[SUARA PEMBACA] KRL Semakin Padat, Kapasitas Penumpang Minta Ditambah

Antrean Karena Pembatasan Kapasitas
Antrean akibat pembatasan kapasitas di Stasiun Cibitung, Senin (27/12) | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

REDigest.web.id – Topik pembatasan kapasitas KRL Commuter Line menjadi buah bibir di kalangan pengguna setia moda ini sejak beberapa hari lalu. Bagaimana tidak, jumlah penumpang telah meningkat pesat, tetapi aturan pembatasan pengguna tidak mengikuti sehingga KRL menjadi padat.

Berdasarkan rilis pers KAI Commuter, pengguna KRL pada Senin lalu (20/12) telah tembus 500.000 orang. Jumlah pengguna secara persis adalah 506.630 pengguna, atau sekitar 50% dari pengguna era normal. Dalam keterangan persnya, kenaikan ini sendiri telah tampak pada pekan ketiga Desember. Rata-rata jumlah pengguna sebesar 480-490 ribu orang per harinya.

Meski demikian, kebijakan pembatasan kapasitas moda KRL ini sama sekali tidak berubah. Pengguna KRL per kereta dibatasi hanya 74 orang, atau 45% dari kapasitas. Peraturan ini sendiri sesungguhnya sudah ada dari masa PSBB Transisi 2020 lalu. Tepatnya melalui Surat Edaran Kementerian Perhubungan No. 14 Tahun 2020.

Dalam surat edaran tersebut tertera pembatasan pengguna KRL (termasuk MRT dan LRT) terbagi atas dua tahap. Tahap pertama pembatasan adalah 45% dari kapasitas kereta, sedang tahap kedua mencapai 60% dari kapasitas kereta. Sebagai perbandingan, pada rilis pers KAI Commuter pada Juni 2020, pengguna KRL hanya ada 356.215 orang pengguna.

Setelah melalui sejumlah revisi, peraturan yang kini berlaku adalah Surat Edaran No. 112 Tahun 2021. Dalam surat-surat edaran yang berlaku saat ini, butir kemungkinan peningkatan pembatasan menjadi 60% sudah tidak tampak lagi.

Tuntutan Pengguna karena Penyekatan Semakin Tidak Biasa

Berdiri berdesakan
Meskipun telah ada pengaturan kapasitas KRL, tetapi kepadatan pengguna tetap tak terhindarkan. Pengambilan foto pada Selasa 24 November silam pada salah satu KRL tujuan Angke | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Tuntutan pengguna di media sosial seperti grup Facebook KRL-Mania dan Twitter KAI Commuter pun menjadi semakin tajam. Seperti misalnya akhir-akhir ini viral penyekatan panjang di Cawang. Lalu keluhan berdiri tidak jaga jarak padahal duduk jaga jarak juga mulai banyak beredar di media.

Tim REDaksi juga mengamati penyekatan mulai semakin tidak biasa. Misalnya di Jakarta Kota pada Sabtu malam (25/12), sempat terjadi penyekatan bagi pengguna yang menunggu KRL Cikarang, walau keadaan stasiun dan KRL tidak padat. Jika KRL tersebut masih lama datangnya, pihak Stasiun Jakarta Kota mewajibkan pengguna untuk antre di luar peron seperti pada hari kerja. Sehingga tidak boleh ada pengguna di area peron hingga setelah KRL memasuki jalur.

Penyekatan Kapasitas KRL
Antrean pengguna KRL tujuan Cikarang akibat pembatasan KRL di Jakarta Kota saat akhir pekan (Sabtu (25/12)). Tak lama setelah pengambilan foto, rangkaian KRL tujuan Cikarang pun tiba dan antrean ini terurai| Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Pada umumnya penyekatan ini berlaku saat hari kerja, dan tidak sampai harus berlaku pada akhir pekan. Pemandangan seperti ini baru pertama kali Tim REDaksi lihat. Para pengguna pun memprotes KAI Commuter karena antrean yang semakin panjang dan berdiri yang tidak dapat jaga jarak meski duduk berjarak. Permintaan penghapusan aturan kapasitas 45% ini pun semakin kuat.

Apa Kata Pembaca Tentang KRL Padat

Pembatasan Kapasitas KRL Juanda
Antrean akibat pembatasan kapasitas KRL di Stasiun Juanda, Jumat (24/12) | Foto: RED/Gilang Fadhli

Tim REDaksi pun ingin mengetahui bagaimana pendapat pembaca tentang peningkatan kapasitas KRL. Melalui laman media sosial Twitter GM-MarKA, Tim REDaksi pun menyusun jajak pendapat mengenai isu ini.

Dari jajak pendapat yang berlangsung 3 hari ini, hasilnya adalah sebagian besar setuju. Dari 35 responden yang menanggapi, 94,3% mengatakan “ya”. Hanya ada 5,7% yang mengatakan “tidak”. Selain itu, salah satu dari responden berkomentar agar KAI Commuter dapat mengurangi terjadinya pemotongan stamformasi agar kapasitas angkut bisa maksimal.

Oleh karena itu, Tim REDaksi berpendapat dari suara pembaca ini, pihak terkait meninjau kembali aturan pembatasan yang saat ini berlaku. Terlebih meski telah dihapus, dalam surat edaran Kemenhub sempat disebutkan peluang dua tahap pembatasan pengguna KRL bisa lebih longgar yakni 60%. Hal ini dikarenakan menurut Tim REDaksi sudah sangat sulit untuk menerapkan aturan maksimal 74 orang di dalam kereta dengan kondisi saat ini.

Selain itu, Tim REDaksi juga berharap KAI Commuter juga dapat memaksimalisasi kondisi armada yang mereka miliki. Selain itu, juga dapat dipikirkan solusi alternatif jalan akses pengguna agar kepadatan tidak terkumpul di satu titik.

Seperti misalnya pada sisi timur Stasiun Jakarta Kota. Di sisi ini, terdapat hall baru yang saat ini hanya berguna untuk pengguna keluar stasiun. Namun sewaktu-waktu dapat saja hall ini juga akan aktif kembali untuk pengguna masuk stasiun. Saat ini mungkin semua dapat memahami kalau ujung timur tidak dapat digunakan untuk menyeberang dengan alasan keselamatan. Namun, melihat kepadatan yang ada saat ini di ujung barat, mungkin perlu adanya pengkajian untuk membangun penyeberangan penumpang pada ujung timur. (RED/IHF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: