Beginilah Situasi Rencana Peremajaan Armada KRL Commuter Line Jabodetabek

Ilustrasi: KRL seri 05 eks Tokyo Metro milik KAI Commuter. Saat ini KRL seri ini hanya tersisa tiga rangkaian yang masih aktif di lintas | Foto: RED/Rizki Fajar Novanto

REDigest.web.id, 10/1 – Situasi peremajaan KRL Commuter Line Jabodetabek sendiri tampak cukup sulit. Pasalnya ternyata sudah ada 10 sampai 12 rangkaian yang harus pensiun pada 2023, dan 16 rangkaian yang harus pensiun pada 2024. Hal ini karena masa tugas rangkaian tersebut yang sudah habis dan dapat berisiko jika dipaksakan terus beroperasi.

Fakta ini terkuak oleh laporan pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen, Agus Pambagio. Dalam laporan di Detik.com, ia menyampaikan KAI Commuter harus melakukan peremajaan armada untuk menghadapi situasi tersebut. Tetapi ternyata rencana peremajaan ini mengalami permasalahan.

Permasalahan ini menurut Agus membuat KRL Commuter Line Jabodetabek berada di ujung tanduk. Terlebih saat ini jumlah pengguna KRL Commuter Line sudah berangsur normal. Menurut data KAI Commuter, pada Oktober 2022 saja sudah lebih dari 745.000 pengguna KRL yang terlayani setiap hari.

Keadaan KAI Commuter

Belum adanya persetujuan kenaikan tarif KRL dan adanya pandemi membuat aliran dana KAI Commuter belum sanggup untuk membeli KRL baru dari INKA. Selain itu, KRL baru dari INKA akan memakan waktu lama untuk pembuatannya, dengan rencana paling cepat 2025.

Rencananya, akan ada 16 rangkaian yang INKA produksi pada 2025 mendatang. Proses pengadaan KRL baru sendiri memang cukup lama karena memakan waktu minimal 34 bulan dari tanda tangan kontrak. Sedangkan untuk pengadaan KRL bekas hanya memakan waktu 12 bulan dari tanda tangan kontrak. Sementara tambahan jumlah KRL yang KAI Commuter butuhkan adalah 348 kereta hingga 2024.

Atas persetujuan Kementerian Perhubungan, KAI Commuter sendiri telah menyiapkan anggaran untuk pengadaan KRL bekas, dengan opsi setidaknya dari tiga perusahaan yakni JR East, Tokyo Waterfront Area Rapid Transit, dan Toei Subway. Pembelian KRL bekas dengan masa edar masih di atas 20 tahun ini sembari menunggu KRL INKA selesai produksi.

Masalah Birokrasi

KRL seri 205 eks JR East saat sedang proses penurunan dari kapal, 2018 | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Akan tetapi, timbul sejumlah permasalahan di kementerian yang menurut Agus tidak perlu. Di antaranya adalah birokrasi yang rumit dari Kementerian Perindustrian. Aturan ini ada pada Peraturan Menteri Perindustrian No. 14 Tahun 2016 yang memperkuat Peraturan Menteri Perdagangan No. 127 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru.

Dalam peraturan ini, syarat barang modal bekas adalah barang yang dapat menghasilkan sesuatu layak pakai atau rekondisi, remanufaktur, dapat difungskan kembali, dan bukan scrap. KAI Commuter sendiri telah melakukan langkah untuk mendapat dispensasi impor KRL bekas untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pihaknya mengirimkan Surat Permohonan Dispensasi dalam Rangka Permohonan Persetujuan Impor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru kepada Kementerian Perdagangan melalui Dirjen Perdagangan Luar Negeri (Daglu) tertanggal 13 September 2022.

Kemudian Dirjen Daglu langsung bersurat kepada Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, perihal Permohonan Masukkan dan Tanggapan Atas Rencana Impor Barang Dalam Keadaan Tidak Baru oleh PT KCI tertanggal 28 September 2022.

Akan tetapi, surat ini belum ada respons dari Dirjen ILMATE hingga Senin (9/1). Padahal, tanpa tanggapan dari Dirjen ILMATE yang menjadi surat rekomendasi terhadap Dirjen Daglu untuk impor KRL bekas. Tanpa surat rekomendasi ini, impor KRL tidak dapat berlangsung, padahal pengadaan KRL saja sudah tertunda tiga bulan.

Potensi Masalah Sosial

Situasi jam sibuk di Stasiun Tanah Abang. Jika jumlah armada KRL berkurang sedang pengguna KRL meningkat, kepadatan pengguna bisa semakin menjadi-jadi. | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Lambatnya pengadaan ini pun menurut Agus tentu merupakan potensi masalah sosial. Dengan rencana pemensiunan 10-12 rangkaian KRL pada 2023 saja sudah menimbulkan risiko kelangkaan perjalanan KRL. Agus mempertanyakan apakah harus menunggu Presiden marah dulu karena lambatnya proses perizinan menyebabkan warga Jabodetabek kesulitan bertransportasi.

Ia berpendapat seharusnya antar Menteri dapat mendiskusikan persoalan ini dalam Rapat Kabinet atau Rapat Terbatas. Agus sendiri sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri Perhubungan dan meminta agar dapat bicara langsung dengan Menteri Perindustrian sehubungan dengan urjensi pengadaan KRL ini. (RED/IHF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

4 komentar pada “Beginilah Situasi Rencana Peremajaan Armada KRL Commuter Line Jabodetabek

  • Rabu, 11 Januari 2023 pada GMT+0700 12:15
    Permalink

    Klau saya yg puluhan tahun berkecimpung dalam projek epcci, niat untuk pengadaan KRL bekas pakai 12 bulan dibandingkan ada baru bisa 2025, daya angkut 750 rb an per hari bahwa pemikiran KRL bekas adalah jelek dan tdk punya perencanaan. Masa pakai KRL skr diketahui sejak pembelian, kontrak atau tender dengan INKA tentu sdh bisa dimulai dri awal dengan harga spec, quantity gerbong dihitung dri prediksi kenaikan penumpang per hari dan jumlah jam kerja gerbong. Itu yg nyata sebagai orang teknik. Jadi jng berdalih saat ini kebutuhan mendesak, Itulah pentingnya penempatan orang berdasarkan kualitas. Melalui tender jabatan langsung dan terbuka. Yg sekarang bisa di test kejenuhan material di lab metalurgi untuk mendapatkan fatik pada beban daya berapa dengan vibrasi. Masih bisa diketahui lama pakai krl skr. Malu sebagai orang teknik dimana bgian engineèring kai.

    Balas
  • Rabu, 11 Januari 2023 pada GMT+0700 14:25
    Permalink

    Yang diinginkan itu import bekas diperbolehkan selagi menunggu KRL baru selesai produksi. Lagian PT. INKA tidak mau menyesuaikan dengan konsumen terbesar mereka. Konsumennya pakai KRL Jepang, eh mereka malah ngide bikin KRL gaya Eropa. Dari pintu sama desain pun haduh, sangat beda dan menyusahkan, misalnya jumlah pintu dan mekanismenya.

    Balas
  • Minggu, 15 Januari 2023 pada GMT+0700 08:46
    Permalink

    Sing penting aerodinamis dulu jare pemerintah, ben gak import mbe memberdayakan masyarakat indonesia😂 nek rakyat kangelan jadwale krl suwi yo udu urusan pemerintah, pemerintah yo numpak mobel

    Balas
  • Pingback: Pengamat Sebutkan Tiga Perusahaan Potensial Calon Armada KAI Commuter, Apa Saja?

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: