[OPINI] 98 Tahun Kereta Listrik Indonesia: Meninjau Kembali Opsi Pengadaan KRL Commuter Line Jabodetabek
Peningkatan Kapasitas: Lebih Realistis dengan Impor Bekas

Yang kemudian juga mengantarkan kita pada permasalahan berikutnya. KAI Commuter telah merencanakan penggantian armada KRL yang hendak pensiun dengan KRL yang kapasitasnya lebih besar. Seperti yang kita ketahui, mayoritas dari 29 rangkaian yang hendak KAI Commuter pensiunkan tahun 2023-2024 ini memiliki stamformasi baku 8 kereta saja.
Sedangkan KRL yang menjadi calon pengganti, KRL seri E217 memiliki stamformasi 12 kereta. Sayangnya, BPKP menilai proses penggantian ini justru lebih baik dilakukan dengan proses retrofit terhadap 29 rangkaian ini. Secara total, menurut BPKP terdapat 1.114 unit KRL, tidak termasuk KRL yang sudah pensiun baik konservasi ataupun ATDO (Aktiva Tetap Diberhentikan dari Operasi).
Untuk KRL yang konservasi sendiri jumlahnya adalah 48 unit, sementara yang berstatus konservasi adalah sebanyak 36 unit. Sedangkan secara total rangkaian, KAI Commuter memiliki 109 rangkaian dengan 98 rangkaian yang beroperasi pada hari kerja.
Komentar Tim REDaksi

Terlepas dari pertanyaan “apakah data yang KAI Commuter berikan sudah cukup?” ataupun “apakah hasil audit ini sudah dibahas benar-benar”, rekomendasi ini Tim REDaksi anggap keliru. Pasalnya jika meretrofit rangkaian KRL stamformasi 8 kereta, selain berpotensi tidak efisien karena sebagian umurnya sudah cukup tua, kapasitas yang diberikan per perjalanan pun akan sama saja.
Jika kita gunakan definisi DJKA di mana 100% kapasitas adalah 160 orang, maka rangkaian KRL SF8 memiliki kapasitas 1.280 orang. Sedangkan KRL SF12 memiliki kapasitas 1.920 orang. Seandainya 29 rangkaian yang akan pensiun ini diretrofit, maka tidak akan ada penambahan kapasitas per perjalanan.
Sedangkan jika KRL SF12 ini menggantikan KRL SF8, maka setidaknya untuk setiap rangkaian, peningkatan kapasitas per perjalanan akan terwujud sebanyak 640 orang. Jika tahun ini jadi terbeli 10 rangkaian saja untuk menggantikan 10 rangkaian SF8, maka peningkatan kapasitas akan terwujud sebanyak 6.400 orang, dan ini hanya untuk 1 perjalanan dari kesepuluh rangkaian tersebut.
Peningkatan kapasitas per perjalanan ini akan menjadi sangat berarti karena di sejumlah lintas seperti Bogor dan Rangkasbitung, sudah tidak mungkin ada penambahan rangkaian. Hal ini karena headway di lintas ini telah di-pres semaksimal mungkin dengan prasarana persinyalan yang ada.
Oleh karenanya, penambahan panjang rangkaian menjadi sangat utama untuk kedua jalur tersebut. Selain itu, hal ini menjadi lebih masuk akal karena BPKP mengklaim Lin Rangkasbitung dan Lin Tangerang terlalu banyak mendapat KRL SF10. Bagaimana caranya memberikan KRL SF10 ke Lin lain ketika khususnya Lin Rangkasbitung sendiri saja sudah sangat padat penggunanya?
Meski demikian, mungkin saja rangkaian yang sempat tidak beroperasi lama seperti 05-112F dan 05-102F jika diretrofit bisa untuk menambah dinas pendek seperti penambahan feeder. Seperti di bab sebelumnya, Tim REDaksi berpendapat umur KRL seri 05 masih masuk akal untuk proses retrofit karena masih belum terlalu tua. Akan tetapi, tentunya pertimbangan ini akan harus dikaji matang.
Meskipun meretrofit kereta yang lama tidak beroperasi tidak akan mengganggu rotasi dinas KRL, mengembalikan kereta yang sudah tidak beroperasi lama harus mengalami banyak pemeriksaan. Hal ini karena rangkaian ini sudah lama terdiam tanpa perawatan dan bisa saja sudah ada komponen yang tidak lengkap, ataupun kondisi rangkanya sudah sangat merosot. Meretrofit sarana seperti ini bisa jadi belum tentu feasible dari segi teknis dan biaya.
Selanjutnya: Target 2026: Belum Termasuk Kemungkinan Teething Problem
Sebelumnya: Retrofit? Sebenarnya bisa, tapi…