KolomOpini

[OPINI] 98 Tahun Kereta Listrik Indonesia: Meninjau Kembali Opsi Pengadaan KRL Commuter Line Jabodetabek

Target 2026: Belum Termasuk Kemungkinan Teething Problem

Analogi Mobil Baru

Ilustrasi: Mobil baru Anda, canggih dan penuh teknologi baru. | Foto: Mario Roberto Durán Ortiz, CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons

Umpama sebuah perusahaan mobil merilis sebuah mobil baru. Mobil baru tersebut memiliki berbagai jenis fitur dan teknologi yang belum pernah ada di model terdahulunya. Dengan pertimbangan ini Anda memutuskan untuk membelinya sebagai upgrade dari mobil jadul turunan bapakmu itu.

Untuk satu sampai dua bulan pertama belum ada masalah apa pun. Anda masih dalam fase mengagumi mobil baru Anda. Mungkin beberapa fitur baru dari mobilmu itu memiliki sedikit masalah. Namun, Anda masih dapat menjalankan dan mengendarai mobilmu, jadi Anda menghiraukannya. Lalu tiada angin tiada hujan, setidaknya satu sampai dua komponen vital mobilmu mengalami kerusakan. Kerusakan tersebut membuat mobil barumu tidak aman untuk dikendarai.

Sebagai tindak lanjut, Anda membawanya ke bengkel. Cukup merogoh dompetmu, tapi yang penting mobilmu bisa jalan lagi. Setelah reparasi selesai, Anda kembali mengendarai mobil Anda. Dua tahun telah berlalu. Mobil barumu masih batuk kadang-kadang, namun frekuensinya menjadi sangat jarang. Sekarang, mobilmu dapat dibilang andal. Para pembaca, inilah yang disebut sebagai teething problem.

Definisi teething problem

Menyadur dari kamus Bahasa Inggris Cambridge Dictionary, mendefinisikan frasa teething problem sebagai berikut:

“permasalahan yang berhubungan dengan sebuah produk baru atau permasalahan yang muncul pada saat awal mula sebuah proses atau kegiatan.”

Selain itu, kamus Collins Dictionary juga menyatakan hal yang serupa, yakni:

“Jika sebuah proyek atau produk baru memiliki teething problem, maka proyek atau produk baru tersebut memiliki sejumlah masalah ketika pertama kali diinisiasi atau dirilis.”

Dari kesamaan kedua definisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa teething problems adalah serangkaian permasalahan atau komplikasi yang dialami sebuah produk atau proyek baru.

Hubungan teething problem dengan bathtub curve

Teething problem ini mempunyai kaitan dengan sebuah grafik yang bernama bathtub curve. Bathtub curve merupakan sebuah bentuk yang muncul pada grafik yang menyatakan data tingkat kegagalan dengan berjalannya waktu. Nama bathtub curve sendiri berasal dari bentuk garis grafik yang menyerupai sebuah belahan bak mandi. Grafik bathtub curve umumnya digunakan untuk mengukur keandalan sebuah produk ataupun memprediksi laju kerusakan sebuah produk ataupun alat.

Ilustrasi: Grafik “Bathub Curve” | Foto: Bathtub_curve.jpg: Wyattsderivative work: McSush, Public domain, via Wikimedia Commons

Bathtub curve dibagi menjadi 3 wilayah, yakni:

  1. Wilayah pertama
    wilayah ini memiliki laju kerusakan yang menurun seiring waktu karena permasalahan awal yang kemudian dideteksi dan diperbaiki (early failure).
  2. Wilayah kedua
    wilayah ini memiliki laju kerusakan yang konstan karena datangnya permasalahan bersifat acak (random failure).
  3. Wilayah ketiga
    wilayah ini memiliki laju kerusakan yang meningkat akibat permasalahan yang disebabkan oleh ausnya komponen (wear-out failure).

Dari yang kita temukan di atas, dapat kita temukan sebuah korelasi antara dua hal tersebut. Teething problem jatuh ke dalam wilayah pertama dari grafik bathtub curve. Kemungkinan sebuah produk akan mengalami teething problems akan meningkat dengan setiap teknologi baru yang diimplementasikan pada produk tersebut. Namun, perlu diingat bahwa bathtub curve tidak berlaku bila semua isu awal sudah ditemukan dan diperbaiki sebelum produk tersebut dirilis ke publik.

Kasus teething problem pada perkeretaapian

Mari kita kembali ke dunia perkeretaapian. Seperti kendaraan baru lain yang menggunakan teknologi baru, sebuah masalah teknis sudah dipastikan akan terjadi pada masa awal penggunaannya. Di bagian ini, kami akan memaparkan beberapa kasus yang terkait dengan teething problem pada sarana kereta baru, baik dari luar maupun dalam negeri.

  1. E235 lin Yamanote Milik JR East Bablas Batas Berhenti

    Ilustrasi: Kereta Seri E235 milik JR East. | Foto: MaedaAkihiko, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

    Ketika kereta rel listrik seri E235 set nomor satu memulai dinas revenue pertamanya pada 30 November 2015, KRL baru buatan J-TREC itu malah bablas melewati batas berhenti peron. Melansir dari sebuah diskusi di forum trainorders.com, kereta tersebut melewati batas berhenti sejauh 30 cm. Lalu pada saat selanjutnya bablas hampir satu meter dari batas berhenti. Selain itu, terdapat masalah juga pada indikator tutup-bukanya pintu kereta. Akibat permasalahan tersebut, seluruh kereta E235 ditarik dari pelayanan untuk troubleshooting. Pada akhirnya, kereta tersebut kembali didinaskan pada 7 Maret 2016.

  2. Isu Perangkat Lunak Menimpa Merseyrail Class 777

    Ilustrasi: Kereta seri Class 777 milik Merseyrail. | Foto: Xan asmodi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

    Pada 3 Maret 2023, seluruh rangkaian KRL seri class 777 buatan Stadler ditarik dari dinas setelah hanya beberapa hari melewati uji coba publik. Melansir dari Liverpool Echo, Merseyrail selaku pihak operator menyebutkan bahwa terdapat masalah perangkat lunak pada sistem kereta. Masalah ini menyebabkan beberapa perjalanan KA batal dan terlambat pada saat itu.

  3. Kereta Bandara Soekarno-Hatta Mogok Dua Kali saat Uji Coba

    Ilustrasi: KRL Bandara seri EA 203 yang dulunya dioperasikan oleh KAI Bandara. | Foto: RED/Dimasyah Sylva

    Kereta buatan dalam negeri pun tidak luput dari teething problems. Pada hari Selasa, 5 Desember 2017, PT Railink selaku operator kereta bandara melaksanakan uji coba KRL terbarunya yakni EA 203 buatan PT INKA dengan kerja sama Bombardier.  KRL tersebut ditunjukkan untuk pelayanan KA Bandara Internasional Soekarno-Hatta (SHIA). Sayangnya semasa uji jalan, kereta mengalami mogok sebanyak dua kali di wilayah Batu Ceper, Tangerang. Kemudian musibah datang kembali dengan patahnya pantograf kereta di petak Tanah Abang-Manggarai. Kejadian tersebut menyebabkan gangguan pada perjalanan KRL Commuter Line dengan salah satunya mengalami keterlambatan hingga 45 menit.

Korelasi teething problem dengan KRL baru KCI

Ilustrasi: Desain KRL Commuter Line baru yang akan diproduksi PT INKA. | Foto: Youtube PT INKA

Setelah penjelasan panjang lebar mengenai teething problems beserta kasus-kasusnya di dunia perkeretaapian, Anda mungkin bertanya:

“Apa hubungan teething problems dengan KRL commuter line yang baru nanti?”

Para pembaca sekalian, KRL Commuter line yang diduga berseri EA 204 ini adalah seri kereta baru yang nantinya dimanufaktur oleh PT INKA. Mengingat apa yang baru saja kita pelajari, teething problems berpotensi menghantui dinas perdana KRL baru ini.

Dengan lintas rute yang cukup ekstensif serta jumlah penumpang yang diproyeksikan kian meningkat, KRL baru ini akan didorong mencapai batas maksimalnya. Bila tidak ditangani dengan tepat, gangguan teknis dapat menimpa KRL baru tersebut. Akibatnya, jumlah penumpang yang sudah menumpuk tersebut tidak dapat tertampung secara optimal dan kemungkinan besar gangguan tersebut dapat mengganggu perjalanan kereta yang lain.

Komentar Tim REDaksi

Tentu saja Tim REDaksi juga berkeinginan INKA bisa mandiri memproduksi KRL untuk kebutuhan Commuter Line Jabodetabek. Tetapi skenario-skenario teething problems harus dipertimbangkan dengan matang.

Tim REDaksi akan memberi opini melalui dua skenario, yakni:

  1. Pengadaan 10 Rangkaian E217 SF 12 Tahun 2023 tidak diperbolehkan.
  2. Pengadaan 10 Rangkaian E217 SF 12 Tahun 2023 diperbolehkan.

Di dalam kedua skenario ini, opsi retrofit dianggap tetap dilaksanakan sebagaimana kesimpulan hasil audit BPKP saat ini.

Skenario A

Bilamana skenario A terjadi, maka demand penumpang selama dua tahun ke depan akan ditanggung sendiri oleh armada pasca retrofit. Dengan jumlah armada yang akan di retrofit tidak terlalu banyak, demand penumpang KRL Jabodetabek selama dua tahun tersebut tidak akan tertampung dengan baik. Dan jikalau armada KRL baru harus di-recall akibat teething problems, penanganan penumpang yang kian membludak tersebut akan tertunda.

Seberapa lama penundaan tersebut tergantung dengan masalah yang terdapat pada KRL baru tersebut. Bisa saja hanya sebulan, bisa saja sampai setahun lamanya. Perlu diingat bahwa PT KCI memesan 16 rangkaian KRL SF 12 ke INKA untuk dikirimkan pada tahun 2025-2026. bila rangkaian perdananya memiliki suatu masalah, maka rangkaian sebelumnya berkemungkinan memiliki masalah yang sama. Faktor ini dapat memperlambat masuknya KRL baru ke lintas Jabodetabek.

Skenario B

Skenario B menurut tim REDaksi merupakan skenario paling optimis untuk situasi saat ini. Di dalam skenario ini, pemerintah memberi lampu hijau untuk pengimporan 10 rangkaian kereta bekas JR East SF 12 berseri E217 dengan maksud menambal kebutuhan permintaan penumpang selama dua tahun ke depan.

Dengan tambahan armada KRL yang telah di retrofit, diharapkan jumlah armada dapat menampung sebagian demand penumpang KRL Jabodetabek selama 2 tahun ke depan. Armada kereta bekas ini juga Tim REDaksi pandang sebagai backup plan ketika armada KRL baru mengalami sejumlah masalah akibat teething problems. Walau tidak semua penumpang akan tertampung pada saat itu (bila jumlah penumpang benar meningkat sesuai proyeksi KCI), namun kondisinya akan jauh lebih baik ketimbang skenario A.

Melihat potensi betapa disruptifnya potensi teething problems terhadap pelayanan PT KCI, Tim REDaksi berharap PT INKA selaku manufaktur serta perancang dari armada KRL baru, DJKA selaku instansi regulator perkeretaapian, serta PT KCI selaku operator KRL baru ini dapat melakukan uji coba serta uji dinas secara teliti dan menyeluruh untuk meminimalisir risiko gangguan teknis yang fatal saat kereta memulai dinas revenue perdananya.

Kesiapan para pemangku kepentingan menghadapi potensi masalah seperti ini juga akan sangat membantu atau merusak reputasi INKA. Jika teething problems dapat teratasi dengan baik, maka reputasi dan kepercayaan terhadap INKA akan meningkat. Sedangkan jika teething problems dibiarkan berlarut-larut, reputasi dan kepercayaan terhadap INKA akan semakin terjun bebas.

Tim REDaksi tidak ingin melihat kejadian seperti KRL KfW terulang lagi dengan armada KRL Commuter Line baru untuk KAI Commuter. Terlebih kali ini, armada tersebut akan menjadi andalan jangka panjang KAI Commuter di masa depan.

Penutup

Berikut akhir dari opini yang Tim REDaksi dapat sampaikan terkait rencana pengadaan KRL di masa depan. Tim REDaksi berharap apapun keputusan yang Pemerintah ambil, keputusan inilah yang berpihak kepada segenap pengguna KRL Commuter Line. Selamat ulang tahun yang ke-98, kereta listrik di Indonesia. (RED/IHF/DS)

Sebelumnya: Peningkatan Kapasitas, Lebih Realistis dengan Impor Bekas

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Pages ( 5 of 5 ): « Previous1 ... 34 5

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses