Korupsi, Konflik Kepentingan, dan Kerugian di Awal Lahirnya Shinkansen

Shinkansen seri 700
Shinkansen seri 700 JR Central | Foto: Sui-Setz, Wikimedia Commons, Domain Publik

REDigest.web.id – 1 Oktober 1964 menjadi tonggak awal kebangkitan industri perkeretaapian Jepang setelah hancur lebur pasca kekalahannya dalam Perang Dunia II. Di hari itu, Tokaido Shinkansen yang dipunggawai oleh Shinkansen 0 Series memulai debutnya yang juga mengubah wajah perkeretaapian dunia walau merugi pada saat awal pengoperasiannya.

Awal kelahirannya ini tidaklah semulus yang orang bayangkan. Kontroversi, skandal, konfiik kepentingan, hingga korupsi mewarnai kelahiran si kereta peluru ini. Japan National Railway (JNR) melakukan pinjaman sebesar USD 80 juta (sekitar USD 720 juta pada kurs saat ini) ke Bank Dunia pada 1961 untuk melakukan pengembangan jaringan kereta cepat dari Tokyo hingga Osaka.

Jaringan kereta cepat ini kemudian diberi nama “Shinkansen” yang memiliki arti “Jalur Utama Baru” dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendukung penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 1964. Selain itu pengembangan Shinkansen bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi dan mempercepat waktu tempuh moda angkutan darat.

Awalnya pembangunan jalur Shinkansen diproyeksikan memakan biaya USD 200 juta atau sekitar USD 1,8 miliar pada kurs saat ini. Tapi kenyataannya biayanya membengkak hingga 2 kali lipat yakni USD 400 juta atau sekitar USD 3,6 miliar pada kurs saat ini.

Sementara pinjaman dari Bank Dunia hanya menutup 9 persen dari total keseluruhan biaya pembangunan. Sementara sisanya dibiayai dari penjualan Surat Utang Negara dan pinjaman dari Pemerintah Jepang lewat Japan Postal Bank.

Saat Awal Shinkansen Beroperasi

Shinkansen seri 0 di layanan Kodama, 2008 | Foto: ナダテ/Wikimedia Commons, CC-BY-SA

Beroperasinya Shinkansen tidak serta merta membawa keuntungan bagi JNR. Bahkan tahun 1963 atau setahun sebelum Shinkansen beroperasi menjadi tahun terakhir bagi JNR menghasilkan keuntungan. Dari 1964 hingga 1972 JNR mengalami kerugian hingga JPY 10 miliar dalam setahun. Akibatnya JNR berulangkali menaikan harga tiket kereta api yang justru membuat orang beralih ke kendaraan pribadi.

Ada beberapa penyebab meruginya JNR, namun faktor terbesar dari kerugian JNR adalah kepentingan politik. JNR pada saat itu mengoperasikan jalur kereta api di empat pulau di seluruh Jepang di mana 80 persen penumpang berasal dari pulau utama yakni Honshu. Para politisi melarang JNR untuk menjual atau menutup jalur kereta api di luar Honshu yang merugi.

JNR juga dilarang untuk mengambil keuntungan dari hasil kerjanya sendiri. Ditambah para politisi di daerah terus mendorong JNR untuk membangun jalur Shinkansen yang melewati wilayahnya namun ketika beroperasi jalur tersebut merugi. Sebagai contoh Joetsu Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dengan Niigata dibangun dengan biaya dua kali lipat dari Tokaido Shinkansen namun hanya mengangkut setengah dari jumlah penumpang di Tokaido Shinkansen.

Akibat dari meruginya Joetsu Shinkansen, perdana menteri Jepang pada saat itu Kakuei Tanaka ditangkap setelah menjabat selama 2,5 tahun akibat tuduhan korupsi, menerima suap, dan menyalahgunakan wewenang dengan mengatur proyek Shinkansen untuk dibangun ke kampung halamannya di Niigata.

Bersambung ke halaman 2: Ruginya Shinkansen dan Awal Privatisasi JNR

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Pages ( 1 of 2 ): 1 2Berikutnya »

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: