[Fiksi Bersambung] Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 3

Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 3

Sepiring besar gurame bakar, udang tepung, sayur kangkung, dua gelas es kelapa muda, dan sebakul besar nasi putih tersaji di atas meja. Taman yang asri disinari lampu-lampu temaram mengelilingi saung bambu, menambah nyaman dan hangatnya suasana.

“Hahahaha! Ini baru tempat yang cocok! Uenak pol, joss lah pokoke!”
“Ya tapi gua kaga punya duit, makanan mahal semua ini, Te..” keluh Cakra sambil melirik makanan yang berada di hadapannya.
“Tenang aja, Be.. Aku yang bayar semua! Makan aja sepuasnya, belum kenyang tambah lagi!” jawab Rian tersenyum lebar.
“Ya terserah lu sih, gua cuma kaga enak aja. Lagian kalo cuma mau bahas kertas itu di tempat sepi, kan bisa cari warkop yang kosong.”

Rian tidak membalas lagi ucapan Cakra. Ia segera mengeluarkan secarik kertas dari tas ranselnya. Sebuah kertas putih berukuran sekitar 14,85cm x 10,5cm dengan sobekan yang tidak rata di bagian kiri dan atasnya. Di salah satu sisinya ada tulisan:

semua Penumpang Kereta Api akan Tiba Di Stasiun Tujuan Dengan selamat jika Tertib Dan Berhati-Hati, bisa bertemu dengan Keluarga, saya Berharap Demikian.

Belum sempat Rian berkata-kata, Cakra angkat bicara terlebih dulu.
“Gua sebenernya udah tau maksud dari kertas itu,” kata Cakra sambil mengeluarkan sepotong kertas serupa yang sudah lecek dari kantong celananya.
Rian menatap Cakra dengan sinis, “Terus buat apa nelpon aku kalo kamu udah tau?”
“Gua udah tau, tapi gua butuh orang yang ngerti kereta. Soalnya ini berhubungan banget sama kereta. Makanya nelpon lu,” jawab Cakra.
Rian menghela nafas, “Oke, sekarang coba jelasin gimana maksudnya.”

“Lu perhatiin aja huruf awal setiap katanya, ada yang pake huruf kecil ada yang pake huruf besar. Kalo lu kelompokin semua kata yang huruf besar, kalimatnya jadi ga punya tujuan khusus: Penumpang kereta api tiba di stasiun tujuan dengan tertib dan berhati-hati keluarga berharap demikian. Tapi coba lu kumpulin kata yang awalnya huruf kecil aja, ini jadi kalimat tantangan: Semua akan selamat jika bisa bertemu saya,” jelas Cakra sambil membuat coret-coretan di kertas dengan pensilnya.

“Masuk akal.. Itu berarti kalo kita gak berhasil bertemu dengan orang yang nulis pesan ini, semua akan celaka? Terus apa maksud dari tulisan di baliknya?”

“Maksud lu angka di balik tulisan ini? Menurut gua cuma nomor urut biasa. Di kertas gua tertulis angka 1, berarti mungkin ini kertas sobekan pertama. Karena punya lu kiri sama atasnya doang yang kaga rata, punya gua kanan sama bawahnya doang yang kaga rata, bisa jadi totalnya cuma ada 4 sobekan alias kertas HVS dibagi 4,” jawab Cakra.

Rian tersenyum sambil membalik kertasnya, “Hmm.. Kertas HVS dibagi 4 mungkin bener, sayangnya soal angka itu kamu salah. Soalnya punyaku tulisannya bukan angka, tapi huruf KA.”

Cakra tampak kaget dan bingung. Mereka belum bisa memahami maksud dari angka 4 dan huruf KA itu. Saat mereka memilih untuk kembali menyantap hidangan, tiba-tiba pesan singkat masuk ke ponsel Cakra dan Rian secara bersamaan.

~ Bersambung

Cerita sebelumnya: Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 2

Cerita selanjutnya: Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 4

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

TB Gemilang Pratama

Railway Enthusiast | Bus Enthusiast | Enterpreneur | Free Thinker with Responsibility |

One thought on “[Fiksi Bersambung] Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 3

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: