Berita Lain-LainKolomMikrotransOpini

[OPINI] Sering Salah Sebut, Berikut Perbedaan Mikrotrans dan JakLingko!

Artikel di bawah ini adalah opini dari Penulis sebagai anggota Tim REDaksi. Penulisan opini ini tidak mewakilkan pandangan resmi dari keseluruhan Tim REDaksi.

REDigest.web.id – “Karena anda telah terbiasa, maka hal tersebut menjadi budaya”. Mungkin itu merupakan kalimat yang cocok untuk menggambarkan penyebutan layanan Mikrotrans sebagai ‘JakLingko’ di kalangan masyarakat. Hal ini menciptakan kondisi kebingungan dan penyalahgunaan istilah yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Selama ini penulis sering mendengar kata-kata “angkot JakLingko”, “naik angkot JakLingko”, “naik Jaklingko”. Pada awalnya penulis bingung dengan arti ucapan tersebut karena penulis belum pernah merasakan pengalaman menggunakan layanan angkot ‘JakLingko’. Pada akhirnya, penulis menemukan bahwa istilah yang dimaksud JakLingko tersebut mengacu pada layanan angkot  Mikrotrans.

Apa itu Mikrotrans?

Microtrans with its old livery. The use of the Mikrotrans logo on the side body of the angkot is appropriate, but the use of the JakLingko logo which is larger than the TransJakarta logo on the back of the angkot is a mistake. The use of the code 'JAK-xxx' is also unacceptable. | Photo: RED/Enrico Perdana Putra
Angkot Mikrotrans dengan livery lamanya. Penggunaan logo Mikrotrans di bodi samping angkot memang tepat, namun penggunaan logo JakLingko yang lebih besar dari logo TransJakarta di bagian belakang angkot adalah sebuah kesalahan. Penggunaan kode ‘JAK-xxx’ juga menurut Penulis tidak bisa diterima. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Istilah ‘JakLingko’ yang sering disebutkan masyarakat selama ini sebenarnya adalah Mikrotrans, sebuah layanan gratis dari PT Transportasi Jakarta atau TransJakarta (TJ). Berbeda dengan BRT (Bus Rapid Transit) TJ, NBRT (Non-Bus Rapid Transit) TJ, Royal Trans, dan Bus Wisata TJ, Mikrotrans adalah layanan yang menggunakan armada non-bus. Sebenarnya Mikrotrans adalah angkutan perkotaan (atau biasa disebut angkot) yang berjalan mengikuti basis dari layanan TransJakarta. Angkot Mikrotrans beroperasi layaknya bus Transjakarta di segmen NBRT karena hanya bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di rambu bus stop atau tanda yang tersedia.

Untuk menjalankan layanan ini, TransJakarta bekerja sama dengan banyak operator dalam bentuk koperasi angkutan perkotaan yang sebelumnya tiap koperasi mengelola layanan angkot masing-masing dan tidak terintegrasi dalam satu sistem. Beberapa operator terdiri dari Koperasi Wahana Kalpika dengan kode operator KWK, Koperasi Budi Luhur wdengan kode operator BDL, Koperasi Purimas Jaya dengan kode operator PRM, Trans Halim Puskopau dengan kode operator PUS, Koperasi Mikrolet Jaya dengan kode operator KMJ, Komika Jaya dengan kode operator KMK, Lestari Surya Gema Persada dengan kode operator LSG, Kencana Sakti Transport dengan kode operator KST, Kopamilet Jaya dengan kode operator KPM, dan Kolamas Jaya dengan kode operator KLM.

Lalu, Apa itu JakLingko?

Logo of PT JakLingko Indonesia (JLI). | Photo: JakLingko Indonesia
Logo PT JakLingko Indonesia (JLI). | Foto: JakLingko Indonesia

Di sisi lain, PT JakLingko Indonesia merupakan perusahaan swasta yang sahamnya terbagi kepemilikannya oleh tiga BUMD yakni PT MRT Jakarta (MRTJ), PT Transportasi Jakarta (TransJakarta), dan PT LRT Jakarta (LRTJ) serta satu perusahaan swasta yakni PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) yang merupakan anak dari PT MRT Jakarta.

 

Kartu bank TapCash BNI rebranding JakLingko. | Foto: RED/Adrian Falah Diratama
Kartu bank TapCash BNI rebranding JakLingko. | Foto: RED/Adrian Falah Diratama

 

Sisi depan kartu transportasi JakLingko. Terdapat logo JakLingko Indonesia Card dan logo operator transportasi seperti KAI Commuter, MRT Jakarta, Transjakarta, LRT Jakarta, dan KAI Bandara. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Sisi depan kartu transportasi JakLingko. Terdapat logo JakLingko Indonesia Card dan logo operator transportasi seperti KAI Commuter, MRT Jakarta, Transjakarta, LRT Jakarta, dan KAI Bandara. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

 

Sisi belakang kartu transportasi JakLingko. Adanya informasi mengenai Kartu Multri Trip (KMT) seperti syarat dan ketentuan, media sosial, alamat, serta garis pengaman menandakan kartu ini diproduksi oleh KAI Commuter/ PT KCI. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Sisi belakang kartu transportasi JakLingko. Adanya informasi mengenai Kartu Multri Trip (KMT) seperti syarat dan ketentuan, media sosial, alamat, serta garis pengaman menandakan kartu ini diproduksi oleh KAI Commuter/ PT KCI. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

Ranah bisnis PT JakLingko Indonesia berkonsentrasi kepada integrasi sistem pembayaran transportasi umum di DKI Jakarta antara layanan MRT Jakarta (MRTJ), LRT Jakarta (LRTJ), dan TransJakarta (TJ). Produk JakLingko terdiri dari lima kartu bank rebranding JakLingko (eMoney JakLingko – Bank Mandiri, Brizzi JakLingko – BRI, Flazz JakLingko – BCA, TapCash JakLingko – BNI, dan JakCard JakLingko – Bank DKI), kartu transportasi JakLingko yang merupakan rebranding Kartu Multi Trip (KMT) Commuter Line KAI Commuter/ PT KCI (Kereta Commuter Indonesia), serta aplikasi super JakLingko.

Halaman awal (beranda) aplikasi JakLingko. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Halaman awal (beranda) aplikasi JakLingko. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

 

Riwayat pembelian tiket melalui aplikasi JakLingko. Tampak aplikasi ini mendukung pembelian tiket antarmoda seperti Commuter Line (CL), Transjakarta (TJ), dan LRT Jakarta (LRTJ). | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Riwayat pembelian tiket melalui aplikasi JakLingko. Tampak aplikasi ini mendukung pembelian tiket antarmoda seperti Commuter Line (CL), Transjakarta (TJ), dan LRT Jakarta (LRTJ). | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

 

KaTe atau Kartu Transportasi merupakan fitur di dalam aplikasi JakLingko untuk mengintegrasikan aplikasi dengan kartu transportasi JakLingko. Dengan begitu, jumlah saldo di dalam aplikasi akan berjumlah sama dengan jumlah saldo di dalam kartu. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
KaTe atau Kartu Transportasi merupakan fitur di dalam aplikasi JakLingko untuk mengintegrasikan aplikasi dengan kartu transportasi JakLingko. Dengan begitu, jumlah saldo di dalam aplikasi akan berjumlah sama dengan jumlah saldo di dalam kartu. | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

Bagaimana Hubungan Mikrotrans dengan JakLingko?

Angkot Mikrotrans merupakan angkot dengan konsep modern yang tidak lagi menerima pembayaran tunai karena hanya dapat melakukan pembayaran menggunakan kartu pembayaran elektronik. Kebijakan ini terancang oleh TransJakarta selaku operator dari layanan angkot Mikrotrans. Kartu yang dapat terpakai untuk menggunakan layanan Mikrotrans utamanya terdiri dari lima kartu bank rebranding JakLingko yakni eMoney JakLingko dari Bank Mandiri, Brizzi JakLingko dari BRI, Flazz JakLingko dari BCA, TapCash JakLingko dari BNI, dan JakCard JakLingko dari Bank DKI. Singkatnya, Mikrotrans ialah armadanya sementara JakLingko merupakan sistem pembayarannya.

Kenapa Kesalahan Penyebutan Bisa Terjadi?

Penulis menduga bahwa kesalahan ini bermula dari Pemprov DKI Jakarta yang memberi nama layanan angkot yang TransJakarta operatori ‘OK-OTrip’. Sedari awal, OK-OTrip merupakan nama kartu yang berguna untuk menaiki layanan angkot milik PT TransJakarta. Entah kenapa Pemprov DKI menamai layanan angkotnya dengan nama OK-OTrip dan memberikan kode rutenya dengan ‘OK-x’, yang mana x adalah penomoran rute yang terlalui.

Meskipun setelahnya kartu OK-OTrip berubah nama menjadi kartu JakLingko tetapi penyebutan nama layanan masih saja menggunakan nama kartunya yakni JakLingko. Kodenya pun berubah dari ‘OK-x’ ketika kartunya masih bernama OK-OTrip menjadi ‘JAK-xxx’ saat nama kartunya telah berubah menjadi JakLingko.

TransJakarta memang kemudian mengenalkan nama Mikrotrans sebagai nama layanan angkotnya, tetapi yang mengherankan yakni seringkali logo TransJakarta sebagai operator yang terpasang pada bagian depan dan belakang angkot justru berukuran lebih kecil daripada logo JakLingko. Livery yang terpasang pada badan angkot pun mengikuti desain khas yang ada pada kartu bank rebranding JakLingko.

Livery baru pada layanan angkot Mikrotrans. Perubahan livery menjadi lebih mirip dengan desain kartu bank rebranding JakLingko menjadi hal yang patut membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kesalahan penggunaan logo JakLingko pada bagian depan angkot masih terjadi, begitu pula kesalahan penggunaan kode 'JAK-xxx'. Kesalahan paling fatal terlihat pada pintu supir angkot yang mana tertera logo besar bertuliskan 'JakLingko'. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra
Livery baru pada layanan angkot Mikrotrans. Perubahan livery menjadi lebih mirip dengan desain kartu bank rebranding JakLingko menjadi hal yang patut membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kesalahan penggunaan logo JakLingko pada bagian depan angkot masih terjadi, begitu pula kesalahan penggunaan kode ‘JAK-xxx’. Kesalahan paling fatal terlihat pada pintu supir angkot yang mana tertera logo besar bertuliskan ‘JakLingko’. | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Permasalahan tersebut kian berlanjut ketika angkot Mikrotrans mendapatkan livery terbaru. Lucunya, livery terbaru ini memiliki kelir dan ornamen yang semakin mirip dengan yang terdapat pada kartu bank rebranding JakLingko. Terlebih lagi, ada pula livery baru model awal yang menempatkan logo JakLingko dengan ukuran sangat besar pada badan angkot tepatnya di pintu sopir dan pintu depan penumpang. Masalah pada livery lama berupa logo JakLingko yang lebih besar dari logo TransJakarta pada sisi depan dan belakang angkot pun tidak mendapat perhatian.

Saran kepada Pihak TransJakarta

Bagi penulis, permasalahan penyebutan nama antara ‘Mikrotrans’ dengan ‘JakLingko’ kian hari semakin sulit untuk terluruskan seperti halnya permasalahan penggunaan istilah antara ‘Commuter Line’ dengan ‘KRL’. Pihak TransJakarta sendiri juga terkesan tidak kooperatif dengan masalah yang terjadi di lapangan. Hingga pada akhirnya humor tingkat tinggi terjadi ketika penumpang Mikrotrans yang kurang atau bahkan tidak puas dengan layanan tersebut menyampaikan keluhan kepada PT JakLingko Indonesia hanya karena penyebutan ‘angkot Jaklingko’.

Seminar TerWhoBung yang dihadiri oleh penulis sendiri. Penulis tidak melihat kehadiran angkot Mikrotrans di atas panggung tersebut | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama
Seminar TerWhoBung yang dihadiri oleh penulis sendiri. Penulis tidak melihat kehadiran angkot Mikrotrans di atas panggung tersebut | Foto: RED/ Adrian Falah Diratama

Sampai saat ini penulis pun tidak mengetahui mengapa pihak TransJakarta terus mengidentikkan layanan mereka dengan JakLingko. Suatu hal yang ganjil dan tidak masuk akal apabila mendengar para penumpang berkata ‘angkot JakLingko’ karena seolah-olah mereka sedang menaiki sebuah kartu transportasi. Jika terpikirkan, ini seperti mendengar Dongeng Aladdin pada Kisah 1001 Malam dan permadani terbangnya. Bedanya, Aladin modern mungkin bernama Jamaludin dan justru tinggal di DKI Jakarta. Jamaludin sehari-hari terbang secara cuma-cuma dengan duduk bersila di atas kartu transportasi JakLingko. Betapa aneh untuk didengar!

Penulis berharap pihak TransJakarta mempertimbangkan hal ini dengan kembali mengubah livery layanan Mikrotrans mereka dengan livery lainnya yang tidak memiliki kemiripan dengan garis desain kartu milik PT JakLingko Indonesia. Mungkin livery tersebut bisa terinspirasi dari livery yang  terpasang secara luas pada layanan bus TransJakarta seperti BRT TJ, NBRT TJ, hingga Royal Trans. Penulis tidak mengetahui dengan pasti nama seragam tersebut. Yang pasti, PT Transportasi Jakarta dapat memilih model yang lebih identik dengan TransJakarta dan membedakannya dengan layanan bus yang telah ada dengan warna yang belum terpakai. Apabila pada BRT TJ sudah ada warna biru (dan merah pada livery ASEAN), pada NBRT TJ telah ada warna oranye dan hijau toska, serta pada Royal Trans sudah tergunakan warna ungu, TransJakarta dapat mempertimbangkan pemakaian warna kuning pada layanan angkot Mikrotransnya.

Selanjutnya, penggunaan logo JakLingko pada livery juga patut terperhatikan. Logo JakLingko berukuran besar pada pintu supir harus tergantikan dengan logo TransJakarta yang berukuran besar. Penggunaan logo JakLingko yang lebih besar daripada logo TransJakarta pada bagian depan dan belakang badan angkot juga menurut penulis merupakan sebuah kesalahan. Logo TransJakarta harus berukuran lebih besar daripada logo JakLingko dan menempatkan tambahan logo lainnya yakni logo Mikrotrans yang berukuran sama besar dengan logo TransJakarta atau lebih besar daripada logo JakLingko.

Yang tidak kalah pentingnya yakni perubahan kode rute dari ‘JAK-xxx’ menjadi ‘MIK-xxx’. Hal ini sangat penting untuk terealisasi mengingat kode ‘JAK’ sangat erat kaitannya dengan JakLingko sehingga penggantian menjadi ‘MIK’ yang berkaitan dengan nama layanan Mikrotrans merupakan suatu kewajiban. Dengan menyebut ‘MIK’ penumpang tidak lagi akan mengaitkan Mikrotrans dengan JakLingko terlebih lagi salah menyebut Mikrotrans sebagai JakLingko.

Penutup

Bagaimana para pembaca, apakah sudah mengerti perbedaan antara Mikrotrans dengan JakLingko? Mudahnya, Mikrotrans ialah layanan PT TransJakarta dengan menggunakan armada angkot sementara JakLingko merupakan produk dari PT JakLingko Indonesia berupa kartu bank rebranding Jaklingko, Kartu Multi Trip (KMT) rebranding Kartu Transportasi JakLingko, dan aplikasi super JakLingko.

Jadi, apakah pembaca sekalian masih ingin duduk dan terbang di atas kartu JakLingko atau mempertimbangkan untuk menggunakan layanan angkot Mikrotrans? Pilihan paling bijaksana ada pada para pembaca sendiri. (RED/ AFD)


Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Donasi yang Anda berikan sangat membantu kami untuk terus beroperasi dan meningkatkan kualitas informasi yang kami sajikan. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer di bawah ini

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×