[OPINI] Mengembalikan 100% Kursi di KRL Commuter Line

Suasana tipikal KRL Commuter Line setelah pengaturan 60% kapasitas | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Artikel di bawah ini adalah opini dari Penulis sebagai anggota Tim REDaksi. Penulisan opini ini tidak mewakilkan pandangan resmi dari keseluruhan Tim REDaksi

REDigest.web.id – Kebijakan pembatasan kapasitas KRL Commuter Line yang dinilai tidak menentu tentu menyebalkan bagi semua pengguna. Baru sehari setelah pencabutan penghapusan jaga jarak tempat duduk, kebijakan ini kembali berlaku. Kali ini, dengan kapasitas 60% pengguna, kursi panjang KRL Commuter Line hanya boleh terisi oleh 5 orang. Sedang kursi pendek atau kursi prioritas justru boleh terisi penuh 3 orang.

Kementerian Perhubungan sendiri telah mengklaim perubahan ini atas hasil konsultasi antara mereka dengan KAI Commuter. Meski demikian, publik yang menggunakan KRL Commuter Line sudah merasa “dikerjai” dengan perubahan aturan yang mendadak ini. Tidak hanya itu, dari laporan pengguna dan pengamatan Penulis sendiri, aturan satu bangku maksimal 5 orang ini sangat sulit untuk dipatuhi secara konsisten. Adanya kursi prioritas yang tetap terisi penuh 3 orang juga memberikan kesan inkonsistensi yang nyata.

Penulis yang juga menggunakan pengguna KRL Commuter Line pun merasa perubahan kebijakan ini patut menjadi pertanyaan. Dengan mengamati penempatan marka dan peraturan kapasitas, Penulis berpendapat dengan analisis ini kapasitas bangku KRL dapat kembali 100%, tetapi tetap menaati regulasi kapasitas 60%.

Memahami Persentase Kapasitas KRL Commuter Line

Sebelum masuk lebih lanjut, Penulis merasa perlu untuk menjelaskan perhitungan kapasitas KRL Commuter Line terlebih dahulu. Dalam surat edaran dari Menteri Perhubungan, terdapat tiga persentase kapasitas KRL yang menjadi patokan, yakni 35%, 45%, dan 60%.

Kapasitas 35% yang berlaku semasa PPKM darurat mengizinkan hanya 60 orang berada di dalam setiap kereta atau gerbong. Sementara kapasitas 45% mengizinkan hanya 74 orang berada di dalam setiap kereta atau gerbong. Dengan mengacu pada angka ini, didapat kapasitas 60% dari kereta adalah 99 orang, atau dapat dibulatkan menjadi 100 orang.

Dari pantauan Tim REDaksi, tampak susunan marka berdiri dan duduk dalam KRL dengan pola 60% kapasitas pada kereta 4 pintu yang umum beredar di Jabodetabek adalah sebagai berikut:

Gambaran pola kapasitas kursi KRL Commuter Line yang berlaku saat ini. Catatan: Penggambaran kursi untuk 7 orang sebenarnya ada jarak di antara kursi ketiga, keempat, dan kelima | Infografis: RED/Ikko Haidar Farozy

Tampak pada pola tersebut, ada 5 orang yang dapat berdiri di area kursi prioritas, dan 8 orang yang berdiri di area kursi panjang. Apabila kursi KRL terisi penuh semua, maka kapasitas per kereta atau gerbong akan mencapai 112 orang. Jumlah ini memang melebihi ketentuan 60% yang sekitar 100 orang.

Oleh karenanya, KAI Commuter untuk mengikuti aturan 60% ini justru mengorbankan pengguna duduk dengan membuat kapasitas kursi panjang menjadi hanya 5 orang.

Langkah agar KAI Commuter Bisa Mengembalikan 100% Kursi

Pencabutan tanda jaga jarak saat pertama kalinya aturan ini diberlakukan. Penulis berpendapat jaga jarak kursi ini bisa kembali tidak harus berlaku dengan penyesuaian keterisian pengguna KRL. | Foto: KAI Commuter

Dari pola tersebut, Penulis berpendapat kapasitas duduk di dalam KRL bisa kembali menjadi 100% dengan menyesuaikan kembali orang berdiri. Pertimbangan Penulis, jumlah dan kepadatan orang duduk justru lebih mudah  untuk diatur ketimbang jumlah dan kepadatan orang berdiri.

Pertama-tama, marka berdiri di kursi prioritas berkurang dari 5 menjadi 3 orang saja. Posisi duduk yang berkurang adalah yang berada di tengah-tengah di barisan kursi prioritas sebanyak 2 orang. Terdapat dua sisi kursi prioritas kecuali di kereta kabin, sehingga total ada 4 orang yang dapat duduk.

Kedua, marka berdiri di dekat pintu berkurang dari 6 orang menjadi 4 orang saja. Pada kereta empat pintu, jumlah orang yang dapat duduk adalah 8 orang. Sehingga total, terdapat 12 orang yang kembali duduk. Alhasil, jumlah pengguna di dalam kereta atau gerbong tetap 100 orang, tetapi kini semua orang dapat mengisi kursi panjang. Berikut gambarannya:

Gambaran Penulis jika KAI Commuter menyesuaikan jumlah orang berdiri di kursi sehingga kursi panjang tetap dapat terisi oleh 7 orang | Infografis: RED/Ikko Haidar Farozy

Mengapa MRT Jakarta Tetap Bisa Tanpa Jaga Jarak Kursi?

Suasana tipikal MRT Jakarta | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Setelah memahami bagaimana solusi agar KAI Commuter dapat mengembalikan 100% kursi, Penulis berpendapat tidak ada salahnya kemudian membandingkan dengan MRT Jakarta. Terutama karena banyak pihak yang mempertanyakan mengapa MRT Jakarta dapat tetap mengisi 100% kursi sedangkan KAI Commuter tidak.

Dari pantauan oleh Penulis, marka berdiri MRT Jakarta ternyata memiliki perbedaan signifikan dari marka berdiri KRL Commuter Line. Berikut adalah gambarannya:

Diagram marka berdiri dan duduk MRT Jakarta | Diagram: RED/Ikko Haidar Farozy

Di sini tampak tidak seperti KAI Commuter, MRT Jakarta hanya mengizinkan 4 orang untuk berdiri di tengah kereta pada area kursi panjang, alih-alih 8. Sedangkan di area kursi prioritas, hanya ada 2 orang yang diizinkan berdiri alih-alih 5. Sementara di area pintu, jumlah orang berdiri hanyalah 5 orang, kecuali pada satu pintu yang memiliki marka “khusus petugas” sehingga pada pintu tersebut hanya ada 4 orang berdiri.

Meskipun secara resmi MRT Jakarta menyebutkan kapasitas mereka adalah 86 orang, berdasarkan perhitungan Penulis kapasitas ini adalah 89 orang. Jumlah ini masih relatif jauh daripada KRL Commuter Line yang memiliki kapasitas 100 orang, atau 112 orang jika seluruh kursi tetap diisi dengan pengaturan berdiri seperti sekarang.

Berikut adalah pendapat Penulis atas pengaturan ulang kapasitas kursi. Penulis berharap KAI Commuter, Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait dapat meninjau kembali keadaan di lapangan, agar pengguna jasa juga tidak kebingungan. (RED/IHF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: