.

Karir KRL seri E217

Karir di Yokosuka

KRL seri E217 rangkaian KuRa Y-43 | Foto: Keihin Kawasaki – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

KRL seri E217 mengawali karir di Yokosuka pada tahun 1994. Rangkaian ini berdinas dengan formasi 15 kereta dengan rangkaian utama di sisi Tokyo dan rangkaian pengikut di sisi Kurihama. Terdapat total 97 rangkaian dengan 51 rangkaian utama 11 kereta dan 56 rangkaian pengikut 4 kereta.

KRL seri E217 di jalur ini pada awalnya dialokasikan di dipo Kamakura di Kanagawa dan Makuhari di Chiba. Rangkaian buatan tahun 1994 hingga 1996 dialokasikan di dipo Kamakura, sedang mulai rangkaian buatan 1997 hingga 1999 dialokasikan di dipo Makuhari.

Saat masih beralokasikan di dua dipo, KRL seri E217 memiliki kode rangkaian yang berbeda. KRL alokasi dipo Kamakura memiliki kode FuNa F-xx, sedang KRL alokasi dipo Makuhari memiliki kode MaRi R-xx.

Namun pada revisi jadwal 18 Maret 2006, semua rangkaian dimutasi ke Dipo Kamakura di Yokohama. Setelah mutasi, dipo Makuhari hanya menjadi tempat stabling rangkaian KRL seri E217. Di dipo Kamakura, KRL seri E217 diberi kode KuRa Y-1 hingga Y-51 untuk rangkaian utama dan KuRa Y-101 hingga Y-146 untuk rangkaian pengikut.

Pemindahan alokasi ini mengundang kritik dari serikat pekerja JR East, Doro Chiba. Mereka menganggap pemindahan ini membuat kesulitan karena dianggap akan mengurangi perawatan yang dapat dilakukan terhadap armada KRL seri E217.

Di Yokosuka, KRL ini berdinas di Jalur Yokoduka, Sobu Line Rapid, Sobu Line Chiba-Naruto, Narita Sakura-Bandara Narita dan Katori, Katori-Kashima, Soga-Kimitsu, dan Chiba-Kazusa Ichinomiya. Di beberapa lintas, KRL ini beroperasi dengan hanya rangkaian utama atau rangkaian pengikutnya saja.

e217
Formasi KRL seri E217 di jalur Yokosuka

Karir di Tokaido

KRL seri E217 rangkaian KoTsu F-03 (kini KuRa Y-3) di Stasiun Shin-Koyasu di jalur Keihin-Tohoku | Foto: T. Hanami – Wikimedia Commons (CC-PD)

Selain di Yokosuka, beberapa rangkaian KRL seri E217 juga sempat dimutasi ke dipo Kozu di Yokohama untuk dioperasikan di jalur utama Tokaido.

Terdapat tiga rangkaian yang sempat mengalami mutasi, yaitu rangkaian utama KuRa Y-1 hingga Y-3 dan rangkaian pengikut KuRa Y-101 hingga Y-103. Di jalur Tokaido, rangkaian diasuh oleh Dipo Kozu dengan kode KoTsu F-01 hingga F-03, serta KoTsu F-51 hingga F-53.

Meskipun panjang rangkaian keseluruhan tetap 15 kereta, susunan rangkaiannya mengalami perubahan. Kereta SaHa E217 yang aslinya kereta 10, dipindah ke rangkaian pengikut sebagai kereta 14. Sebelumnya direncanakan kereta SaHa E217-2000 dengan kursi memanjang yang akan dipindah, namun rencana ini diurungkan demi pemerataan kepadatan.

Susunan rangkaian pun berubah menjadi 10+5, dengan rangkaian utama pada sisi Atami dan rangkaian pengikut pada sisi Tokyo. Rangkaian KRL ini juga diberi livery shonan seperti pada E231.

Selain itu, rangkaian KRL ini digandeng pada sisi KuHa E217-0 bertemu dengan KuHa E216-1000. KuHa E217-0 menjadi kereta 10, sedang KuHa E216-1000 menjadi kereta 11. Hal ini membuat kedua kereta yang aslinya tidak mempunyai perangkai elektrik ini dipasang perangkai elektrik.

e217
Formasi KRL seri E217 di jalur Tokaido

Semasa berdinas di jalur Tokaido, rangkaian ini berdinas di antara Tokyo-Atami. KRL seri ini tidak berdinas di jalur Shonan-Shinjuku karena tidak mempunyai perangkat untuk operasi di iklim dingin.

Dinasan rangkaian ini bertahan dari tahun 2006 hingga tahun 2015. Rangkaian KoTsu F-01 berdinas dari tahun 2006 hingga 2010. Sedang rangkaian KoTsu F-02 dan F-03 berdinas dari tahun 2006 hingga 2015.

Ketiga rangkaian ini telah dikembalikan ke jalur Yokosuka dengan susunan rangkaian dikembalikan seperti sebelumnya.

Peremajaan

Pada tahun 2007 dilakukan sejumlah proses peremajaan pada perlengkapan traksi. Proses ini dilakukan di Tokyo General Rolling Stock Center dari tahun 2007 hingga tahun 2012.

Peremajaan yang dilakukan antara lain adalah penggantian VVVF dari GTO SC41B menjadi IGBT SC89 dan penggantian inverter statis dari GTO SC37A menjadi IGBT SC88.

Komponen VVVF-IGBT SC89 | Foto: 投稿者本人製作 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)
Komponen inverter statis SC88 | Foto: 投稿者本人製作 – Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Selain itu dilakukan peningkatan pada ATS-P, pengereman, dan peningkatan software kontrol pada komputer rangkaian dari sebelumnya MON8 ke MON19.

Sementara pada eksterior dilakukan perubahan warna pada striping menjadi lebih cerah. Selain itu, cowcatcher pada masing-masing kereta berkabin pun diganti dengan model baru. Namun warna pada papan antijatuh tetaplah sama.

Rangkaian pengikut terakhir yang mengalami proses peremajaan adalah rangkaian Y-134 pada September 2011. Sedang rangkaian utama terakhir yang mengalami proses peremajaan adalah rangkaian Y-21 pada Juli 2012.

Penurunan Kondisi Rangkaian

Kerusakan pada badan KRL seri E217 yang disebabkan oleh kelelahan logam | Foto: Twitter @TokaidoActy

KRL seri E217 sejatinya merupakan KRL dengan kualitas berkendara yang cukup bagus. KRL ini cukup nyaman di sisi penumpang, setidaknya sampai beberapa tahun setelah peremajaan. Namun sesuai dengan filosofi yang diterapkan pada “New Series Train”, penurunan kualitas kenyamanan pun mulai terasa. Seperti misalnya lantai yang mulai terpengaruh dari kelelahan metal pada rangka bawah kereta, pintu sambungan yang sulit tertutup, gangguan komponen penggerak, dan lain sebagainya.

Bahkan penurunan kondisi dari KRL seri E217 ini telah  mengundang protes dari serikat pekerja JR East. Protes terhadap KRL seri E217 ini bahkan dipublikasikan di situs resmi Doro Chiba, salah satu serikat pekerja JR East pada tahun 2002. Laman tersebut menyebutkan kerusakan pada sistem penutup pintu, kerusakan rangka pintu, dan juga pemakaian abnormal pada pantograf. Selain itu, dinilai sistem perawatan KRL seri E217 menjadi bermasalah terutama semenjak alokasi rangkaian semuanya dijadikan dipo Kamakura.

Selain kelelahan pada rangka bawah kereta, KRL seri E217 diketahui juga memiliki kelelahan pada bogi. Pada tahun 2012 lalu, pada beberapa rangkaian ditemukan retakan di bagian bogi kereta yaitu di bagian rem menempel dengan bogi, yang tentunya dapat membahayakan keselamatan pengoperasian kereta. Setelah penemuan tersebut, pihak JR East telah melakukan investigasi pada bogi seluruh kereta dan bogi cadangan E217.

Kelelahan ini lumrah terjadi dikarenakan wilayah pengoperasian, panjang rute, dan pola dinasan yang diterapkan pada KRL seri E217. Jarak tempuh yang jauh hingga lebih dari 100 kilometer serta wilayah pengoperasian yang berada di dekat laut mempercepat penuaan pada KRL ini. Bahkan pada beberapa rangkaian pun banyak terjadi penyok pada pintu darurat kereta, entah apa sebabnya.

Masa depan KRL seri E217

KRL seri E235 rangkaian KuRa F-01 saat melakukan uji coba di Jalur Shinetsu. KRL seri E235 akan menggantikan KRL seri E217 di jalur Yokosuka. | Foto: Twitter @lu2sh

KRL seri E217 telah beroperasi selama 26 tahun di Jalur Yokosuka-Sobu Rapid, dengan usia rangkaian termuda yaitu 21 tahun. Kondisi KRL seri E217 yang terus menurun membuat JR East memutuskan untuk mengganti KRL seri E217 secara bertahap. Sebagai pengganti KRL seri E217, KRL seri E235 subseri 1000 akan dibuat dalam jumlah yang sama dengan KRL seri E217. KRL seri E235 subseri 1000 rencananya akan mulai beroperasi pada akhir 2020, dan akan “menghabisi” KRL seri E217 pada tahun 2023 mendatang.

Atas pertimbangan dari kondisi tersebut di atas, KRL seri E217 disebutkan tidak akan dipindahkan ke jalur lain setelah selesai beroperasi di jalur Yokosuka-Sobu Rapid. Artinya, KRL seri E217 akan langsung dipensiunkan oleh JR East. Meskipun sama-sama keluarga “new series train”, keputusan JR East ini berkebalikan dengan apa yang mereka lakukan pada KRL seri 209 yang awalnya beroperasi di jalur Keihin-Tohoku. KRL seri 209 masih banyak dipertahankan dengan cara diremajakan lalu didinaskan di pedesaan dengan penumpang yang tidak terlalu ramai seperti di jalur Uchibo dan Sotobo.

Keputusan ini berkebalikan juga dengan KRL seri 209 subseri 500, KRL seri 209 subseri 1000, KRL seri E231, KRL seri E231 subseri 900, dan KRL seri E231 subseri 500. Keempat jenis KRL ini setelah purna tugas di jalur asalnya masih diberdayakan oleh JR East dengan dipindahkan ke jalur baru. KRL seri 209 subseri 500, KRL seri E231, dan KRL E231 subseri 900 diberdayakan kembali oleh JR East di jalur Musashino setelah pensiun dari jalur lokal Chuo-Sobu. Meski demikian, beberapa KRL seri E231 masih diberdayakan di jalur lokal Chuo-Sobu dengan susunan rangkaian yang sedikit berbeda dari aslinya.

Sementara itu, KRL seri 209 subseri 1000 diberdayakan kembali di jalur utama Chuo setelah pensiun dari jalur Joban sebagai pengganti sementara KRL seri E233 yang akan dipasangkan kereta double-decker. Sedangkan KRL seri E231 subseri 500 diberdayakan kembali di jalur lokal Chuo-Sobu setelah pensiun dari jalur Yamanote.

Indonesia?

KRL seri 203 rangkaian BOO109 yang dipasangi “mal” dan kamera CCTV untuk keperluan ujicoba pengukuran ruang bebas KRL double-decker

Berita akan dipensiunkannya KRL seri E217 telah muncul sejak tahun 2019 lalu. Pada saat itu, berita ini tidak terlalu membuat “kegaduhan” di kalangan pecinta kereta listrik di Indonesia. Berita ini lebih ramai dibicarakan di negara asalnya, Jepang.

Namun pada awal 2020, operator kereta listrik di Indonesia, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), melakukan satu pergerakan yang kemudian membuat “gaduh” seisi lini masa pecinta kereta listrik di Indonesia maupun Jepang. Saat itu, KCI mengujicobakan KRL seri 203 rangkaian BOO109 (eks MaTo 69) milik dipo Bogor di seluruh lintas terelektrifikasi di Jabodetabek.

Dalam ujicoba yang dimaksud, cowcatcher kereta 1 dan 10 milik BOO109 dipasangi suatu alat yang disebut “mal” secara temporer. Ukuran dari “mal” tersebut menyerupai ukuran umum bagian bawah kereta double-decker yang beroperasi di Jepang. Dengan adanya “mal”, BOO109 menjadi terlihat lebih lebar dari biasanya. Selain lebih lebar, tampilan BOO109 juga menjadi lebih unik dan lucu.

Selain “mal” tersebut, BOO109 juga dipasangi dengan kamera pengawas pada titik-titik tertentu di eksterior kereta 1 dan 10. Keberadaan kamera pengawas ini mengisyaratkan bahwa ujicoba dilakukan untuk mengukur ruang bebas pada lintas kereta listrik. Artinya, maksud dari ujicoba tersebut adalah untuk mengukur apakah ruang bebas pada lintas kereta listrik sudah sesuai dengan ukuran “mal” tersebut atau masih perlu penyesuaian.

KRD penolong Djoko Tingkir yang juga dipasangi “mal” dan kamera CCTV untuk ujicoba pengukuran ruang bebas KRL double-decker | Foto: Istimewa

Uji coba sejenis juga dilakukan dengan menggunakan kereta penolong Djoko Tingkir milik dipo Bukit Duri pada April 2020 lalu. Juga dipasangi “mal” dan kamera pengawas, tugas Djoko Tingkir pada saat itu adalah mengukur antara Kemayoran-Tanjung Priok dan Tanjung Priok-Pasoso. Stasiun Pasoso yang berada di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok adalah stasiun tempat diturunkannya KRL eks Jepang pesanan Indonesia ke atas rel setelah diangkut dari dermaga tempat kapal kargo yang  mengangkut KRL tersebut bersandar.

Sontak saja kemudian KRL seri E217 ramai dibicarakan di Indonesia maupun Jepang. Pergerakan KCI dalam mengukur ruang bebas bawah dengan ukuran alat simulasi yang menyerupai bagian bawah KRL double-decker ini dilakukan tepat di saat berita bahwa KRL seri E217 akan dipensiunkan oleh JR East sedang ramai dibicarakan.

Meskipun banyak sumber mengatakan bahwa KRL seri E217 akan diboyong ke Indonesia, hingga saat belum ada rilis resmi baik dari pihak KCI maupun JR East yang menyatakan bila memang ada atau memang akan ada kegiatan ekspor-impor KRL seri E217 di antara kedua perusahaan. Bila memang kegiatan tersebut memang akan dilakukan, tentunya akan ada rilis resmi yang dipublikasikan, minimal dari pihak JR East yang menyatakan tentang keberadaan kegiatan tersebut.

Penutup

Sebuah momen di Stasiun Soga saat KRL seri E217 jalur Yokosuka bertemu dengan KRL seri 205 jalur Musashino yang akan dikirim ke Indonesia. Akankah kemudian KRL seri E217 menyusul pergi ke Indonesia? | Foto: 2427junction

26 tahun beroperasi di jalur Yokosuka-Sobu Rapid, KRL seri E217 ini ternyata telah menjadi pionir yang digunakan untuk pengembangan lanjutan untuk KRL di keluarga “New Series Train” oleh JR East. Bahkan KRL seri E235 pun secara garis besar masih berbasis dari KRL seri E217 ini, meskipun KRL seri E217 sendiri berbasis dari KRL seri 209.

Masa bakti KRL seri E217 tinggal menghitung tahun. Kehadiran KRL seri E235 subseri 1000 akan menggantikannya di jalur Yokosuka-Sobu Rapid. Belum ada yang mengetahui bagaimana masa depan dari KRL seri E217 ini, apakah akan berakhir menjadi santapan alat berat, atau berlayar mengarungi lautan ke negeri lain.

Begitulah cerita tentang KRL seri E217. Semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan pembaca RED sekalian. (RED/MPF/IHF)

Referensi

  1. https://japantoday.com/category/national/jr-east-to-introduce-numbering-system-at-all-stations-in-tokyo
  2. https://traininfo.jreast.co.jp/train_info/e/kanto.aspx
  3. Hiroshi Nomoto, JR East Technical Review No. 5, History of JR East Commuter Trains.
  4. Masahiro Saka, JR 1st-Generation Rolling Stock: Current Situation and Overview, Tetsudo Daiya Joho Magazine
  5. https://toyokeizai.net/articles/-/353903?
  6. https://news.mynavi.jp/article/20150319-a181/
  7. https://krfj.net/hatenaki/jre/e217.html
  8. https://raillab.jp/series/905
  9. JRR, JR EMU Formations – Summer 2011
  10. https://doro-chiba.org/dc2/?p=1772
  11. https://www.doro-chiba.org/nikkan_dc/n2002_09_01/n5545.htm
  12. https://www.doro-chiba.org/nikkan_dc/n2005_07_12/n6141.htm
  13. https://news.mynavi.jp/article/20120224-a073/

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: