[Fiksi Bersambung] Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 1

Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 1

“Stop! Situ mau kemana?”
“Awas, jangan menghalangi jalan!” bentak seorang lelaki pada seorang pemuda yang menghadangnya.
“Memangnya kalau saya halangi kenapa? Terserah saya,” balas pemuda itu sambil memainkan jemarinya di pinggang.
“Kamu jangan main-main sama saya! Mau saya lempar keluar?!” ancam lelaki itu.
“Hehe.. Lempar kalau berani!”

Brakk! Ckrek!
“Angkat tangan! Sekarang ikut kami!”
Sang pemuda tersenyum lebar melihat dua orang polisi khusus menggiring lelaki yang baru saja berada di hadapannya. Sungguh pertemuan yang sangat singkat.

***

Hiruk pikuk aktivitas manusia mulai nampak bergeliat di stasiun Surabaya Pasar Turi. Tampak antrean yang cukup ramai di depan pintu masuk ruang tunggu. Seorang pemuda bergaya kekinian dengan tas ranselnya yang nampak berat, terlihat ikut mengantre. Tangan kanan pemuda itu berusaha merogoh ponselnya yang berdering di saku celana, sementara tangan kirinya memegang tiket dan KTP.

“Ya, halo! Ada apa sih, Be? Aku lagi ribet iki lhoo..”
“Lu lagi ngapain sih, Te? Gua mau kasih tau sesuatu yg penting.”
“Aku di stasiun Pasar Turi, lagi ngantri mau boarding!”
“Lah? Lu mau kemana, Te?”
“Ke Jakarta lah..”
“Ngapain lu ke Jakarta?”
“Mau nemuin kamu, ada sesuatu yang penting.”
“Kalo sama-sama mau ngomongin hal penting, kenapa kaga sekarang aja, Wete…”
“Yo gak iso, iki ono sing harus dilihat, diraba, diterawang!”
“Kertas misterius?”
“Lho, kok kamu tau?”
“Gua juga dapet kertasnya, kayaknya kita dapet surat dari pengirim yang sama.”
“Lho, iya tah? Yowis aku yang kesana apa kamu yang kesini?”
“Udah lu aja kesini, kan udah mau berangkat. Naik apa lu?”
“Anggrek Pagi. Kamu gak usah jemput di Gambir, nanti aku KRLan dari Jatinegara ke Bekasi. Kita ketemuan di tempat biasa.”
“Yee, siapa juga yang mau jemput lu!”

Pukul 08.30, Argo Bromo Anggrek bertolak dari Surabaya Pasar Turi menuju Jakarta Gambir. Ia merupakan kereta api tercepat di Indonesia, yang mampu menempuh jarak 725 km dalam waktu 9 jam saja. Di dalamnya duduk Riandika Putra, seorang pemuda 18 tahun yang biasa dipanggil Rian atau Dika. Tetapi ia punya teman jauh yang selalu memanggilnya Wete alias WT – singkatan dari Warga Timur, mungkin untuk menandai bahwa ia tinggal di Surabaya. Sebagai balasan, ia selalu memanggil temannya yang tinggal di Bekasi itu dengan nama Webe alias WB – singkatan dari Warga Barat tentunya. Misteri yang mempertemukan mereka, tidak selalu, tetapi sering. Seperti pada kesempatan kali ini.

~ Bersambung

Selanjutnya: Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 2

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

TB Gemilang Pratama

Railway Enthusiast | Bus Enthusiast | Enterpreneur | Free Thinker with Responsibility |

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: