Proyek MRT Jakarta Fase 2A Terancam Mundur Akibat Pandemi COVID-19

Proyek MRT Jakarta Fase 2 CP-201 yang dilakukan di kawasan Thamrin
Proyek MRT Jakarta Fase 2A CP201 yang dilakukan di kawasan Thamrin

[20/10] Proyek MRT Jakarta fase 2A yang selama ini berjalan terancam tertunda akibat pandemi COVID-19. Fase 2A MRT dari Bundaran HI hingga Kota yang semestinya selesai Maret 2026 diperkirakan mundur menjadi Agustus 2027 mendatang.

Dilansir dari rilis pers mereka, penundaan proyek fase 2A ini terjadi karena hambatan pada paket kontrak CP202, CP205, dan CP206. Paket CP202 adalah konstruksi Harmoni-Mangga Besar, CP205 adalah pengadaan sistem perkeretaapian dan rel, sedang CP206 adalah pengadaan armada. Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar menyebutkan hambatan ini terjadi karena risiko tinggi akibat pandemi COVID-19, serta faktor minimnya keterlibatan dan ketertarikan kontraktor Jepang menyebabkan posisi tawar kontraktor Jepang khususnya untuk paket sistem perkeretaapian dan armada menjadi sangat tinggi.

Kegagalan lelang paket CP202 karena risiko konstruksi yang dinilai tinggi oleh Peserta Lelang akibat jadwal yang ketat, keterbatasan sumber daya, dan pandemi COVID-19. Oleh karenanya, Peserta Lelang meminta waktu penyelesaian proyek lebih panjang.

Sementara paket CP205 telah mengalami perpanjangan waktu empat kali. Selain karena kondisi pandemi COVID-19, Peserta Lelang meminta perpanjangan waktu karena adanya isu kebijakan penggunaan produk komunikasi tertentu yang tidak bisa disediakan Kontraktor Jepang, review jadwal proyek lebih lanjut, dan yang terbaru Peserta Lelang melihat adanya risiko interfacing antar pekerjaan paket sipil dan paket sistem perkeretaapian. MRT Jakarta menilai tanggung jawab risiko interfacing ini adalah tanggung jawab Peserta Lelang, dan telah menyampaikan surat penegasan pada Peserta Lelang untuk menyampaikan proposal lelangnya pada 26 Oktober mendatang.

Untuk paket CP206 setelah dilakukan market sounding beberapa kali, Peserta Lelang masih menyampaikan ketidaktertarikan mereka. Mereka beralasan banyaknya proyek lain di Jepang dan regional Asia, serta sedikitnya jumlah rangkaian yang dipesan. Jumlah rangkaian yang dipesan MRT Jakarta awalnya adalah 6 rangkaian, namun kemudian dengan optimalisasi penggabungan rencana fase 2B menjadi 14 rangkaian.

William menjelaskan kondisi ini terjadi karena pembangunan MRT Jakarta fase 2 dibiayai oleh pinjaman JICA ODA dengan skema Special Terms for Economic Partnership (Tied Loan). Disebutkan dalam skema pinjaman ini terdapat kriteria Kontraktor Utama harus dari Jepang. Namun saat ini kontraktor dari Jepang dinilai terlalu konservatif dan tidak siap mengambil risiko pembangunan di fase 2.

Ia juga menambahkan Pemerintah Indonesia dan Jepang sedang melakukan koordinasi tingkat tinggi untuk kelancaran proyek MRT Jakarta fase 2A ini dengan harapan Pemerintah Jepang dapat mendorong minat industri perkeretaapian Jepang untuk terlibat. Ia kemudian menyebutkan jika minat industri Jepang rendah, maka opsi pengadaan melibatkan kontraktor internasional lain di luar Jepang sekiranya dapat dibuka dan disetujui bersama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.

Sebagai informasi proyek pengadaan untuk MRT Jakarta fase 2A saat ini dibagi dalam dua segmen, yaitu segmen 1 Bundaran HI-Harmoni dan segmen 2 Harmoni-Kota. Segmen 1 direncanakan akan selesai pada Maret 2025, sedang segmen 2 direncanakan akan selesai pada Agustus 2027, mundur dari target awal Maret 2026. Sedang progres segmen 1 sendiri pada paket konstruksi CP201 yaitu pengerjaan terowongan dari Bundaran HI hingga Harmoni serta pembangunan Stasiun Thamrin dan Monas telah mencapai 8,38% per 30 September lalu. (RED/IHF)

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: