Mengenal Berbagai Armada KRL Ekspres di Indonesia dan Dunia

KRL ekspres bandara
Penerapan KRL tidak selalu untuk armada komuter lokal saja, bahkan di Indonesia KRL dengan spesifikasi ekspres yang hanya menerima penumpang duduk sudah ada dalam wujud KRL Bandara Railink | Foto: RED/Gilang Fadhli

REDigest.web.id – Pembangunan KRL Yogyakarta-Solo saat ini sedang dalam proses perpanjangan menuju Stasiun Palur. Bahkan dalam rencana awal Kementerian Perhubungan pada Maret lalu menginginkan KRL ini nantinya bisa mencapai Madiun dan Kutoarjo.

Di media sosial, akhir-akhir ini rencana perpanjangan KRL khususnya ke Madiun kembali menjadi topik pembicaraan hangat. Sontak tidak sedikit kekhawatiran para warganet akan pegal berdiri jika harus naik KRL dari Yogyakarta sampai Madiun.

Kekhawatiran ini tentu masuk akal, karena tidak sedikit orang yang membayangkan KRL hanyalah kereta yang seperti digunakan oleh KAI Commuter saat ini. Yaitu kereta dengan kursi memanjang dengan kapasitas sebelum pandemi yang tidak terbatas (semuat-muatnya hingga berdesakan).

Namun ternyata, di seantero dunia dan bahkan di Indonesia sendiri, ada KRL yang memang didesain untuk layanan ekspres, di mana pada umumnya semua penumpang duduk. Bagaimana saja penerapan KRL ekspres di dunia? Berikut penjelasannya dari Tim REDaksi dalam artikel ini.

Daftar Isi

  1. Pembuka, Indonesia, Jepang
  2. Tiongkok, Taiwan, Eropa, Penutup

Indonesia

KRL Bandara
KRL ekspres seri EA203 yang digunakan Railink (KAI Bandara) untuk KRL Bandara | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Contoh penggunaan KRL ekspres di dunia kita awali dari Indonesia. Di tanah air, penggunaan KRL ekspres sebenarnya telah ada sejak zaman Divisi Jabotabek hingga tahun 2011 silam. Namun layanan KRL ini menggunakan armada yang sejenis dengan armada KRL Ekonomi AC yang kelak menjadi KRL Commuter Line yang kita kenal saat ini.

Penggunaan armada KRL ekspres yang didesain tanpa penumpang berdiri dengan kursi menghadap depan (searah perjalanan) pertama kali dilakukan oleh KRL-KRL ekspres di era Perumka dan Divisi Jabotabek hingga sebelum kedatangan KRL eks Toei 6000. Pada saat itu tiket KRL ekspres bahkan dijual dengan nomor tempat duduk.

Sempat lama menghilang, layanan semacam ini muncul kembali lewat KRL EA203 milik KAI Bandara yang melayani rute Manggarai-Bandara Soekarno-Hatta sejak 2017. KRL EA203 ini merupakan armada buatan INKA yang dilengkapi dengan kursi yang setengahnya menghadap searah perjalanan, dan setengahnya lagi terbalik dari arah perjalanan dengan total 272 kursi.

Interior KRL Bandara
Interior KRL Bandara, tampak kursi yang mengarah searah ataupun berlawanan arah perjalanan | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Seperti disebutkan di atas, dalam pengoperasiannya Railink ini hanya menjual tiket sebanyak tempat duduk yang tersedia. Sehingga tidak ada penumpang yang berdiri seperti KRL Commuter Line, kecuali pada bulan April 2021 di mana layanan seperti ini sempat diujicoba secara terbatas pada KRL Bandara. Selain itu, KRL ini juga dilengkapi dengan toilet dan tempat koper, fasilitas yang umumnya ditemukan pada kereta jarak jauh.

Selain itu, kelak di masa depan akan ada Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau KCJB. Kereta cepat seperti KCJB dan Shinkansen juga termasuk dalam kategori Kereta Rel Listrik atau KRL karena tidak menggunakan lokomotif terpisah.

Jepang

KRL seri 681
KRL seri 681 JR West, satu dari sekian banyak KRL ekspres jarak menengah di Jepang | Foto: Toshinori Baba, Wikimedia Commons

Contoh penerapan KRL ekspres di dunia berlanjut ke Jepang. Sebagai negara yang jaringan elektrifikasinya sangat luas, Jepang memiliki sangat banyak jenis KRL dari berbagai operator. Mulai dari KRL komuter yang juga banyak digunakan di sini, kereta Green Car yang diselipkan pada KRL komuter, KRL ekspres jarak menengah/jauh, hingga kereta cepat Shinkansen.

Kereta Green Car E217
Kereta Green Car pada KRL komuter seri E217. Berbeda dengan kereta lain dalam rangkaiannya, kereta Green Car didesain hanya untuk penumpang duduk | Foto: Toshinori Baba, Wikimedia Commons

Kereta Green Car yang diselipkan pada KRL komuter adalah kereta setara kelas eksekutif yang menjadi satu rangkaian dengan kereta komuter. Contoh kereta Green Car ada pada seri E217, E231, E233, dan E235. Kereta Green Car ini didesain memiliki kursi yang lebih nyaman dari kereta komuter biasa di rangkaiannya, dan didesain hanya untuk menerima penumpang duduk.

Kintetsu 50000
KRL ekspres Kintetsu 50000 | Foto: Oka21000, Wikimedia Commons, CC-BY-SA
JR East E353
KRL seri E353 JR East | Foto: Maeda Akihiko, Wikimedia Commons, CC-BY-SA

KRL ekspres untuk jarak menengah/jauh di Jepang sendiri sangatlah beragam wujudnya. Beberapa contoh KRL ekspres jarak menengah adalah KRL seri E257, E259, E353, dan E657 milik JR East, seri 281, 681, dan 683 milik JR West, seri 787 dan 885 JR Kyushu, famili Romancecar Odakyu (seri 60000, 70000, dan sebagainya), Tobu seri 100, Meitetsu seri 1200, Kintetsu seri 50000, dan masih sangat banyak lagi.

KRL seri 285
KRL ekspres seri 285 dengan kereta tidur yang melayani Sunrise Izumo | Foto: Toyo 2100, Wikimedia Commons
Ilustrasi armada kereta cepat India
Kereta cepat seperti Shinkansen juga termasuk definisi KRL yaitu tidak ditarik lokomotif terpisah, seperti Shinkansen seri E5 (depan) dan E3 (belakang) JR East | Foto: Toshinori Baba, Wikimedia Commons

Untuk contoh KRL ekspres jarak jauh di Jepang ada seri 285 milik JR West dan JR Central yang melayani Sunrise Izumo dan Sunrise Seto. Sedangkan kereta cepat Shinkansen di Jepang contohnya adalah seri E3, E4, dan E5 JR East, seri N700 JR West, JR Central, dan JR Kyushu, dan seri 800 JR Kyushu.

Pada umumnya, KRL seperti ini termasuk dalam bagian layanan limited express yang beroperasi seperti KA jarak jauh di Indonesia. Tempat duduknya pada umumnya dapat diputar agar saling berhadapan atau searah dengan perjalanan, dan dilengkapi dengan fasilitas yang umumnya ada di KA jarak jauh seperti toilet dan rak bagasi. Untuk kelas reguler, pada umumnya memiliki susunan kursi 2+2, tetapi pada umumnya Shinkansen memiliki susunan kursi 3+2. Bahkan untuk Shinkansen seri E4, terdapat susunan kursi 3+3.

Kelas standar E353
Interior kelas standar KRL seri E353 | Foto: Toshinori Baba, Wikimedia Commons, CC-BY-SA
Kelas standar Shinkansen N700
Interior kelas standar Shinkansen N700 | Foto: 衛兵隊衛士, Wikimedia Commons, CC-BY-SA

Bahkan tergantung operator dan layanan KA, juga terdapat kelas lebih tinggi, seperti misal Green Car yang juga ada di banyak KRL ekspres dan Shinkansen Grup JR, Gran Class di Shinkansen seri E5, E7, dan W7, ataupun Open Salon di KRL Kintetsu seri 50000. Tergantung operator dan layanan KA, susunan kursi pada kelas lebih tinggi ini bisa 2+2 ataupun 2+1. Khusus untuk seri 285, KRL ini dilengkapi dengan kereta tidur. Kereta tidur yang tersedia ada yang berupa kasur biasa, dan ada juga matras nobinobi.

Meski pada umumnya seluruh penumpang mendapatkan tempat duduk, tetapi pada saat tertentu di Shinkansen dimungkinkan adanya penumpang berdiri.  Hal ini bergantung dari beberapa faktor, seperti situasi dan musim perjalanan KA.

Foto kompartemen tidur nobinobi khas KRL seri 285 | Foto: W0746203-1, Wikimedia Commons, CC-BY-SA
Interior KRL seri Kintetsu 50000 dengan kursi 2+1 | Foto: Oka2100, Wikimedia Commons, CC-BY-SA

Halaman selanjutnya: Tiongkok, Taiwan, Eropa, Penutup

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Pages ( 1 of 2 ): 1 2Berikutnya »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×