10 Fakta “The Piyuts” yang Bakal Bikin Kamu Kangen

KRL Seri 1000

Kangen dengan KRL seri 5000 eks Tokyo Metro dan seri 1000 eks Toyo Rapid yang juga dikenal sebagai The Piyuts? Mungkin mereka sudah lama tidak tampak, tetapi banyak sekali kenangan yang masih membekas. Mungkin dari rekan pembaca ada yang teringat kembali akan kenangan yang dulu, tetapi ada juga yang mungkin baru mulai berkenalan dengan dunia kereta dan menjadi penasaran dengan KRL seri ini.

Ingin kembali nostalgia atau semakin penasaran? Mari kita simak 10 fakta The Piyuts berikut ini!

1.Suara rem yang khas

Langsung saja ke hal pertama yang juga menjadi inspirasi judul artikel ini. Suara rem KRL Seri 5000 dan 1000 ini sangatlah khas bunyinya. Sehingga ada beberapa railfans yang sampai menjulukinya piyuts yang kemudian cukup sering digunakan untuk mendeskripsikan keluarga KRL ini.

Cukup sulit mendeskripsikan suaranya, jadi lebih mudah untuk menyimak video di bawah ini sebagai contoh:

2. KRL seri 1000 menjadi pionir KRL SF10 di masa Divisi

1080panjangmark1
Rangkaian 1081F dengan formasi 10 kereta

The Piyuts ternyata pernah menjadi pelopor di dunia KRL Jabodetabek di masa Divisi Jabotabek. Yaitu pelopor KRL yang berdinas dengan formasi 10 kereta, dan KRL yang punya TV di interiornya. Dua rangkaian yang mendapat kehormatan ini adalah 1081F dan 5816F.

Rangkaian 1081F mempelopori rangkaian 10 kereta di KRL Jabodetabek sebagai KRL peluncuran Ekonomi AC. Sayangnya, formasi ini hanya bertahan satu hari saja, di mana keesokan harinya, rangkaian ini telah diperpendek menjadi formasi 8 kereta. Formasi inilah yang kelak bertahan selama 10 tahun sebelum pemanjangan kembali dilakukan.

KRL yang beroperasi reguler dengan 10 kereta sendiri (bukan saat test run) tidak ditemukan lagi secara reguler sampai awal 2014 dengan seri 205.

3. Djoko Vision sebagai pionir KRL dengan TV di dalamnya

5016POC
Rangkaian 5816F membelok di Stasiun Pondok Cina

Salah satu rangkaian yang terkenal dari KRL seri 5000 adalah 5816F yang semenjak proyek pemasangan TV di interiornya dikenal dengan “Djoko Vision”. Proyek ini dilakukan dengan pemasangan sebanyak 42 unit TV di dalam rangkaian, dengan posisi TV ada pada ujung-ujung rak bagasi di dekat pintu. Pada Juni 2012, setelah dilakukan Perawatan Akhir Lengkap, berdinaslah KRL “Djoko Vision” ini dengan fasilitas barunya.

Rangkaian ini bertahan hidup sampai akhir 2014 ketika rangkaian ini kemudian dibawa ke Balai Yasa Manggarai dan tidak pernah muncul lagi. Di saat yang sama, rangkaian 1091F mulai muncul kembali.

4. Seri 1000 datang ke Indonesia sebagai KRL tangan ketiga

Meskipun datang berbarengan dengan Seri 5000, sesungguhnya KRL Seri 1000 adalah KRL tangan ketiga, bukan tangan kedua. Karena sesungguhnya KRL seri 1000 ini aslinya adalah bekas dari KRL Seri 5000 yang diremajakan dengan rincian berikut:

Pada tahun 1995, 12 rangkaian KRL Seri 5000 berpindahtangan dari TRTA (pendahulu Tokyo Metro) ke Toyo Rapid yang baru dibentuk. 10 dari rangkaian ini yaitu 1001F hingga 1101F kemudian diremajakan menjadi Seri 1000. Sementara itu, dua rangkaian lainnya yaitu 1111F dan 1121F hanya digunakan sebagai sumber sukucadang.

5. Seri 5000 adalah KRL eks Jepang tertua di Indonesia

KRL seri ini juga menjadi KRL yang paling tua di Indonesia. Berdasarkan penelusuran Tim REDaksi ke situs web Wikipedia Jepang, diketahui KRL seri ini pertama kali dibuat pada tahun 1964.

Untuk rangkaian KRL seri 5000 yang beroperasi di Indonesia, dari 5809F, 5816F dan 5817F semuanya merupakan buatan tahun 1966. Sementara rangkaian KRL seri 1000 yang beroperasi di Indonesia yaitu 1061F, 1081F, dan 1091F adalah buatan 1967 dan 1968 dengan nomor asli 5836F, 5822F, dan 5820F.

6. Seri 1000 sempat menjadi rangkaian tetap Ekonomi AC

KRL seri 1000 sempat menjadi rangkaian tetap KRL Ekonomi AC saat Ekonomi AC di lintas selatan dan timur saat baru dioperasikan. Yaitu rangkaian 1081F untuk Bogor-Jakarta Kota, 1091F Depok-Jakarta Kota, dan 1061F Bekasi-Kota. Selama sekitar sebulan, rangkaian ini terus menerus berdinas di lintas ini. Setelahnya rangkaian-rangkaian ini kemudian mulai dirolling dinasannya dengan yang lain.

7. Livery hijau “maho”

Rangkaian 1061F dengan muka hijaunya

Salah satu livery terlucu dari KRL seri ini adalah livery muka hijau yang dimiliki oleh rangkaian 1061F. KRL ini mulai tampak terlihat dengan muka hijau setelah bertabrakan dengan KRL Holec di antara Tebet-Manggarai. Oleh karena livery ini terkenal lucu di sebagian railfans dan warna hijau muda dikenal sebagai emoji “maho” di suatu forum internet, maka KRL ini juga disebut “KRL maho”.

8. Livery striping batik

Ketiga rangkaian KRL seri 1000 di saat era KCJ dengan livery muka berwarna biru-kuning pun masih memiliki ciri pembeda masing-masing. Rangkaian 1081F mempunyai livery dengan frame warna kuning polos lalu kemudian merah. Sedangkan rangkaian 1091F mempunyai livery dengan frame warna hitam, lalu kemudian menjadi merah seperti 1081F, dan tidak memiliki logo Toyo Rapid. Namun yang paling spesial di antara ketiganya adalah lagi-lagi 1061F.

1060batik
Rangkaian 1061F saat menggunakan frame samping batik kuning setelah melepas livery hijaunya

Rangkaian 1061F mempunyai livery dengan frame warna kuning yang diberi ciri khas pembeda dari 1081F yaitu dengan striping batiknya. Livery ini bertahan hingga 2012-2013 sebelum dibuat menjadi kuning polos dengan muka biru-kuning. Akan tetapi, berbeda dengan 1081F dan 1091F, muka biru pada rangkaian ini tidak dibuat penuh hingga akhir hayatnya.

Rangkaian 1061F setelah menggunakan frame samping kuning tanpa batik. Rangkaian ini menjadi satu-satunya rangkaian Toyo Rapid yang setelah perubahan skema livery kedua tidak dicat penuh mukanya.

9. Pernah menabrak badug Jakarta Kota dan kebablasan di Cilebut

Salah satu kejadian yang terkenal menimpa KRL seri ini adalah kejadian bablas di Jakarta Kota. Kejadian ini menimpa rangkaian 5809F pada 17 Maret 2011. KRL yang berdinas sebagai Pakuan Ekspres ini menabrak badug, sehingga penumpangnya sampai harus dipindah ke KRL Bojonggede Ekspres yang rutenya jadi diperpanjang sampai Bogor.

Saat Tim REDaksi mencari berita perihal kejadian ini, diperoleh berita yang rilis dengan tanggal yang sama dan jam berdekatan oleh Detik. Namun di berita ini disebutkan rangkaian hanya mengalami anjlokan.

Selain itu, salah satu dari Tim REDaksi juga pernah mengalami kejadian kebablasan dengan salah satu rangkaian KRL seri ini. Saat sedang menaiki rangkaian KRL tujuan Bogor, KRL ini justru kebablasan di Stasiun Cilebut. Beruntung, tidak ada insiden yang lebih serius sebagai akibat dari kebablasan ini.

10. KRL seri 5000 dan 1000 pernah dipanjangkan menjadi 10 kereta

Pada Juli 2017, rangkaian 5817F diujicobakan menjadi 10 kereta. Sedangkan sebelumnya rangkaian 1081F telah diujicobakan menjadi 10 kereta lebih dulu pada Juni 2017. Pemanjangan kereta ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas angkut armada KCI yang saat itu sedang gencar melakukan penambahan rangkaian 10 kereta. Formasi dari kedua rangkaian setelah dijadikan 10 kereta adalah sebagai berikut:

Formasi rangkaian 5817F setelah terakhir dipanjangkan menjadi 10 kereta
Formasi rangkaian 1081F setelah terakhir dipanjangkan menjadi 10 kereta

Hal ini adalah suatu “blast from the past” khususnya bagi rangkaian 1081F, karena rangkaian ini dulu juga pernah menjadi rangkaian 10 kereta dalam formasi aslinya. Pemanjangan rangkaian 5817F dan 1081F dilakukan dengan masing-masing mengambil dua kereta dari 1091F yaitu 1092, 1093, 1094, dan 1095.

Semoga kesepuluh hal ini dapat membangkitkan kenangan, ataupun memberi pengetahuan tentang KRL “The Piyuts” yang melegenda ini. (RED/TGP/IHF)

TB Gemilang Pratama

Railway Enthusiast | Bus Enthusiast | Enterpreneur | Free Thinker with Responsibility |

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: