KRL Seri 205 Rangkaian BUD7, Tersusun dari Empat Rangkaian Berbeda

rangkaian BUD7
KRL seri 205 rangkaian BUD7 meliuk keluar Stasiun Pondok Jati | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

REDigest.web.id – Salah satu rangkaian KRL seri 205 dari jalur Musashino yang mulai beroperasi pada tahun 2020 adalah rangkaian BUD7. Rangkaian ini mulai beroperasi pada 16 Agustus 2020 yang lalu sebagai rangkaian formasi 10 kereta.

Sebagai rangkaian hasil rekomposisi formasi, rangkaian BUD7 tentunya tersusun dari unit-unit kereta yang berasal dari rangkaian-rangkaian berbeda. Namun rangkaian ini tak seperti KRL seri 205 jalur Musashino hasil rekomposisi lainnya yang tersusun dari unit-unit kereta yang berasal dari maksimal tiga rangkaian berbeda. Rangkaian BUD7 tersusun unit-unit kereta dari empat rangkaian yang berbeda.

Breakdown susunan KRL seri 205 rangkaian BUD7

KRL seri 205 rangkaian BUD7 dengan formasi 10 kereta memiliki komposisi empat kereta motor dan enam kereta pengikut (4M6T). Tabel di bawah memperlihatkan bagaimana susunan rangkaian tersebut.

rangkaian BUD7
Susunan rangkaian BUD7 | Sumber data: Litbang GM-MarKA

Dari kode warna pada susunan kereta rangkaian BUD7 pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa rangkaian ini tersusun dari unit-unit kereta yang berasal dari empat rangkaian berbeda. Penjelasan lebih detail pada sub judul di bawah.

Kereta berkabin masinis Tc205-7 dan Tc’204-7

rangkaian BUD7
Susunan rangkaian KeYo M11 | Sumber data: Endless Vehicle Pictorial Book, diolah kembali oleh Litbang RED

Kedua kereta ini merupakan kereta berkabin masinis asal rangkaian KeYo M11. Lebih jauh lagi, kedua kereta berkabin ini mengawali karirnya sebagai kereta berkabin pada rangkaian YaTe 7 di jalur Yamanote. Kedua kereta berkabin ini tidak tersusun dengan kereta-kereta tengah dari rangkaian YaTe 7 pada rangkaian KeYo M11. Namun, keduanya tersusun bersama unit-unit kereta dari tiga rangkaian lainnya yang berbeda.

Susunan rangkaian DP6, yang menggunakan kereta M205-5021, M’204-5021, dan T205-212 dari KeYo M11 | Sumber data: Litbang GM-MarKA

Kereta motor M205-5021 dan M’204-5021 berasal dari kereta motor M205-146 dan M’204-146, dulunya aktif bersama rangkaian YaTe 49. YaTe 49 kemudian pindah ke jalur Musashino dan menjadi KeYo M9 di tahun 2004. Kereta motor M205-5021 dan M’204-5021 sendiri kini aktif di rangkaian DP6, yang terdiri dari kereta berkabin, motor, dan pengikut eks KeYo M8, kereta motor dan pengikut eks KeYo M11, serta kereta motor eks KeYo M31.

Susunan rangkaian DP55, dengan kereta M205-5022, M’204-5022, dan T205-213 dari rangkaian KeYo M7 | Sumber data: Litbang GM-MarKA

Kereta motor M205-5022 dan M’205-5022 berasal dari kereta motor M205-150 dan M’204-150 yang dulu aktif bersama rangkaian YaTe 50. YaTe 50 juga pindah ke jalur Musashino dan menjadi KeYo M10. Kedua kereta motor ini kini aktif di rangkaian DP55 yang terdiri dari kereta berkabin, motor, dan pengikut eks KeYo M31, kereta motor dan pengikut eks KeYo M11, dan kereta pengikut eks KeYo M8.

Sedangkan kereta pengikut T205-212 dan T205-213 berasal dari rangkaian HaE 18 jalur Saikyo. Rangkaian HaE 18 telah terlebih dahulu pergi ke Jakarta pada tahun 2014 dan kini aktif sebagai rangkaian BOO126. Kereta T205-212 kini aktif bersama rangkaian DP6, sedangkan kereta T205-213 kini aktif bersama rangkaian DP55.

Pasca rekomposisi

Setelah rekomposisi rangkaian, kedua kereta berkabin ini dengan tentu menjadi kereta urutan pertama dan kesepuluh pada rangkaian BUD7. Kedua kereta berkabin ini awalnya menggunakan roller blind sebagai penampil tujuan kereta pada bagian muka. Namun KAI Commuter mengganti roller blind tersebut dengan matriks LED pindahan dari sisi samping kereta tengah lain. Penggantian menjadi matriks LED ini karena kurangnya keandalan roller blind, di mana matriks LED memiliki keuntungan yaitu perawatan yang lebih mudah serta usia pakai yang lebih panjang.

Selain itu, awalnya kedua kereta berkabin ini menggunakan terali untuk melindungi kabin masinis dari lemparan batu. Namun terali tersebut telah tanggal di tahun 2021 ini, mengikuti beberapa rangkaian lainnya.

Kereta motor M205-5001 dan M’204-5001, kereta pengikut T205-168 dan T205-169

Susunan rangkaian MiTsu 22. Saat menjadi URa 1, kereta Tc205-104 merupakan kereta 10. | Sumber data: RailLab, diolah kembali oleh Litbang RED

Keempat kereta ini seluruhnya berasal dari rangkaian KeYo M1. KeYo M1 mengawali karirnya sebagai rangkaian URa 1 formasi 10 kereta di jalur Keihin-Tohoku sejak tahun 1989. Namun di tahun 1993, rangkaian ini pindah ke jalur lokal Chuo-Sobu dan menjadi MiTsu 22, masih dengan formasi 10 kereta.

Di tahun 2002, rangkaian ini pindah ke jalur Musashino sekaligus mengalami modifikasi propulsi menjadi VVVF-IGBT. Kereta motor M205-278, M’204-278, M205-280, dan M’204-280 masing-masing menjadi M205-5001, M’204-5001, M205-5002, dan M’204-5002. Sementara itu kereta M205-279 dan M’204-279 mengalami modifikasi penambahan kabin masinis menjadi kereta Mc205-1001 dan Mc’204-1001, kini aktif sebagai rangkaian NaHa W1 di jalur cabang Nambu.

Susunan rangkaian KeYo M1 | Sumber data: RailLab, diolah kembali oleh Litbang RED

KeYo M1 awalnya beroperasi dengan formasi asli jalur Musashino di Indonesia. Sempat menjadi BUD104, karir rangkaian ini berakhir secara administratif akibat dari rekomposisi rangkaian, salah satunya dalam membentuk rangkaian BUD7. Sebabnya adalah kereta berkabin Tc205-104 dan Tc’204-104 menjadi kabin tengah pada rangkaian BUD105. Sistem kodefikasi rangkaian KAI Commuter hanya menyebut nomor kabin yang menjadi pemimpin rangkaian.

Pada rangkaian BUD7, kereta pengikut T205-168 menjadi kereta urutan kedua. Kereta M205-5001 dan M’204-5001 menjadi kereta urutan ketiga dan keempat. Sementara kereta pengikut T205-169 menjadi kereta urutan kesembilan.

Kereta motor M205-5016, M’204-5016

Susunan rangkaian KeYo M8 | Sumber data: Endless Vehicle Pictorial Book, diolah kembali oleh Litbang RED

Kedua kereta bermotor ini berasal dari rangkaian KeYo M8. Rangkaian KeYo M8 sendiri merupakan bentukan dari kereta-kereta yang berasal dari empat rangkaian berbeda. Kedua kereta berkabin, Tc205-6 dan Tc’204-6, berasal dari rangkaian YaTe 6. Kereta motor M205-5015 dan M’204-5015 mengawali karir sebagai M205-144 dan M’204-144 di rangkaian YaTe 48. YaTe 48 kemudian pindah ke jalur Musashino menjadi KeYo M7, dan kini aktif di Jakarta sebagai BUD48 yang tergandeng bersama BUD44.

Kereta pengikut T205-210 dan T205-211 berasal dari rangkaian HaE 17 jalur Saikyo. HaE 17 kemudian pindah ke jalur Utsunomiya dan menjadi YaMa Y11.

Kereta motor M205-5016 dan M’204-5016 sendiri mengawali karir sebagai M205-140 dan M’204-140 di rangkaian YaTe 47. Di kemudian hari, YaTe 47 pindah ke jalur Musashino menjadi KeYo M6 dan kini aktif di Jakarta sebagai DP47.

Karena berasal dari kereta motor tanpa perangkat kelistrikan sekunder, saat modifikasi propulsi menjadi VVVF-IGBT pihak JR East juga menambahkan komponen inverter statis (SIV) pada kereta M’204-5016. Pada rangkaian BUD7, kedua kereta motor ini mengisi urutan ketujuh dan kedelapan dari 10 kereta yang ada.

Kereta pengikut T205-170, T205-171

Susunan rangkaian MiTsu 23. Saat menjadi URa 2, kereta Tc205-105 merupakan kereta 10. | Sumber data: RailLab, diolah kembali oleh Litbang RED

Kedua kereta ini berasal dari rangkaian KeYo M2. KeYo M2 merupakan adik langsung dari KeYo M1. Seperti halnya KeYo M1, KeYo M2 pun mengawali karirnya di jalur Keihin-Tohoku sebagai rangkaian URa 2. Di tahun yang sama dengan kepindahan URa 1 ke jalur lokal Chuo-Sobu, rangkaian ini pun ikut pindah ke jalur tersebut dan menjadi MiTsu 23.

Susunan rangkaian KeYo M2 | Sumber data: RailLab, diolah kembali oleh Litbang RED

Lagi-lagi, MiTsu 23 mengikuti kepindahan MiTsu 22 ke jalur Musashino dan berubah menjadi KeYo M2. Karena kepindahannya ini, kereta motor M205-282 dan M’204-282 mengalami modifikasi penambahan kabin masinis. Keduanya kini aktif sebagai rangkaian NaHa W2 di jalur cabang Nambu. Sementara itu kereta motor M205-281, M’204-281, M205-283, dan M’204-283 berubah menjadi M205-5002, M’204-5002, M205-5003, dan M’204-5003.

Susunan rangkaian BUD105 | Sumber Data: Litbang GM-MarKA

Layaknya KRL seri 205 jalur Musashino lainnya, rangkaian KeYo M2 ikut bedol desa ke Indonesia. Awalnya, rangkaian ini sempat beroperasi dengan formasi aslinya. Rekomposisi di bulan Agustus 2020 menjadikan rangkaian yang berubah nomor menjadi BUD105 ini menggunakan formasi 10 kereta dengan menelan empat kereta dari kakaknya, KeYo M1 yang sempat menjadi BUD104, dan memberikan dua unit kereta pengikutnya untuk membentuk rangkaian BUD7.

Pada rangkaian BUD7, kereta T205-170 dan T205-171 menjadi kereta urutan kelima dan keenam dari 10 kereta yang ada.

Perbedaan ukuran kaca pintu penumpang yang unik pada rangkaian BUD7

rangkaian BUD7
KRL seri 205 rangkaian BUD7 tanpa terali memasuki Stasiun Depok. Perhatikan ukuran kaca pintu yang berbeda antara kereta paling depan (Tc’204-7) dan kereta di belakangnya (T205-169). | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Dari tabel pertama BUD7 di atas, dapat pembaca saksikan bahwa meskipun menggunakan kereta berkabin bernomor kecil yang berarti kereta berkabin menggunakan pintu penumpang dengan kaca kecil, namun kereta dengan pintu penumpang berkaca besar justru menjadi mayoritas dalam rangkaian ini. Terdapat enam unit kereta dengan pintu penumpang berkaca besar, di mana lima di antaranya disusun berurutan.

Di Jepang, rangkaian dengan perbedaan ukuran kaca pada pintu penumpang ini lumrah disebut “getemono“. Menurut kamus bahasa Jepang daring Takoboto, getemono berarti produk berkualitas rendah, sesuatu yang aneh, atau kombinasi yang aneh. Di jalur Musashino sendiri terdapat dua rangkaian yang awalnya menyandang gelar getemono, yaitu KeYo M32 (kini BUD14) dan KeYo M35 (kini DP145).

Akibat dari rekomposisi yang KAI Commuter lakukan pada KRL seri 205, semakin banyak rangkaian yang bisa saja menurut pecinta KA dari Jepang pantas menyandang gelar getemono. Tentunya karena sangat banyak rangkaian yang memiliki kombinasi ukuran kaca pintu penumpang. Tak terkecuali rangkaian BUD7. Namun hal tersebut justru membuat rangkaian BUD7 termasuk ke dalam rangkaian-rangkaian yang unik.

Rangkaian BUD7 asuhan Depo KRL Bukit Duri

rangkaian BUD7
KRL seri 205 rangkaian BUD7 dengan latar belakang Gunung Salak | Foto: RED/Enrico Perdana Putra

Sejak awal beroperasi di Jakarta, rangkaian ini telah menjadi asuhan Depo KRL Bukit Duri. Rangkaian ini menjadi satu dari tiga rangkaian KRL seri 205 formasi 10 kereta yang termasuk armada depo tersebut, lainnya adalah BUD56 dan BUD105.

Di bawah asuhan Depo KRL Bukit Duri, rangkaian ini dapat saja beroperasi di lin manapun. Namun seringkali rangkaian ini beroperasi di Lin Rangkasbitung dan Lin Cikarang. Rangkaian ini jarang ditemui di Lin Sentral, Lin Lingkar, maupun Lin Tangerang.

Penutup

Rangkaian BUD7 merupakan salah satu rangkaian KRL seri 205 jalur Musashino yang unik. Namun rangkaian ini kurang populer jika dibandingkan dengan beberapa rangkaian lain seperti halnya rangkaian-rangkaian berwajah cerita peri (Märchen). Sehingga keunikan yang terjadi pasca rekomposisi di tahun 2020 tersebut tertutup oleh popularitas rangkaian lainnya.

Semoga dengan tulisan ini pembaca dapat tercerahkan dengan keberadaan rangkaian BUD7. Sampai jumpa di kisah berikutnya. (RED/MPF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: