Fakta KAInternasionalKereta ApiKolomOpini

[OPINI] Ular Besi Berkasur: Di Balik Ide Kereta Tidur Terjangkau

dari kiri ke kanan, kereta tidur bima, nightjet, KTMB Intercity, dan Sunrise Express
Ilustrasi: Empat contoh untuk studi kasus kita: PJKA Bima, OBB Nightjet, KTMB Intercity, dan JR Central Sunrise Express. | Sumber: (Dari kiri ke kanan) Indra Krisnamurti via Facebook; Lukas3333, CC BY-SA 4.0, Via Wikimedia Commons; YJJcoolcool, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons; Maeda Akihiko, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Artikel di bawah ini adalah opini dari Penulis sebagai anggota Tim REDaksi. Penulisan opini ini tidak mewakilkan pandangan resmi dari keseluruhan Tim REDaksi.

Pada hari Selasa, 11 Oktober 2023, KAI merilis layanan dan sarana terbarunya yakni kereta compartment suites. Peluncuran kereta yang berkode T1 ini menandakan kembalinya kereta tidur pada jalur perkeretaapian Indonesia. Kereta berwarna biru gelap ini disambungkan dengan KA Bima dan Argo Semeru, membuat kereta compartment suites menjadi spiritual successor KA Tidur Bima milik PJKA.

Ilustrasi: Fasilitas kursi yang dapat rebah di kereta compartment suites | Foto: Rizki Fajar Novanto

Sesuai dengan namanya, fasilitas yang kereta ini tawarkan ialah ruang kompartemen kecil untuk satu orang yang dilengkapi oleh kursi mewah nan canggih serta desain interior yang elegan. Kursi pada setiap kompartemen dapat diatur kemiringannya baik backrest maupun footrest dengan pengendali layar sentuh pada armrest sebelah kanan. Selain kursinya yang high-tech, setiap kompartemen juga dilengkapi lampu yang dapat diredupkan, Layar Entertainment-on-Board (EoB), serta pengendali AC tersendiri. Tak hanya berhenti di situ, penumpang pun masih dimanjakan dengan camilan, salad, dan makanan berat yang disajikan dengan piring dan peralatan makan besi.

Uji dinamis kereta kompartemen dengan lokomotif vintage CC2018334
Ilustrasi: Uji dinamis kereta kompartemen yang dihela lokomotif vintage CC2018334. Kereta ini menjadi yang pertama kali menyandang kode “T1” sejak diberhentikannya kereta tidur Bima. | Foto: Zacky Fahd Mustafa

Sebenarnya, sebelum kereta compartment suites men-debut-kan dirinya, ada kereta-kereta lainnya yang menawarkan fasilitas serupa, yakni kereta kelas luxury. Kereta mewah yang di pionir oleh dirut KAI kala itu, Edi Sukmoro ini kurang lebih memiliki konsep yang sama dengan compartment suites, minus bilik pribadi. Luxury Gen pertama dirilis beriringan dengan peluncuran kereta stainless steel generasi pertama pada tahun 2018 lalu generasi kedua pada tahun 2019. Yang membedakan antara keduanya ialah susunan kursinya, di mana gen 1 memiliki susunan kursi 1-1, dan gen dua berkonfigurasi 2-1.

Bila Anda perhatikan, ada sebuah pola yang muncul dari serangkaian layanan ini. Semuanya memiliki kursi yang dapat direbahkan sampai nyaris datar dan semuanya memiliki harga tiket yang fantastis. Jadi, semua kereta tidur saat ini tidak dapat dijangkau oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Permasalahan Terhadap Kereta Tidur Saat Ini

Berdasarkan pengamatan, Penulis menemukan setidaknya dua permasalahan dari layanan kereta tidur yang kita punya saat ini: harga dan fasilitas.

1. Harga

Ilustrasi: Dua KA yang memiliki kelas compartment suites. Terlihat harga yang dipatok diatas dua juta, cukup mahal untuk kelasnya. | Foto: Access by KAI

Berdasarkan pantauan tim REDaksi, saat ini kereta kelas compartment suites dalam KA Bima atau Argo Semeru tujuan Gambir-Surabaya Gubeng dipatok dengan harga 2,05 hingga 2,25 juta Rupiah. Sementara melalui pantauan situs booking.kai.id untuk KA Argo Bromo Anggrek Gambir-Surabaya Pasar Turi, Tiket kelas luxury ditawarkan dalam rentang harga 1,18 hingga 1,58 juta Rupiah.

Mempertimbangkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan pada kelas tersebut serta faktor-faktor seperti Track Access Charge dan jarak tempuh perjalanan, wajar saja harganya cukup merogok rekening. Namun, bagi kita yang hanya mau merebahkan badan kita, ini masih tergolong terlalu mahal.

2. Fasilitas

Ilustrasi: Interior kereta kompartemen dengan kursi yang bisa rebah 180 derajat | Foto: Rizki Fajar Novanto

Pada kereta kelas suites compartment dan kelas luxury baik gen 1 ataupun 2 sama-sama menggunakan kursi lebar yang dapat direbahkan menggunakan kontrol pada bagian armrest atau panel samping. Alasan dibalik penggunaan kursi berakar dari regulasi dari Kemenhub yang memandatkan secara tidak langsung bahwa kursi penumpang yang digunakan untuk fasilitas tidur tidak boleh lebih dari 170°. Mandat ini dimaksud untuk menjaga keselamatan penumpang.

Walau terlihat nyaman, sebenarnya fasilitas kursi sebagai tempat tidur ini terlalu rumit untuk tujuan utamanya, yakni sebagai tempat tidur. Kereta tidur sejatinya adalah kereta berkompartemen yang berisi satu sampai enam tempat tidur dalam satu kompartemennya. Fasilitasnya pun berupa kasur atau kursi yang bisa dikonversi menjadi kasur, lengkap dengan bantal dan juga selimut.

Berdasarkan pengamatan tersebut, berarti kita mempunyai tiga objektif utama, yakni: menurunkan harga tiket, meningkatkan kapasitas, serta mengembalikan fasilitas kasur pada kereta tidur. Lantas, tolak ukur apa yang bisa KAI gunakan? Dalam tajuk rencana ini, saya menyarankan untuk mempelajari dari empat kasus: KA Bima binaan PJKA, KTMB Intercity, KA Nightjet terobosan ÖBB, dan KA Sunrise Express milik JR Central.

Menapak Tilas Sang Biru Malam

Ilustrasi: Bima, kereta paling mewah di Indonesia pada masanya. | Sumber: Indra Krisnamurti via facebook

Kereta Api Bima, diambil dari nama sebuah tokoh cerita Mahabharata merupakan layanan kereta api yang memiliki rute relasi Jakarta hingga Surabaya pulang pergi. Sebelum menjadi kereta kelas eksekutif + kompartemen, awalnya KA Bima merupakan rangkaian kereta tidur yang paling mewah pada masanya. Ini akan menjadi kasus studi pertama kita.

Diluncurkan pada 1 Juni 1966, KA Bima merupakan kereta bendera milik PJKA yang melayani penumpang pada relasi Jakarta-Surabaya via jalur selatan melewati kota-kota seperti Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo dan Madiun. Kereta ini merupakan satu-satunya kereta tidur yang dimiliki oleh PJKA, di mana sebelumnya layanan kereta serupa dirintis oleh maskapai perkeretaapian Belanda, Staatsspoorwegen dengan kereta benderanya yakni Java Nacht Express.

KA Bima mempunyai dua rangkaian berwarna biru toska yang masing-masing dinamai Bima I dan Bima II. Setiap rangkaian terdiri atas dua kereta tidur kelas 1 (SAGW), 2 kereta tidur kelas 2 (SBGW), 1 kereta makan (FW), 1 kereta bagasi dan 1 kereta pembangkit (DPPW) dan ditarik oleh lokomotif seperti BB 301, BB 200, BB 201, dan CC 201. Seluruh kereta yang termasuk dalam rangkaian ini dimanufaktur oleh Gorlitz Waggenbau, Jerman Timur (kecuali kereta bagasi yang kadang ditukar).

Ilustrasi: Eksterior dan interior kereta SAGW. Terlihat bahwa kasur bawah dapat dilipat menjadi kursi. | Sumber: Dokumentasi PJKA

Untuk kereta kelas tertinggi KA Bima, yakni SAGW disediakan kompartemen dengan kapasitas dua orang. Setiap kompartemen memiliki fasilitas-fasilitas seperti dua tempat duduk berhadap-hadapan sejajar arah kereta yang bisa dilipat menjadi satu kasur, satu kasur lipat di bagian atas, tangga untuk naik ke kasur bagian atas, serta kabinet yang berisi lemari, botol air minum, gelas, cermin, serta wastafel lipat.

Ilustrasi: Eksterior dan interior kereta SBGW. Kelas ini dapat menampung lebih banyak penumpang per kompartemen. | Sumber: Dokumentasi PJKA

Kelas kedua KA Bima, SBGW merupakan kereta tidur model couchette (baca: kuset) yang berkapasitas empat orang per ruangnya. Fasilitas yang ditawarkan berupa dua kursi bersandaran tegak yang menjadi kasur bawah, dua kasur bagian atas, tangga, serta meja kecil dekat jendela. Perbedaan paling mencolok bila dibandingkan dengan SAGW ialah susunan tempat duduknya yang tegak lurus dengan arah kereta, seperti umumnya kereta tidur kelas bawah.

Untuk setiap tiket yang dijual, baik itu kelas 1 atau pun 2 sudah termasuk dengan makan malam. Setiap penumpang secara bergilir akan dipanggil oleh pramugari untuk makan malam di kereta makan. Di saat mereka sedang menyantap hidangan, para pramugari menyiapkan semua ruangan dari bentuk kursi menjadi kasur tingkat. Lalu ketika selesai makan, para penumpang dapat tidur dengan nyenyak sampai tujuan keesokan harinya.

Melihat Rumput Tetangga: KTMB Intercity

Ilustrasi: Kereta antar kota milik Malaysia, KTMB Antarbandar yang kadang membawa kereta tidur ekonomi. | Sumber: YJJcoolcool, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons

Sebagus-bagusnya fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan oleh KA BIMA, mereka tidak bertahan lama. Sekarang, semua kemewahan telah menjadi bagian sejarah perkeretaapian Indonesia yang hanya terdokumentasi dalam arsip gambar maupun literatur.

Walaupun begitu, kita masih bisa melihat salah satu contoh yang masih beroperasi hingga sekarang. bahkan, kita tidak perlu berkelana terlalu jauh untuk melihat kereta tidur ‘sejati’ ini. KTMB selaku operator kereta Negeri Jiran ini mempunyai layanan kereta antar kota yang mereka sebut sebagai KTM Intercity. Dan pada salah satu rutenya yang cukup jauh, mereka menggunakan kereta tidur.

Melansir dari Railtravel Station, ada tiga jenis kereta tidur yang mereka operasikan (mengecualikan blue train hibahan jepang), yakni: Air-Conditioned Day-Night Second Class (ADNS), Air-Conditioned Day-Night First Berth (ADNFB), dan Air-Conditioned Day-Night First Deluxe (ADNFD). Tapi, untuk studi kasus kali ini, kita akan berfokus di kelas ADNS.

ADNS adalah kereta tidur kelas dua bertipe berths dua tingkat dengan kapasitas 40 penumpang per kereta. Kereta ini diproduksi oleh Hyundai-Kawasaki Industries pada tahun 1992 dengan total 40 unit yang dibagi menjadi dua kloter/batch. Saat ini, hanya 9 unit yang masih dinas secara reguler dengan sebagian besar melayani kereta Ekspres Rakyat Timuran dari Johor Bahru Sentral sampai Tumpat.

Ilustrasi: Interior dari kereta tidur ADNS. Populasi kereta ini sekarang berkurang dan hanya dapat dijumpai di KA Ekspres Rakyat Timuran. | Sumber: NicholasLimMJ, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons

Interior kereta ini dibagi menjadi 20 partisi. Setiap partisi memiliki dua kursi kecil berhadapan, meja kecil di tengah bawah jendela, serta tangga untuk akses ke kasur atas yang dilipat ke dinding kereta. Ketika malam hari tiba, kursi pada bagian bawah dapat dilipat menjadi sebuah kasur serta kasur bagian atas pun dibuka dan dipasangkan seprei. Untuk kasur atas, terdapat jendela kecil untuk melihat pemandangan.

Selain itu, terdapat fasilitas lain seperti tirai, lampu, bantal, dan selimut. Pada ujung kereta terdapat dua toilet, dengan satu sisi merupakan toilet jongkok, dan sisi sebelahnya merupakan toilet duduk. Sayangnya, harga tiket tidak termasuk sarapan, jadi Anda harus merogoh dompet Anda untuk membeli sarapan di kereta restorasi.

Yang Termutakhir di Eropa: ÖBB Nightjet

Ilustrasi: ÖBB Nightjet, kereta tidur antar-negara yang baru saja mendapat kereta tidur paling baru di Eropa. | Sumber: Rob Dammers, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons

Baiklah, contoh yang kita baru saja lihat adalah contoh yang baik. Namun, sarana mereka cukup tua, sudah kepala tiga malah. Apakah ada sebuah contoh kereta tidur yang lebih baru? Untungnya di belahan bumi bagian barat, ada sebuah operator kereta dari Austria yang telah merilis kereta tidur terbarunya, ÖBB Nightjet.

Nightjet adalah layanan kereta tidur yang dioperasikan oleh Österreichischen Bundesbahnen (ÖBB), operator kereta api nasional Austria. Kereta tidur ini melayani berbagai rute internasional dari Austria ke Perancis, Republik Ceko, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, dan Italia. Karena cakupan rutenya yang luas, serta akibat ditutupnya layanan kereta tidur internasional dari DB (Operator kereta nasional Jerman), Nightjet menjadi primadona para pelancong ataupun karyawan yang kerap dinas keluar negeri.

Ilustrasi: Kereta couchette milik ÖBB Nightjet yang memiliki kompartemen ‘kapsul’ mini-cabin. | Sumber: Mark Smith, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Pada studi kasus ini, kita akan menaruh fokus kita ke rangkaian nightjet new generation yang diproduksi oleh Siemens. Pada setiap rangkaian kereta tersedia enam kelas, yakni seat car, barrier-free compartment comfort, couchette car comfort, mini cabin, Sleeping car comfort, dan sleeping car comfort plus. untuk relevansi, kita akan hanya membahas kelas pada couchette car.

Pada kereta couchette kita memiliki dua kelas dengan salah satunya merupakan terobosan baru untuk kancah perkeretaapian Eropa. Pada satu kereta couchette terdapat 7 x 4 mini-cabin dan tiga couchette car comfort. Bila dilihat secara sekilas, couchette car comfort memiliki fitur-fitur dasar yang Anda dapat temui pada kebanyakan kereta tidur kelas dua ataupun kelas tiga. Setiap kompartemen dilengkapi dua pasang tempat tidur tingkat dan perlengkapan tempat tidur seperti biasanya. Dan di bagian pintu, terdapat sebuah tangga untuk memanjat ke kasur dek atas. Satu-satunya perbedaan couchette car comfort dan sleeping car comfort adalah tiadanya kamar mandi dalam kompartemennya.

Ilustrasi: Infografis Kelas mini-cabin dan couchette car comfort. | Sumber: seat61.com; Mark Smith, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons; nightjet.com, diolah kembali oleh litbang RED.

Mari kita lanjut ke bintang utama kereta ini: couchette car mini-cabin. Kelas kereta tidur ini dibuat sedemikian rupa seperti hotel kapsul yang Anda dapat temui di Jepang. Pada setiap ruang memiliki sebuah kasur dengan perlengkapannya, pengatur pencahayaan dan suhu, stop-kontak tipe Eropa, tempat pengisian daya HP nirkabel dan meja geser yang dapat dilipat menjadi cermin. Di bagian luar terdapat loker yang dibuka dengan kartu tiket Anda untuk menyimpan tas dan sepatu. Fitur-fitur lain meliputi penyimpanan tambahan di bawah kasur, jendela nan mungil, dan pembatas antara dua ruang yang dapat Anda buka bila Anda bepergian berdua.

Menjadi Kaum Terakhir di Tempat Asalnya: JR Central Sunrise Express
Sunrise Express, kereta tidur yang memiliki kelas “ekonomi” yang cukup menarik. | Sumber: Mitsuki-2368, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons

Di suatu negeri matahari terbit, terbentang sebuah jalur kereta cepat yang menyambung dua kota besar, Tokyo dan Osaka. Bermula dari situ, mereka mulai berkembang pesat dan mulai menyambung kota-kota lainnya. Dari ekspansi tersebut, muncul sebuah konsekuensi. Yang di mana awalnya kereta konvensional seperti kereta jarak jauh dan kereta tidur merajai rute tersebut akhirnya tergerus. Kali ini, kita akan melihat salah satu kereta tidur reguler terakhir milik Jepang, yakni Sunrise Express.

Sunrise Express adalah layanan kereta tidur yang dioperasikan oleh JR Central yang membawa penumpangnya dari Tokyo ke bagian selatan Jepang. Kereta ini dibagi menjadi dua layanan, yakni Sunrise Seto dan Sunrise Izumo. Kedua kereta ini mempunyai titik keberangkatan yang sama dan bahkan dirangkaikan menjadi satu. Pada saat hendak berpisah, kedua kereta akan dipisahkan di Stasiun Okayama. Kereta ini memiliki 8-18 pemberhentian di sepanjang rutenya tergantung kereta apa yang Anda naiki. Sunrise Seto memiliki relasi rute Tokyo-Takamatsu dan Sunrise Izumo yang memiliki rute lebih panjang dapat mengantar penumpangnya dari Tokyo Hingga Izumo di Prefektur Shimane.

Setiap rangkaian memiliki 2 x 7 kereta per set yang menggunakan kereta rel listrik seri 285 milik JR Central. Kereta ini memiliki model double decker untuk mengakomodasi lebih banyak penumpang per rangkaiannya. Sunrise Express menyediakan berbagai jenis akomodasi dari yang paling mewah hingga yang paling sederhana. Kelasnya meliputi single deluxe, sunrise twin, single twin, single, solo, dan nobi-nobi. Untuk kali ini, kita akan membahas single, twin single, dan nobi-nobi.

Infografis Kelas Single dan Single-twin. | Sumber: jr-odekake.net; W0746203-1, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons; Hinpon, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons, diolah kembali oleh litbang RED.

Kelas single memiliki kompartemen satu kasur yang lengkap dengan selimut, bantal, dan baju piama. Selain itu, terdapat juga meja, pengatur lampu dan heater, radio, stop kontak, dan jendela yang cukup besar. Sementara itu, ada kelas single twin pada kereta yang sama. Dalam satu kompartemen yang berisi dua kasur ini terdapat fasilitas yang mirip dengan kelas single, hanya saja lebih sempit dan tak ada meja tambahan.

Infografis Kelas Solo dan Nobi-nobi. | Sumber: jr-odekake.net; W0746203-1, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons; Hinpon, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons, diolah kembali oleh litbang RED.

Berlanjut ke kelas solo. Pada dasarnya, kelas solo hanyalah kelas single yang sedikit lebih sempit. Kelas ini tersedia di kereta 3 dan 5. Gelar kelas paling murah di Sunrise Express jatuh pada kelas nobi-nobi. Kelas ini pada dasarnya hanya sekedar alas tidur. Pihak operator hanya akan memberi Anda sebuah selimut, tidak ada tambahan lain. Bahkan, tidak ada stop kontak di kelas ini. Kelas nobi-nobi hanya ada di kereta nomor 3.

Selain tempat tidur, terdapat fasilitas lain yang penumpang dapat akses seperti toilet, kamar mandi (terdapat sistem kuota waktu untuk fasilitas ini) dan observation deck. Sunrise Express saat ini menjadi kereta tidur reguler yang masih beroperasi di seluruh Jepang. Kereta tidur yang lain sudah berubah menjadi layanan mewah “limited express” yang memiliki jadwal operasi yang acak.

Apa Yang Kita Bisa Contoh Dari Mereka?

Setelah menelaah ketiga studi kasus tersebut, apa yang dapat kita petik dari mereka? Dari observasi kita, sebuah kereta tidur mempunyai dua tipe untuk kelas ekonominya, yakni model couchette, model mezzanine, dan model kapsul. Ketiga model ini dapat dipasangkan dalam satu rangkaian beserta dengan kereta tidur kelas 1. Mari kita bahas dan telaah satu-satu.

A. Model Couchette/kuset

Model couchette atau kuset merupakan model kereta tidur paling umum di dunia perkeretaapian. Tipe ini sering ditemui di kereta tidur antarkota kelas dua atau tiga. Kuset ini sendiri ada yang bertipe kompartemen dan yang bertipe terbuka. Kuset tipe terbuka biasanya tidak memiliki dinding pembatas antara kasur dan lorong utama. Kadang kala pembatas yang ada hanyalah sebuah tirai sederhana. Sementara itu, kuset tipe kompartemen dapat menawarkan ruangan yang lebih senyap dan privat, walau anda masih harus berbagi tempat dengan orang lain. setiap kuset dapat memiliki dua sampai enam kasur per ‘ruang’nya, tergantung seberapa luang interior kereta serta ruang bebas yang ditetapkan oleh operator.

Pada desain di atas, penulis menerapkan jenis kuset tipe kompartemen untuk kenyamanan dalam segi suara. Untuk aspek keamanan, sistem kunci pintu dengan kartu dipasangkan pada seluruh kompartemen. Kereta tidur diatas memiliki fasilitas-fasilitas yang dapat anda harapkan di kereta tidur kuset lainnya seperti empat kasur rata yang lengkap dengan selimut dan bantal, meja kecil di bagian tengah dengan inden untuk cup holder, sebuah tangga yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan, serta fitur-fitur umum lainnya seperti steker listrik tipe internasional, USB type A dan Type C dengan kapabilitas fast-charging, dan ruang bawah untuk barang bawaan. Tak hanya sampai situ, kereta tidur ini juga memiliki dua toilet dan satu kamar mandi yang bersistem token batas waktu. Setiap kereta dengan konfigurasi ini dapat menampung sebanyak 32 penumpang. (RED/DS)

B. Model Mezzanine

Berlanjut ke model selanjutnya, mezzanine. Mezzanine memiliki arti yakni lantai tengah (atau lantai-lantai) pada bangunan yang terbuka ke lantai di bawahnya. Kurang lebih sebuah lantai dua yang berlubang besar. Pada desain ini, saya menerapkan konsep mezzanine untuk menciptakan sebuah konsep tempat tidur yang menyerupai sebuah ruang pribadi atau ‘kapsul’.  Sejauh ini, kereta tidur dengan layout spesifik seperti ini belum ada. Namun susunan tempat tidur serupa dapat anda temui di kereta tidur KTMB Malaysia dan Sunrise Express milik Jepang.

Kereta tidur layout mezzanine dapat menampung sebanyak 28 penumpang dengan susunan paling sederhana. Beberapa konsep buatan firma desain yang mengadopsi layout serupa dapat mengoptimalisasi ruang yang ada, membuatnya dapat menampung lebih banyak penumpang. Setiap ‘ruang’ penumpang memiliki kasur dan perlengkapannya, meja lipat yang dapat digeser, steker listrik beserta colokan untuk gawai, serta pengatur suhu dan lampu. Konsep mezzanine sebenarnya dapat dibuat terbuka untuk mengakomodasi kelas yang lebih rendah untuk harga yang lebih terjangkau. Selain ruang kasur, terdapat juga satu toilet dan ruang bagasi.

C. Model Kapsul/Pods

Mengambil inspirasi dan referensi yang signifikan dari kelas mini-cabin milik Nightjet New Generation, konfigurasi kapsul atau pod merupakan konsep yang bertujuan untuk menjaga jumlah kapasitas dari konfigurasi kuset sekaligus memberi privasi lebih bagi mereka yang bepergian secara solo. Konsep ini sebenarnya bukan hal yang baru, di mana konsep serupa dapat ditemukan di hotel kapsul seperti bobobox dan sejenisnya. Tapi untuk membawa konsep ini di atas rel merupakan pencapaian bagi dunia perkeretaapian.

Konfigurasi dua tingkat ini memiliki 38 ‘kapsul’ tempat tidur pribadi dengan fasilitas serupa dengan konsep mezzanine, hanya saja dengan jendela yang jauh lebih kecil. Di antara kapsul-kapsul, terselip sebuah loker untuk barang bawaan para penumpang yang dapat dibuka dengan kartu penumpang. Khusus untuk kapsul bawah, terdapat ruang penyimpanan tambahan pada bawah kasur.  Setiap kereta hanya dilengkapi satu toilet. Namun, penulis percaya bahwa desain ini masih dapat dioptimalkan untuk menampung dua toilet serta ekstra satu pasang kasur.

Kesimpulan Akhir
Ilustrasi jenis-jenis kereta tidur
Illustrasi: Ada banyak cara untuk menempatkan sebuah tempat tidur di dalam sebuah kereta. Gambar ini hanya mencakup tipe-tipe umum | Gambar: RED/Dimasyah Sylva

Baiklah, apa saja yang telah kita pelajari hari ini? Cukup banyak. Yang pasti, kita sudah nyaris berhasil (walau tidak sempurna) untuk menjawab tiga tujuan utama kita. Pertama, kita sudah melihat empat contoh kasus yang telah menunjukkan kita bahwa kereta tidur itu bisa modern sekaligus terjangkau. Kedua, kita telah mendesain tiga opsi layout hasil studi kita yang memungkinkan kita untuk menambah kapasitas penumpang dan mengembalikan kodrat kereta tidur, yakni adanya tempat tidur itu sendiri. Dan yang ketiga, dengan asumsi modifikasi yang relevan seperti hanya menyediakan kasur dan bantal, membuat tempat tidur menjadi ruang semi terbuka, dan sistem penyajian makanan tetap menerapkan model KAJJ, seharusnya tiket kereta tidur ini memiliki rentang antara harga tiket KAJJ Ekonomi non-subsidi dan KAJJ Eksekutif non-argo.

Sekedar penafian, artikel opini ini tidak mencakup seluruh faktor yang dapat menghalangi dinasnya sebuah kereta tidur ‘sejati’. Saya membuat artikel ini sebagai alat bantu bagi pembaca untuk dapat membayangkan jikalau KAI dapat menyediakan sebuah layanan kereta tidur yang terjangkau, berkapasitas tinggi, dan memiliki sebuah kasur. Hal-hal seperti fasilitas, desain, dan konfigurasi merupakan titik utama yang penulis dapat beri masukan dalam bentuk referensi, studi kasus dan rancangan gambar. Penulis berharap suatu hari nanti di masa depan, kereta tidur Bima dapat kembali berdinas, menghidupakan kembali sebuah kebanggaan dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. (RED/DS)

Ikuti kami di WhatsApp dan Google News


Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×