Berita Lain-LainBusBus Rapid TransitKolomMikrotransOpiniTransJakarta

[OPINI] 20 Tahun TransJakarta, Ini bedanya TransJakarta dengan Busway

Bus TransJakarta dengan jenis armada bus medium dengan balutan skema warna Bayu Holong Persada | Foto: Akun Instagram @trinovanda
Bus TransJakarta dengan jenis armada bus medium dengan balutan skema warna Bayu Holong Persada. | Foto: Akun Instagram @trinovanda

Artikel di bawah ini adalah opini dari Penulis sebagai anggota Tim REDaksi. Penulisan opini ini tidak mewakilkan pandangan resmi dari keseluruhan Tim REDaksi

REDigest.web.id – Penulis mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada TransJakarta yang‒menurut situs resminya‒ telah memulai operasinya sejak 1 Februari 2004. Ini berarti sudah 20 tahun TransJakarta melayani penumpang dari tahun 2004 hingga tahun 2024. Walau begitu, masih banyak orang yang tidak memahami perbedaan antara istilah ‘TransJakarta’ dengan ‘Busway’. Mayoritas kesalahan penggunaan ini menggunakan istilah ‘Busway’ untuk menggambarkan layanan ‘TransJakarta’ seperti yang sering terdengar dalam percakapan sehari-hari seperti “dekat halte Busway”, “lagi nunggu Busway”, “lagi naik Busway”, “lagi di Busway”, hingga “lagi turun Busway”. Melalui artikel ini, penulis ingin memberikan pemaparan agar kesalahan penggunaan istilah ini tidak kembali terulang di masa yang akan datang.

Mengenal Jenis Pelayanan Bus dan non-bus

‘TransJakarta’ atau biasa disebut ‘TJ’ maupun ‘Tije’ merupakan layanan utama dari operator PT TransJakarta (Transportasi Jakarta) yang memiliki banyak  jenis layanan bus seperti Bus Rapid Transit (BRT), Non-Bus Rapid Transit (NBRT), Royal Trans, Bus Wisata, hingga layanan non-bus Mikrotrans.

Bus Rapid Transit (BRT)

Bus TransJakarta Maksi pada layanan BRT TransJakarta Koridor 12 yang melayani rute Halte TJ Tanjung Priok - Halte TJ Pluit | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Bus Maksi pada layanan BRT TJ Koridor 12 yang melayani rute Halte TJ Tanjung Priok – Halte TJ Penjaringan. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Bus Rapid Transit (BRT) ialah layanan bus TransJakarta yang memiliki jalur tersendiri di jalan raya. Jalur tersebut terpisah dengan adanya separator sehingga perjalanan BRT TransJakarta (seharusnya) dapat steril dari kendaraan lainnya. ‘Busway’ adalah nama dari jalur khusus itu karena bermakna ‘Jalur Bus’ dalam bahasa Indonesia. Penggunaan jalur bus khusus memungkinkan bus dapat melaju terus karena terbebas dari kemacetan. Setiap rute pada layanan BRT TransJakarta tersebut dengan istilah ‘Koridor’. Dengan begitu, BRT TJ juga seringkali terkenal dengan sebutan ‘dalam koridor’.

Bus TransJakarta pada layanan BRT TJ dengan armada bus gandeng | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy
Bus TransJakarta pada layanan BRT TJ dengan armada bus gandeng. | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Layanan BRT TJ juga memiliki bangunan halte tersendiri yang umumnya tidak terletak di pinggir jalan. Halte khusus ini memungkinkan pengguna layanan BRT TJ berpindah-pindah moda alias transit pada setiap haltenya selama bus yang akan dituju untuk perpindahan koridor juga termasuk ke dalam layanan BRT TransJakarta. Oleh karenanya, armada BRT TransJakarta seringkali menggunakan bus dengan dek atau lantai yang tingginya berbeda jauh dengan permukaan jalan. Bus ini terbagi ke dalam beberapa jenis armada seperti ‘medium bus’/ ‘bus medium’, ‘big bus’/ ‘bus besar, ‘maxi bus’/ ‘bus maksi’, hingga ‘articulated bus’/ ‘bus gandeng’.

Non-Bus Rapid Transit (NBRT)

Kontras dengan jenis pelayanan BRT, layanan bus Non-Bus Rapid Transit atau NBRT merupakan pelayanan dari PT TransJakarta yang tidak memiliki jalur khusus atau tidak seperti BRT yang memiliki jalur khusus/ ‘Bus Way’. Ketiadaan jalur khusus ini seringkali menyebabkan layanan NBRT TransJakarta bercampur dengan kendaraan lainnya hingga terjebak dalam kemacetan. Oleh sebab itu, layanan NBRT TJ acapkali terpanggil dengan sebutan ‘non-koridor’ atau ‘luar koridor’.

Bus Listrik TransJakarta pada layanan NBRT 1P yang melayani rute Terminal Senen - Terminal Blok M| Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Bus Listrik TransJakarta pada layanan NBRT TJ 1P yang melayani rute Terminal Senen – Terminal Blok M. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

Halte-haltenya mayoritas terletak di pinggir jalan karena tidak adanya bangunan khusus yang terancang sedemikian rupa atau tidak seperti halte Bus BRT TransJakarta. Jika pun ada bangunan khusus, bangunan tersebut hanya memungkinkan pengguna duduk dan terhindar dari sinar matahari dan air hujan karena tidak terdesain khusus untuk perpindahan antar rute bus. Ciri khas utama yang membedakan halte NBRT TJ dengan halte BRT TJ ialah permukaan halte NBRT yang sejajar dengan permukaan jalan. Jikalau ada perbedaan, halte itu sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan karena berada di atas permukaan trotoar.

 

Bus TransJakarta pada layanan NBRT dengan armada Minitrans pada rute 10K yang melayani Terminal Tanjung Priok - Terminal Senen | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Bus TransJakarta pada layanan NBRT TJ dengan armada Minitrans pada rute 10K yang melayani Terminal Tanjung Priok – Terminal Senen. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

 

Bus listrik Metrotrans milik PO Mayasari Bakti lansiran BYD Tiongkok dalam dua kelir seragam yakni oranye dan hijau toska | Foto: Mayasari Bakti via Detik Oto
Bus listrik Metrotrans milik PO Mayasari Bakti lansiran BYD Tiongkok dalam dua kelir seragam yakni oranye dan hijau toska. | Foto: Mayasari Bakti via Detik Oto

Oleh karenanya, jenis armada bus yang tergunakan seringkali didominasi oleh bus dengan dek/ lantai rendah (low deck) bernama ‘Metrotrans’ atau bus ukuran sedang (medium bus) bernama  ‘Minitrans’.  Metrotrans hadir dalam beberapa warna yakni oranye dan hijau toska. Metrotrans kelir oranye terdiri dari bus bertenaga ICE (Internal Combustion Engine) dan listrik sementara yang kelirnya hijau toska hanya bertenaga listrik. Di sisi lain, Minitrans hanya hadir dalam kelir oranye dan berbasis ICE. Tidak menutup kemungkinan ada pula layanan NBRT TJ yang menjadi pengumpan layanan BRT TJ sehingga menggunakan armada ‘medium bus’ atau bahkan ‘big bus’ dan juga berhenti di halte BRT TJ.

Perbandingan antara armada bus TransJakarta medium (kelir biru) dengan Metrotrans (kelir oranye)| Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Perbandingan antara armada bus TransJakarta medium (kelir biru) dengan Metrotrans (kelir oranye). | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Royal Trans

Layanan bus Royal Trans dari operator PT TransJakarta. Armada busnya memiliki kemiripan dengan armada bus pada layanan Minitrans. Warna ungu sepertinya berasal dari warna kebangsawanan yang identik dengan bangsawan Prancis pada abad ke-17-18 | Foto: TransJakarta
Layanan bus Royal Trans dari operator PT TransJakarta. Armada busnya memiliki kemiripan dengan armada bus pada layanan Minitrans. Warna ungu sepertinya berasal dari warna kebangsawanan yang identik dengan bangsawan Prancis pada abad ke-17-18. | Foto: TransJakarta

Selanjutnya ada layanan bus Royal Trans yang menawarkan pelayanan premium bagi para pelanggan TransJakarta. Secara konsep, layanan ini mirip seperti layanan bus Patas AC yang masih ada di DKI Jakarta ataupun bus Transjabodetabek. Perbedaannya terletak pada penyediaan fasilitas kursi yang dapat rebah atau reclining seat serta penyediaan USB port pada setiap kursinya. Bus ini juga terlengkapi dengan 12 kamera CCTV untuk memantau area luar dan dalam bus serta tersedianya bagasi barang. Oleh karenanya, bus ini membawa konsep premium dengan tarif yang premium pula meskipun secara armada mirip seperti Minitrans karena sama-sama berukuran sedang. Bedanya, jika Minitrans ber-livery oranye sementara Royal Trans ber-livery ungu.

Bus Wisata

Layanan Bus Wisata (BW) TransJakarta dengan armada bus tingkat berwarna putih. Di kejauhan terlihat armada bus TransJakarta dek tinggi (high deck) berwarna biru. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Layanan Bus Wisata (BW) TransJakarta dengan armada bus tingkat berwarna putih. Di kejauhan terlihat armada bus TransJakarta dek tinggi (high deck) berwarna biru. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Selain layanan berbayar, PT TransJakarta juga memiliki layanan gratis yakni bus wisata yang tersebut dengan nama Jakarta Explorer. Layanan ini berupaya memberikan pengalaman menjelajahi ikon-ikon Provinsi DKI Jakarta. Terdapat tujuh rute wisata berbeda yang terdiri dari BW 1 (Sejarah Jakarta), BW 4 (Pencakar Langit Jakarta), BW 9 (PIK), dan BW 10 (Monas Explorer).

Layanan Bus Wisata (BW) TransJakarta dengan armada bus tingkat berkelir merah dengan ornamen desain ondel-ondel. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Layanan Bus Wisata (BW) TransJakarta dengan armada bus tingkat berkelir merah dengan ornamen desain ondel-ondel. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Armada yang tersedia yakni hanyalah armada bus tingkat dengan pintu yang hampir sejajar dengan permukaan jalan (low deck). Terdapat dua lantai di dalam bus yakni lantai bawah dan lantai atas. Untuk pengalaman maksimal selama menikmati perjalanan, penulis menyarankan pembaca untuk memilih kursi pada lantai atas bus.

Mikrotrans

Layanan non-bus TransJakarta berupa angkutan perkotaan modern bernama Mikrotrans ketika masih dikelir dengan livery lamanya. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Layanan non-bus TransJakarta berupa angkutan perkotaan modern bernama Mikrotrans ketika masih terkelir dengan livery lamanya. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Layanan gratis PT TransJakarta lainnya ialah layanan non-bus Mikrotrans karena merupakan angkutan perkotaan (angkot) modern. Berbeda dengan angkot konvensional, angkot Mikrotrans hanya dapat berhenti pada setiap pemberhentian atau bus stop. Penggunaan layanan ini juga mengharuskan penumpang memiliki kartu elektronik dari bank penerbit (dengan atau tanpa branding JakLingko) seperti eMoney dari Bank Mandiri, Brizzi dari BRI, Flazz dari BCA, hingga JakCard dari Bank DKI.

Layanan angkot Mikrotrans dengan livery barunya. Harap dicatat, namanya adalah Mikrotrans dan bukan JakLingko. Penjelasan perbedaan keduanya akan ada di artikel setelah ini. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Layanan angkot Mikrotrans dengan livery barunya. Harap dicatat, namanya adalah Mikrotrans dan bukan JakLingko. Penjelasan perbedaan keduanya akan ada di artikel setelah ini. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Secara armada, Mikrotrans menggunakan armada mobil seperti halnya dengan angkot konvensional. Bedanya yakni berupa kehadiran kelir Mikrotrans pada badan luar angkot dengan warna utama putih pada model livery lama dan biru-putih pada livery model baru. Ada armada yang masih non-AC dan ada juga beberapa armada yang sudah menggunakan AC.

Simpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, apakah pembaca sudah dapat mengetahui perbedaan antara ‘TransJakarta’ dengan ‘Busway’? Intinya ‘TransJakarta’ adalah layanan utama dari PT TransJakarta yang di dalamnya terdapat beberapa jenis pelayanan bus seperti BRT, NBRT, Royal Trans, Bus Wisata, hingga layanan non-bus Mikrotrans.

Di lain pihak, ‘Busway’ merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang terjemahannya ialah ‘Jalur Bus’ dalam bahasa Indonesia. Istilah ‘Busway’ sebenarnya merujuk kepada jalur khusus dengan pembatas separator yang dilalui oleh layanan bus BRT TransJakarta. Jalur ini juga terlewati oleh layanan bus NBRT TransJakarta yang menjadi pengumpan layanan BRT TransJakarta.

Lantas, apakah penggunaan istilah ‘Busway’ untuk menyebut layanan utama ‘TransJakarta’ atau bahkan layanan bus BRT TransJakarta adalah istilah yang tepat? Jawabannya sudah pasti sangat tidak tepat. Istilah ‘Busway’ tidak terdapat dalam layanan bus TransJakarta sehingga istilah ini harus diganti dengan istilah yang lebih tepat. Pelestarian penggunaan istilah ‘Busway’ akan terus menimbulkan kerancuan dan kebingungan dari layanan bus yang tergunakan oleh para pembaca.

Penulis juga mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-20 untuk TransJakarta. Mari rayakan momen baik ini dengan berbenah memperbaiki penggunaan istilah yang mungkin selama ini telah berulangkali salah ucap dan mungkin saja sudah mendarah daging di masyarakat. Perbaikan dan kemajuan negara sudah seharusnya terawali dengan pendidikan bermutu kepada masyarakatnya termasuk dalam hal menyebut suatu jasa pelayanan.

Layanan TransJakarta apa yang paling sering digunakan oleh pembaca sekalian? Layanan bus BRT? NBRT? Royal Trans? Bus Wisata? Ataukah layanan non-bus Mikrotrans? (RED/ AFD)


Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Donasi yang Anda berikan sangat membantu kami untuk terus beroperasi dan meningkatkan kualitas informasi yang kami sajikan. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer di bawah ini

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×