Setahun Peresmian KRL Yogyakarta-Solo: Facts and Figures

KRL Yogyakarta-Solo
KRL seri 205 Yogyakarta-Solo | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

REDigest.web.id – Tanpa terasa sudah setahun lebih beberapa hari KRL Yogyakarta-Solo telah resmi beroperasi. Layanan ini sendiri diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 1 Maret 2021 silam. Sebelum diresmikan, KRL ini sudah beroperasi dari tanggal 10 Februari 2021 lalu.

Selama setahun beroperasi, berikut adalah facts and figures alias fakta dan angka menarik di balik layanan KRL Yogyakarta-Solo. Penasaran? Simak terus facts and figures KRL Yogyakarta-Solo di artikel berikut ini!

Facts and Figures Elektrifikasi di Yogyakarta-Solo:

Elektrifikasi KRL Yogyakarta-Solo
Deretan tiang LAA dan gantry di petak Srowot-Klaten semasa proyek elektrifikasi masih berlangsung, 2020 | Foto: Naufal Putra

Bukan yang Pertama: Menjadi jalur elektrifikasi di luar sistem KRL Jabodetabek. Secara keseluruhan telah ada LRT Palembang yang telah beroperasi sejak 2018 silam, 3 tahun sebelum KRL Yogyakarta-Solo.

Pertama: Menjadi jalur heavy rail terelektrifikasi di luar sistem KRL Jabodetabek. Meskipun Rangkasbitung berada di luar Jabodetabek, tetapi stasiun ini merupakan bagian dari sistem KRL Jabodetabek secara keseluruhan.

2009: Pertama kali ada studi elektrifikasi sebagai alternatif pengembangan jaringan KA komuter di wilayah Yogyakarta-Solo oleh JICA. Kajian rute dalam studi ini adalah dari Stasiun Wates hingga Stasiun Sragen.

2015: Tiang-tiang Listrik Aliran Atas (LAA) tiba di Solo untuk kemudian mengendap selama elektrifikasi belum terlaksana.

Maret 2020: Pertama kali elektrifikasi bermulai dengan berdirinya tiang LAA di Stasiun Klaten. Memulai progres elektrifikasi lintas Yogyakarta-Solo.

Oktober 2020: Pertama kali KRL berjalan dengan tenaga sendiri di lintas Yogyakarta-Solo, tepatnya dari Stasiun Klaten hingga Stasiun Brambanan.

Facts and Figures Operasional KRL Yogyakarta-Solo:

Stasiun Ceper
Stasiun Ceper, salah satu stasiun yang melayani KRL Yogyakarta-Solo | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

11 stasiun: Dari Yogyakarta (Tugu) hingga Solo Balapan, KRL Yogyakarta-Solo melayani 11 stasiun. Kesebelas stasiun ini terdiri atas Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, dan Solo Balapan.

24 perjalanan: Jumlah perjalanan maksimal yang KRL Yogyakarta-Solo layani saat ini. Akan tetapi jumlah perjalanan ini hanya tercapai pada saat akhir pekan. Pada hari biasa, terdapat 20 perjalanan KRL Yogyakarta-Solo yang beroperasi.

90 km/jam: Puncak kecepatan operasi KRL Yogyakarta-Solo, lebih tinggi ketimbang KRL Commuter Line Jabodetabek yang saat artikel ini terbit masih 70 km/jam. KAI Commuter baru pada Februari kemarin mengujicobakan puncak kecepatan 90 km/jam di Lin Cikarang.

122,81 km: Panjang rute keseluruhan termasuk rencana pelayanan KRL Yogyakarta-Solo. Dari penelusuran Tim REDaksi, jarak in adalah jarak keseluruhan dari Stasiun Kutoarjo hingga Stasiun Palur. Stasiun Palur sendiri akan melayani KRL dengan target pelayanan sebelum lebaran.

Fasilitas Perawatan: Terdapat dua fasilitas perawatan yang beroperasi dan satu fasilitas perawatan yang sedang dalam pembangunan untuk mendukung KRL Yogyakarta-Solo. Jalur stabling di Solo Balapan berfungsi untuk perawatan harian, dan PUK di Klaten berfungsi untuk perawatan bulanan. Nantinya akan ada fasilitas depo di Solo Jebres untuk perawatan berat.

Facts and Figures Armada KRL Yogyakarta-Solo:

Armada KRL Yogyakarta-Solo
KRL KfW dan KRL seri 205, dua armada andalan KRL Yogyakarta-Solo | Foto: RED/Muhammad Pascal Fajrin

6 Rangkaian: KRL yang berada di lintas Yogyakarta-Solo, terdiri atas 5 rangkaian KRL KfW dan 1 rangkaian KRL seri 205 dengan stamformasi 8 kereta.

3 Rangkaian: KRL yang beroperasi setiap harinya dalam melayani 20 hingga 24 perjalanan KRL di lintas Yogyakarta-Solo, dengan tiga rangkaian lainnya menjadi cadangan.

8 kereta: Keseluruhan rangkaian ini merupakan KRL stamformasi 8 kereta yang merupakan gabungan dari dua rangkaian KRL. Pada awalnya KRL Yogyakarta-Solo beroperasi dengan kapasitas 4 kereta, bukan 8 kereta, namun pola operasi ini tidak berlangsung lama.

Pertama Kali: KRL eks Jepang merasakan lintas di luar sistem Jabodetabek, dan dikirim keluar sistem Jabodetabek bukan untuk perucatan. Sebelumnya pengiriman KRL eks Jepang keluar sistem Jabodetabek berakhir baik di Purwakarta ataupun Cikaum untuk ditumpuk.

2020: Pertama kali armada KRL KfW untuk lintas Yogyakarta-Solo menjalani uji coba. Uji coba ini sendiri berlangsung di Jakarta untuk beberapa rangkaian pertama karena LAA yang belum siap.

Facts and Figures Jumlah Pengguna KRL Yogyakarta-Solo:

Pengguna KRL Yogyakarta-Solo
Desember 2021 menjadi puncak kepadatan pengguna KRL Yogyakarta-Solo | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

2,2 juta: Pengguna yang menggunakan KRL Yogyakarta-Solo. Sebagai perspektif, semasa pandemi pada 20 Desember 2021 jumlah pengguna per hari KRL Commuter Line Jabodetabek sebanyak 506.630 orang. Jumlah penumpang ini setara dengan jumlah pengguna 4 hari KRL Commuter Line Jabodetabek.

14.071: Jumlah pengguna tertinggi dari KRL Yogyakarta-Solo. Angka ini tercapai pada 1 Februari 2022.

212: Jumlah pengguna terendah dari KRL Yogyakarta-Solo. Angka ini tercapai pada 20 Juli 2021, ketika PPKM Darurat dan kewajiban STRP berlaku.

9.375: Rata-rata pengguna harian tertinggi dari KRL Yogyakarta-Solo. Angka ini tercapai pada Desember 2021.

1.474: Rata-rata pengguna harian terendah dari KRL Yogyakarta-Solo. Angka ini tercapai pada Juli 2021.

Solo Balapan: Menjadi stasiun KRL Yogyakarta-Solo dengan rata-rata volume pengguna tertinggi per hari pada Januari 2022. Terdapat 4.261 pengguna setiap harinya yang menggunakan stasiun ini.

Srowot: Menjadi stasiun KRL Yogyakarta-Solo dengan rata-rata volume pengguna terendah per hari pada Januari 2022. Hanya ada 70 pengguna setiap harinya yang menggunakan stasiun ini.

50%: Harapan Kementerian Perhubungan atas jumlah pengguna kendaraan pribadi yang beralih ke KRL Yogyakarta-Solo.

Facts and Figures Dampak Ekonomi:

Facts and Figures Pertumbuhan Ekonomi KRL Yogyakarta-Solo
Data pertumbuhan ekonomi pada daerah yang terhubung KRL Yogyakarta-Solo | Sumber: KAI Commuter

7,44%: Besaran pertumbuhan ekonomi Kota Yogyakarta pada 2021. Secara rinci, peningkatan ekonomi sektor PDRB dari 35,76 ke 38,42 triliun Rupiah, sektor transportasi dari 1,31 ke 1,42 triliun Rupiah, dan sektor pariwisata dari 3,91 ke 4,24 triliun Rupiah.

5,88%: Besaran pertumbuhan ekonomi Kabupaten Klaten pada 2021. Secara rinci, peningkatan ekonomi sektor PDRB dari 39,95 ke 42,30 triliun Rupiah, sektor transportasi dari 0,58 ke 0,60 triliun Rupiah, dan sektor pariwisata dari 1,36 ke 1,52 triliun Rupiah.

5,77%: Besaran pertumbuhan ekonomi Kota Solo pada 2021. Secara rinci, peningkatan ekonomi sektor PDRB dari 47,62 ke 50,37 triliun Rupiah, sektor transportasi dari 0,49 ke 0,52 triliun Rupiah, dan sektor pariwisata dari 2,17 ke 2,38 triliun Rupiah.

3,69%: Besaran pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2021. Ketiga daerah di atas, yakni Yogyakarta, Klaten, dan Solo mencetak pertumbuhan ekonomi lebih besar dari angka ini.

Facts and Figures Transaksi Nontunai KRL Yogyakarta-Solo:

KMT KRL Yogyakarta-Solo
Kartu Multi Trip (KMT) tematik edisi Jogja yang KAI Commuter rilis pada akhir 2020 | Foto: KAI Commuter

100%: Keseluruhan transaksi  di KRL Yogyakarta-Solo merupakan transaksi nontunai. Hal ini karena sejak awal beroperasi pada 10 Februari 2021, tidak tersedia Tiket Harian Berjaminan (THB) seperti halnya di KRL Commuter Line Jabodetabek. THB sendiri di Jabodetabek secara berangsur mulai berkurang penggunaannya.

254.667: Jumlah Kartu Multi Trip (KMT) yang berhasil KAI Commuter jual selama satu tahun beroperasinya KRL Commuter Line Yogyakarta-Solo.

Rp 1.441 miliar: Nilai transaksi nontunai dengan uang elektronik di Daerah Istimewa Yogyakarta pada triwulan III 2021. Angka ini meningkat dari 1.021 miliar Rupiah pada triwulan I 2021, periode di mana KRL Yogyakarta-Solo baru saja beroperasi.

927.715: Jumlah merchant yang menerima QRIS di Daerah Istimewa Yogyakarta pada triwulan III 2021. Angka ini meningkat dari 583.285 merchant pada triwulan I 2021, periode di mana KRL Yogyakarta-Solo baru saja beroperasi.

Demikian facts and figures dari setahun resmi beroperasinya KRL Yogyakarta-Solo yang Tim REDaksi dapat himpun kali ini. Besar harapan sistem KRL ini dapat akan semakin berkembang dan andal di kemudian hari. (RED/IHF)

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

One thought on “Setahun Peresmian KRL Yogyakarta-Solo: Facts and Figures

Tinggalkan komentar...

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×
%d blogger menyukai ini: