[OPINI] KRL SF12 Jalur Rangkas, Mau Direalisasikan Atau Cuma Mimpi Belaka?

sf12 rangkas
Ilustrasi – KRL SF12

Jalur Hijau, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan “Green Line”, adalah jalur dengan jarak terjauh yang dioperasikan oleh Kereta Commuter Indonesia (KCI). Jalur ini membentang sejauh 72 kilometer dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Rangkasbitung.

Perbedaan pemandangan di jalur ini juga sangat kontras. Dari Tanah Abang hingga Serpong, suasana perkotaan masih terasa. Namun dari Serpong hingga Rangkasbitung, suasana berubah menjadi suasana perkampungan.

Jalur dengan tempuh terjauh ini juga dikenal memiliki geometri jalur yang kurang baik ditambah dengan banyaknya tikungan tajam yang radiusnya lebih tajam dari jalur Bogor. Hal ini tentu menjadi sumber dari masalah roda yang sering menghinggapi KRL seri 205 formasi 10 kereta (SF10), yang sejak 2016 dioperasikan di jalur ini karena tiada KRL jenis lain selain KRL seri 203 (dioperasikan kembali di jalur ini sejak 2018 setelah dijadikan SF10) dan KRL seri 205 yang bisa dioperasikan di jalur ini. Selain itu, terdapat juga banyak jembatan besi sepanjang jalur ini.

Dengan jauhnya jarak tempuh ditambah dengan persinyalan yang masih menggunakan sistem blok tertutup alias petak jalan, headway atau jarak antar KRL tidak dapat dimaksimalkan. Meskipun di antara Serpong-Tanah Abang bisa 8-10 menit sekali, namun di antara Rangkasbitung-Tanah Abang hanya bisa 1 jam sekali. Padahal, perpanjangan operasional KRL menuju Rangkasbitung telah membuat pertambahan jumlah penumpang, sehingga kepadatan KRL begitu terasa.

Di tahun 2016, KCI mulai mengoperasikan KRL formasi 12 kereta (SF12). Awalnya hanya dioperasikan di jalur Bogor dan Bekasi (serta perpanjangannya ke Cikarang). Pada tahun 2018, KRL SF12 juga dioperasikan di jalur Tangerang. Pengoperasian KRL SF12 di jalur Tangerang berarti menyisakan jalur Rangkas sebagai satu-satunya jalur utama (kita anggap jalur Priok merupakan jalur pengumpan) yang belum memiliki SF12.

Padahal, saat pemberlakuan GAPEKA 2017, KCI menjadikan jalur ini sebagai anak emas baru dengan menambah jumlah rangkaian dari 10 rangkaian KRL SF10 menjadi 16 rangkaian KRL SF10 di jalur ini dengan mengorbankan jalur Bogor, sehingga jalur Bogor memiliki sangat banyak rangkaian SF8 hingga sekarang. Namun, nasib berbalik dan jalur ini pun menjadi anak tiri kembali karena tidak kunjung mendapatkan KRL SF12.

Sebenarnya, berbagai macam rumor tentang pengoperasian KRL SF12 di jalur Rangkas sudah ada sejak pemberlakuan GAPEKA 2017. Namun pada saat itu, perpanjangan peron belum dilakukan. Beberapa bulan setelah pemberlakuan GAPEKA 2017, perpanjangan peron barulah dilakukan di semua stasiun kecuali empat stasiun. Keempat stasiun tersebut adalah Kebayoran, Serpong, Cisauk, dan Tenjo. Kini, perpanjangan peron di seluruh stasiun kecuali keempat stasiun tersebut sudah selesai.

Dari segi lahan, Cisauk yang sudah dimodernisasi oleh pengembang properti terkemuka ini sebenarnya memiliki lahan yang cukup untuk memperpanjang peron sepanjang 20 meter. Namun, sepertinya sang pengembang lupa melakukan hal tersebut. Selain Cisauk, tiga stasiun lagi memang mengalami masalah lahan untuk memperpanjang peron, dan solusi baru ditemukan untuk Stasiun Tenjo yang peron temporernya akan diperpanjang ke arah Rangkas.

Sementara dari armada KRL, tahun ini KCI telah menambah delapan rangkaian SF12 baru, sehingga jumlah total rangkaian SF12 yang sebelumnya 22 rangkaian kini menjadi 30 rangkaian. Jumlah ini masih bisa ditambah sebanyak 4-6 rangkaian lagi menjadi 34-36 rangkaian seiring dengan kedatangan KRL seri 205 dari jalur Musashino. Namun alih-alih mengoperasikan KRL SF12 di Rangkas, KCI malah memilih menambah jumlah rangkaian SF12 di Bogor dan Cikarang, dan efeknya mengurangi peredaran rangkaian SF10 di seluruh lintas sebanyak lima rangkaian serta SF8 sebanyak satu rangkaian.

Sementara itu para pelanggan KRL Commuter Line jalur Rangkas masih harus menelan pil pahit PHP (pemberi harapan palsu). Sekalinya ada KRL dengan formasi baku SF12 yang masuk, KRL tersebut masuk jalur Rangkas dalam keadaan sedang dipotong menjadi SF10, meskipun di passenger information display (PID) tetap menampilkan SF12. Sementara itu KRL SF10 jalur Rangkas, yang keseluruhannya dimiliki oleh Dipo Bogor, 120 km jauhnya dari Rangkas, sangat sering dipotong menjadi SF8 karena sering mengalami roda benjol atau roda tipis. Jauhnya lintas pengoperasian dari dipo induk menjadi kendala sehingga perawatan sarana KRL tidak dapat maksimal.

sf12 rangkas
Ilustrasi – KRL seri 205 SF10, “terpenjara” 329 hari selama setahun di jalur Rangkas

Memang, dalam pemberlakuan GAPEKA baru pada 1 Desember mendatang, kabarnya jumlah rangkaian KRL di jalur Rangkas akan ditambah lagi menjadi 18-20 rangkaian. Namun jika tetap menggunakan KRL SF10, masalah-masalah seperti kepadatan dan tidak primanya kondisi rangkaian masih akan terus terjadi.

KCI harus segera mengoperasikan KRL SF12 di jalur Rangkas segera setelah jumlah armada KRL SF12 bertambah lagi. Ini bukan hanya soal headway atau jumlah penumpang, karena memang wilayah sekitar jalur ini masih seksi untuk digarap para pengembang properti. Dalam 5-10 tahun ke depan, hunian baru akan menjamur dan menjadi kantung populasi baru. Pastinya KRL pun akan semakin padat.

Tapi, ini juga soal teknis. KRL SF10 yang ada sudah lelah “terpenjara” di jalur Rangkas. Dari 365 hari dalam setahun, sepahit-pahitnya KRL SF10 di jalur Rangkas hanya pulang ke Bogor selama 36 hari, sedangkan 329 hari lainnya dihabiskan di jalur Rangkas.

Dengan mengoperasikan KRL SF12 di jalur Rangkas, berarti perawatan KRL SF10 di Dipo Bogor akan lebih mudah karena rangkaian bisa didinaskan “dekat dari rumah”, selain juga bisa menghapus KRL SF8 yang semakin sering diprotes penumpang jalur Bogor. Roda KRL SF10 pun bisa lebih diirit. Pun begitu perawatan KRL SF12 tidak terlalu jauh dari Rangkas, karena keseluruhannya dilakukan di Dipo Bukit Duri.

Memudahkan perawatan sarana dan menyenangkan penumpang, tentu adalah hal yang sangat baik demi kemajuan KCI. Jangan sampai pengoperasian KRL SF12 di jalur Rangkas hanya menjadi mimpi belaka, dan perpanjangan peron yang telah dilakukan menjadi mubazir.

loading...

3 tanggapan untuk “[OPINI] KRL SF12 Jalur Rangkas, Mau Direalisasikan Atau Cuma Mimpi Belaka?

  • Sabtu, 2 November 2019 pada GMT+0700 22:48
    Permalink

    Bro, nasibnya seri 6000 seperti 6005, 6023, 6025 dan 6026 gimana yaa skrg? Udah jarang liat melintas. Apa ga ada rencana KCI buat bikin mereka balik jadi SF-10?

    Balas
    • Minggu, 3 November 2019 pada GMT+0700 01:47
      Permalink

      Banyak yang rusak, karena komponen yang digunakan sudah usang akibat teknologinya juga teknologi yang udah ga dipake lagi di Jepang. Jadi spare partnya udah ga ada. Beda sama 205 yang teknologinya masih dipake di Jepang meskipun teknologi yg lebih tua dari 6000, jadi spare partnya aman.

      Balas
  • Minggu, 3 November 2019 pada GMT+0700 22:41
    Permalink

    Hoo yaampun sayang banget ya. TM 05 juga kalo bs dibalikin SF10 lg mantep tuh. Ato seri 6000nya digabung2 biar jadi SF 10 hahaha. Padahal 6023, 6025, 6026 itu masuk kategori seri 6000 yg anti kipas kipas club, alias bloweran jd sejuuuk

    Balas

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: