[Fiksi Bersambung] Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 7

Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 7

“Woi, ayo buruan keretanya mau berangkat!” seru Cakra.
“Santai ae, Be.. Iki lho belum selesai,” sahut Rian di depan cermin toilet.
“Lu rapiin rambut aja lama banget kek bocah alay!”
“Daripada kamu sebulan gak ganti baju!” balas Rian.

Kereta api Joglosemarkerto diberangkatkan tepat waktu dari stasiun Semarang Tawang. Sepanjang perjalanan, Rian bercerita tentang jalur yang akan mereka lewati. Jalur yang menghubungkan Semarang – Solo lewat Tanggung adalah jalur kereta api tertua di Indonesia. Cakra mendengarkannya sambil melihat pemandangan di luar jendela. Sampai kemudian Rian beralih topik.

“Be, aku baru inget. Biasanya kamu selalu bareng sama temenmu iku lho, siapa namanya?”
“Aldi?”
“Nah, Aldi. Dia kemana? Gak kamu ajak? Setiap kita ada kasus juga dia sering ikut kan..”

Cakra terdiam sambil tetap menatap ke luar jendela. Ia tidak membalas pertanyaan Rian. Raut wajahnya tampak gusar.

“Be, ada masalah? Ayo cerito-cerito lah, aku kan koncomu. Siapa tau bisa bantu,” bujuk Rian.
Cakra menghela nafas, “Aldi bukan urusan lu. Dia bocah gua. Kalo dia ikut pas kita ada kasus, itu karena dia sama kayak kita, suka dunia penyelidikan.”
“Dia tangan kananmu di basis sekolahanmu kan? Aku gak ngerti dunia pertawuranan, tapi keliatane kamu ada masalah sama dia. Pengkhianatan?” tanya Rian terus berusaha menggali informasi.
“Basis sekolah itu bukan tentang tawuran! Lu harus ngerti itu! Soal Aldi, gua kaga ada masalah apa-apa sama dia, tapi dia yang bikin sendiri masalah sama gua!” bentak Cakra.

Seisi kereta menengok ke arah Cakra. Rian memalingkan muka menahan rasa malu. Tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar.

“Be, sorry lho bukan maksudku nyinggung perasaan. Aku beneran gak ngerti duniamu sama temen-temen sekolahmu itu. Tapi orang yang suka penyelidikan, kayak aku dan kamu juga, pasti bakal selalu penasaran sama jawaban yang belum ketemu. Kamu jawab gitu pas aku tanya soal Aldi, bikin aku makin penasaran..”
“Oke, tapi lu jangan marah,” potong Cakra.

Cakra lanjut bercerita, “Gua lupa kejadian persisnya kapan, tapi belom terlalu lama. Di suatu perjalanan kereta api, ada maling ketangkep. Malingnya bukan sembarang maling, yang dicuri itu dokumen penting milik anggota DPR. Kejadiannya juga bukan di kereta ekonomi, tapi kereta eksekutif. Nah ketangkepnya si maling itu karena ada seorang pemuda seumuran kita yang ngikutin dan merhatiin itu maling. Dia tau rencana si maling mau ke gerbong paling belakang buat mutusin gerbong itu dan narik rem darurat di lokasi sepi, supaya bisa kabur. Pemuda ini ngasihtau ke polsuska dan kondektur, mereka susun rencana. Si pemuda ngalangin maling itu di sambungan antar gerbong, ngulur-ngulur waktu sambil nantangin si maling. Pas malingnya ngancem mau ngelempar pemuda itu ke luar, polsuska nangkep dia dari belakang. Maling itu berhasil diringkus dan dijeblosin ke penjara. Nah, ternyata si maling itu kakaknya Aldi.”

“Lho, terus apa hubungannya sama dia bikin masalah sama kamu?” tanya Rian.
“Sejak kejadian itu, setiap gua ada urusan penyelidikan, dia selalu tanya gua sama siapa. Nah, pas sekarang kita terjun di misi ini, gua bilang kalo gua jalan sama lu. Dia langsung gak mau ikut,” jawab Cakra.
“Lah, emang opo hubungane sama aku? Aku aja baru tau cerita itu dari kamu sekarang,” balas Rian bingung.
“Halah, lu ga usah pura-pura ga tau. Pemuda yang ngikutin terus nyusun rencana bareng polsuska buat nangkep maling itu, kamu kan?”
Rian terkejut, “Hah?! Kamu iki ngomong opo sih? Bukan aku! Jangan ngawur kalo ngomong!”

~ Bersambung

Cerita sebelumnya: Sepenggal Surat di Ujung Rel – Part 6

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

TB Gemilang Pratama

Railway Enthusiast | Bus Enthusiast | Enterpreneur | Free Thinker with Responsibility |

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×