Progresnya Sangat Cepat, Begini Situasi Terkini Proyek Elektrifikasi Daop 6 Yogyakarta

LAA dan bracketnya yang sudah terpasang di dekat Stasiun Maguwo | Foto: Arkan Andya 

[29/4] Proyek elektrifikasi jalur di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta adalah proyek yang telah dijajaki sejak 2006 hingga 2009 silam. Proyek elektrifikasi ini nantinya akan mengonversi penggunaan kereta rel diesel (KRD) untuk layanan lokal Prambanan Ekspres (Prameks) relasi Kutoarjo-Yogyakarta-Solo Balapan (PP) menjadi kereta rel listrik (KRL). Berkali-kali muncul di pemberitaan bahwa proyek akan mulai dikerjakan pada tahun tertentu, akan tetapi proyek tidak benar-benar dimulai pada tahun yang diberitakan. Tiang-tiang listrik aliran atas (LAA) yang sudah berjejer di Solo Jebres pun seakan terbaikan begitu saja.

Tiang LAA di Stasiun Solo Jebres tahun 2018 lalu | Foto: Jawa Pos

Di tahun 2019, Pemerintah Republik Indonesia memasukkan proyek elektrifikasi Daop 6 Yogyakarta sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk bidang infrastruktur perkeretaapian untuk tahun 2020. Keseluruhan dari proyek elektrifikasi yang menjadi tanggung jawab dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ini sebenarnya telah dimulai sebelum ditetapkan untuk menjadi PSN tahun 2020. Proyek ini dimulai dengan ditariknya seluruh KRL KfW i9000 milik Kemenhub dari wilayah Jakarta kembali ke INKA untuk refurbishment, di mana nantinya KRL ini akan dipindahtugaskan ke wilayah Daop 6 Yogyakarta.

Hingga akhirnya pada 3 Februari 2020 lalu, tiang beton pertama yang akan digunakan untuk penyangga kawat LAA mulai ditancap di Stasiun Klaten setelah malam sebelumnya dikirimkan dari tempat pengendapan di Stasiun Solo Jebres. Tiang-tiang penyangga kawat LAA ini telah berada di sana sejak 2015, dan kabarnya berjumlah sekitar 8000 tiang yang akan digunakan untuk elektrifikasi lintas pada tahap pertama sepanjang 60 kilometer antara Yogyakarta-Solo Balapan.

Mulai bulan Maret 2020, pengerjaan proyek elektrifikasi dikebut setelah penggalian lubang-lubang pondasi sepanjang Yogyakarta-Solo Balapan selesai digali. Tiang-tiang LAA didistribusikan ke banyak lokasi antara Yogyakarta-Solo Balapan, baik dengan menggunakan truk maupun menggunakan kereta api luar biasa (KLB) sepanjang Maret-April 2020.

Salah satu KLB pengiriman tiang LAA dari Solo Jebres, 18 Februari | Foto: Angin Elandajagat

Wabah COVID-19 pun tidak menghentikan pengerjaan proyek ini. Penghentian operasional seluruh kereta api jarak jauh justru malah menjadi kesempatan untuk mengebut proyek ini sehingga selesai lebih awal. Proyek elektrifikasi yang sedianya dibagi menjadi dua tahap yaitu Yogyakarta-Klaten dan Klaten-Solo Balapan ini seolah berubah menjadi satu tahap pengerjaan Yogyakarta-Solo Balapan. Sepanjang Maret-April 2020, tiang LAA yang tadinya berdiri hanya di area Klaten, perlahan berdiri di hampir seluruh tempat.

Tiang LAA yang sedang akan dipancang di Stasiun Yogyakarta, 21 Maret | Foto: Oktavino Hiu
Proses pemancangan tiang LAA di Stasiun Yogyakarta, 21 Maret | Foto: Oktavino Hiu
Deretan tiang LAA dan gantry di petak Srowot-Klaten | Foto: Naufal Putra

Per 28 April, tiang LAA sudah berdiri di antara Yogyakarta-Purwosari. Menyisakan hanya satu petak jalan antara Purwosari-Solo Balapan yang belum ada pendirian tiang LAA. Pemasangan tiang LAA kemungkinan mulai didirikan pada Mei mendatang setelah distribusi tiang LAA berikutnya menuju Purwosari selesai dilakukan.

Tiang LAA yang telah terpancang di dekat Stasiun Purwosari, 28 April | Foto: Angin Elandajagat

Di beberapa tempat seperti halnya Lempuyangan, Maguwo, dan Klaten, tiang LAA telah dilengkapi aksesorisnya yaitu gantry (baik single bracket maupun V-Truss) dan hanger untuk messenger wire dan kawat troli. Keberadaan aksesoris ini berarti setahap lagi menuju pemasangan kabel pengumpan, kabel pengembali, messenger wire, dan kawat troli pada tiang-tiang tersebut. Namun, di area stasiun yang kebanyakan memiliki kanopi penutup peron, tiang LAA kebanyakan belum dipasangkan bracket. Selain itu, di beberapa jembatan panjang juga tampak belum dipasangi bracket ataupun tiang khusus.

Tiang LAA yang telah dipasang di percabangan menuju Balai Yasa Yogyakarta dekat Lempuyangan, 28 April | Foto: Oktavino Hiu
Tiang LAA yang telah terpasang di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, 12 April | Foto: Gary

Menurut informasi yang REDaksi peroleh, pemasangan kawat dan kabel akan dimulai pada bulan Mei 2020 ini. Sementara penyelesaian proyek termasuk di antaranya kegiatan switch on gardu traksi diperkirakan akan dilakukan secepat-cepatnya di bulan Desember 2020 mendatang jika tidak ada perubahan timeline proyek menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Nantinya, pengoperasian KRL akan dilakukan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Proses pemasangan gantry LAA di petak Klaten-Srowot, 11 April | Foto: Naufal Putra

Sementara itu, tahap kedua elektrifikasi Daop 6 Yogyakarta rencananya akan dimulai pada tahun 2021. Tahap kedua ini akan mengelektrifikasi ruas Yogyakarta-Kutoarjo beserta jalur cabang Kedundang-Bandara Internasional Yogyakarta. Sehingga di tahun depan, panjang jalur terelektrifikasi di wilayah Daop 6 Yogyakarta (yang masuk sedikit ke wilayah Daop 5 Purwokerto di Stasiun Kutoarjo) akan mencapai lebih dari 120 kilometer. Rute ini akan menjadi rute elektrifikasi terpanjang yang dilayani oleh satu layanan KRL, melebihi Jalur Hijau (Green Line) di Jabodetabek yang sebelumnya sudah dioperasikan oleh KCI antara Tanah Abang-Rangkasbitung sejauh 73 kilometer. (RED/MPF/IHF)

Muhammad Pascal Fajrin

A kid from yesterday, today

Tinggalkan komentar...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

×
%d blogger menyukai ini: