Liputan Khusus: Beginilah Progres Reaktivasi Lintas Cibatu-Garut per Oktober 2019

Menuju Stasiun Garut

Jembatan Sasak Darekdok

Setelah meliput wilayah sinyal tebeng Ciwalen, Tim REDaksi pun meneruskan perjalanan menuju Stasiun Garut. Jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh jika langsung menyusuri baan. Hanya sekitar 400 meter saja. Seperti di sinyal tebeng Ciwalen, pemukiman penduduk yang sangat mepet dengan rel menjadi ciri khasnya. Sementara itu, terdapat banyak aktivitas di wilayah ini, baik itu aktivitas anak-anak yang sedang bermain, ataupun pekerja yang sedang membongkar rel lama.

Di tengah perjalanan, Tim REDaksi menemukan sebuah jembatan berukuran sedang di wilayah Darekdok. Di sekitar jembatan ini, terdapat sejumlah bekas rumah lantai dua yang telah dibongkar pada proses pembebasan lahan. Berdasarkan keterangan warga, sebelum dilakukan pembongkaran, rumah ini menjulang hingga dua lantai atau sejajar dengan jalur kereta. Selain itu disebutkan bahwa pemukiman di wilayah ini mulai banyak sejak 90an awal, dikarenakan kabar dari mulut ke mulut yang mengatakan aman-aman saja membangun bangunan permanen di trase jalur KA Cibatu-Garut yang saat itu mati.

Berikut adalah hasil liputan Tim REDaksi saat berjalan menuju Stasiun Garut:

Previous Image
Next Image

info heading

info content

Stasiun Garut

Bagian depan bangunan utama Stasiun Garut

Setelah berjalan sekitar 400 meter, tibalah Tim REDaksi di Stasiun Garut (GRT). Stasiun yang tergolong Stasiun Kelas II ini mempunyai emplasemen yang cukup besar, sepanjang sekitar 400 meter juga. Setelah ditutup pada tahun 1983 bersama dengan penutupan jalur Cibatu-Garut, emplasemen Stasiun Garut berangsur berubah menjadi pasar tradisional. Selain itu, bangunan Stasiun Garut juga berubah fungsi menjadi kantor sebuah organisasi masyarakat.

Pada saat Tim REDaksi melakukan liputan, tampak gedung utama Stasiun Garut yang sudah dicat kembali setelah dikembalikan fungsinya. Selain itu, juga tampak rumah-rumah dinas di sekitaran stasiun yang memiliki plang aset PT KAI. Dikarenakan tidak adanya pekerja yang mengerjakan bangunan ataupun orang PT KAI pada saat itu, Tim REDaksi tidak mendapat info apakah rumah dinas tersebut akan dipertahankan atau tidak.

Selain progres pada bangunannya, juga terdapat sejumlah bantalan beton serta rel R42 yang telah dipersiapkan di emplasemen Stasiun Garut. Namun, pada saat Tim REDaksi meliput ke Stasiun Garut pada tanggal 4 maupun 10 Oktober kemarin, belum ada persiapan untuk peletakan bantalan ataupun rel. Sementara wesel-wesel dan rel lama juga pada saat liputan sedang dibongkar.

Berdasarkan informasi yang Tim REDaksi himpun. Pada saat artikel ini diterbitkan, telah mulai dilaksanakan penataan geometri baan di emplasemen Stasiun Garut. Berikut adalah hasil liputan Tim REDaksi saat berada di Stasiun Garut:

Previous Image
Next Image

info heading

info content

Bagaimana Saya mengaksesnya?

Jika ada pembaca REDaksi yang jadi ingin ke Garut setelah membaca liputan ini, aksesnya sangat mudah. Tersedia banyak pemberangkatan bus dari Jakarta untuk menuju ke Garut. Perjalanan dari Jakarta ke Garut, tergantung kondisi lalu lintas dan pengemudi bus, dapat memakan waktu dari 3,5 hingga 6 jam. Selain bus tujuan Garut, pembaca juga dapat menggunakan bus tujuan Singaparna dan meminta turun di Terminal Garut.

Gambar mungkin berisi: bis dan luar ruangan
Salah satu contoh bus rute Jakarta-Garut dengan operator Primajasa

Setelah turun di Terminal Garut, pembaca dapat menggunakan angkot 07 (warna merah-putih) untuk mengakses Stasiun Garut dan Stasiun Wanaraja. Untuk mengakses Stasiun Garut, pembaca tinggal turun di bundaran perempatan Jalan Perintis Kemerdekaan/Jalan Guntur dan berjalan kaki ke selatan sejauh kurang lebih 400 meter. Untuk mengakses Stasiun Wanaraja, pembaca tinggal turun setelah Pasar Wanaraja dan berjalan kaki ke dalam jalan akses sejauh 500 meter.

Selain menggunakan angkot, pembaca juga bisa menggunakan angkutan berbasis online untuk ke Stasiun Wanaraja. Untuk pemesanan dari Terminal Garut ke Stasiun Wanaraja menggunakan ojek online sekitar Rp 25.000, sedang untuk taksi online sekitar 50.000. Jika membawa teman, lebih disarankan untuk patungan dengan menggunakan taksi online.

Tentu saja kita semua berharap agar reaktivasi jalur ini bisa kelak selesai tanpa hambatan, dan tepat waktu. Agar kita semua bisa menikmati kereta api kembali di Garut. (RED/IHF/TB)

loading...
Pages ( 2 of 2 ): « Sebelumnya1 2

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: