Kereta Batik, “Best Bits” Perkeretaapian Indonesia

kereta batik
Kereta makan M1 0 09 02 milik Depo Malang sebagai kereta makan KA Gajayana dengan wrapping batik khasnya. Saat itu, baik kereta makan ini maupun M1 0 09 01 menggunakan wrapping batik. | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

REDigest.web.id – Medio 2010-an, PT Kereta Api Indonesia (KAI, Persero) berinovasi lewat penampilan sarana perkeretaapian miliknya. Inovasi tersebut adalah penggunaan wrapping batik pada sejumlah kereta kelas eksekutif, baik kereta makan maupun kereta penumpang.

Berawal dari keinginan KAI untuk mengangkat pamor kereta api lewat hiasan batik, usaha yang KAI wujudkan ini bahkan sampai meraih rekor MURI. Pada saat itu, KAI meluncurkan kereta batik pertama pada KA Argo Parahyangan. Kereta ini bernomor K1-02527, yang di kemudian hari berubah nomor menjadi K1 0 02 14.

Motif batik pada K1 0 02 14 memiliki nama “Rahayu ning Buwono” yang berarti “Keselamatan di Dunia”. Motif batik ini merupakan buah karya dari lima mahasiswa desain di Institut Teknologi Bandung dan terdiri dari gabungan motif batik dari wilayah Jawa Barat, Tengah, dan Timur.

Meskipun disebut sebagai kereta batik pertama di Indonesia, sejatinya K1 0 02 14 bukanlah yang benar-benar pertama menggunakan motif batik. Nyatanya, di masa lalu beberapa unit kereta dari KA Cirebon Ekspres Utama pernah menggunakan motif batik. Hanya saja penggunaan motif batik terbatas hanya pada bagian dinding di sekitar area toilet di eksterior kereta saja.

Kereta batik berlanjut

kereta batik
Kereta makan M1 0 95 01 dengan motif bernama “Langlang Jagat” | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Sukses dengan K1 0 02 14, KAI memperluas penggunaan wrapping batik ke KA-KA lainnya. Seperti pada KA Gajayana, kedua rangkaiannya pun menggunakan motif batik mulai tahun 2012. Kereta makan M1 0 09 01 menggunakan motif bekisar dan truntum dengan warna ungu dan putih. Sedangkan M1 0 09 02 menggunakan motif gajah dengan warna hijau dan merah.

kereta batik
Kereta makan M1 0 86 01 pada KA Sancaka | Foto: Lavie Lengkey/Wikimedia Commons (CC-BY-SA)

Selain KA Gajayana, KA Sancaka juga turut menggunakan motif batik. Kereta makan M1 0 86 01 menggunakan motif Lasem dengan warna dominan merah. Dalam usaha lebih lanjut, unit kereta yang kemudian menggunakan motif batik lebih banyak menggunakan unit kereta makan kelas eksekutif.

Kereta makan batik juga hadir pada KA Argo Jati dan KA Argo Lawu. KA Argo Jati menggunakan kereta makan M1 0 82 05 dengan motif Cirebonan berwarna kuning. Sementara itu, KA Argo Lawu menggunakan kereta makan M1 0 95 01 dengan motif bernama “Langlang Jagat” dengan warna biru gelap dan putih.

Selain di KA Argo Jati, kereta makan bermotif batik kemudian hadir juga di KA Tegal Bahari dan Ciremai. Kedua kereta makan ini bernomor M1 0 67 01 dan M1 0 68 01. Bahkan, M1 0 82 05 juga sempat berganti motif batik berwarna biru. Selain itu, K1 0 95 16 pada rangkaian KA Ciremai pun ikut menggunakan motif batik.

kereta batik
Kereta makan KM1 0 95 03 pada KA Bima. Pemotretan pada saat beroperasi sebagai KA Argo Jati Tambahan yang menggunakan rangkaian idle KA Bima. | Foto: RED/Martinus Erico

Kemudian, KA Bima juga menyusul menggunakan motif batik pada kedua rangkaiannya. Kereta makan KM1 0 95 03 menggunakan motif berwarna merah muda, sedangkan M1 0 68 02 menggunakan motif warna biru. Tak hanya KA Bima, namun KA Sembrani juga ikut menyusul lewat KM1 0 95 02 yang menggunakan motif ondel-ondel berwarna merah dan kuning.

Tak hanya pada kereta eksekutif

Kereta T’204-34 pada KRL seri 205 rangkaian BOO92 yang juga pernah menggunakan wrapping batik | Foto: Satoshi Takagi

Penggunaan motif batik pada kereta makan kemudian tidak lagi eksklusif penggunaannya untuk kereta kelas eksekutif saja. Kereta makan kelas ekonomi pun turut menggunakan motif batik pada perkembangannya. Tercatat, KA Pangrango dan KA Kalijaga pada saat itu juga menggunakan motif batik.

KMP3 0 65 11 pada KA Pangrango menggunakan motif bunga raflesia. Motif batik ini memiliki warna dominan merah marun. Sedangkan KMP3 0 66 13 yang juga untuk operasional KA Pangrango menggunakan motif Cikole. Sementara itu, KMP3 0 06 01 pada KA Kalijaga menggunakan motif yang juga berwarna merah marun dengan tagline “Menjaga Tradisi”. KMP3 0 06 01 juga beroperasi pada KA Bengawan, karena KA Kalijaga sejatinya merupakan KA yang beroperasi menggunakan rangkaian idle KA Bengawan.

Bus rel Batara Kresna | Foto: RED/Tubagus Gemilang Pratama

Selain itu, KM2 0 82 02 kelas bisnis pada KA Cirebon Ekspres juga ternyata pernah menggunakan motif batik. Kereta ini menggunakan motif khas Cirebon berwarna hijau. Selain itu, terdapat pula foto Stasiun Cirebon Kejaksan pada bagian tengah motif batik.

Bus rel milik Pemerintah Kota Surakarta yang populer dengan nama “Batara Kresna” pun menggunakan motif batik pada striping-nya. Namun motif batik tersebut hanyalah bagian minoritas dari keseluruhan livery bus rel tersebut.

Rangkaian 1060F saat menggunakan frame samping batik kuning setelah melepas livery hijaunya | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Motif batik juga sempat merambah rangkaian KRL eks Jepang. Awalnya, KRL seri 1000 rangkaian 1060F yang menggunakan motif batik ini. Kemudian KRL seri 205 rangkaian BOO92 juga sempat menggunakan wrapping batik dan wayang pada kereta T’204-34.

Penerapan di Sumatra

Kereta eksekutif bermotif songket milik Depo Kertapati | Foto: Dok. KAI

Tak mau kalah dengan Jawa, di Sumatra penerapan motif pakaian daerah pada kereta penumpang pun pernah atau masih eksis. Hanya saja bukanlah motif batik yang digunakan, tapi motif pakaian daerah khas Sumatra.

Di Sumatra bagian selatan, kereta penumpang kelas eksekutif dan kereta makan pernah menggunakan wrapping songket dan tapis. Pada kereta eksekutif, penerapan motif songket dilakukan pada beberapa unit kereta eksekutif KA Sriwijaya dan Sindang Marga seperti halnya K1 0 66 18 milik Depo Kertapati untuk memeriahkan pagelaran Pesta Olahraga Asia Tenggara 2011.

Kereta makan MP2 0 78 01 | Foto: RED/Ahmad Afif Mahdi

Sementara itu, beberapa unit kereta makan kelas bisnis di wilayah Sumatra bagian selatan juga sempat menggunakan motif tapis. Dua contoh dari penerapan motif tapis ini adalah MP2 0 78 01 dan MP2 0 78 03.

Rangkaian KRDI Seminung. Kini KRDI ini telah berpindah ke Sumatra Barat. | Foto: RED/Ahmad Afif Mahdi

Rangkaian KRDI yang dahulu beroperasi sebagai KRD Seminung dan KRD Way Umpu pun keduanya menggunakan motif pakaian daerah khas Lampung. Hanya saja, keduanya kini tidak lagi beroperasi di wilayah Lampung, pun tidak lagi menggunakan motif pakaian daerah Lampung. Rangkaian KRDI eks Seminung telah berpindah ke Sumatra Barat dengan warna hijau, sedangkan rangkaian KRDI eks Way Umpu telah berpindah ke Yogyakarta dan kini menggunakan motif batik.

KMP2 Batik
KMP2 0 81 02 dengan motif batik ulos Medan | Foto: Farhan Sitorus

Di Sumatra Utara sendiri juga sempat ada kereta dengan motif pakaian daerah. Adalah KMP2 0 81 02 milik Depo Medan yang menggunakan motif kain ulos Medan. Kereta ini merupakan kereta hasil modifikasi dari KRD dengan menghilangkan mesin dan kabin masinis. Namun sisa-sisa KRD seperti bekas lubang knalpot dan bekas kipas radiator masih tampak jelas pada kereta ini. Bentuk bagian samping kereta pun masih khas KRD.

Bus rel “Mak Buih” di Sumatra Barat. Bus rel ini sempat akan dipulangkan ke Jawa, namun hal ini urung dilakukan hingga kini. | Foto: Maulana Nur Achsani

Selain di Sumatra bagian selatan, penerapan motif pakaian daerah juga hadir di Sumatra Barat dan masih hadir hingga kini. Adalah bus rel Mak Buih yang melayani KA Lembah Anai, menggunakan motif khas Sumatra Barat pada striping-nya.

Sempat lama menghilang di kereta penumpang regional

Rangkaian KA Gajayana dengan lokomotif CC2041002 dan kereta makan M1 0 09 01 bermotif batik melakukan gerakan langsir di Stasiun Malang | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Sayangnya, kereta batik tidaklah bertahan terlalu lama. Di tahun 2014, livery kereta penumpang KAI mulai berganti desain menjadi garis biru dan oranye berombak seperti selendang yang dipecut. Setiap kereta yang menjalani perawatan akhir di balai yasa pada saat itu akan berganti livery yang baru.

Kereta-kereta batik ini pun satu per satu menjalani perawatan akhir di balai yasa. Saat keluar dari balai yasa, kereta-kereta ini tak lagi mengenakan motif batik sebagaimana sebelumnya. Satu per satu, motif batik tak lagi ada pada KA-KA penumpang.

Ketiadaan motif batik pada KA penumpang ini berlangsung cukup lama. Saat livery kembali berganti lagi menjadi livery seperti pada kereta penumpang stainless steel, motif batik juga masih tak pernah terpasang lagi. Itu berarti sudah sekitar 7-8 tahun lamanya hingga tulisan ini terbit di mana tiada KA penumpang regional bermotif batik yang beroperasi.

Hadir kembali di KA komuter wilayah Yogyakarta

kereta batik
Uji coba rangkaian KRDI di jalur arah Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) | Foto: Anasruloh

Dalam beberapa tahun ke belakang, KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta memberlakukan penggunaan striping atau wrapping batik pada rangkaian kereta komuternya.  Hal ini bermula pada salah satu rangkaian KRDE Prameks dengan nomor K3 2 12 06-K3 2 12 10. Motif batik pada rangkaian KRDE ini terinspirasi dari wilayah aglomerasi Joglosemar.

Penerapan ini kemudian berlanjut pada rangkaian-rangkaian KRD lainnya milik Daop 6. Baik KRDE seri ME204 maupun KRDI buatan INKA juga menggunakan striping dan wrapping batik pada unit-unit keretanya. KRD-KRD ini secara bergantian beroperasi sebagai KRD Prameks maupun KRD bandara.

kereta batik
KRL KfW i9000 melayani Lin Yogyakarta memasuki Stasiun Lempuyangan. Di tahun ini, layanan KRL Lin Yogyakarta ditargetkan beroperasi sampai Stasiun Palur, 6 kilometer di timur Stasiun Solo Balapan. | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin
kereta batik
KRL seri 205 rangkaian SLO32 di dalam PUKRL Klaten | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Setelah elektrifikasi jalur Yogyakarta-Solo Balapan, armada KRL di Daop 6 juga menggunakan striping batik. Untuk KRL KfW, INKA telah mempersiapkan striping batik sejak pekerjaan revitalisasinya berlangsung. Striping batik tersebut bermotif parang dengan warna merah dan putih layaknya bendera Indonesia.

Bahkan, salah satu rangkaian KRL seri 205 di Daop 6 yaitu SLO32 menggunakan striping motif batik ini. Striping batik pada rangkaian SLO32 sama-sama bermotif parang. Hanya saja, warna motif batik pada rangkaian SLO32 adalah merah dan kuning. terdapat pula motif gunungan pada sisi kabin masinis. Sementara itu, rangkaian SLO9 tetap menggunakan livery KAI Commuter.

Dapatkah motif batik hadir kembali di kereta penumpang regional?

Lokomotif CC2061362 menghela KA Argo Lawu dengan wrapping tematik KTT G20 | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

Melihat kembalinya penggunaan livery tahun 1953-1991 pada lokomotif jalur utama yang selanjutnya dikenal dengan sebutan vintage livery, penggunaan wrapping motif batik pun dapat saja kembali lagi ke ranah kereta penumpang regional.

Tanpa sadar, wrapping motif batik sebenarnya saat ini telah kembali ada pada kereta penumpang regional. Dalam menyambut presidensi G20 Indonesia 2022, KAI telah menerapkan penggunaan wrapping tematik G20 pada beberapa lokomotif dan rangkaian KA penumpang. Motif yang terdapat pada wrapping tematik G20 ini merupakan motif batik.

Motif batik pada tematik G20 ini terinspirasi dari motif batik kawung yang berwarna merah dengan warna latar putih. Pada motif ini, logo presidensi G20 yang terinspirasi dari gunungan serta slogan presidensi G20 Indonesia, “Recover Together, Recover Stronger”, juga ikut tersemat.

Lokomotif CC2018331 vintage livery menghela KA Brantas tujuan Kediri. Bila livery zaman dahulu dapat diterapkan kembali pada lokomotif jalur utama, bukan tak mungkin kereta bermotif batik juga akan hadir kembali di jalur utama. | Foto: Khesya Radya Irwanto

Hanya saja, motif batik yang benar-benar mirip seperti 10 tahun yang lalu memang belum hadir kembali. Walau demikian, kereta penumpang pada saat ini sangat memungkinkan untuk pemasangan stiker wrapping. Hal ini karena material kereta penumpang yang sudah menggunakan stainless steel yang lebih bersahabat untuk pemasangan stiker.

Belakangan, diskusi untuk mengembalikan motif batik dengan menggunakan stiker wrapping memang telah muncul di media sosial. Dalam diskusi tersebut, muncul gambar kereta penumpang stainless steel dengan motif batik. Bersamaan dengan motif batik dengan stiker wrapping, muncul juga diskusi tentang livery-livery komemoratif lainnya dengan menggunakan stiker wrapping, seperti livery Biru Malam, livery Argo Bromo Anggrek merah muda, dan bahkan livery eksekutif era Perumka dengan warna biru tua dan biru muda.

Akan menarik jika KAI memutuskan untuk menerapkan kembali motif batik seperti 10 tahun yang lalu pada kereta-kereta penumpang. Usaha KAI pada saat itu untuk menaikkan pamor kereta api lewat motif batik terbilang berhasil. Kereta batik pun juga menjadi buruan utama para pecinta kereta api pada saat itu karena banyaknya jenis motif yang digunakan sehingga membuat perbedaan yang unik antara KA-KA penumpang. (RED/MPF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: