Permasalahan LRT Jabodebek: Dari Anggaran Hingga Penundaan

Sebuah rangkaian LRV LRT Jabodebek sedang terparkir di Stasiun Cikoko (dekat Stasiun Cawang KCI), Januari 2022 | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

REDigest.web.id, 12/7 – Proyek LRT Jabodebek akhir-akhir ini sedang menghadapi sejumlah permasalahan. Beberapa permasalahan tersebut adalah anggaran proyek yang dinilai membebani KAI dan penundaan operasi LRT Jabodebek ke 2023.

KAI: Proyek LRT Jabodebek Membebani

Melansir dari CNBC Indonesia, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR pada Rabu (6/7) lalu, Direktut Utama KAI Didiek Hartantyo mengungkapkan permasalahan LRT Jabodebek. Didiek menyampaikan proyek ini akan menjadi beban bagi KAI. Ia menilai desain proyek ini sudah tidak benar dari awal.

Pada 2015 silam, proyek LRT Jabodebek bermula atas inisiasi salah satu kontraktor dan Kemenhub. Namun pada 2017, kontraktor ini kesulitan menagih ke Kemenhub karena belum ada kontrak dengan pemerintah. Pada saat itu juga Menteri Keuangan mengatakan dana Rp29,9 triliun ini bisa turun secara mencicil, bukan penuh.

Menurut Didiek, masalah proyek LRT Jabodebek adalah infrastruktur dan sarana pembangunannya tidak dipisah. Sehingga KAI harus menanggung beban pembangunan tersebut. Didiek menyebutkan dalam Perpres 49, proyek ini adalah proyek Kementerian Perhubungan dengan kontraktor Adhi Karya. Namun KAI harus ikut membangun infrastrukturnya juga.

Alhasil, meskipun pengadaan sarana LRT Jabodebek hanya Rp4 triliun, butuh Rp25 triliun untuk pembangunan prasarananya. KAI pun harus berutang hingga Rp20 triliun. Didiek menyampaikan untuk mengembalikan utang itu kemudian pemerintah harus menyuntik Penyertaan Modal Negara (PMN). Melansir dari rilis pers KAI pada Desember 2021, PMN yang turun sebesar Rp2,6 triliun untuk membiayai pembengkakan anggaran akibat keterlambatan pembebasan lahan Depo yang berdampak pada peningkatan biaya pra-operasi, biaya Interest During Construction, dan biaya-biaya lainnya.

Peluncuran Juga Tertunda ke 2023, Uji Coba Mundur ke Desember 2022

Rangkaian LRT Jabodebek yang sedang parkir di dekat Pancoran. Terlambatnya pembebasan lahan untuk depo sehingga membuat LRV LRT Jabodebek harus parkir di tengah lintas menjadi salah satu permasalahan utama. | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Di sisi lain, peluncuran LRT Jabodebek pun juga mengalami penundaan. Melansir dari Berita Trans, peluncuran operasional yang harusnya berlangsung 17 Agustus mendatang batal. Pada tanggal tersebut, hanya akan ada showcase seremonial dengan pameran rangkaian LRT.

Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri yang juga hadir dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR pada Rabu (6/7), ia belum dapat menyampaikan terkait tanggal operasi komersialnya. Ia tidak hanya ingin operasional LRT Jabodebek dilakukan dalam waktu cepat, tetapi juga aman dan nyaman.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita menjelaskan uji coba LRT Jabodebek mundur ke Desember 2022. Sedangkan untuk operasionalnya mundur ke semester pertama tahun 2023. Menurut Adita, pengunduran ini setelah dari hasil tinjauan dari konsultan terkait kesiapan operasi secara keseluruhan. Di antaranya adalah penyiapan organisasi, SDM, serta kompetensi yang butuh familiarisasi dengan sistem GoA 3. (RED/IHF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: