Inilah Deretan Lokomotif Uap yang Aktif Bersama KAI

lokomotif uap aktif
Lokomotif uap C1218 menarik KA Wisata Jaladara di Solo | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

REDigest.web.id – Lokomotif uap merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perkeretaapian. Sebelum penggunaan lokomotif diesel dan listrik meluas, lokomotif uap menjadi armada utama penarik rangkaian kereta. Saat ini pun banyak lokomotif uap yang dipreservasi dan aktif beroperasi di seantero dunia. Selain menjadi bagian sejarah perkeretaapian, penampilannya yang ikonik dan khas juga memberikan daya tarik tersendiri.

Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai jenis lokomotif uap yang dulu beroperasi baik di lintas utama, lintas cabang, ataupun lintas lainnya. Saat ini, KAI memiliki sejumlah lokomotif uap yang mereka preservasi, baik dalam keadaan statis, keadaan aktif, ataupun sedang menunggu restorasi.

Artikel kali ini memuat daftar lokomotif yang dipreservasi KAI dalam keadaan aktif, baik dalam keadaan siap ataupun tidak siap operasi. Pembahasan kali ini tidak mencakup lokomotif yang digunakan oleh instansi lain seperti pabrik gula ataupun Perhutani.

Lokomotif uap yang aktif di Ambarawa sejak awal, B2502 dan B2503

lokomotif uap aktif
Lokomotif B2502 saat langsir di Bedono | Foto: RED/Tubagus Gemilang Pratama

Lokomotif B25 adalah lokomotif uap buatan Maschinenfabrik Esslingen, Stuttgart, Jerman yang telah beroperasi sejak 1902 silam. Perusahaan KA swasta Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) kala itu membeli lokomotif ini untuk angkutan militer di jalur rel bergerigi Ambarawa-Secang. Lokomotif B2502 dan B2503 aslinya memiliki penomoran NIS 232 dan 233.

Lokomotif ini merupakan lokomotif yang unik karena memiliki roda gigi. Fungsi dari roda gigi ini bertugas untuk mengait rel bergerigi yang ada dibawahnya. Jika tidak ada roda gigi ini, kereta api tidak akan bisa menanjak. Posisi roda gigi ini berada di tengah, di antara roda-roda lokomotif lain yang berbentuk normal. Keberadaan komponen roda gigi ini sangatlah vital. Penggunaan roda gigi memungkinkan kecuraman 65% dapat dilalui meskipun dengan kecepatan rendah 10 km/jam. Pada saat menurun, maka roda gigi berfungsi untuk menahan kecepatan kereta api.

lokomotif uap aktif
Lokomotif B2503 dan D301 saat berada di Dipo Lokomotif Ambarawa | Foto: RED/Bayu Tri Sulistyo

Saat ini terdapat dua lokomotif uap B25 dalam kondisi aktif beroperasi, yaitu lokomotif B2502 dan B2503. Keduanya digunakan sebagai lokomotif penarik kereta wisata di Ambarawa. Selain itu, terdapat B2501 yang menjadi lokomotif pajangan statis di Monumen Palagan Ambarawa.

Lokomotif B2502 diberi nama “Bobo”, sedangkan lokomotif B2503 diberi nama “Boni”. Pemberian nama ini dilakukan pada tahun 2011 silam. Di tahun 2016, Museum Ambarawa mengadakan acara peringatan pemberian nama kedua lokomotif ini.

Lokomotif ini memiliki keluaran tenaga 450 HP dan memiliki kecepatan maksimum 30 km/jam. Lokomotif ini memiliki susunan roda 0-4-2RT. Susunan roda ini dikenal dengan sebutan “Olomana”.

B5112, dari pajangan statis selama 30 tahun lebih lalu hidup kembali

lokomotif uap aktif
Lokomotif B5112 dengan kepulan asapnya | Foto: Dok. RMOL

Selain lokomotif uap B2502 dan B2503, di Ambarawa juga terdapat lokomotif B5112 yang masih aktif. Lokomotif ini aslinya memiliki nomor SS303, lalu kemudian menjadi SS612.

Perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) membeli lokomotif uap B51 sebanyak 44 buah dari 3 pabrik yang berbeda yaitu Hannoversche Maschinenbau AG atau yang lebih dikenal dengan nama Hanomag (Hannover, Jerman), Sachsische Maschinenfabrik atau yang lebih dikenal dengan Hartmann (Chemnitz, Jerman), dan Werkspoor (Amsterdam, Belanda). 44 lokomotif B51 didatangkan secara bertahap pada tahun 1900-1910.

Di masa operasionalnya dahulu, lokomotif B51 digunakan untuk menghela kereta penumpang lokal di rute Tanah Abang–Rangkasbitung–Merak/Labuan, rute Kertosono–Madiun–Blitar dan rute Babat–Jombang. Untuk memenuhi kebutuhan transportasi kereta api di Sumatra Selatan, maka 5 lokomotif B51 milik SS dipindah dari Jawa ke Sumatera Selatan. Pada masa pemerintah Jepang, 1 lokomotif B51 dipindah dari Jawa ke Sumatera untuk melayani jalur kereta api rute Muaro (Sumatra Barat)–Pekanbaru (Riau).

Lokomotif B5112 aslinya adalah pajangan statis di Museum Ambarawa hingga 2012 lalu. Lokomotif ini merupakan buatan pabrik Hanomag, Hannover, Jerman pada 1902 silam. Lokomotif ini akhirnya diputuskan untuk direstorasi ke dalam keadaan operasional dengan mempertimbangkan kondisinya yang relatif baik. Lokomotif ini kemudian diberi nama “Sun” dan beroperasi kembali sejak 2014. Awalnya, lokomotif ini juga akan ditempatkan di Kota Surakarta. Namun hal ini urung dilakukan dan B5112 tetap menjadi koleksi Museum Ambarawa.

Lokomotif B51 menggunakan bahan bakar kayu jati dan didesain untuk dioperasikan di jalur datar. Lokomotif B51 memiliki daya 415 HP dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 75 km/jam. Lokomotif ini memiliki susunan roda 4-4-0 dan berat 32 ton. Susunan roda 4-4-0 ini juga dikenal dengan sebutan “American”. Sebutan ini lahir karena lokomotif uap dengan susunan roda seperti ini menjadi susunan khas di Amerika Serikat pada saat kereta api mulai beroperasi di negara tersebut di tahun 1800-an.

C1218, bernasib sangat beruntung

Lokomotif C1218
Lokomotif C1218 saat langsir di eks jalur cabang Purwosari-Kartasura | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Beralih ke Solo, kita memiliki lokomotif C1218. Lokomotif ini aslinya memiliki nomor SS229 lalu kemudian SS457. Lokomotif ini diproduksi tahun 1893–1902 oleh Sachsische Maschinenfabrik, Chemnitz, Jerman. Lokomotif ditugaskan sebagai lokomotif untuk dinas langsir atau lokomotif penarik kereta penumpang/barang pada rute jarak pendek dan datar di pulau Jawa.

Awalnya terdapat 43 unit lokomotif C12. Kini tersisa 3 unit lokomotif C12, yaitu C1206, C1218 dan C1240. C1206 dipajang di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan mulai operasional tahun 1895. C1240 dipajang di Museum Ambarawa dan mulai operasional tahun 1902. C1218 sendiri mulai operasional tahun 1896.

Sebelum dibawa ke Ambarawa, lokomotif C1218 menjadi penghuni pojokan Depo Lokomotif Cepu hingga tahun 2000-an. Sungguh sebuah keajaiban mengingat banyaknya lokomotif uap di depo lokomotif lain yang tidak selamat dari perucatan sejak 1970-an hingga awal 2000-an. Di tahun 2002, lokomotif C1218 dibawa ke Museum Ambarawa untuk direstorasi. Lokomotif ini kembali mengepulkan uap dari cerobongnya pada 3 Juli 2006.

Sejak 2009, lokomotif C1218 digunakan menjadi armada penarik Sepur Kluthuk Jaladara. Pemindahan lokomotif ini ke Surakarta dilakukan atas permintaan Pemerintah Kota Surakarta pada saat itu. Pada awal 2020, tugasnya berbagi dengan lokomotif D1410 yang sempat berparade saat Car Free Day Solo.

Lokomotif C12 dapat melaju hingga kecepatan 50 km/jam dan memiliki daya 350 HP (Horse power). Lokomotif ini memiliki berat 33,6 ton dan panjang 8575 mm. Lokomotif ini memiliki susunan roda 2-6-0T, susunan yang dikenal dengan sebutan “Mogul”.

D1410, lokomotif uap eks penakluk Sukabumi, aktif kembali di Surakarta

Lokomotif D1410
Lokomotif D1410 di Stasiun Srowot saat berjalan menuju Purwosari | Foto: Oktavino Hiu Adi Tirtayasa

Lokomotif D1410 merupakan lokomotif produksi Hanomag, Hannover, Jerman untuk Staatsspoorwegen yang mulai beroperasi tahun 1921. Lokomotif dengan nomor seri pabrik 9653 ini memiliki nomor asli SS1410.

Sebelum lokomotif listrik dan kereta KRL merajai jalur KA di Jabodetabek, lokomotif D14 sempat menjadi lokomotif utama untuk jalur tersebut. Dengan adanya elektrifikasi jalur Jabotabek pada tahun 1925-1930, peran lokomotif uap D14 secara perlahan mulai tergantikan. Lokomotif ini kemudian menjadi lokomotif reguler di ruas Bogor-Sukabumi-Bandung. A. E. Durrant menampilkan foto lokomotif D1413 saat keluar dari mulut Terowongan Lampegan dari Jakarta menuju Cianjur dan Bandung dalam karyanya yaitu buku berjudul Indonesian Steam Locomotives in Action.

Dalam pengoperasiannya, lokomotif dengan susunan roda 2-8-2T atau dikenal dengan sebutan “Mikado” ini juga melayani kereta langsir. Lokomotif ini memiliki keluaran tenaga 200 kW dengan kecepatan maksimum 70 km/jam. Sebelumnya, terdapat 24 unit lokomotif D14 di Indonesia dan tersebar di depo lokomotif Jatinegara dan Bogor sebanyak 11 unit, Cianjur sebanyak 8 unit, Purwakarta sebanyak 3 unit, dan Sidotopo sebanyak 2 unit. Lokomotif D1401-12 diproduksi oleh Hanomag, sedangkan D1413-24 diproduksi oleh Werkspoor. Lokomotif D1410 sendiri dulunya merupakan milik Depo Lokomotif Jatinegara.

Lokomotif ini bersama dengan D52099 merupakan koleksi Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hingga tahun 2016. Di tahun 2016, kedua lokomotif uap ini dipindahkan ke Stasiun Purwosari untuk selanjutnya direstorasi hingga aktif kembali. Namun proses restorasi baru berjalan sejak Februari hingga November 2019. Proses restorasi ini melibatkan sejumlah tenaga tim ahli pensiunan yang dulu pernah merestorasi lokomotif B5112 dan sebuah perusahaan konstruksi besi dari Semarang.

Lokomotif D1410 dan D52099
Lokomotif D1410 (kiri) dan D52099 (kanan) saat masih diterpal di Purwosari | Foto: RED/Ikko Haidar Farozy

Setelah berhasil direstorasi, lokomotif ini diujicoba berjalan dengan tenaga sendiri di jalur uji coba Balai Yasa Yogyakarta di akhir 2019. Februari 2020, lokomotif ini dikirim ke Solo juga dengan tenaga sendiri dan langsung menjadi buruan pecinta KA.

Lokomotif ini kemudian diresmikan sebagai Sepur Kluthuk Jaladara pada Car Free Day Solo, 16 Februari 2020. Sayang, pandemi COVID-19 membuat layanan KA ini harus hiatus, dan kita hingga saat ini tidak banyak melihat aksi lokomotif D1410.

E1060 “Mak Itam”

Mak Itam
Lokomotif E1060 berduet dengan lokomotif BB204 saat menghela KA Wisata di tepi Danau Singkarak | Foto: Antara via Media Indonesia

Lokomotif E10 adalah lokomotif uap yang terdiri dari dua generasi. Generasi pertama adalah lokomotif yang dibeli oleh Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust (SSS) untuk angkutan batu bara Sawahlunto-Pelabuhan Teluk Bayur. Terdapat 22 lokomotif yang dibeli pada era penjajahan, dari 1921-1928, dan aslinya memiliki penomoran SSS104-125.

E1060 sendiri merupakan salah satu dari 17 lokomotif generasi kedua yang dibeli di era setelah kemerdekaan pada tahun 1964-1966, dan dibuat oleh Esslingen. Selain Esslingen, Nippon Sharyo juga membuat 7 unit lokomotif E10 yaitu E1061-E1067 pada tahun 1966. Lokomotif E10 generasi kedua dilengkapi teknologi ejektor Giesl yang membuat konsumsi bahan bakar batu bara lebih efisien.

Lokomotif E10 menjadi tulang punggung angkutan batu bara di wilayah Sumatera Barat hingga hadirnya lokomotif diesel BB204. Setelah pensiun, dua unit lokomotif ini pun dipreservasi, yakni E1016 yang sampai sekarang menjadi pajangan statis di Museum Transportasi TMII, dan E1060 yang dibawa ke Ambarawa.

Pada tahun 1988, lokomotif E1060 berhasil diperbaiki dan aktif beroperasi kembali sebagai lokomotif uap penghela KA wisata Ambarawa-Jambu. Lokomotif ini tidak dapat menanjak ke Bedono karena perbedaan sistem rel gerigi. Pada tahun 2008, lokomotif ini akhirnya kembali ke Sawahlunto, dan pada 2009 beroperasi menjadi KA Wisata dengan rute Sawahlunto-Muaro Kalaban.

Pada 2011 dan 2012, lokomotif  ini juga sempat memeriahkan Tour de Singkarak. Sayang, setelah itu, tepatnya pada Maret 2013 lokomotif Mak Itam tak lagi beroperasi. Menurut pemberitaan Kompas, kerusakan lokomotif ini ada pada pipa pembakarannya. Akibatnya, tekanan uap tidak dapat tercapai bahkan setelah dipanaskan hingga 5 jam.

Lokomotif ini pun mulai diperbaiki pada Februari 2016 setelah tertunda dari rencana awal yaitu Desember 2015. Proses perbaikan ini memanfaatkan suku cadang buatan karena sudah tidak tersedia lagi di pasaran. Perbaikan ini pun selesai pada April 2016, dan tampak berjalan sendiri di Stasiun Sawahlunto pada Juli 2016.

Lokomotif ini pun tampak kembali berjalan sendiri pada Juli 2019 dan Desember 2020, setelah kembali menjalani sejumlah perbaikan. Sedangkan rel antara Sawahlunto-Muarokalaban masih menanti perbaikan. Perbaikan ini telah diwacanakan pada Januari 2021, namun hingga kini belum ada kabar terbaru.

D52099, termodern di antara lainnya, tapi belum kunjung direstorasi

Lokomotif D52099 dengan bendera merah putih di Stasiun Purwosari | Foto: Gandung Gunawan

Lokomotif D52 adalah lokomotif uap buatan Friedrich Krupp AG, Essen, Jerman untuk DKA yang beroperasi sejak 1950. Berbeda dari lokomotif-lokomotif sebelumnya, lokomotif D52 seluruhnya dibeli oleh DKA setelah kemerdekaan.

Pada saat kemerdekaan, DKA banyak mewarisi sarana perkeretaapian yang sudah tua dan rusak karena perang. Pembelian lokomotif D52 ini menjadi bagian modernisasi sarana perkeretaapian DKA, di mana DKA juga membeli banyak gerbong barang dan kereta penumpang.

Di Pulau Jawa, lokomotif dengan susunan 2-8-2 yang lazim disebut “Mikado” ini diutamakan sebagai lokomotif untuk angkutan penumpang ketimbang barang. Namun tampak beberapa foto yang menunjukkan lokomotif D52 ikut digunakan sebagai KA barang campuran. Sedangkan di Sumatra, lokomotif ini memang diutamakan untuk menghela KA angkutan batu bara.

Lokomotif uap ini cukup populer dan khalayak ramai sering membandingkan lokomotif ini dengan lokomotif Baureihe (BR) 41 milik perusahaan kereta api federal Jerman, Deutsche Reichsbahn. Lokomotif BR41 dibuat oleh beberapa pabrik pembuat lokomotif di Jerman sebanyak 366 unit pada 1937-1941. Setelah perang dunia kedua, lokomotif BR41 tersebar baik di Jerman Barat, jerman Timur, maupun beberapa negara Eropa. 216 unit menjadi milik Deutsche Bundesbahn di Jerman Barat. 122 unit tetap menjadi milik Deutsche Reichsbahn di Jerman Timur. 26 unit menjadi milik Polish State Railways (PKP) di Polandia, dan 1 unit menjadi milik Czechoslovakian State Railways di Cekoslowakia.

Lokomotif D52099 di Purwosari, 2016 | Foto: Dicky Armansyah

Kembali lagi ke lokomotif D52, menurut Wikipedia bahasa Indonesia lokomotif ini memiliki fitur-fitur khas yang juga terdapat pada lokomotif BR41. Fitur-fitur tersebut seperti smoke deflector tipe Witte, boiler standar einheitslok, dan beberapa fitur lain. Namun, desain lokomotif ini tidak menyalin utuh desain lokomotif BR41 karena masih terdapat perbedaan di antara keduanya.

Lokomotif D52 memiliki berat kosong 52,6 ton dengan keluaran daya 1,2 MW. Lokomotif ini menggunakan dua jenis bahan bakar. 50 unit pertama menggunakan batu bara, sedangkan 50 unit sisanya menggunakan minyak residu. Minyak residu adalah sisa minyak mentah yang diperoleh dari proses operasi pengilangan minyak mentah setelah bensin, minyak tanah, minyak diesel dan minyak gas dikeluarkan. Sebanyak 21 dari 50 unit coal burner dikonversi menjadi oil burner oleh Balai Yasa Madiun (sekarang PT Industri Kereta Api). 10 dari 29 unit coal burner yang tersisa pun kemudian dimutasi ke Sumatera Selatan.

Dari 100 unit yang didatangkan DKA, hanya D52099 saja yang masih tersisa. Lokomotif-lokomotif lainnya banyak yang berhenti beroperasi di era 1970-an hingga 1980-an. D52099 sendiri awalnya koleksi Museum Transportasi TMII. Lokomotif ini bersama D1410 dibawa ke Surakarta pada 2016 lalu untuk direstorasi dan disimpan di emplasemen Stasiun Purwosari. Berbeda nasib dengan lokomotif D1410, hingga kini lokomotif D52099 masih terdiam di tempat yang sama. Meski telah ada rencana untuk restorasi, namun hingga kini belum ada kabar lebih lanjut perihal kelanjutan proses restorasi lokomotif ini. (RED/IHF/MPF)

Referensi

—————–

Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai referensi berita perkeretaapian Anda. Dengan misi sebagai media perkeretaapian yang independen dan faktual, RE Digest hingga saat ini beroperasi dengan biaya pribadi dari masing-masing Tim REDaksi.

Oleh karena itu, kami meminta sedikit bantuan: hanya dengan Rp 5000 tiap bulannya, Anda sudah membantu kami untuk tetap beroperasi dan menjadi lebih baik. Sampaikan dukungan dan donasi Anda melalui link Trakteer kami di bawah ini.

donasi Trakteer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

×