GAPEKA 2019 Resmi Berlaku, Ini Efeknya Pada KRL Jabodetabek

gapeka 2019
Ilustrasi KRL Jabodetabek

(1/12) – Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) 2019 resmi diberlakukan oleh Kementerian Perhubungan lewat keputusan nomor KP/1781 dan oleh KAI Group mulai hari ini. GAPEKA 2019 menggantikan GAPEKA 2017 yang telah berlaku sejak 1 April 2017 hingga 30 November 2019 kemarin. GAPEKA 2019 ini berefek pada perubahan seluruh perjalanan KA yang dikelola KAI Group, baik kereta api jarak jauh, lokal, kereta bandara, maupun KRL.

Lalu, bagaimana efek pemberlakuan GAPEKA 2019 pada KRL Jabodetabek?

GAPEKA 2019 mengakomodir penambahan jumlah perjalanan KRL di seluruh lintas KRL. Di awal pemberlakuan GAPEKA 2017 yang lalu, Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator KRL Jabodetabek menjalankan 81 loop perjalanan KRL dengan jumlah 945 perjalanan per hari. Jumlah ini berangsur-angsur ditambah hingga per 30 November kemarin terdapat 84 loop perjalanan KRL. Mulai GAPEKA 2019, KCI berencana akan menjalankan 90 loop perjalanan KRL dengan tambahan 112 perjalanan per hari. Sehingga akan terdapat 1057 perjalanan KRL nantinya. Namun sebagai tahap awal, KCI pada hari ini menjalankan 87 loop dengan pembatalan pada 3 loop. Jumlah 87 loop ini rencananya akan diberlakukan selama triwulan pertama GAPEKA 2019 dan akan ditambah setelahnya secara bertahap.

GAPEKA 2019, ringkasannya per lintas

Kami akan membahas perubahan perjalanan dan susunan penggunaan stamformasi KRL pada GAPEKA 2019 dengan membaginya berdasarkan lintas pelayanan. Semua ini dilansir dari rilis resmi KCI.

Lintas Bogor

KRL seri 6000 rangkaian 6108F sebagai KA 1767-1768 Bogor-Jatinegara di hari pertama GAPEKA 2019

Jumlah perjalanan KRL untuk lintas Bogor sebanyak 405 perjalanan KRL yang terdiri dari Center Line (Bogor/Depok – Jakarta Kota PP) terdapat 227 perjalanan, dan lintas Loop Line (Bogor/Depok/Nambo – Angke/Jatinegara PP) terdapat 178 perjalanan dengan headway pada peak hour selama 5 menit. Lintas Bogor diperkuat oleh 16 rangkaian KRL formasi 12 kereta (SF12), 10 rangkaian KRL formasi 10 kereta (SF10), dan 19 rangkaian KRL formasi 8 kereta (SF8). Di hari terakhir GAPEKA 2017, terdapat 14 SF12, 10 SF10, dan 21 SF8. Sebelumnya, terdapat 14 SF12, 13 SF10 dan 18 SF8, namun jumlah SF10 dikurangi karena banyaknya KRL SF10 yang dipotong menjadi SF8.

Perbedaan paling signifikan terjadi pada ruas Kampung Bandan-Jatinegara. Ruas ini memang sudah reguler dilewati SF10 lintas Cikarang sejak pemindahan stabling KRL dari Bekasi ke Jakarta Kota pada revisi GAPEKA 2017 meskipun hanya satu perjalanan dari Cikarang ke Jakarta Kota yang berhenti di setiap stasiun tiap malam. Kini di GAPEKA 2019, ruas ini secara reguler dilayani KRL SF10 yang beroperasi secara penuh dari Bogor ke Jatinegara. Sehingga, perjalanan KRL SF10 tidak lagi “eksklusif” hanya berakhir di Stasiun Angke. Pada GAPEKA 2017 lalu, KRL Bogor-Jatinegara telah dua kali diujicoba dengan menggunakan KRL SF10. Dari pantauan kami, KA 1723-1724 Bogor-Jatinegara dan KA 1767-1768 Bogor-Jatinegara menggunakan KRL SF10. Sementara itu nanti malam KA 1837-1838 juga akan menggunakan KRL SF10.

Selain itu, lebih banyak KRL yang akan bersiang di dipo dibanding pada GAPEKA sebelumnya. Ini akan menyebabkan perjalanan pada siang hari begitu jarang dan headway akan lebih lama.

Lintas Bekasi-Cikarang

Ilustrasi KRL pemberangkatan Cikarang

Jumlah perjalanan KRL untuk lintas Cikarang (Cikarang/Bekasi – Jakarta Kota PP) sebanyak 174 perjalanan setiap harinya dengan headway pada peak hour selama 11 menit. Lintas Cikarang diperkuat 6 SF12, 4 SF10, dan 5 SF8 dari sebelumnya 9 SF12, 3 SF10, dan 2 SF8 pada hari terakhir GAPEKA 2017. Berkurangnya jumlah SF12 disebabkan lebih banyak jumlah loop yang melayani perjalanan KRL via Pasar Senen. Sebelumnya, perjalanan KRL via Pasar Senen di GAPEKA 2017 hanya dilayani 2 loop yang menggunakan SF8. Namun pada GAPEKA 2019 ini terdapat lebih dari 2 loop dengan total 26 perjalanan via Pasar Senen per hari.

Sama seperti jalur Bogor, masih banyaknya KRL SF8 disebabkan karena masih banyaknya KRL SF10 yang dipotong menjadi SF8.

Lintas Rangkasbitung

Ilustrasi KRL lintas Rangkasbitung

Jumlah perjalanan KRL untuk lintas Rangkasbitung (Rangkasbitung/Parung Panjang/Maja/Serpong – Tanah Abang PP) sebanyak 178 perjalanan KRL setiap harinya dengan headway pada peak hour selama 10 menit. Lintas Rangkasbitung diperkuat 18 SF10 dari sebelumnya 16 SF10 dan 1 cadangan SF10. Dibandingkan GAPEKA 2017, di GAPEKA 2019 perjalanan ke Rangkasbitung bertambah menjadi 33 perjalanan per hari, dan perjalanan ke Serpong maupun Maja berkurang drastis menjadi hanya belasan.

Disinyalir, pengurangan perjalanan yang berakhir di Serpong dan Maja ini untuk mengakomodir persiapan pengoperasian KRL SF12 di lintas Rangkasbitung. Ini dikarenakan jalur 1 dan 2 di Stasiun Serpong serta jalur 3 di Stasiun Maja tidak muat untuk stabling KRL SF12. Namun pada saat ini sedang dilakukan perpanjangan emplasemen untuk mengakomodir KRL SF12.

Lintas Tangerang

Ilustrasi KRL lintas Tangerang

Jumlah perjalanan KRL untuk lintas Tangerang (Tangerang – Duri PP) sebanyak 98 perjalanan dengan headway pada peak hour selama 15 menit. Lintas Tangerang diperkuat 3 SF12 dan 2 SF8. Berbeda dengan sebelumnya pada revisi GAPEKA 2017 di mana ada satu loop yang hanya beroperasi pada pagi dan sore, pada GAPEKA 2019 ini terdapat dua loop yang istirahat siang di Tangerang. Namun, headway pada peak hour dibuat lebih rapat.

Lintas Tanjung Priok dan Feeder

Ilustrasi KRL Pink Line

Sementara untuk lintas Tanjung Priok Line (Tanjung Priok – Jakarta Kota PP) terdapat total perjalanan KRL sebanyak 56 perjalanan dengan headway pada peak hour selama 30 menit. Sedangkan untuk KRL Feeder (Kampung Bandan – Jakarta Kota PP) terdapat jumlah perjalanan sebanyak 47 perjalanan dengan headway pada peak hour selama 38 menit. Masih menggunakan 3 SF8 seperti pada GAPEKA sebelumnya.

Kesimpulan

Dalam beberapa aspek, GAPEKA 2019 untuk KRL terasa lebih baik dibanding GAPEKA sebelumnya. Seperti mulai digunakannya KRL SF10 untuk rute Bogor-Jatinegara secara reguler. Namun dalam beberapa aspek lainnya jelas masih harus diperbaiki. Seperti masih banyaknya penggunaan KRL SF8, lambatnya normalisasi SF rangkaian, belum beroperasinya KRL SF12 di jalur Rangkas, dan juga jadwal di siang hari yang lebih sepi dari sebelumnya. Meski demikian, KCI telah mengumumkan untuk menghilangkan KRL SF8 secara bertahap mulai 2020. Namun, bisakah kita sekaligus berharap akan jadwal yang lebih baik lagi, persebaran KRL SF panjang yang lebih merata, dan percepatan normalisasi SF rangkaian? (RED)

loading...

Satu tanggapan untuk “GAPEKA 2019 Resmi Berlaku, Ini Efeknya Pada KRL Jabodetabek

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: